
" Buat apa sih Kiara kamu ikut segala ke Jerman," ucap Sahila yang heran dengan permintaan putrinya.
Di meja makan yang sedang melaksanakan makan malam. Pembahasan dalam makan malam itu memang harus menanyakan permintaan Kiara yang tiba-tiba ingin berangkat ke Jerman bersama Rangga.
" Tau nih anak dia kira orang mau liburan lagi," sahut Rangga yang sambil mengunyah makanannya yang ternyata belum memberikan adiknya izin.
" Kiara benar-benar akan Jerman. Wau ini pasti gara-gara wanita di depan tadi. Sangat jelaskan. Jika dia memang memiliki hubungan dengan Kevin. Nih anak kalau bucin nggak kira-kira, aneh banget," batin Rachel terus menatap adiknya penuh curiga. Walau Kiara tidak memperdulikan tatapan itu dan sibuk membujuk sang kakak.
" Kiara. Rangga hanya bekerja dan selesai bekerja langsung pulang. Jadi mana ada waktu untuk main-main," sahut Danu.
" Tapi pa. Kiara ada perlu di sana. Kiara ingin menemui seseorang yang sangat penting dan berhubungan dengan universitas yang akan Kiara masuki nanti," ucap Kiara yang memberi alasan.
Memang tidak bohong sih. Memang orang itu sangat pintar dan memang benar Kevin adalah orang yang penting dalam kampusnya.
" Iya jelas penting namanya juga pacarnya," batin Rachel yang sewot sendiri.
" Tapi kakak tidak ada waktu untuk menemani kami kesana kemari. Kakak aja mepet waktunya," sahut Rangga.
" Tidak kak. Kiara tidak akan merepotkan kakak. Janji deh. Kiara hanya ingin kesana," sahut Kiara mengangkat 2 jarinya benar-benar melakukan apapun agar kakaknya mengijinkannya ikut bersamanya.
" Sudahlah kak Rangga biar aja Kiara ikut. Lagian dia juga sudah dewasa dan pasti bisa jaga diri," sahut Rachel tiba-tiba.
Perkataan Rachel membuat Kiara heran sampai menoleh ke arah Rachel. Benar atau tidak Rachel yang bicara. Karena bisa-bisanya. Rachel malah mendukungnya.
" Tumben amat kak Rachel ngedukung," batin Kiara benar-benar heran dengan hal itu.
" Entah biarin aja Napa sih. Lagian nih ya. Kak Kiara kan biasa ke Luar Negri. Jadi nggak akan ngerepoti juga laki," sahut Ziva yang ikut mendukung sang kakak.
" Benar, dari pada aku yang minta ikut. Pasti akan merepotkan," sahut Zavier yang ternyata juga mendukung sang kakak. Mendapat dorongan yang banyak membuat Rangga kebingungan sendiri. Dia juga melihat Kiara yang terus memohon.
" Pleesse," ucap Kiara lagi yang terus memohon pada kakaknya. Rangga menoleh ke arah sang mama.
" Jangan tanya mama, mama tidak tau. Kamu yang mau pergi. Jadi pikirkan saja sendiri," ucap Sahila.
" Terserah kamu Rangga. Kalau memang menurut kamu tidak apa-apa membawa Kiara. Ya monggo Kiara di bawa," sahut Danu yang tidak bisa setuju dan juga tidak bisa melarang. Karena anaknya Kesana untuk bekerja dan dia yang tau apa yang harus di lakukan.
" Ayolah kak pleese sekali ini saja. Kiara minta sesuatu sama kakak masa iya langsung tidak di kasih," ucap Kiara yang terus memohon.
" Ya sudah. Kamu ikut," jawab Rangga. Kiara langsung kaget dengan wajahnya yang sudah mengembang.
" Serius?" tanya Kiara tidak percaya.
" Iya," jawab Rangga terpaksa.
__ADS_1
" Ya ampun kakak makasih. Kiara janji tidak akan bikin repot kakak," ucap Kiara yang kesenangan. Karena akhirnya di berikan izin untuk ke Jerman.
" Ya ampun nih anak langsung kegirangan. Mentang-mentang mau nyusul pacarnya. Langsung kegirangan kayak gitu," batin Rachel dengan geleng-geleng kepalanya.
" Aku tidak tau apa tujuanku kesana. Dan kenapa aku harus ke Jerman. Mungkin memang aku ingin menyusulmu kesana. Aku ingin memastikan benar atau tidak dia akan menemuimu," batin Kiara. Padahal dia juga tidak tau di mana tempat Kevin. Dia hanya mengikuti hatinya saja yang ingin pergi ke Jerman.
Haria wanita yang memang tidak ada hubungannya dengan Kevin. Karena Kevin sudah menjelaskan. Tetap membuatnya resah dan ingin memastikan benar atau tidak wanita itu akan menyusul Ke in dan akan menemui Kevin. Dan bahkan berjanji pada Kevin.
*********
Kiara tidak tau bahagia atau tidak saat benar-benar akan ikut Ke Jerman. Saat menyusun pakaiannya kedalam koper. Wajahnya malah terlihat gelisah. Seperti ada yang di pikirkannya.
Mungkin saja Kiara takut jika memang benar Haria menyusul Kevin ke Jerman dan Dia tidak tau harus bersikap seperti apa saat benar-benar melihat Haria berasa Kevin. Makanya Kiara belum berani untuk menelpon Kevin memberitahu dia akan kesana atau tidak.
" Ehemm," suara deheman itu membuat Kiara kaget. Siapa lagi jika bukan Rachel yang suka mengintilinya belakangan ini.
" Kak Rachel," lirih Kiara.
" Senang amat yang mau ke Jerman," ucap Rachel menyandarkan tubuhnya di pintu dengan ke-2 tangan berada di dadanya.
" Apaan sih, udah nggak usah mikir yang aneh-aneh," sahut Kiara yang kesal.
Dia malas bicara dengan kakaknya yang nanti ujung-ujungnya kakaknya akan mengorek-ngorek tentang hubungannya dan Kevin. Dan hal itu akan membuatnya frustasi.
" Kamu ya bukannya berterima kasih, malah sewot gitu sama kakak," ucap Rachel.
" Ishhh. Pacaran sih pacaran tapi kok bucin amat," ucap Rachel yang langsung pergi.
" Ishhhh, apaan sih. Kak Rachel benar-benar banyak taunya. Bisa-bisanya dia bicara kayak gitu. Aku yakin dia pasti tau sesuatu. Makanya dia sampai seperti itu," batin Kiara yang tidak bisa main-main dengan kakaknya yang super super sangat kepo.
Kiara yang tidak ambil pusing kembali beberes. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya dari pada memikirkan sang kakak yang mungkin nanti setelah pulang dari Jerman masalahnya selesai batu mengurus sang kakak yang mungkin memang mengetahui sesuatu.
**********
Jerman.
Setelah pulang dari pekerjaannya yang cukup memelankan Kevin menjatuhkan dirinya di sofa. Duduk dengan menayandarkan tubuhnya. Kepalanya mendongak keatas dengan kakinya yang terbuka lebar.
Kevin memijat kepalanya yang sangat berat. Mungkin dia benar-benar lelah dengan pekerjaannya yang menumpuk. Dia bekerja mati-matian untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Agar pekerjaannya cepat selesai dan bisa pulang dia mungkin sudah merindukan sang kekasih sudah lama di tinggalnya. Kevin memejamkan matanya dia tidak tidur hanya sedikit reflesing. Untuk mendapatkan ketenangan.
" Aku belum menelpon Kiara. Alangkah baiknya aku menelponya," ucap Kevin yang mengingat sang kekasih. Raihan langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celanya dan langsung melihat tombol panggilan Kiara.
__ADS_1
Tinnong Tingnong.
Belum sempat menelpon Kiara. Bel Apertemennya sudah berbunyi.
" Siapa yang datang. Apa Arya butuh sesuatu," gumamnya langsung berdiri. Meletakkan ponselnya di atas meja dan langsung menuju pintu untuk membuka pintu.
Kevin membuka pintu dan menampilkan tamunya yang ternyata bukan Arya. Wanita cantik yang membuatnya kaget. Sampai matanya terbuka lebar.
Apa dia kelelahan atau sangat merindukan Kiara. Sampai-sampai bisa melihat wanita cantik itu ada di depannya.
" Kiara," lirih Kevin tampak tidak percaya. Tetapi Kiara malah gelisah dan melihat-lihat kebelakang seseorang seperti mencari sesuatu. Dia bahkan sampai jinjit.
" Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Kevin yang masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
" Apa dia ada di dalam," ucap Kiara yang langsung menerobos masuk. Tanpa menjawab pertanyaan Kevin. Kevin yang adanya semakin bingung dengan Kiara.
Kevin pun menyusul masuk dan melihat Kiara yang tampak mencari seseorang membuat Kevin kebingungan.
" Hey, Kiara kamu sedang apa. Siapa yang kamu cari?" tanya Kevin.
" Haria," jawab Kiara jujur. Dia memang mencari apakah Haria datang atau tidak. Mendengar nama Haria. Kevin mengkerutkan dahinya.
" Haria, maksud kamu apa?" tanya Kevin benar-benar kebingungan.
" Iya Haria. Di mana Haria. Dia bilang di akan kemari. Apa kamu menyembunyikannya," ucap Kevin.
" Hah!" pekik Kevin semakin bingung.
" Aku tidak mengerti maksud kamu mana ada Haria di sini," ucap Kevin. Kiara menghadap Kevin.
" Tapi dia mengatakan akan menyusul kamu kemari. Jadi mana mungkin dia tidak ada," ucap Kiara dengan tegas. Kevin geleng-geleng dengan Kiara. Kiara lembu melangkah ingin pergi mencari Haria namun Kevin langsung menahan tangannya dan langsung memeluknya.
" Dia tidak ada di sini. Aku dan dia tidak pernah berjanji apapun. Kamu jangan mencari yang tidak ada. Apa kamu tidak tau. Aku sangat merindukanmu," ucap Kevin yang terus memeluk erat Kiara. Rasa rindunya seakan terobati sedikit dengan ke hadiran Kiara yang tiba-tiba.
Kiara melepas pelukannya. Dia juga merindukan pacarnya itu. Tetapi dia belum tenang dengan kata-kata Kevin.
" Benar. Dia tidak ada di sini?" tanya Kiara yang masih ragu. Kevin menganggukkan matanya mengusap pipi kekasihnya.
" Dia tidak ada di sini. Yang ada di sini. Hanya kita berdua. Aku tidak tau. Kalau kamu akan datang dan mencari orang lain bukan untuk menemuiku," ucap Kevin dengan sedikit wajah kecewa.
" Ternyata hanya aku yang merindukanmu. Tetapi kamu tidak," ucap Kevin lagi. Kiara tersenyum tipis melihat kekasihnya yang ternyata sekarang cemberut. Kiara langsung memeluk Kevin dengan erat.
" Siapa bilang aku sangat merindukanmu," ucap Kiara dengan pelukan mautnya.
__ADS_1
" Aku juga sangat merindukanmu," jawab Kevin dengan tersenyum kebahagian. Kekasih itu saling memeluk dengan penuh kerinduan.
Bersambung.....