Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin

Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin
Part 142 memilihnya


__ADS_3

Semua mata langsung tertuju kepada suara lantang itu yang pasti Kiara tau itu suara siapa.


" Kevin, kenapa Kevin ada di sini," batin Kiara yang semakin dek-dekan. Meski belum melihat pemilik suara itu. Tetapi Kiara yakin itu Kevin.


Tapi suasana hatinya bertambah buruk. Ketika ada Kevin. Dia bukan semakin tenang tetapi semakin kaget.


" Kevin," lirih Clarissa yang semakin gelisah dengan kehadiran Kevin. " Astaga apa semua ini, kenapa masalahnya bertambah besar," ucap di dalam hatinya yang semakin panik.


Yang pasti bukan hanya Clarissa saja semua orang di meja makan makan juga gelisah dan seakan tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


" Kevin. Dia ada di sini. Bukannya papa lagi menyuruhnya Ke Paris. Apa dia tau Kiara di sini. Makanya dia berada di sini," batin Saras yang bertanya-tanya di dalam hatinya.


" Sial, kenapa Kevin malah pulang. Seharunya sia tidak pulang dulu dan membiarkan wanita ini mendapat teguran dari om Winata biar dia sadar," batin Hari yang tampak tidak suka dengan keharusan Kevin.


" Apa yang akan di lakukan Kevin setelah ini," batin Alan.


" Kevin ada di sini. Apa itu berarti akan ada perang di rumah ini," batin Evan yang merasa mulai tidak enak.


Kevin yang tampak marah langsung melangkah dengan kakinya yang panjang dan tangannya langsung menarik tangan Kiara yang pasti sangat dingin.


" Ayo pergi dari sini," ucap Kevin yang masih memegang pergelangan tangan itu dan Kiara masih duduk.


" Kevin. Aku menyuruhmu untuk mengerjakan sesuatu di Paris bukan berada di tempat ini," ucap Winata tampak datar. " Apa kau memberi tahunya Kiara. Jika aku mengundangmu?" tanya Winata yang melihat kearah Kiara.


" Tidak om," jawab Kiara.


" Lalu kenapa kau pulang Kevin. Aku menyuruhmu ke Paris?" tanya Winata lagi.


" Untuk apa papa menyuruhku pergi ke Paris tiba-tiba. Untuk semua ini. Untung mengintimidasi Kiara Jika perlu suatu tanyakan kepadaku jangan tanya dia. Dia tidak tau apa-apa. Jadi tanyalah kepadaku," sahut Kevin menekan suaranya.


" Berani sekali kau menanyakan kepadaku untuk apa kau menyuruhmu ke Paris. Apa kau pikir aku memberikan alasannya dulu dan apa kau pikir. Aku harus meminta izin kepadamu untuk mengundangnya kemari," sahut Winata yang tampak menekan suaranya.


" Papa tidak perlu mengundangnya. Jika papa membicarakan hal yang tidak penting dengannya," tegas Kevin yang berani berbicara dengan Winata.


" Kau bilang apa yang aku lakukan tidak penting?" tanya Winata yang tampak mulai marah.


" Itu tidak penting, semua yang papa lakukan sangat tidak penting dan tidak bermutu," sahut Kevin tanpa ampun bicara dan bahkan matanya dan mata Winata saling menatap dan seperti menantang.


" Kevin bicara lah dengan baik pada papamu," tegur Janika yang tidak biasa Kevin seperti itu. Dia juga sudah melihat akan ada tanda-tanda perang besar.


" Alana kamu masuk sana," ucap Marian pelan pada putrinya yang tidak cocok berada di meja makan itu.


" Iya ma," jawab Alana yang tampak mengerti dan langsung pergi.


" Ayo Kiara!" ajak Kevin kembali mengajak Kiara berdiri.


" Dia belum makan sama sekali, jadi jangan membawanya pergi. Dia tamuku bukan tamumu, jadi jangan mengacaukan apa yang sudah aku buat," sahut Winata.


" Kiara ayo berdiri! kita pergi dari sini," ucap Kevin lagi yang tampak mempedulikan pembicaraan Winata.


Kevin sedikit memaksa Kiara, sehingga Kiara berdiri.


" Kiara makan mu belum di mulai, sangat tidak sopan kau meninggalkannya," sahut Winata. Kiara menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Sampai Kevin di depannya kembali melihat kebelakang dan melihat Kiara yang diam.


Kiara mengangkat kepalanya dan melihat Kevin. Mata Kiara sudah bergenang untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.


" Aku harus selesaikan undangan ini dulu Kevin," ucap Kiara dengan perlahan.


" Kau dengar itu Kevin dia harus makan dan jangan mengganggu atau mengacau kan semuanya," sahut Winata.


" Apa yang aku kacaukan, semua rencana papa. Apa yang sebenarnya yang ingin papa katakan kepadanya," sahut Kevin dengan menekan suaranya


" Jadi Kiara, ayo kita pergi. Kau tidak perlu di sini," ucap Kevin lagi.


" Tidak Kevin aku harus menyelesaikan semuanya dulu," sahut Kiara yang tampak menolak Kevin.


" Kiara," ucap Kevin seakan membujuk Kiara pergi dari rumahnya. Dia tidak ingin wanita itu semakin sakit karena perkataannya.


" Kenapa semuanya jadi seperti ini. Kenapa akhirnya hubungan Kevin dan Kiara akan seperti ini," batin Clarissa yang sangat prihatin dengan ke adaan itu.


" Akhirnya Kiara akan merasakan apa yang aku rasakan dulu. Tapi dia masih terlalu muda untuk menghadapi semua ini," batin Saras yang kasihan dengan Kiara. Karena dia mengingat bagaimana dia dulu.


" Kau dengar Kevin dia harus menyelesaikan makannya dulu baru dia pulang. Bukan sepertimu yang pulang tanpa menyelesaikan pekerjaanmu, jadi jangan mengganggu acara makan malam ini," ucap Winata dengan nada menyindir.


" Jadi Kiara duduk lah, dan makan, aku juga akan kembali menceritakan siapa Kevin dan bagaimana peraturan di rumah ini dan kamu bisa mengetahui juga di mana posisi kamu," lanjut Winata yang kembali membicarakan status sosial.


Kiara membuang napasnya perlahan dan melepas tangan Kevin dari tangannya dan kembali duduk di meja makan. Dan Kevin melihat tindakan Kiara langsung mengepal tangannya.


" Ambil makanan mu Kiara dan nikmati semuanya," ucap Winata yang tampak tenang.


Prang tung, tung,


Semua yang ada di meja makan langsung berdiri kecuali Kiara dan Winata. Semua orang kaget melihat semua makanan sudah bertumpahan di atas lantai dan bersatu dengan pecahan kaca.


Clarissa sampai menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya dengan apa yang di lihatnya. Tidak percaya jika Kevin akan bertindak sejauh itu. Pasti bukan hanya Clarissa yang lainnya juga kaget melihat apa yang barusan terjadi. Belum pernah ada yang berani melawan Winata dan kali ini Kevin melakukannya.


" Kevin apa yang kamu lakukan?" tanya Janika dengan napasnya yang naik turun. Sementara Winata sudah mengepal tangannya dan Kiara semakin ketakutan bahkan napasnya juga semakin tidak stabil.


" Makanannya sudah tidak ada. Jadi ayo pergi dari sini," ucap Kevin menarik tangan Kiara dan Kiara berdiri.


" Kevin," ucap Winata membuat kembali langkah Kiara berhenti.


" Kiara ayo pergi!" ucap Kevin lagi.


" Apa yang kau lakukan Kevin kau merusak makan malamku, kau pikir siapa dirimu!" bentak Winata.


" Aku sudah mengatakan makan malam itu tidak ada gunanya. Jadi aku minta sama papa jangan melibatkan apapun kepadanya. Jika ingin menanyakan sesuatu makan tanyalah kepadaku dan aku akan menjawab semuanya," ucap Kevin dengan menegaskan.


" Kau benar-benar lantang Kevin. Kau tidak tau apa yang kau lakukan ini. Apa kau sadar dengan perbuatanmu," teriak Winata.


" Aku sadar dengan perbuatan ku dan aku menyadari apa yang aku lakukan. Dan aku tidak perlu minta maaf untuk hal itu," ucap Kevin dengan tegas.


" Kevin benar-benar sangat membela wanita itu. Dengan ku duku dia bahkan dia saja," batin Haria yang sedari tadi mengepal tangannya.


" Kalau begitu jawab pertanyaanku sekarang," sahut Winata yang menjeda omongannya. " Apa jika aku menyuruhmu untuk meninggalkannya. Apa kau akan melakukannya?" lanjut Winata yang langsung memberi pertanyaan inti nya.

__ADS_1


Kiara semakin takut mendengar pertanyaan itu. Dia melihat Kevin yang tampak marah.


" Kenapa kau diam. Jawablah!" teriak Winata.


" papa pernah menyuruhku melakukannya dan aku rasa aku tidak perlu menjawabnya lagi. Karena papa sudah tau jawabannya. Tapi baiklah. Jika papa benar-benar ingin mendengar jawabannya lagi. Aku akan katakan. Aku tidak akan meninggalkannya. Aku mencintainya dan tidak mungkin akan meninggalkannya," ucap Kevin yang menjawab dengan yakin.


Yang pasti jawaban itu membuat wajah Winata semakin marah. Bahkan ingin menerkam Kevin saat itu juga.


" Kevin benar-benar berani dengan papa. Aku sendiri saja tidak melakukan hal itu," batin Evan yang salut dengan keberanian sang adik. Walau dia tau jawaban itu sangat berbahaya.


" Sial, dengan mudahnya Kevin menjawab semuanya," batin Haria yang tampak kepanasan.


" Apa yang kau lakukan Kevin. Seharunya kau mengakhiri semuanya, Kita tidak perlu melanjutkan semua ini. Kau yang akan menderita Kevin buka aku," batin Kiara yang sudah meneteskan air mata dia tidak menyangka jika Kevin akan memilihnya di depan papanya.


" Jadi semuanya sudah jelas. Aku tidak akan meninggalkannya. Jadi aku minta sama papa untuk tidak mengganggunya," ucap Kevin sekali lagi menegaskan.


" Kevin tenangkan diri kamu. Apa yang kamu bicarakan," sahut Janika yang mencoba untuk mencairkan suasana.


" Semua sudah jelas dan aku harap kalian semuanya mengerti," ucap Kevin menegaskan.


" Kau taukan Kevin apapun yang kau katakan tidak berpengaruh kepadaku. Kau taukan semuanya tidak akan berpengaruh," sahut Winata yang menekan suaranya.


" Terserah papa. Tapi aku juga menegaskan kepada papa. Jika apapun yang papa katakan. Tidak akan mengubah jawaban ku. Aku akan tetap bersamanya dan tidak peduli apapun," ucap Kevin sekali lagi.


" Ayo Kiara kita pergi dari sini!" ajak Kevin lagi. Kiara masih diam dan tidak bicara apa-apa.


" Kiara ayo pergi," bentak Kevin dengan suaranya yang menggelegar yang membuat Kiara kaget. Dia benar-benar lelah dengan Kiara yang masih saja bertahan di tempat itu.


" Apa yang kau tunggu di sini Kiara. Kenapa kau begitu keras kepala. Aku bilang pergi maka pergi dan jangan membantah," ucap Kevin yang berteriak-teriak pada Kiara.


" Jadi ayo pergi!" Kevin kembali menarik tangan Kiara dan membawanya pergi dari tempat itu.


" Kau benar-benar menantang ku Kevin," batin Winata yang merasa terhina dengan perbuatan Kevin. Lalu Winata langsung pergi.


" Kenapa semua bisa sampai seperti ini," ucap Janika yang tidak habis pikir dengan kejadian yang baru pertama kali di lihatnya. Janika memijat kepalanya yang tampak berat. Lalu langsung pergi.


" Ada -ada saja. Kevin bisa-bisanya bertindak sejauh ini," ucap Maria dan langsung pergi menyusul Janika.


" Ya Allah apa yang akan terjadi setelah ini kepada Kiara dan Kevin," batin Saras yang mencemaskan nasi Kiara.


" Ayo Saras, kita pergi!" ajak Alan memegang tangan istrinya yang dingin. Saras mengangguk dan akhirnya pergi bersama suaminya.


" Semoga saja Kevin bisa memperjuangkan hubungannya dengan gadis itu," batin Evan yang memiliki harapan besar dan langsung pergi.


" Apa mungkin jika papa tau hubunganku dengan Sandy. Maka akan seperti ini juga kejadiannya," batin Clarissa yang langsung memikirkan Sandy. Apapun itu dia juga sudah menjalin hubungan rahasia dan pasti hal itu akan terjadi jika sang papa mengetahuinya. Clarissa pun akhirnya pergi dan meninggalkan Haria yang sendirian di sana.


" Sial! kenapa Kevin malah membawanya pergi dan om Winata membiarkan begitu saja," batin Haria tampak tidak puas dengan Drama yang ada di meja makan.


Dengan kekesalan Haria pun pergi dari tempat itu. Meninggalkan lokasi meja makan yang sudah berantakan penuh pecahan kaca dan pasti semua makananan yang sudah di siapkan untuk Kiara.


Habis semuanya. Terbuang sia-sia tanpa sisa yang ausah menyatu dengan lantai dan hanya tinggal pelayan yang akan membersihkan semua pecahan itu piring-piring itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2