
Kevin masih tetap mengkhawatirkan Kiara. Meski Kiara sudah kembali bangun.
" Iya aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sesak dan sedikit lemas," jawab Kiara.
" Ya sudah aku akan mengantarmu pulang agar kau bisa istirahat dengan nyaman," ucap Kevin mengambil keputusan. Kiara langsung menggeleng cepat.
" Jangan! tunggu sebentar lagi, aku mengumpulkan tenaga dulu. Jika orang rumahku melihatku seperti ini, mereka akan khawatir. Beberapa hari ini, aku selalu membuat mereka cemas, aku tidak ingin itu terjadi," jelas Kiara.
" Lalu," sahut Kevin.
" Kalau kau tidak keberatan biarkan aku istirahat sebentar," ucap Kiara.
" Iya baiklah, istirahat lah di sini, setelah merasa enakan, aku akan mengantarmu pulang. Istirahat di rumah lebih baik," ucap Kevin dengan keputusannya.
" Kau tidak kekantor?" tanya Kiara. Kevin menggeleng.
" Hmmm. Oh iya air impusnya sudah habis, apa bisa di cabut?" tanya Kiara pelan
" Iya, aku akan membantumu," Kevin ke luar dari mobil dan membuka pintu mobil belakang, Kevin berjongkok dan membuka selang yang melekat di punggung tangan Kiara dengan lembut.
" Terima kasih," ucap Kiara. Kevin mengangguk menatap dalam-dalam wajah Kiara. Wajah itu masih sangat pucat.
" Pindahlah kedepan, kau bukan majikanku dan aku bukan supirmu," ucap Kevin.
Kiara mengangguk tanpa memperotes. Kevin pun berdiri dan membatu Kiara ke luar dari mobil.
Saat Kiara sudah berada di luar, kakinya tergelincir dan Kevin dengan sigap mencegah agar wanita itu tidak jatuh. Dan malah membawanya kedalam pelukannya. Kiara mencoba melepas.
Tetapi Kevin menahannya dan memeluknya semakin erat. Entah kenapa dia melakukan itu Perasaannya semakin tidak menentu dengan
Kiara yang terus membuatnya menjadi gila. Kiara benar-benar mengacak emosinya. Membuatnya harus mengkhawatirkan wanita itu.
" Apa dia sedang menahan pelukannya," batin Kiara.
" Kevin lepas," lirih Kiara pelan.
" Berhenti membuatku cemas," ucap Kevin dengan pelan.
Kevin seakan menyampaikan perasaannya kepada Kiara dengan pelukan yang erat. Mengatakan kepada Kiara. Bahwa Kiara membuatnya cemas dan ketakutan.
Kevin harus menyadari jika dia sangat gila melihat Kiara yang tidak sadarkan diri, wajah pucat dengan mulut yang keluar busa. Kiara harus tau jika dia benar-benar mencemaskan wanita yang di pelukannya.
Selain itu Kevin bahkan bertengkar dengan para ibu-ibu yang membawa anak mereka untuk di selamatkan hanya demi keselamatan Kiara.
Iya dia bahkan meneteskan air mata untuk Kiara. Air matanya hanya keluar. Di saat ibunya meninggal dan kali ini air matanya jatuh karena kecemasannya.
" Kevin aku kesulitan bernapas," protes Kiara yang wajahnya memang berada di dada Kevin.
Kevin terus membuang napasnya dan melepas pelukannya dari Kiara. Setidaknya dia merasa lega sedikit.
__ADS_1
" Maaf! ayo masuk," ucap Kevin. Kiara mengangguk, Kevin membuka pintu mobil untuk Kiara masuk ke dalam mobil.
Kevin memasangkan seat belt pada Kiara. Kiara hanya melihat Kevin dengan wajah Kevin yang merah dan tampak lelah.
" Apa aku merepotkanmu!" tanya Kiara di tengah-tengah Kevin memasangkan sabung pengaman. Kevin melihat Kiara dengan dalam.
" Tidak," jawab Kevin.
" Kau tampak lelah," ucap Kiara dengan suara pelannya. Kevin melihat ke arah Kiara menatap dalam wanita itu.
" Kiara, jangan banyak bicara, diam lah perhatikan kesehatanmu. Jika kau bicara itu hanya akan menguras tenaganya," ucap Kevin tegas. Kiara mengangguk kepalanya dengan pelan.
Kevin selesai memasangkan sabuk pengaman, lalu menutup pintu mobil. Sebelum memasuki mobil Kevin terus membuang napasnya. Entahlah perasaannya sudah tenang atau tidak.
Kevin pun memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi. Kevin. Melihat ke arah Kiara masih dalam keadaan lemas dengan pandangan lurus kedepan. Kiara juga tidak banyak bicara. Karena sudah di larang Kevin.
Ting.
Notif pesan wa masuk ke pada ponsel Kevin. Kevin langsung membukanya.
" Tuan meeting 15 menit lagi, tuan Winata sudah dalam perjalanan," pesan wa dari Arya. Kevin menoleh kearah Kiara.
" Kiara!" tegur Kevin menoleh ke arah Kiara.
" Iya kenapa?" sahut Kiara yang juga menoleh Kiara dengan suaranya yang lemas.
Tetapi meeting dengan papanya tidak mungkin di cancel. Mungkin untuk orang lain mungkin bisa di lakukannya. Tetapi Winata tidak akan menerima alasan apapun. Apa lagi alasan berbohong.
" Aku ada meeting, kau istirahat lah di Hotel di tempatku," ucap Kevin mengambil Keputusan paling tepat untuk jalan keluar dari masalah ini.
" Tapi Kevin aku tidak bisa berada di sana," sahut Kiara langsung menolak.
" Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Kevin.
" Aku takut ketemu papa. Papa juga ada di sana," jawab Kiara yang mengerti maksud Kevin pasti Hotel Lexus, " lagi pula aku sangat lemas berjalan. Jika Kau meeting. Maka meeting saja. Jika tidak keberatan aku akan menunggu di mobilmu, beristirahat sebentar lagi," ucap Kiara.
Tidak tau keputusan Kiara bisa di terima Kevin atau tidak. Merasa sangat bertanggung jawab dengan Kiara membuatnya sangat ragu dengan apa yang di katakan Kiara.
" Aku nyaman tidur dalam keadaan seperti ini," sahut Kiara yang meyakinkan Kevin. Karena Kiara bisa melihat keraguan di wajah Kevin.
" Baiklah!" sahut Kevin setuju, walau penuh keraguan.
Waktunya semakin sedikit. Dia tidak punya alasan untuk berdebat dengan Kiara. Terlambat adalah hal yang di benci papanya. Jadi Kevin harus menyetujui saran dari Kiara.
Sampai akhirnya mobil Kevin berhenti di depan Restaurant mewah yang menjadi tempat untuk meeting. Kevin menoleh kearah Kiara yang tertidur.
Kevin memundurkan jok mobil agar Kiara jauh lebih nyaman. Kevin ingin berpamitan pergi. Tetapi tidak tega melihat Kiara yang tertidur lelap. Setelah menarik napas panjang. Kevin keluar dari mobilnya dan memasuki Restaurant.
Ternyata papanya sudah menunggu dengan Pria yang berdiri di belakang Winata. Sekretaris Winata. Saat Kevin tiba di depan sang papa. Kevin langsung menundukkan kepalanya memberi salam pada papanya. Winata menatap Kevin heran.
__ADS_1
" Kemana jas mu?" tanya Winata yang ternyata penampilan Kevin mengusik matanya. Selain tidak memakai jas dia juga melihat penampilan putranya yang terlihat acak-acakan yang membuatnya heran dan penuh pertanyaan.
" Kotor pa," jawab Kevin bohong.
Jas sedang di pakai Kiara. Kevin tidak memikirkan penampilannya lagi. Sehingga tidak sadar jika dia tidak memakai jas.
Ya seandainya menyadari hal itu. Kevin juga tidak berniat melepas dari tubuh Kiara yang kedinginan.
" Apa kau sangat sibuk, sampai tidak bisa menggantinya?" tanya Winata sambil meneguk kopinya. Kerapian jelas no 1 baginya. Karena dari penampilan juga memperlihatkan sebuah sikap.
" Apa sekarang CEO Grup Lexus sudah tidak menginginkan posisinya," sahut sinis Winata. Perkara tidak memakai jas mengeluarkan ancaman untuk Kevin seakan tidak pantas menjadi seorang CEO di perusahaan utama.
Sebagai anak yang di didik dari kecil dengan benar. Kevin tidak bisa membantah. Dan hanya menunduk. Terserah hatinya mengumpat atau tidak.
" Duduklah!" titah Winata yang akhirnya berhenti mengkritik Kevin.
Sekretaris Winata yang berdiri di belakangnya memberi dokumen hitam pada Winata. Winata mulai membuka suara menyampaikan pokok dari meeting dengan putranya.
Winata berbicara banyak dengan kata-kata berkelas dan pasti terpelajar. Tetapi tidak dengan Kevin apakah bisa di serapnya atau tidak. Karena matanya fokus ke arah mobilnya. Seperti memantau keadaan Kiara.
Winata memang memilih tempat duduk di samping jendela kaca yang bisa melihat ke luar. Sehingga Kevin terus memantau keadaan itu.
" Apa kau ingin menjual mobilmu?" celutuk Winata yang merasa putranya tidak fokus dan malah fokus pada mobilnya. Mendengar kata itu membuat Kevin kembali fokus menghadap papanya.
" Maaf pa," sahut Kevin merasa bersalah. Winata menutup dokumen hitam itu. Lalu berdiri.
" Kinerja mu berantakan, disiplin tidak ada. Fokus apa lagi, sangat memalukan," ucap Winata dengan menyindir. Kevin menarik napasnya panjang dia memang kurang fokus.
" Maaf pa," ucap Kevin kembali meminta maaf.
" Sudah tidak ada gunanya meeting ini di lanjutkan," tegas Winata yang sangat marah dengan tingkah putranya hari ini.
" Maafkan Kevin pa. Kevin sudah membuat papa kecewa. Kevin tidak bermaksud," ucap Kevin merasa bersalah.
" Pulang lebih awal untuk makan malam!" titah Winata.
" Baik pa," jawab Kevin.
" Ayo!" ajak Winata pada asistennya. Sebelum pergi asistennya menunduk kepala pada Kevin lalu mengikuti atasannya.
Bersambung
Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.
Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.
Jangan lupa terus kasih suport, Vote. like koment dan jadiin favorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya
Terima kasih...
__ADS_1