
" Kenapa aku menjadi gugup seperti ini. Apa karena kejadian itu membuatku menjadi canggung dengannya," batin Kiara dengan perasaan yang tidak menentu saat tangan Raihan memegang pergelangan tangannya.
Akhirnya Kevin mengobati luka di dahi Kiara. Mereka duduk di anak tangga jalan memasuki perpustakaan.
Untung saja tangganya lebar. Jadi mereka duduk tanpa mengganggu orang yang akan berlewatan memasuki perpustakaan.
Kiara dan Kevin saling berhadapan. Kevin dengan lembut mengobati dahi Kiara yang terluka akibat ulahnya.
Kiara menjadi grogi, bukan apa-apa dia hanya mengingat ke jadian kemarin dan takut jika Raihan membahas itu.
" Sepertinya tidak ada masalah, dia tidak mengungkitnya, memang kamu sangat bodoh Nayra. Kemarin kamu menjelek-jelekkan Group Lexus di depannya dan kamu malah menciumnya sangking cerobohnya. Kamu memang tidak berguna Kiara," gerutu Kiara di dalam hatinya mengutuk dirinya sendiri.
" Sudah selesai," ucap Raihan setelah memberi perban pada luka itu.
" Terima kasih," ucap Kiara tersenyum tipis.
" Sama-sama," jawab Kevin, " maaf, jika aku membuat dahimu luka," ucap Kevin dengan mudahnya minta maaf.
" Dia mengatakan maaf, apa dia se humble itu. Aku tidak percaya jika orang sepertinya minta maaf. Bukannya dari wajahnya terlihat dia sangat sombong," batin Nayra yang cukup.salut dengan Kevin.
" Ada yang salah?" tanya Kevin melihat Kiara bengong.
" Oh tidak. Tidak apa-apa, aku juga salah, kenapa harus membaca di lantai sementara ada kursi," ucap Kiara gugup.
" Hmmmmm, bye the way. Apa kau sibuk?" tanya Kiara tiba-tiba.
" Hah!" jawab Kevin bingung.
" Iya pasti sibuk, tunggu lah di sini sebentar! jangan pergi, sebentar saja," ucap Kiara yang langsung berlari pergi tanpa menunggu jawaban Kevin.
Sementara Kevin heran dan melihat punggung Kiara yang berjalan menyebrangi jalan. Dia melihat Kiara memasuki coffee shop yang ada di sebrang jalan. Dari kejauhan terlihat nama Coffee shop tersebut.
Cocaeey Family.
" Selamat datang ada yang bisa di bantu," ucap Rachel dengan ramah saat pintu coffee shop terbuka.
" Kiara," pekik Rachel yang melihat kedatangan adiknya. Dia mengira pembeli ternyata adiknya yang sangat buru-buru dan langsung memasuki area pembuatan coffee.
" Sejak kapan kamu mau minum coffee?" tanya Rachel melihat adiknya yang dengan terburu-buru membuat coffee.
Kiara memang tidak menyukai coffee. Tetapi dia pintar jika hanya meracik. Tidak kalah dengan racikan dari barista-barista yang lain.
" Kenapa dahimu?" tanya Rachel melihat dahi Kiara yang di perban. Tetapi Kiara tidak merespon dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
" Hey, dari tadi ada yang bertanya," ucap Rachel kesal melihat Kiara yang mengacuhkannya.
Kiara tetap diam dan tidak butuh waktu lama. Kiara selesai membuat coffee di dalam cup. Kiara juga mengambil kue yang di ada di sana dan buru-buru pergi membiarkan Rachel dalam kebingungan
" Eh, Kiara," teriak Rachel yang melihat adiknya buru-buru.
" Aneh sekali, bukannya di bayar," desis Rachel bingung. Rachel juga melihat kepergian Kiara yang menyebrang jalan.
__ADS_1
Kevin ternyata masih tetap berada di tempatnya semula. Kevin melihat Kiara yang menyebrang jalan dan berlari terburu-buru dengan menenteng kantung plastik di tangan kirinya.
" Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Kiara dengan napas ngos-ngosan yang sudah berdiri di depan Kevin.
" Kau habis dari mana?" tanya Kevin walau dia tau gadis itu memasuki coffee shop.
" Ini ambillah! Kiara memberikan apa yang di buatnya tadi, " tenang saja ini tidak ada racunnya. Ini usaha keluargaku. Dan tadi aku yang membuatnya," uacp Kiara menjelas kan saat memberikan 1 cup Coffee dengan seponting milk Cake yang di buat di atas kotak kecil.
" Paling aku memberi jampi-jampi sedikit. Agar kau melupakan apa yang terjadi," batin Kiara melanjutkan kalimatnya.
" Apa jika ada yang mengobatimu, kau akan membalas dengan makanan?" tanya Kevin yang sebelumnya Kiara juga memberinya makanan sebagai tanda terima kasih Kiara karena mengobati lututnya saat di pemakaman.
" Hmmm, iya maka ambilah," jawab Kiara dengan santai.
Seperti biasa Kevin masih ragu dengan apa yang di berikan Kiara dan masih membiarkan makanan itu menggantung di tangan Kiara.
" Kau tidak mengambilnya?" tanya Kiara memastikan, " apa kau takut jika aku mencampurkan sesuatu?" tanya Nayra dengan hati-hati.
" Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Kevin. Kiara mengangguk.
" Maka ambillah!" ucap Kiara lagi. Akhirnya Kevin mengambilnya. Kiara tersenyum saat makannya itu sudah berpindah ketangan Kevin.
" Terima kasih, sudah membantuku! aku Kiara," ucap Kiara memperkenalkan dirinya tanpa mengulurkan tangannya.
Kevin melihatnya dengan datar saat Kiara mengenalkan mamanya.
" Kau tidak ingin mengatakan namamu, tidak mungkin kan kau tidak mempunyai nama?" tanya Kiara melihat Kevin tanpa menyebutkan namanya.
" Aku Kevin," jawab Kevin memutuskan memperkenalkan diri.
Memang sangat aneh untuk Kevin harus memperkenalkan namanya. Tidak pernah dia melakukan itu sebelumnya.
Karena memang semua orang sudah mengetahuinya. Kiara mendengarnya tersenyum mengangguk-angguk.
" Kevin, jadi dia pria yang sering kutemui namanya Kevin," batin Kiara.
" Kita sering bertemu aku rasa sangat aneh jika tidak tau nama masing-masing, apalagi kau tinggal di depan rumahku," ucap Kiara. Kevin hanya diam mendengarkan saja apa yang di katakan Kiara.
" Apa kita akan saling menyapa, jika bertemu?" tanya Kiara.
Kevin menatap Kiara heran. Dia tidak menyiapkan jawaban untuk itu. Dia benar-benar habis kata-kata Dengan Kiara yang banyak bicara.
" Apa kau tidak capek berdiri saja," sahut Kevin yang sepertinya ingin Kiara duduk di sampingnya dan mengobrol.
Ya Kevin bukan tipe yang suka mengobrol. Apa lagi sudah menghabiskan 20 menit waktunya untuk bersama Kiara.
Waktu yang sangat berharga untuk memperkaya Lexus. Tetapi Kiara tersenyum dan duduk di samping Kevin di tempatnya awal tadi.
" Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kita akan saling menyapa jika bertemu," tanya Kiara memastikan.
Kiara terbiasa ramah dengan orang yang baru di kenalnya. Tetapi mungkin aneh jika dia melakukan itu dengan Kevin. Karena images Kevin yang terdengar sangat formal. Kiara masih menatap Kevin menunggu jawaban.
__ADS_1
" Terserahmu, tetapi aku tidak bisa menyapa oarang lain," jawab Kevin dengan suara beratnya. Berkata apa adanya.
" Aku tau, aku bisa melihat dari wajahmu. Jika kau sangat dingin dan seperti Tokoh-tokoh dalam novel," sahut Kiara mengamati wajah Kevin. Membuat dahi Kevin wajah Kevin mengkerut.
" Tokoh novel," sahut Kevin bingung. Kiara menganggukkan matanya.
" Pria yang kaku dan dingin," jawab Kiara.
" Kau menyamakan ku dengan tokoh-tokoh itu?" tanya Kevin memastikan. Kiara mengangguk kan kepalanya.
Kevin seakan setuju dengan apa yang di katakan Kiara. Dia bahkan baru banyak berbicara hanya kepada Kiara. Tidak tau tetapi dia sangat nyaman.
" Apa yang aku katakan salah?" tanya Kiara. Kevin menggedikkan ke-2 bahunya.
" Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius," sahut Kiara tersenyum. Kevin juga tidak menanggapi serius.
" Apa kau tidak tidak ingin meminumnya?" tanya Kiara melihat coffee yang di pegang Kevin dan makanan itu masih saja di gantung. Kevin juga melihat ke arah yang sama.
" Apa kau masih ragu dengan apa yang aku berikan?" tanya Kiara menerka-nerka.
" Aku tidak mengatakan apapun," sahut Kevin.
" Benar juga. Oh iya, kemana dayang-dayangmu, aku tidak melihat mereka sedari tadi?" tanya Kiara sambil kepalanya berputar-putar seperti mencari seseorang.
" Siapa yang kau maksud?" tanya Kevin bingung.
" Yang sering mengikutimu, 2 pria ber badan tegap dan 1 Pria tua yang menyebalkan," jelas Kiara. Kevin mendengus mendengarnya seakan tau siapa yang di maksud Kiara.
" Mereka tidak ada, aku hanya sebentar pergi. Jadi mereka tidak ikut," jawab Kevin.
" Ohhhhh, syukurlah kalau begitu. jika tidak aku yakin. Mereka akan melihatku sinis. Sepertinya di dalam pikiran mereka. Aku ingin membunuhmu," oceh Kiara dengan dengan exsperesi kesal membayangkan 3 pria yang seketika menjadi musuhnya.
Sementara Kevin hanya menanggapi biasa. Dia tidak tau harus apa karena tidak terbiasa bicara terlalu banyak dengan orang lain. Kecuali berbicara masalah pekerjaan.
" Aku harus pergi," uacap Kevin melihat arloji tangannya.
" Oh iya. Terima kasih sekali lagi," ucap Kiara. Kevin mengangguk dan berdiri.
Tanpa basa-basi Kevin langsung memasuki mobilnya dan pergi. Kiara hanya melihat mobil itu berjalan yang semakin lama semakin jauh.
" Tidak seperti yang kuduga," batin Kiara seakan senang berbicara panjang lebar dengan Kevin.
" Jam berapa ini," ucapnya melihat arloji di tangannya, " aku harus pulang," Kiara bergegas pergi. Karena memang melihat susah sore hari.
Bersambung
Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.
Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.
Jangan lupa terus kasih suport, Vote. like koment dan jadiin favorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya
__ADS_1
Terima kasih...