Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin

Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin
Part 117 memberi kenyamanan.


__ADS_3

Flashback


Sandy sedang melakukan pertemuan dengan temannya di Restauran di depan hotel. Sandy berbincang dengan temannya dengan serius dan ditengah perbincangannya. Sandy yang ingin ke toilet.


Setelah berada di dalam saat ingin keluar Sandy harus menghentikan langkahnya karena mendengar seseorang berbicara.


" Tenang saja anak kolong merat itu akan masuk kedalam perangkap kita. Clarissa itu adalah wanita yang bodoh. Dia akan menemuiku hari ini begitu. Dia sudah masuk barulah kau datang. Agar dia tidak bisa melarikan diri,"


" Tenang dia pasti datang aku sudah mengirim lokasinya padanya. Dan mungkin sejam lagi dia akan datang, dia tidak mungkin tidak datang. Karena dia sangat takut jika aku memberikan situs itu pada orang tuanya,"


" Aku tidak akan menelpon lagi. Jadi datanglah kekamar 142. Dan kita akan bersenang-senang dengan wanita seksi itu,"


Sandy mendengarkan suara Pria yang menelpon itu yang, dia juga tampak mengintip sedikit. Penasaran siapa yang menelpon itu dan kenapa menyebut nama Clarissa.


" Bukannya itu Pria yang tempo lalu di kampus yang juga aku temukan berusaha macam-macam dengan Clarissa," batin Sandy yang mengingat jelas. Siapa pria itu.


" Dugaanku benar dia memang berhubungan dengan Clarissa. Ada sesuatu masalah besar yang di alami Clarissa. Kurang ajar. Pria ini berniat menjebak Clarissa. Dia memeras Clarissa dengan ancaman situ yang mungkin sangat berbahaya," batin Sandy mengepal tangannya.


Setelah mendengar pembicaraan itu. Sandy ingin menghubungi Clarissa. Tetapi mengurungkan niatnya. Sandy berpamitan pada temannya yang di temuinya di Restaurant dan ternyata Sandy langsung pergi ke hotel yang ada di depannya.


Sandy melihat pria yang berwajah ke bule-bule an itu melangkah berjalan dengan membawa paper bag yang pasti berisi Vodka. Sandy tidak melakukan apa-apa. Hanya seperti mengawasi saja.


Dia juga membiarkan Pria itu memasuki kamar hotel yang tadi Sandy juga mengingat kamar nomor berapa. Sandy kembali ke lobi hotel dan tidak berapa lama melihat Clarissa yang turun dari mobil.


" Jadi dia benar-benar datang. Apa yang ada di pikirannya. Kenapa baginya melakukan seperti itu. Adalah sebuah penyelesaian masalah. Apa yang kamu pikirkan Clarissa," batin Sandy yang terus melihat Clarissa yang berjalan sambil melihat-lihat di sekelilingnya.


Akhirnya Sandy memutuskan untuk mengikuti Clarissa. Clarissa terus berjalan dengan gelisah. Memang Sandy bisa melihat. Jika wanita itu sangat gugup.


Sandy mengawasi kamar hotel tersebut sampai akhirnya dia mendapatkan waktu untuk memasukinya. Sandy sedikit merasa lega. Karena Clarissa tidak kenapa-napa dan dia sempat menghentikan 2 Pria yang ingin melecehkannya.


Tetapi dia tetap merasa terlambat. Karena Clarissa sempat mendapat pukulan dan itu membuatnya sangat menyesal. Tetapi masih untung Sandy benar-benar bisa menyelesaikan semua masalah Clarissa dan membawa Clarissa pergi.


Flassaon.


Sudah lama Sandy menunggu. Tetapi Clarissa sama sekali tidak keluar dari dalam kamar mandi. Suara air masih terdengar. Sementara Sandy sangat gelisah yang berada di dalam kamar.


" Kenapa dia lama sekali," batin Sandy penasaran dan khawatir pada Clarissa yang tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Sandy yang khawatir terhadap Clarissa akhirnya menghampiri kamar mandi. Sandy berdiri di depan kamar mandi.


tok-tok-tok-tok. " Rissa!" panggil Sandy. Clarissa sama sekali tidak menjawab. Sandy mendekatkan telinganya di pintu kamar mandi dan hanya mendengar suara isakan tangisan.


" Rissa, kamu kenapa, ayo buka pintunya. Kenapa kamu lama sekali Rissa," ucap Sandy yang terus memanggil Clarissa. Dia semakin cemas dengan suara tangisan itu. Sandy juga memegang gagang pintu dan mencoba membukanya.

__ADS_1


Tetapi sama sekali tidak bisa dibuka. Sandy yang khawatir takut wanita itu kenapa-napa. Akhirnya memutuskan mendobrak pintu. Dan untungnya 1 dobrakan berhasil.


" Rissa," ucapnya dengan suara serak. Melihat wanita itu yang berjongkok di bawah guyuran air shower dengan memeluk tubuhnya tanpa memakai pakaian dan tubuh polos itu terlihat.


Sandy langsung mengambil bathrobe yang menggantung di sana. Mematikan air shower dan memakaikan pada tubuh Clarissa yang polos tanpa sehelai benangpun.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Sandy mencemaskan Clarissa yang menangis Sengugukan. Sandy langsung menyelipkan tangannya di bawah ke-2 Clarisa dan 1 lagi berada di pundaknya. Sandy menggendong Clarissa ala bridal style keluar dari kamar mandi.


Sandy mendudukkan Clarissa di pinggir ranjang. Sandy berdiri dan mengambil handuk putih kecil. Sandy menghampiri Clarissa berjongkok di depan Clarissa yang sedari tadi menunduk dengan ke-2 tangannya yang memegang erat di atas pahanya.


Sandy langsung melap rambut Clarissa. Wanita itu tidak berbicara dan hanya terdengar suara isakan tangisan. Seumurnya baru kali ini dia melihat Clarissa menangis.


Dia mengenal wanita itu cukup lama. Wanita yang cuek. Dan tidak pernah menangis sekalipun saat di lihatnya. Tetapi sekarang wanita itu terlihat menangis.


Sandy memegang dagu wanita itu. Mengangkat kepalanya agar melihat dirinya. Meski wajah wanita itu sudah sejajar dengannya. Tetapi matanya masih menunduk. Sandy mengusap air mata itu dengan lembut.


" Menangislah sampai kamu benar-benar lelah," ucap Sandy dengan lembut. Mengusap air mata yang membasahi pipi itu. Clarissa mengangkat matanya.


Sehingga matanya dan mata Sandy saling melihat. Sandy bisa melihat wanita itu sangat terluka. Mata indah itu kosong dan membutuhkan seseorang untuk menenangkannya.


Wanita itu merasa seperti seorang sendirian. Sandy yang melihatnya langsung memeluknya. Seakan tau Clarissa membutuhkan semua itu dan tangisan Clarissa pecah saat berada di pelukan Sandy.


Sandy mengusap-usap pundak Clarissa, menenangkan wanita itu. Hanya berusaha ada untuk wanita yang benar-benar merasa hancur itu.


Kiara berada di dalam kamarnya. Setelah masalahnya dengan Kevin selesai. Sekarang dia bisa tenang. Seperti sekarang dia sedang belajar di kamarnya, duduk di meja belajarnya dengan tumpukan buku yang banyak. Karena ujian untuk pendaftaran ulang sebentar lagi akan di mulai.


Dia juga akan mengikuti ujian beasiswa. Jadi dia harus fokus belajar. Agar lulus dan pasti tidak mengecewakan Kevin. Orang yang benar-benar mendukungnya sejak awal dan Kevin juga yang membuatnya bisa memasuki Harvard.


Krekkk. Suara pintu kamar terbuka yang ternyata menampilkan mamanya. Dengan membawa nampan yang berisi 1 mangkok dan 1 gelas susu.


" Mama," ucap Kiara. Sahila tersenyum dan memasuki kamar putrinya.


" Kamu jika belajar. Pasti tidak akan keluar kamar dan akan melupakan sarapan. Kamu ini kebiasaan," ucap Sahila meletakkan apa yang di bawanya di samping Kiara yang ternyata mangkuk itu berisi sarapan buah yang biasa di makan Kiara.


" Soalnya nanggung ma, Kiara juga belum lapar," ucap Kiara. Memang pada kenyataannya dia belum lapar.


" Walau belum lapar. Kamu harus tetap sarapan. Kiara apapun itu. Sepenting apapun belajar untuk kamu. Kamu jangan melupakan kesehatan kamu. Kamu harus makan dan jangan di tunda-tunda," ucap Sahila memberi putrinya saran.


" Iya mama sayang. Mama tenang aja. Kiara pasti mengingat apa-apa yang mama katakan," ucap Kiara.


" Ya sudah kamu sarapan dulu. Baru nanti kamu belajar lagi," ucap Sahila. Kiara mengangguk. Kiara yang tidak ingin sang mama mengkhawatirkan langsung menikmati sarapan itu.


Sementara Sahila menghampiri tempat tidur Kiara dan merapikannya. Kiara memang bangun subuh dan langsung belajar dan belum sempat merapikan tempat tidurnya.

__ADS_1


" Memang kapan kamu akan mengikuti tesnya?" tanya Sahila sambil membersihkan tempat tidur putrinya.


" Seharusnya 3 Minggu lagi. Tetapi ada penundaan jadi bukan depan," jawab Kiara sambil mengunyah makanannya.


" Kamu akan pergi sendiri?" tanya Sahila.


Kiara berhenti mengunyah makanannya. Dia akan pergi bersama Kevin. Tetapi bingung harus menjawab apa pada mamanya. Tidak mungkin mengatakan pergi bersama Kevin dan dia juga tidak mungkin berbohong.


" Kiara!" tegur Sahila yang melihat Kiara malah diam.


" Tidak ma," jawab Kiara. Sahila menoleh kearah putrinya.


" Lalu kamu akan pergi sama siapa?" tanya Sahila.


" Kalau semuanya lancar. Kiara akan pergi dengan orang yang sudah mengurus semua data-data Kiara untuk masuk universitas Harvard," jawab Kiara yang apa adanya.


Itu jawaban yang paling tepat. Dia tidak perlu berbohong dan dia juga tidak menyebutkan nama Kevin.


" Begitu rupanya!" sahut Sahila.


" Memang pergi siapa orang itu ?" tanya Sahila. Kiara sampai tersedak. Lolos dari pertanyaan yang satu dan sekarang ditanya lagi dan pertanyaan itu jauh lebih parah.


" Aduh bagaimana ini. Masa iya aku harus bilang sama mama. Jika aku pergi dengan Kevin," batin Kiara uang kebingungan harus menjawab apa.


" Kiara," tegur Sahila yang ternyata sangat penasaran dengan orang yang membantu putrinya.


" Oh, itu ma. Nanti aja kalau sudah mau pergi. Kiara kasih tau mama. Soalnya Kiara bilang. Mama juga tidak akan tau. Jadi nanti aja," ucap Kiara mencari jalan Aman..Sahila mengangguk-angguk.


" Oh begitu. Ya sudah. Kamu lanjutin sarapannya," sahut Sahila yang tidak bertanya lebih lanjut lagi membuat Kiara bernapas lega. Kiara kembali menikmati sarapan itu.


" Oh iya sayang. Nanti siang. Kamu kekantor papa ya," ucap Sahila.


" Untuk apa?" tanya Kiara bingung.


" Kamu anterin makan siang untuk papa. Tadi papa minta mama untuk membuatkan makanan kesukaan papa untuk makan siang. Jadi nanti kamu tolong ya anterin," ucap Sahila.


" Oh, ya sudah ma," sahut Kiara yang tanpa menolak permintaan mamanya.


" Makasih ya sayang," ucap Sahila.


" Iya mama," sahut Kiara. Sepertinya dia senang mengantarkan makan siang. Karena di perusahaan papanya ada Kevin. Jadi mungkin dia terima-terima saja jika harus pergi keperusahaan tempat papanya bekerja.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2