
Akhirnya mobil Kevin berhenti di antara rumah Kiara dan Kevin. Mereka saling melihat dengan tersenyum mereka di wajah mereka. Maklum lah. Lagi berbunga-bunga nya. Jadi wajah itu tampak sangat berseri.
" Tidak akan apa-apa. Kalau aku keluar dari mobilmu?" tanya Kiara yang malah gelisah.
Kepalanya bahkan berputar melihat keluar jendela dengan melihat di sekelilingnya. Seperti takut jika ada yang melihatnya. Karena dia tau alasan Kevin menghindarinya. Karena larangan dalam berhubungan.
" Tidak apa-apa. Ayo turun!" ucap Kevin membuka seat beltnya. Kiara mengangguk kan kepalanya dan mengikuti Kevin membuka seat beltnya.
Lalu mereka sama-sama keluar dari mobil. Kiara masih saja terlihat kurang nyaman. Dia masih melihat di sekelilingnya. Apa ada yang melihat atau tidak. Kevin menghampirinya dan memegang bahunya.
" Kiara tenanglah. Tidak akan ada apa-apa. Kamu jangan seperti ini. Jangan gelisah. Seperti biasalah. Karena tidak akan ada apa-apa," ucap Kevin.
Dia tau Kiara hanya takut jika Mitra Winata mengetahui hubungan mereka dan pasti Kevin yang akan menjadi sasarannya.
" Kamu sekarang masuk. Istirahatlah. Jangan memikirkan apapun," ucap Kevin mengusap pucuk kepala Kiara.
" Iya. Makasih sudah mengantarku," ucap Kiara. Kevin menganggukkan matanya.
" Kamu tidak masuk juga?" tanya Kiara.
" Aku akan langsung kekantor, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan?" jawab Kevin.
" Tapi bukannya kamu tidak baik-baik saja. Bahkan lukamu belum mengering," ucap Kiara khawatir memegang pipi Kevin.
" Aku tidak apa-apa," jawab Kevin memegang tangan Kiara yang berada di pipinya.
" Benar tidak apa-apa?" tanya Kiara tidak percaya. Karena Kevin masih sangat terluka.
" Iya. Aku sudah merasa enakan, jadi jangan khawatir," jawab Kevin tersenyum tipis meyakinkan Kiara. Kiara memang pasti sangat mencemaskan dirinya.
" Ya sudah. Selamat bekerja. Kamu jangan lupa minum obat. Supaya lukamu cepat sembuh," ucap Kiara mengingatkan.
" Iya. Makasih ya," sahut Kevin tersenyum. Kiara mengangguk.
" Ya sudah sana masuk!" ujar Kevin. Kiara mengangguk dan ingin melangkah. Tetapi Kiara tidak jadi melangkah.
" Ada apa lagi?" tanya Kevin.
" Kalau aku menelpon apa akan di angkat dan pesanku apa akan di jawab?" tanya Kiara. Kevin mendengus senyum mengacak pucuk kepala Kiara.
__ADS_1
" Akan aku angkat. Kecuali aku rapat. Karena aku tidak mungkin mengangkat telpon," jawab Kevin. Kiara tersenyum mendengarnya. Kiara sepertinya trauma dengan kebersamaan dan setelah itu ada adegan menjauh. Makanya dia langsung bertanya pada Kevin.
" Ya sudah aku hanya bertanya saja. Kalau begitu aku masuk dulu," ucap Kiara pamit. Kevin menganggukkan matanya.
" Daaaa," Kiara melambaikan tangannya. Kevin hanya mengangkat tangannya saja dan melihat kekasihnya memasuki rumah.
Kevin yang tersenyum lebar geleng-geleng. Jika jatuh cinta dia memang akan terlihat berbeda sangat manis dan bahkan wajah dinginnya yang sedikit sangar itu hilang.
Setelah memastikan kekasihnya memasuki rumah. Kevin pun akhirnya kembali masuk mobilnya. Dia memang harus kekantor karena ada meeting mendadak.
Dia harus bekerja profesional. Karena dia juga tidak ingin pekerjaannya berantakan hanya karena cinta-cintaan. Yang pasti dia menyiapkan waktu untuk bersama Kiara. Jadi Kevin sudah membagi-bagi waktu itu.
Ternyata Saras yang berada di kamarnya. Mengintip dari jendela kamarnya. Dia tersenyum melihat 2 pasang Manusia tadi yang wajahnya penuh kebahagian.
" Apa Kevin sudah memperbaiki hubungannya dengan Kiara?" tanya penasaran. Tetapi dari apa yang di lihatnya. Saras sangat yakin jika Kevin sudah mengambil keputusan tentang hubungan asmara yang jelas di tentang itu.
" Cinta memang akan mengubah segalanya. Kevin lebih memilih Kiara di bandingkan larangan papa. Aku hanya berdoa. Semoga saja hubungan mereka tetap utuh dan berharap mereka berdua tidak akan menyerah," batin Saras yang menjadi salah satu orang yang memang sangat menyukai Kiara bersama Kevin.
Karena memang baginya. Kiara sangat unik. Gadis cantik yang pintar yang mampu menaklukkan hati Kevin. Jadi wajar dia juga sangat mengidolakan Kiara.
************
" Kenapa mereka melihatku seperti itu," batin Kiara yang justru panik dengan tatapan dari keluarganya itu.
" Kenapa sih Kiara kalau pergi nggak bilang-bilang," ucap Rangga yang memulai pembicaraan dengan nada suara Rangga yang terlihat marah.
" Benar. Kamu ini bikin cemas. Di telpon berkali-kali. Bukannya di angkat. Apa salahnya coba. Kalau mau nginap di tempat teman. Pamitan dulu. Apa susahnya menelpon. Bukan malah tidak mengangkat telpon yang membuat orang bingung, panik, dan mikir yang aneh-aneh," sambung Raquel yang juga tampak kesal dengan adiknya.
" Benar kak. Kita sampai tidak tidur," sahut Zavier lagi.
" Padahal katanya kakak cuma pergi sebentar sampai tidak sarapan. Tau-taunha. Nggak pulang-pulang," sahut Ziva lagi.
Kiara yang mendapat teguran hanya diam saja. Keluarganya mengintimidasinya dan menunjukkan rasa kecewanya. Kiara memang salah. Makanya dia diam. Sebagai tanda dia memang bersalah.
" Kiara. Lain kali jangan seperti ini lagi. Mama, papa, kakak dan adik kamu sangat mengkhawatirkan kamu," sahut Sahila menghampiri Kiara dan mengusap lengan Kiara.
" Benar Kiara. Jangan pergi tanpa memberitahu kemana. Semua buru-buru. Tapi juga memberitahu kemana mereka," sambung Danu.
" Maaf pa. Ma. Kiara tidak bermaksud. Mengecewakan mama dan papa," sahut Kiara menundukkan kepalanya. Melihat lantai dia yang merasa bersalah hanya bisa minta maaf.
__ADS_1
" Memang kakak nginap di mana sih? Rumah teman kakak itu sejauh apa. Sampai tidak bisa pulang?" tanya Zavier. Membuat Kiara menelan salavinanya.
Dia memang memberi alasan pada keluarganya. Kalau dia tidak pulang karena menginap di rumah teman. Padahal dia jelas berbohong. Karena sebenarnya dia sedang frustasi dan sampai kesasar dan alhasil bersama Kevin.
" Tau. Memang kakak punya teman di Jakarta," sahut Ziva lagi. Yang benar-benar mengintrogasi Kiara. Membuat Kiara semakin panik. Karena dia pasti tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu.
" Sudahlah jangan di bahas lagi. Yang penting sekarang Kiara sudah pulang. Jadi ini pelajaran untuk kalian semua. Lain kali. Kalau pergi atau menginap di tempat teman kalian. Beritahu mama dan papa dulu. Agar kami tidak cemas," sahut Danu sekalian mengingatkan anak-anaknya yang lain.
Kiara merasa lega. Akhirnya sang papa mengalihkan dengan pembicaraan yang lain. Jadi dia tidak perlu menjawab pertanyaan adiknya lagi.
" Benar kata papa kalian. Ambi ini sebagai pelajaran," sambung Sahila.
" Iya ma," sahut Mereka serentak.
" Ya sudah. Kamu istirahat. Kalian juga. Silahkan melakukan aktivitas seperti biasanya. Papa juga harus kekantor," ucap Danu.
" Iya pa, sekali Kiara minta maaf. Sudah membuat semuanya cemas. Lain kali Kiara tidak akan seperti ini lagi," sahut Kiara dengan penuh penyesalan.
" Ya sudah. Anggap ini pengalaman untuk kamu," sahut Sahila.
" Iya ma. Kalau begitu. Kiara naik dulu," ucap Kiara pamit. Yang lain mengangguk. Kiara pun pergi dengan melangkah pelan.
Yang lain juga mulai berbubaran. Untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Danu juga berpamitan pada istrinya untuk berangkat bekerja.
***********
Kiara memasuki kamarnya dan langsung menghempaskan dirinya di atas ranjang dengan ke-2 tangannya di lentangkan. Kiara menatap langit-langit kamarnya dengan napasnya yang memburu. Dia merasa lega dengan kejadian tadi.
" Untung saja mama dan papa tidak tau. Jika aku bersama Kevin," gumamnya masih merasa selamat dengan kejadian ini.
" Kamu sih Kiara. Bisa-bisanya berjalan sejauh itu. Sampai malam dan kesasar," ucapnya mengakui jika dia benar-benar sangat bodoh.
" Tetapi jika tidak seperti itu. Mungkin aku dan Kevin tidak akan bersama. Masalah tidak akan selesai," Kiara malahengeluarkan senyumnya menggambarkan dia sangat bahagia hari ini.
" Tapi Kevin. Kenapa sampai seperti itu. Membiarkan dirinya terluka. Padahal kan itu salah," gerutu Kiara kembali lesu. Dia masih sangat takut jika malam itu Kevin sampai kenapa-kenapa.
" Sudahlah. Mungkin ini pelajaran untukku. Menghadapi masalah harus lebih dewasa lagi," gumam Kiara dengan bijak langsung menjadikan semuanya pembelajaran hidup.
Bersambung.....
__ADS_1