Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin

Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin
Part 139 nekat datang.


__ADS_3

Kiara berada di dalam kamarnya. Kiara berdiri di depan cermin dengan dress pink di atas lututnya. Dan wajahnya yang di beri polesan makeup sedikit. Rambutnya di biarkan terurai. Kiara lumayan rapi hari ini dan bisa di lihat sepertinya Kiara akan pergi kesuatu acara yang formal. Jika di lihat dari penampilannya.


" Apapun itu aku harus pergi. Aku tidak mungkin mengacuhkan undangan itu. Aku harus berani. Aku tidak akan seperti pengecut yang tidak berani datang ke rumah Om Mitra Winata untuk memenuhi undangannya," batin Kiara yang menatap dirinya di cermin.


Ternyata Kiara yang tampil rapi dan cantik itu. Ingin memenuhi undangan dari Mitra Winata. Memang tidak tau apa yang di rencanakan Winata. Jelas Kiara juga penasaran maksud Winata mengundangnya langsung kerumahnya. Makanya dia juga nekat untuk datang.


" Aku dan Kevin sudah tau resikonya dalam menjalani hubungan ini. Jadi jelas ini tidak akan masalah. Aku hanya memenuhi undangannya dan tidak akan terjadi apa-apa. Aku pasti bisa menghadapi masalah ini dan keluarga ku tidak akan ikut-ikutan. Aku akan pastikan hal itu tidak akan terjadi," ucap Kiara di dalam hatinya memberi keyakinan dan kekuatan pada dirinya sendiri.


Memang jika bukan dia siapa lagi yang akan memberikan kekuatan itu. Kalau Kevin tau masalahnya. Pasti Kevin akan memeluknya dan menguatkannya. Tetapi dia belum memberitahu Kevin. Karena dia tidak mau mengganggu pekerjaan kekasihnya. Yang mungkin nanti pasti akan di beritahunya.


Kiara menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan seakan memberi ketenangan pada dirinya.


" Tenang Kiara. Semua akan baik-baik saja, kamu jangan gugup. Kamu harus santai. Karena tidak akan ada yang terjadi," ucapnya memberi semangat pada dirinya. Padahal sedari tadi dia tidak pernah lepas dari kegugupan.


Ceklek.


Kiara melihat dari cermin siapa yang membuka pintu yang ternyata Rachel yang masih memegang gagang pintu. Dan Rachel pun langsung masuk.


" Jangan bilang kamu akan pergi ke rumah Mitra Winata?" tanya Rachel menerka-nerka. Melihat dari penampilan sang adik yang rapi yang seakan ingin pergi. Kiara membalikkan tubuhnya dan melihat sang kakak.


" Iya kak, aku akan kesana?" jawab Kiara membenarkan tebakan kakaknya. Rachel langsung kaget mendengar keputusan adiknya yang dia merasa tidak masuk akal.


" Apa kamu gila!" pekik Rachel yang langsung mengatai adiknya. Jelas dia schok dengan tindakan Kiara.


" Aku akan lebih gila lagi. Jika tidak datang memenuhi undangannya," sahut Kiara. Dia terlihat gelisah. Walau sedari tadi berusaha untuk tenang.


" Kiara. Tapi ini nggak mungkin ini sama saja kamu masuk kedalam kandang singa, kamu jangan aneh-aneh deh. Kamu harus pikirkan baik-baik," ucap Rachel tidak setuju dengan Kiara.


Sebelumnya dia memang sudah mengatakan kepada adiknya. Agar Kiara tidak memenuhi undangan itu. Dan jelas dia kaget jika Kiara secepat kilat mengubah keputusannya.


" Kak. Jika aku tidak datang. Kita nggak akan tau. Apa lagi yang akan di lakukan Om Mitra Winata besok. Jadi aku harus datang aku harus tau kenapa dia mengundangku dan aku juga akan tanyakan kepadanya...." ucap Kiara tiba-tiba tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


" Menanyakan apa?" tanya Rachel yang melihat Kiara dengan penasaran.


" Aku akan menanyakan kenapa kak Rangga di tunda masa promosinya, apa itu karena berhubungan denganku," jawab Kiara yang mempunyai niat lain.


" Kiara, kamu benar-benar gila sampai ingin menanyakan hal itu," sahut Rachel yang tidak habis pikir. Kiara bukan hanya nekat datang ke undangan itu. Tetapi nekat menanyakan suatu hal yang itu sangat berani jika sampai di tanyakan.


" Kamu jangan bodoh Kiara. Kamu harus tau siapa yang kamu hadapi jangan anggap remeh," lanjut Rachel mengingatkan sang adik.

__ADS_1


" Aku hanya tidak ingin dia melibatkan keluargaku. Masalahnya hanya dengan ku bukan orang lain. Aku harus tau apa yang di inginkannya. Karena om Winata belum mengatakan apa-apa sama sekali," ucap Kiara dengan yakin.


" Tapi Kiara itu tidak mungkin. Kamu tau sendiri orang seperti mereka itu seperti apa, kamu bertanya itu sudah seperti menantang. Jadi jangan melakukan sesuatu hal yang kamu sendiri tidak akan bisa menyelesaikannya," sahut Rachel yang berusaha untuk mencegah adiknya agar tidak melakukan hal-hal yang lain.


" Kak. Jika tidak seperti itu. Aku tidak akan tau apa yang di inginkan tuan Mitra Winata. Dia tidak mengatakan apapun. Tidak menyuruhku untuk menjauhi Kevin atau putus dari Kevin. Dua hanya mengatakan pacaran tidak penting. Dan kakak lihat dia sudah melakukan semuanya," jelas Kiara


" Makanya aku harus datang memenuhi undangannya dan mengetahui apa yang di inginkannya, aku tidak bisa diam dan menunggu apa-apa lagi yang akan di lakuaknnya," lanjut Kiara yang kekeh untuk memenuhi undangan itu yang juga penasaran dengan faktor utamanya.


" Lalu bagaimana jika dia menginginkan kamu dan Kevin berpisah?" tanya Rachel. Kiara terdiam dan tidak bisa menjawab langsung.


" Apa kamu akan melakukannya. Atau akan menentangnya?" tanya Rachel memastikan.


" Kita belum tau apa yang ingin di bahas Om Mitra Winata. Jadi aku juga tidak bisa menjawab pertanyaan kakak," jawab Kiara yang mencari alasan.


" Kiara tapi kamu tau kan. Kalau hal itu pasti ada, kamu tau juga. Tujuan dia menemui kamu juga pasti tentang hal itu," ucap Rachel.


" Sudahlah kak. Jangan kita bahas lagi masalah itu. Aku harus segera pergi. Nanti om Winata menunggu lama. Aku tidak enak dengannya. Jadi aku harus pergi. Kakak jangan khawatir aku akan baik-baik saja. Tidak akan ada masalah. Kakak harus percaya kepadaku. Aku bisa menghadapi semua ini," ucap Kiara yang meyakinkan kakaknya.


" Kamu yakin benar-benar akan pergi dan siap dengan semuanya?" tanya Rachel memastikan adiknya. Kiara mengangguk dengan yakin.


" Aku yakin dan akan lebih yakin lagi. Jika kakak memberiku kepercayaan," ucap Kiara memegang tangan Rachel.


" Iya kak, aku pergi dulu," ucap Kiara pamit mengambil ponselnya dan tas kecilnya lalu keluar dari kamarnya.


Rachel langsung duduk di pinggir ranjang dengan mengacak rambutnya Frustasi. Kiara yang memenuhi undangan Winata. Tetapi dia yang panik.


" Apa yang akan di bicarakan Winata kepada Kiara," ucapnya penasaran.


" Apa akan seperti sinetron. Di mana Winata akan mempermalukan Kiara. Agar Kiara sadar dengan posisi nya. Bukannya biasanya akan seperti itu," batin Rachel sudah berpikiran jauh.


Dia kebanyakan menontr menonton sinetron. Makanya pikirannya sudah melayang-layang entah kemana-mana.


" Semoga saja memang tidak tidak terjadi apa-apa kepada Kiara. Kasian dia jika akan sampai mengalami hal itu. Aku tidak kebayang apa yang akan terjadi selanjutnya," batinnya yang hanya bisa berdoa yang baik-baik kepada adiknya yang sangat malang itu.


Sekalinya pacaran sama anak sultan dan langsung hubungannya mendapat tantangan yang besar. Di usia Kiara yang masih sangat muda. Jelas Rachel sangat memprihatinkan adiknya yang seharusnya tidak sampai mendapat kan masalah sebesar itu.


Tetapi dia juga percaya kepada Kiara. Karena dia juga tau. Kiara sangat bijak dalam menghadapi masalah.


**********

__ADS_1


Saras berada di dalam kamarnya sedang menyusun pakaian kedalam lemari. Sementara suaminya alam sedang berdiri di depan cermin sambil mengkancing kemejanya.


" Kamu tau siapa tamu papa?" tanya Alan pada istrinya.


" Aku juga tidak tau. Aku juga belum menanyakan pada mama siapa tamu papa. Tapi sepertinya sangat penting," jawab Saras.


" Aneh sih. Biasanya kalau papa ingin mengadakan makan malam. Pasti sebelumnya bilang dulu sama kita. Ini sama sekali tidak ada," sahut Alan heran.


" Kamu benar, aku juga sempat heran. Mungkin saja mendadak. Makanya papa tidak sempat memberi tahu kita," sahut Saras yang berpikiran positif.


" Hmmm, iyalah mungkin memang seperti itu," sahut Alan yang sependapat dengan istrinya. Walau dia juga penasaran.


" Ya sudah. Ayo kita turun. Mungkin yang lain sudah menunggu. Tidak enak nanti dengan papa," ucap Saras. Alan mengangguk.


*********


Sementara di kamar Clarissa. Dia juga sudah pulang kerumah dan bahkan baru tadi pagi sampai di rumah. Clarissa berdiri di depan cermin dengan mempoles wajahnya dengan makeup.


" Baru juga pulang. Sudah ada tamu segala. Memang siapa ya," batin Clarissa yang juga bertanya-tanya dengan tamu sang papa yang membuatnya penasaran.


" Ahhhh, sudah lah. yang penting papa tidak curiga dengan ku. Semoga saja. Papa tidak banyak tanya dan hubunganku dengan Sandy akan baik-baik saja dan Evan pasti bisa merahasiakan hubungan itu," batin Clarissa tersenyum tipis di wajahnya.


Memang saat dia pulang. Papanya tidak mengatakan apa-apa yang itu artinya dia aman. Makanya dia sangat bersemangat. Tetapi dia tau jika Evan menyusulnya. Tapai kembali lagi Evan dan dia sama-sama bekerja sama.


*********


Akhirnya meja makan yang panjang dan mewah itu sudah di penuhi dengan berbagai makanan dari yang ringan sampai yang berat. Satu per satu. Penghuni rumah juga sudah mulai menduduki meja makan dan ternyata Haria juga juga sudah kembali ke rumah itu.


" Haria, kapan dia pulang," batin Saras yang menarik kursi di depan Haria dan tepat di samping suaminya.


" Tumben sekali keluarga ini mengadakan makan malam. Apa Kevin sudah kembali dan ini untuk penyambutannya," batin Haria yang mencari-cari di mana Kevin.


" Tapi tidak mungkin. Jika ini untuk Kevin. Karena Om Winata pasti sedang marah kepadanya," ucapnya lagi di dalam hatinya yang menimbulkan senyum di wajahnya. Dan itu di tangkap Saras.


" Apa yang di pikirkannya. Kenapa dia tersenyum seperti itu," batin Saras penasaran.


Kursi-kursi di meja makan itu mulai terisi. Ke-2 istri Winata pun sudah mengambil posisi duduk masing-masing. Clarissa pun sudah datang dan Alana pun juga sudah datang.


Evan juga sudah mengisi bangku yang kosong. Mereka hanya tinggal menunggu Winata dan tamu yang di akan makan mal bersama mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2