
Perkataan Winata memang sangat sedikit. Tetapi kalimat itu seakan menusuk. Membuat Haria benar-benar takut. Haria menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
Haria Berusaha tenang saat membalikkan badannya. Walau jujur dia tidak akan bisa tenang. Terlihat dari tangannya yang saling mengatup menandakan dia sangat gugup.
" Kenapa kamu 2 hari tidak pulang?" tanya Mitra Winata dengan wajah seriusnya.
Haria memang tidak pulang 2 hari. Pertama dia mabuk-mabukan dan ke-2 dia berusaha mencari Kevin. Tetapi namanya juga keluarga Mitra Winata baru 2 hari hebohnya sudah selangit.
" Kenapa Om Winata menghentikanku hanya untuk menanyakan hal itu," batin Haria panik.
" Ini rumah bukan hotel. Kamu sudah tinggal di sini. Seharusnya mengikuti aturan di rumah ini. Bukan pergi dengan seenak kamu dan pulang sesuka kamu. Belum menjadi bagian keluarga ini saja. Kamu sudah banyak tingkah. Apa kamu ingin membuat peraturan baru sendiri di rumah ini," ucap Winata dengan sinis. Menatap Haria dengan tajam.
" Gawat apa yang harus aku lakukan. Kenapa Om Mitra Winata. Harus membesar-besarkan masalah ini. Hanya tidak pulang saja. Dia sudah seheboh itu. Apa yang harus aku jawab," batin Haria menjadi takut. Tatapan Mitra Winata memang sangat menakutkan. Sampai-sampai dia tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.
" Apa selama 2 hari. Kamu juga berubah menjadi bisu sehingga tidak bisa menjawabku?" tanya Mitra Winata yang sama sekali tidak mendapat respon dari Haria. Pasti hal itu adalah suatu hal yang di bencinya.
" Maaf Om," jawab Haria menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menjawab dan hanya mengatakan maaf. Paling tidak dia mengakui kesalahannya.
" Dari mana kamu?" tanya Mitra Winata. Yang masih menunggu jawaban Haria.
" Apa yang harus aku jawab. Kenapa masih bertanya," batin Haria yang kebingungan.
" Saya sedang bertanya dari mana kamu. Jawablah dengan cepat jangan membuang waktuku?" tanya Mitra Winata lagi.
" Saya habis dari Luar Kota. Ada keperluan mendadak. Sampai saya tidak sempat berpamitan," jawab Haria memberikan alasan dengan lantang.
Dia hanya berharap Mitra Winata percaya dengan kata-katanya. Dia juga tidak tau harus mengatakan apa dan tidak mungkin jujur dengan Mitra Winata.
" Keluar Kota?" tanya Mitra Winata menaikkan alisnya.
" Benar Om," jawab Haria terus meremas tangannya. Winata mengangguk-angguk saja. Tidak tau apa itu artinya. Percaya atau tidak dengan alasan Haria. Yang jelas Haria semakin ketakutan.
__ADS_1
" Baiklah. Anggaplah kali ini apa yang kamu katakan benar. Dengar Haria. Ini peringatan pertamamu. Jika tinggal di rumah ini. Semua aturan berlaku untuk semua penghuni rumah ini tanpa ketercuali. Kamu akan menjadi istri Alan. Jadi jangan membuat nama menantu jelek di rumah ini. Kali ini saya memaafkanmu dan tidak harus membenarkan atau mengatakan salah dengan alasanmu. Tetapi jika sekali lagi. Kau bertingkah, melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan jangan salahkan saya. Jika kau akan mendapat akibatnya," ucap Winata dengan penuh tekanan dan penegasan.
" Apa maksudnya," batin Haria panik.
" Jangan biarkan aku harus bekerja. Hanya untuk melihat apa yang kau lakukan," lanjut Winata dengan sinis. Haria diam. Dia malah semakin takut mendengar ancaman Mitra Winata yang dia tau. Itu pasti tidak main-main.
" Kau mendengar perkataanku?" tanya Mitra Winata memastikan.
" I_ i_ iya om," jawab Haria terbata-bata.
" Bagus jika begitu. Jadi ikutilah aturan di rumah ini dan buat contoh yang baik. Jangan malah membuat contoh yang salah," tegas Winata.
" Iya Om. Sekali lagi Haria minta maaf. Sudah membuat Om kecewa," ucap Haria berusaha mencari muka kembali.
" Baiklah. Anggap aku memaafkanmu. Sekarang masuklah kekamarmu. Untuk 3 hari kedepan kau tidak di perbolehkan keluar kamar. Anggaplah itu hukuman kecil. Untuk orang yang tidak disiplin!" ucap Mitra Winata yang tanpa ba-bi-bu memberi hukuman langsung pada Haria.
" Apa aku tidak boleh ke luar kamar. Apa dia gila," batin Haria. Merasa Mitra Winata sangat berlebihan memberikan hukuman padanya.
" Tidak om," jawab Haria dengan cepat.
Karena tidak mungkin dia membantah hukuman itu. Yang ada dia hanya akan semakin kesulitan. Jadi mending menerima saja agar Winata cepat pergi.
" Bagus kalau begitu. Sekarang masuklah ke kamarmu. Soal makanan pelayan akan mengantarnya. Begitu juga dengan keperluan yang lainnya!" titah Winata mengarahkan kepalanya untuk menyuruh Haria pergi.
" Baik Om," jawab Haria membalikkan badannya dan langsung melangkahkan kakinya.
Dengan cepat langsung pergi. Paling tidak dia bisa bernapas lega. Karena sudah pergi dari hadapan Mitra Winata.
" Anak sekarang. Selalu banyak tingkah dan memiliki moral yang sangat sedikit," gumam Mitra Winata lalu dia pun beranjak pergi.
Ternyata pembicaraan Mitra Winata dan Haria. Terdengar oleh Clarissa. Clarissa yang tadi awalnya ingin pergi. Harus menghentikan langkahnya. Saat papanya mengintrogasi Haria.
__ADS_1
Dia memang kepo. Apa yang di bicarakan Sanga papa dengan wanita yang beberapa hari ini membuatnya kesal.
" Kemana dia. Sampai tidak pulang 2 hari?" batin Clarissa yang juga sangat penasaran dengan kepergian Haria.
" Lalu Kevin. Kemana dia semalam. Kenapa tidak pulang. Aku yakin apa yang di katakan Arya tidak benar. Jika Kevin ke Luar Kota untuk perjalanan bisnis," gumamnya yang sekarang memikirkan adiknya yang memang belum pulang.
Clarissa memang bertanya pada Arya asisten Kevin. Dan Arya mengatakan jika atasannya itu ke Luar Kota. Hal itu juga yang di laporkan Arya pada Mitra Winata. Tetapi Clarissa seakan tidak percaya.
" Ahhhhh mungkin memang iya dia ke Luar kota. Dan Haria dia benar-benar tidak jera. Aku yakin pasti dia sudah melakukan sesuatu. Sampai tidak pulang," batin Clarissa yang mencurigai Haria.
" Biar saja melakukan apapun yang dia perbuat. Aku hanya berharap dia benar-benar sadar. Jika papa jelas bukan tandingannya," ucap Clarissa di dalam hatinya yang tidak ingin ambil pusing mengenai Haria.
Clarissa yang masa bodo pun akhirnya menuruni anak tangga. Dia memang harus bekerja. Dan untuk masalah Haria. Jelas tidak akan membuat pikirannya tidak tenang.
Karena dia juga tidak peduli dengan apa-apa yang di lakukan Haria. Yang jelasnya sebelumnya. Dia sudah mengingatkannya.
************
Haria memasuki kamarnya dengan wajahnya yang penuh kekesalan. Dia langsung duduk dengan menghempas kan dirinya dan meletakkan tasnya kasar.
" Sial," geramnya dengan memukul kasur dengan telapak tangannya.
" Apa dia begitu kolot. Hanya tidak pulang 2 hari. Dia langsung menghukumku. Apa dia pikir aku anak kecil yang asal-asalan di hukum. Di kurung di kamar. Aku bisa mati jika bertapa di kamar ini selama 3 hari," Haria hanya bisa mengumpat sendirian. Karena tidak berani membantah apa yang di katakan Mitra Winata. Jadi dia hanya akan meluapkan kemarahannya di dalam kamarnya.
" Jika aku di sini terus. Bagaimana aku bisa menemui Kevin. Kevin bahkan tidak pulang. Aku tidak akan bisa bicara lagi dengannya. Aku tidak akan bisa mengetahui apa-apa yang di lakukannya di luar sana. Aku tidak akan bisa melakukan apa-apa. Jika aku di penjara seperti ini," keluh Haria yang yang beberapa kali mengusap kasar wajahnya. Dia sangat Frustasi dengan keadaannya.
" Dasar Mitra Winata gila. Dia selalu bertindak semaunya. Mentang-mentang punya kekuasaan. Dia selalu melakukan apa-apa yang diinginkannya. Dari dulu sampai sekarang. Dia selalu mengusik hidupku," ucapnya mengepal tangannya dengan merapatkan giginya.
" Lihat saja. Aku akan membuat kau menyesal memperlakukan ku seperti ini. Aku akan membawa anakmu pergi bersamaku. Aku tidak terima dengan semua ini. Aku bukan boneka mu atau pencetak anak. Yang seenaknya kau nikahkan dengan Pria yang sama sekali tidak kusukai. Aku akan tunjukkan kepadamu dan keluargamu. Siapa aku sebenarnya. Agar kau tidak perlu mengatur-atur hidupku. Karena aku tidak akan Sudi terus di permainkan keluarga ini," ucapnya dengan sinis. Seperti memiliki kebencian yang sangat besar terhadap Mitra Winata.
Bersambung......
__ADS_1