
Tidak menunggu lama. Akhirnya Haria pun sudah berada di depan ruangan Winata. Dia menarik napasnya panjang dan membuangannya perlahan kedepan dengan perasaannya yang pasti tidak tenang juga.
" Kenapa dia memanggil ku segala. Seperti tidak ada kerjaan saja," batin Haria yang kesal dengan wanita yang benar-benar mengganggunya yang membuat moodnya benar-benar hilang.
Tok-tok-tok-tok. Haria langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.
" Masuk!" perintah Winata dari dalam. Haria kembali menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Lalu tangannya memegang kenopi pintu dan mendorong pintu.
Winata tampak santai duduk dan langkah Haria dengan pelan melangkah menghadap Winata. Walau dia kesal karena di panggil saat dia emosi. Tetapi apapun itu dia tetap melangkah masuk. Karena memang tidak mungkin tidak menuruti Winata.
Haria berdiri di depan Winata dengan ke-2 tangannya yang di letakkan di belakang. Dengan perasaannya yang juga takut-takut. Karena memang menghadapi Winata sama saja dengan menghadapi ujian nasional.
" Kenapa Om memanggilku?" tanya Haria dengan gugup tetapi berusaha untuk tenang.
Winata langsung berdiri dan mendekati Haria. Berdiri tepat di dekat Haria dengan jarak yang sangat dekat.
" Kita belum sempat bicara banyak Haria. Masalah kepergian kamu ke Surabaya tempat saudaramu," ucap Winata. Haria mendengarnya heran. Kenapa Winata malah membahas keberangkatannya.
" Apa maksud Om Winata. Bukannya tadi dia sudah menanyakannya dan kenapa menanyakannya lagi, apa sebenarnya tujuannya untuk memanggilku kemari," batin Haria yang penuh kebingungan dan pasti sudah mulai mencemaskan sesuatu.
" Benar kan Haria?" tanya Winata, " Kalau kita belum membahas masalah itu," lanjut Winata lagi.
" Maksud Om apa. Haria benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Om katakan," sahut Haria yang benar-benar bingung.
Winata tampak tersenyum tipis yang menyimpan arti. Winata lalu berjalan perlahan ke belakang Haria dan terlihat membelakangi Haria.
" Apa perjalanan kamu sangat lancar?" tanya Winata dengan santai.
" Iya Om sangat lancar, tidak ada masalah sama sekali," jawab Haria dengan gugup.
" Memang sepertinya sangat lancar, sampai kamu bisa langsung melanjutkan perjalanan sampai ke Jerman," ucap Winata. Mendengar hal itu membuat Kiara benar-benar kaget.
Jantungnya berdetak semakin tidak normal mendengar perkataan Winata. Winata mengatakan Jerman.
" Apa maksud Om Winata. Jerman apa Om Winata tau. Aku benar-benar pergi ke Jerman, gawat jika memang akhirnya om Winata mengetahui hal itu," batin Haria yang merasakan sesak di dadanya. Napasnya naik turun dan dengan wajahnya yang sudah semakin memucat.
" Bagaimana Haria perjalanan kamu ke Jerman apa selancar itu?" tanya Winata.
" Ma_ mak_ maksud Om apa?" tanya Haria dengan gugup dengan bibirnya yang bergetar.
" Kau bertanya apa maksud ku?" tanya Winata yang sudah kembali ke hadapan Haria dan Haria langsung menunduk. Dia sudah tidak berani menatap mata Winata.
" Aku yang harus bertanya kepadamu. Kenapa kau mengirim Foto-foto itu pada ku," ucap Winata.
Haria membulatkan matanya sempurna mendengar kata-kata Winata. Wajahnya semakin memucat. Tubuhnya semakin bergetar dengan apa yang sekarang di hadapinya.
" Om Winata jadi sudah tau kalau aku yang mengirim Foto-foto itu padanya," batin Haria.
" Kau bisa jelaskan kepadaku. Kenapa kau mengirim Foto-foto itu. Apa yang membuatmu mengirim Foto-foto itu padaku," ucap Winata lagi dengan wajahnya yang sangat tenang.
__ADS_1
" Apa maksud Om. Haria tidak mengerti apa yang Om katakan," sahut Haria masih menyangkal kebenaran yang sudah di ketahui Winata. Winata mendengarnya mendengus dengan senyumnya miringnya.
" Kau ingin aku terlihat bodoh di sini Haria dengan kau mempertanyakan itu kepadaku," ucap Winata.
" Tapi Om Haria tidak melakukan apapun dan foto yang Om maksud Haria benar-benar tidak mengerti. Haria ke Surabaya bukan ke Jerman dan om juga menyuruh kak Saras untuk mengantarku. Om bisa tanyakan kak Saras langsung. Jika aku benar-benar pergi ke Surabaya. Karena dia memastikan ku berangkat ke Surabaya," ucap Haria yang masih mengeluarkan kebohongannya. Dia masih berusaha membela dirinya.
Winata yang sepertinya sudah semakin marah dengan perkataan Haria. Winata langsung mencengkram pipi Haria dengan 1 tangannya.
" Kau ingin aku menayakannya?" tanya Winata dengan kesal kepada Haria menatap mata Haria dengan tajam.
Sementara Haria sudah kesakitan dengan perlakukan Winata. Bahkan Haria semakin takut.
" Apa yang kau lakukan selama ini," bentak Winata dengan suara yang menggelegar.
" Om Ampun Om, ampun om, Haria benar-benar tidak mengerti apa maksud Om," sahut Haria yang masih saja tidak mau mengakuinya.
Dengan kasar Winata melepaskan cengkramannya sehingga membuat Haria terduduk di lantai dengan ke-2 telapak tangannya menyentuh lantai.
" Kau benar-benar wanita hebat. Aku tidak percaya jika tamu di rumah ku. Adalah aktris yang paling hebat, yang sangat pintar bersandiwara," ucap Winata menekan suaranya dengan menunjuk Haria.
Air mata Haria sudah keluar. Dia tidak percaya jika semua itu akan terjadi padanya. Dia ingin Kiara yang seperti itu. Tetapi nyatanya dialah yang seperti itu. Dia yang mengalaminya. Dia yang di perlakuan sangat hina oleh Winata
***********
Saras berada di kamarnya sangat gelisah dia duduk di pinggir ranjang dengan ke-2 tangannya yang saling menggenggam erat. Wajahnya terlihat begitu cemas.
Alan yang keluar dari kamar mandi. Sangat jelas melihat kegelisahan istrinya. Alan pun langsung menghampiri sang istri. Duduk di samping istrinya. Alan memegang tangan Saras yang begitu sangat dingin.
" Kamu tau hubungan Kiara dan Kevin?" tanya Alan lagi yang memperjelas maksudnya.
" Apa yang kamu ketahui ceritakan kepadaku, jangan menyembunyikan apa-apa lagi Saras." ucap Alan lagi yang sangat lembut berbicara pada istrinya. Dia memang tidak tau apa-apa tentang adiknya dan dia juga tidak percaya. Jika istrinya mengetahui hal itu.
" Hey, sayang jangan diam saja. Katakan kepadaku ada apa?" tanya Alan lagi yang memang ingin tau apa yang di ketahui istrinya.
" Sayang katakan ada apa. Apa yang kamu ketahui, Cerita lah?" tanya Alan lagi.
" Aku tidak tau harus di mulai dari mana. Saat Kiara menjadi pasienku di rumah sakit. Memang ada Kevin di sana. Dia terlihat khawatir dan aku juga tidak tau apa hubungannya dengan Kiara.
" Di lain kesempatan. Aku juga tidak sengaja melihat Kevin yang marah-marah dengan menggendong Kiara yang tidak sadarkan diri. Karena keracunan. Aku melihat Kevin sangat mengkhawatirkannya. Aku melihat Kevin begitu mencemaskannya. Aku tidak tau kenapa dia terlihat sangat mencemaskan Kiara. Tetapi aku bisa melihat dari wajah Kevin dia dan wanita itu mempunyai hubungan yang special. Aku bisa melihatnya,"
" Aku juga melihat untuk pertama kalinya Kevin menangis. Hanya karena Kiara. Dari situ aku benar-benar tau jika Kevin memang memiliki hubungan yang pasti tidak main-main dengan Kiara. Tapi aku masih menebak-nebak. Sampai akhirnya semakin banyak hal yang aku lihat dan memastikan hubungan mereka memang memang ada sesuatu,"
" Makanya aku memberikan hasil medis Kiara kepada Kevin. Awalnya aku hanya ingin mengetes dari pemberian hasil medis itu. Dan semakin membuktikan jika mereka memang menjalin hubungan," ucap Saras panjang lebar menjelaskan pada suaminya.
" Mas Alan aku tau. Ikut masalah ini akan menyebabkan efek kepadaku. Aku tidak tau kenapa. Aku sangat bahagia saat melihat hubungan Kevin dan Kiara. Dan memang benar aku mendukung hubungan itu. Dan berusaha untuk menjauhkan Haria dari mereka," lanjut Saras lagi.
Mendengar nama Haria membuat Alan menjadi kaget.
" Apa maksud kamu Haria. Kenapa kamu membicarakan Haria dan apa hubungan Haria dengan mereka?" tanya Alan malah bertambah bingung.
__ADS_1
" Bukannya kamu sendiri yang mengatakan. Jika Haria adalah masa lalu Kevin dan menurut kamu apa. Dia datang kerumah ini. Apa menurut kamu. Dia benar-benar ingin menjadi istri ke-2 mu. Apa menurut kamu dia memang menyetejui perjodohan itu," ucap Saras membuat Alan semakin bingung.
" Apa maksud kamu. Aku tidak mengerti dengan semua ucapan kamu," sahut Alan yang benar-benar bingung. Melihat istrinya dengan wajahnya yang begitu serius.
" Mas, Haria datang kerumah ini untuk Kevin. Bukan untuk menerima perjodohan dari papa. Dia menyetujui perjodohan itu. Agar bisa kembali bersama Kevin," jawab Saras yang membuat Alan kaget.
" Apa maksud kamu. Haria melakukan itu. Tapai itu tidak mungkin Saras. Dan kamu tau dari mana?" tanya Alan.
" Aku mendengarnya sendiri. Dia mencintai Kevin dan masuk kedalam rumah tangga kita. Hanya untuk hubungannya dan juga Kevin," jelas Saras.
" Memang sulit percaya. Tetapi itulah kenyataannya. Memang itu kebenarannya. Aku sudah sering memperingatkan dia. Tetapi dia sama sekali tidak peduli. Dia malah tidak takut dengan papa. Dia sengaja masuk kedalam rumah tangga kita hanya untuk Kevin. Dia meruskannya hanya untuk ke egoisannya. Semua yang di lakukannya hanya untuk Kevin,"
" Dulu dia merasa di tolak oleh papa dan meninggalkan Kevin. Dan dia berjuang mati-matian dan kembali setelah keluarga ini benar-benar bisa menerimanya. Walau caranya untuk mengecoh rumah tangga kita. Tetapi dia memang melakukan semua itu. Dia melakukannya untuk niatnya yang tidak baik tanpa takut apapun," ucap Saras yang menjelaskan dengan detail. Tanpa ada yang tidak di katakannya.
Alan benar-benar tidak percaya mendengar penjelasan sang istri. Alan terlihat membuang napas perlahan kedepan dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
" Dia melakukan semua itu?" tanya Alan dengan suara seraknya memastikan kembali. Haria mengangguk.
" Astaga berani sekali dia melakukan itu," ucap Alan dengan menekan suaranya yang sangat geram dengan Haria.
" Dan kamu tidak memberitahuku semua ini. Saras kamu juga menjadi korban. Rumah tangga kita dan kamu malah diam tanpa memberi tahuku membiarkan dia memanfaatkan rumah tangga kita untuk kepentingannya dalam cintanya yang tidak berati itu," ucap Alan yang kesal.dengan hal itu. Sangat tidak menerima apa yang di lakukan Haria.
" Maaf mas, aku tidak memberitahumu. Aku tidak ber maksud menutupi apapun dari mu," ucap Saras yang pasti merasa bersalah.
" Wanita itu benar-benar sangat berani melakukan hal itu, dia pikir siapa dia," ucap Alan yang terlihat geram.
" Ampun Om... Pranggg," suara teriakan tiba-tiba terdengar jelas. Membuat mereka berdua kaget mendengar suara teriakan bersamaan dengan suara pecahan yang sangat kuat.
" Apa itu?" tanya Saras heran yang matanya ke arah pintu.
" Aku juga tidak tau apa itu," jawab Alan yang juga kaget dan pasti tidak tau. Karena mereka sama-sama berada di dalam kamar.
" Tapi itu bukannya seperti suara Haria," ucap Saras yang menebak-nebak.
" Kamu benar, itu seperti suara Haria. Ya sudah ayo kita lihat,'" ucap Alan. Saras mengangguk.
Alam dan Saras pun langsung keluar dari kamar dan ingin melihat apa yang terjadi. Pecahan barang yang sangat kuat.
Ternyata memang benar Haria. Winata yang sepertinya semakin marah dengan kelakuan Haria dan tidak tau apa lagi yang membuatnya semakin marah.
Sehingga menyeret Haria dari ruangannya dan langsung melempar wanita itu sampai Haria tertabrak guci. besar dan jatuh bersamaan dengan guci itu.
Saras dan Alan sudah keluar dari kamar dan mereka berada di atas kaget melihat Haria yang sudah terduduk seperti tampak mengesot dengan pecahan kaca di samping Haria.
" Haria," lirih Saras dengan menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya yang benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Bukan hanya Saras dan suaminya saja yang keluar. Clarissa yang tadinya juga masih menelpon di kamarnya menghubungi Sandy untuk memberikan saran agar hati-hati juga kaget dengan mendengarkan suara pecahan tersebut dan juga membuatnya keluar dari kamar dan berada di samping Saras.
" Haria. Kenapa bisa seperti itu," pekik Clarissa yang juga tidak kalah kagetnya.
__ADS_1
Semua orang juga satu persatu mendatangi lokasi yang membuat mereka terkejut dan pasti eksperesi mereka juga tidak kalah kagetnya dengan Alan, Clarissa ataupun Saras.
Bersambung.....