
Tidak berapa lama mobil Sandy sampai di gerbang utama perumahan Lexus. Orang asing memang di larang masuk. Jadi harus berhenti di gerbang utama.
Sandy menoleh ke arah Clarissa yang sudah lumayan tidak takut lagi karena sudah sampai. Dia merasa sudah aman.
" Kamu yakin akan turun di sini?" tanya Sandy melihat di sekitarnya. Dia juga melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 12 malam.
" Aku akan telpon supir untuk menjemputku," sahut Clarissa mengeluarkan ponsel dari tasnya mengambil ponselnya. Sandy hanya mengangguk saja.
" Ya sudah, keluar dulu, makasih sudah di anterin," ucap Clarissa ingin membuka pintu. Namun di cegah Sandy. Membuat Clarissa heran.
" Supir kamu belum datang, jadi tunggu di mobil saja," ucap Sandy.
" Bukannya sudah malam. Sebaiknya kamu pulang," ucap Clarissa yang tidak ingin repot.
" Tidak apa-apa, aku akan menunggumu tidak akan lama kan. Jadi tetap lah di sini," ucap Sandy.
" Baiklah!" sahut Clarissa. Clarissa pun menelpon supirnya untuk di jemput.
" Maaf ya Sandy sudah merepotkan kamu," ucap Clarissa.
" Aku tidak merasa di repotkan," sahut Sandy.
" Oh iya, kenapa mencari ku tadi?" tanya Clarissa yang penasaran kenapa Sandy ada di sana dan sangat kebetulan. Jika Sandy datang tiba-tiba. Melihat Sandy adalah orang yang cuek dan pasti tidak peduli dengannya.
" Aku tidak sengaja lewat dan melihatmu," jawab Sandy singkat.
" Clarissa siapa dia?" tanya Sandy yang sepertinya mencurigai sesuatu. Clarissa sampai melihat ke arah Sandy. Sehingga mata mereka saling beradu pandang.
Di tengah adu pandang itu cahaya cahaya mobil membuat Clarissa mengalihkan pandangannya dan melihat ke depan yang ternyata supirnya sudah datang.
" Supir ku sudah datang. Aku pulang dulu," ucap Clarissa pamit.
" Iya," jawab Sandy. Walau tidak mendapat jawaban apa-apa.
" Ya sudah aku pulang. Terima kasih untuk semuanya," ucap Clarissa lagi. Sandy hanya mengangguk. Clarissa pun membuka mobil dan turun. Sementara Sandy terus melihat Clarissa yang memasuki mobil.
" Aku berharap tidak akan ada yang terjadi padu," batin Sandy yang masih melihat mobil itu.
**************
Pagi hari kembali tiba. Kiara terbangun dari tidurnya. Kiara mengerjapkan matanya ketika sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela kamarnya yang sangat mengganggu tidurnya.
Kiara menguap panjang sampai tangannya berada di atas kepalanya. Dan Kiara juga menutup mulutnya. Karena uapannya yang sangat panjang.
" Jam berapa sekarang," ucap Kiara mencoba untuk duduk masih dalam keadaan menguap lebar dengan telapak tangannya yang menutupnya.
Kiara mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat sudah pukul 7 pagi. Kiara mengecek ponselnya. Sama saja tidak ada pesan atau panggilan telepon.
" Dia benar-benar lupa menghubungiku," batin Kiara lesu. Semalaman menunggu telpon dari Kevin sampai dia begadang. Tetapi sia-sia Kevin tidak juga mengabarinya.
" Apa dia sudah berangkat ya," ucap Kiara yang dengan cepat-cepat bangkit dari ranjangnya dan berlari ke arah teras kamarnya. Membuka pintu teras itu dengan tergesa-gesa. Lalu langsung keluar.
Setelah sampai di teras kamarnya. Kiara langsung melihat kebawah dan memang kebetulan Kevin sedang ingin berangkat kerja dan ingin memasuki mobil. Kiara yang melihatnya membuka mulutnya ingin berteriak memanggil Kiara.
__ADS_1
" Ke.." Kiara langsung menutup kembali. Tidak mungkin dia berteriak seperti itu. Apa kata-kata orang-orang nanti. Jika dia harus meneriaki.
Kiara yang mempunyai ide langsung mengetik pesan di ponselnya.
Kevin lihatlah ke atas aku di atas," tulis Kiara dengan buru-buru. Untung jarinya lincah.
Kevin yang memasuki mobilny melihat notif masuk dari Kiara. Dia membaca dari atas tanpa membuka pesan wa itu. Kevin langsung masuk mobil. Tanpa melihat Kiara keatas.
Hal itu membuat Kiara heran. Kenapa Kevin malah langsung masuk mobil.
" Apa dia tidak membacanya. Bukannya tadi dia melihat ponsel," tanya Kiara benar-benar bingung.
Dia jelas melihat Kevin melihat hanphone tetapi malah tidak melihat dirinya. Kiara hanya penuh kebingungan sampai mobil itu berjalan.
" Kenapa dia malah pergi. Tanpa melihatku, masa iya dia tidak melihat notif ku," ucap Kiara yang benar-benar bingung.
Tanpa berpikir lama. Kiara pun langsung menelpon Kevin. Kevin yang sudah berada di dalam mobilnya melihat panggilan masuk dari Kiara. Kevin hanya melihat layar ponsel itu tanpa bisa mengangkatnya.
" Maaf kan aku Kiara. Kamu harus melupakan semuanya. Semua ini demi kamu. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa," batin Kevin terus melihat ponsel tersebut.
Kevin memang benar-benar seperti pengecut yang tidak bisa melakukan apa-apa. Lari dari masalah. Setelah berhasil membuat anak orang jatuh cinta malah di tinggalkan.
Sementara Kiara terus menelpon Kevin. dan tetap tidak di angkat sama sekali. Padahal dia berharap di angkat.
" Kenapa dia tidak mengangkatnya. Ada apa sebenarnya. Kenapa Kevin seperti itu," batin gelisah.
Kiara pun akhirnya menyerah dan memilih masuk. Saat ingin memasuki kembali kamarnya. Tiba-tiba saja langgkahnya harus terhenti. Ketika melihat wanita yang memeluk Kevin. Ke luar dari rumah Kevin dan wanita itu memasuki mobil.
" Jadi Kevin dan dia semalaman bersama. Bahkan wanita itu berada di rumahnya," ucap Kiara dengan pikirannya yang benar-benar tidak tenang.
Kiara tidak tau apa yang terjadi. Banyak teka-teki yang tidak dapat di pecahkannha yang membuatnya bingung.
Memang baru sehari Kevin tidak mengabari. Tetapi dia sudah merasa entah seperti apa. Maklumlah Kiara sedang di mabuk cinta jadi wajar saja pikirannya yang aneh-aneh.
**********
Setelah mandi dan menenangkan pikirannya Kiara menuruni anak tangga dan menghampiri adiknya yang sedang menonton televisi. Sambil memakan kripik kentang.
" Kamu tidak sekolah?" tanya Kiara yang duduk di samping adiknya.
" Lagi nggak enak badan," jawab Ziva dengan santainya sambil memakan keripik dan terdengar suara kriyuk-kriyuk.
" Nggak enak badan gimana, orang kamu baik-baik aja. Nggak enak badan itu. Istirahat di kamar. Bukan seperti ini," ocek Kiara melihat adiknya yang terus banyak alasan.
" Nanti. Soalnya dramanya blom habis. Kalau nonton drama favorite aku nggak boleh ketinggalan. Lagi pula badannya juga langsung sembuh," sahut Ziva dengan entengnya.
Membuat Kiara menoleh kearah televisi. Kiara melihat drama Korea yang sudah sering di lihatnya di tonton adiknya.
" Drama mulu, sekolah yang benar," sahut Kiara sewot mengambil majalah dan membuka-bukanya.
Dia sedang merasa tidak tenang dan tidak tau mau ngapain. Jadi mengalihkan dengan kesibukan yang tidak jelas.
" Kasihan ceweknya nggak di kasih kepastian," ucap Ziva tiba-tiba membuat Kiara melihat Ziva dan menoleh ke arah televisi.
__ADS_1
" Kenapa dia?" tanya Kiara kembali membolak-balikan majalahnya.
" Hubungannya rumit, mereka selalu jalan berduaan, kayak orang pacaran. Tetapi tidak ada kejelasan dalam hubungan mereka," jawab Ziva terus melihat layar televisi.
" Kalau mereka sudah jalan. Ya berarti ada hubungan. Ngapain minta kepastian lagi," sahut Kiara.
" Beda dong kak, Kita sebagai cewek ya harus butuh kejelasan pacaran atau tidak. Kalau nggak di tembak ya kita bingung dong. Masa iya kita jalan sama cowok yang itu-itu aja. Ngabisin waktu berdua. Tetapi nggak pernah di tembak atau di kasih komitmen. Kita nggak akan tau hubungan kita itu seperti apa," jelas Ziva. Seakan hal itu sama seperti yang di alami Kiara.
" Ya kan mereka sama-sama tau perasaan mereka. Apa perlu harus di ucapkan," sahut Kiara seakan mengatakan dirinya sendiri.
" Ya perlu dong Kakak. Supaya ada kejelasan. Gini yah, kalau mesalnya. Si pria tidak pernah mengungkap isi hatinya. Terus tiba-tiba kita lihat dia sama cewek lain. Kita bakal ngapain. Marah, emang kita siapanya. Pacat bukan. Masa iya kita marah kan enggak etis banget," oceh Ziva.
" Jadi dalam hubungan itu sangat di perlukan untuk mengungkap perasaan. Itu sangat penting dan wanita ya jelas butuh itu. Supaya semuanya jelas,"
Ziva yang benar-benar sok tau. Kiara mendengar penuturan Ziva terdiam. Seakan apa yang di katakan Ziva memang benar.
Hubungannya bahkan seperti itu. Dia juga tidak bisa marah dengan Kevin karena apa yang terjadi dan pasti tidak punya hak untuk bertanya. Karena memang Kevin tidak pernah mengungkap isi hatinya.
" Bukannya dengan berciuman itu sebuah ungkapan perasaan," sahut Kiara tiba-tiba yang melihat layar televisi pemain dalam tokohnya yang sedang berciuman.
" Ya itu sih namanya ceweknya juga bodoh. Masa iya ungkapan perasaan seperti itu. Sebdewasanya seseorang paling tidak harus bilang cinta. Jadi kan hubungannya tidak membingungkan," sahut Ziva terus makan dengan kata-katanya yang sok tau.
**********
Sore hari Kiara dan keluarganya makan bersama di luar. Katanya sih untuk acara ulang tahun Kiara. Kiara pun akhirnya mau mengadakan acara ulang tahunnnya di Restaurant terdekat.
Awalnya Sahila ingin membuat pesta untuk Kiara. Kiara yang awalnya setuju. Kembali berubah pikiran. Dia memang tidak berniat untuk ada perayaan-perayaan sana sini.
Mereka hanya baberque dan juga makan Shabu-shabu di salah satu Restaurant Korea yang pasti itu rekomandasi Ziva. Si pecinta Korea. Siapa yang ulang tahun dan siapa merekomendasikan tempatnya. Namanya juga Ziva.
Mereka sudah mulai menikmati makan mereka. Ada yang masih memanggang dan ada juga yang sudah makan. Walau hanya makan-makan Sahila tadi juga menyiapkan kue ulangtahun juga untuk Kiara.
Mereka sudah melakukan tiup lilin dan pemotongan kue dan sekarang hanya tinggal menikmati makan saja.
Saat Rangga sibuk membakar daging Ziva terus merecoki dengan memakan seenaknya tanpa mau memasaknya.
" Ziva," Rangga langsung menepis tangan Ziva.
" Pelit amat, orang dikit aja," sahut Ziva langsung mengambil lagi.
" Sudah jangan ribut, masa iya makan saja harus ribut," sahut Sahila sambil mengunyah makanannya selalu harus memperingati anak-anaknya agar tidak bertengkar.
" Nih anak nih, cari instan doang," sahut Rangga kesa. Sahila geleng-geleng melihat anak-anak yang tidak ada hari tanpa bertengkar.
Mata Sahila melihat ke arah Kiara dan mendapati Kiara yang melamun.
" Kiara kenapa kamu melamun terus?" tanya Sahila yang benar-benar bingung dengan Kiara.
" Tidak ma, Kiara hanya mengantuk aja," sahut Kiara.
" Baru juga jam berapa," sahut Rachel sambil makan.
Bersambung.....
__ADS_1