Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin

Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin
Part 143 memarahinya.


__ADS_3

Rachel berada di teras kamar Kiara dan terus melihat kearah rumah Kevin. Dia sudah menunggu hampir 2 jam. Tetapi sang adik tidak datang juga dari rumah Kevin.


Dia terus gelisah mondar mandir seperti setrikaan dengan tangannya yang di kepal di letakkan di mulutnya. Beberapa kali Rachel juga terlihat membuang napasnya kasar.


Perasaannya memang sangat tidak tenang dan dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada adiknya. Karena orang yang di hadapi adiknya adalah Mitra Winata yang mungkin pasti dia tau siapa Mitra Winata itu.


Karena Rachel termasuk orang yang tidak punya kerjaan. Jadi sering mengikuti berita keluarga itu dan pasti dia sudah tau apa yang akan terjadi pada adiknya.


" Aduh kenapa Kiara belum pulang juga, apa yang akan di katakannya kepada Kiara. Apa dia akan menghina Kiara, dia akan menyuruh Kiara untuk memutuskan hubungannya dengan Kevin," Rachel terus merocos panjang lebar bertanya-tanya dengan apa yang akan terjadi pada sang adik.


" Aku yakin mereka pasti mempermalukan Kiara. Mereka di dalam sana akan berkata yang tidak-tidak. Mereka akan menghina Kiara habis-habisan, mereka akan membuat Kiara sadar, mereka akan mengatai Kiara dengan sesuka hati mereka. Aku yakin mereka akan membuat Kiara benar-benar sakit hati,"


" Kiara pasti sekarang sedang terduduk dan menangis terisak-isak. Karena perbuatan mereka. Atau mungkin mereka juga menumpahkan makanan kewajah Kiara," Rachel terus merocos menebak-nebak apa yang terjadi pada adiknya. Pikirannya sudah kau melayang-layang dengan pikiran yang buruk kepada adiknya.


Matanya juga tidak henti-hentinya melihat ke arah rumah itu dan kapan Kiara akan keluar.


" Apa aku susul aja ya," ucapnya tiba-tiba mendapatkan ide.


" Tapi apa itu namanya tidak ikut campur. Bagaimana kalau aku tidak di izinkan masuk," ucapnya lagi yang kebingungan sendiri.


" Tapi kan aku kakak Kiara. Masa iya aku hanya diam dan menunggu saja di sini. Bagaimana jika Kiara yang malang benar-benar udan entah seperti apa," Tiada hentinya mulut Rachel merocos, terkadang keluar ide gilanya. Terkadang keluar pikirannya yang kembali berpikiran jelek.


" Ahhhhh, aku sebaiknya ke sana saja," ucapnya yang akhirnya memutuskan sendiri. Rachel berbalik badan.


" Aaaaaaa," teriak Rachel kencang sampai mengangkat tangannya ketika saat berbalik badan ada tepat orang di depannya yang tak lain adalah Ziva.


" Ziva kamu ini ngagetin aja," ucap Rachel memukul Ziva dengan napasnya yang tersenggal-senggal dia juga mengusap dadanya yang jantungnya hampir copot.


" Lagian kakak kenapa sih, biasa aja deh perasaan. Kakak aja yang nggak tau aku dari tadi sudah di sini," ucap Ziva.


" Kamu ngapain coba muncul tiba-tiba nggak jelas kayak gitu," sahut Rachel kesal.


" Kak. Siapa yang muncul tiba-tiba, aku dari tadi di sini. Kakak itu sibuk merocos. Makanya nggak sadar aku di sini," ucap Ziva.


" Sama aja. Seharusnya kalau kamu datang bilang sama kakak. Jangan kayak gini. Bikin jantung orang copot tau," sahut Rachel yang masih kesal dengan memegang dadanya yang masih sesak.


" Ihhhh, kakak mah alay, orang biasa aja juga," sahut Ziva.


" Kamu ngapain kemari?" tanya Rachel ketus.


" Apaan sih, ya terserah aku lah. Ini juga bukan kamar kakak. Yang seharusnya nanya itu adalah aku. Ngapain kakak di kamar kak Kiara dan pakai bicara yang tidak jelas segala lagi," sahut Ziva.


" Ya terserah aku juga lah, ngapain di sini," sahut Rachel yang ketus. " Oh iya, ngomong-ngomong kamu dengar kakak tadi bicara apa?" tanya Rachel dengan tangannya yang di lipat didanya.


"'Hmmmm, aku dengar," jawab Ziva apa adanya. Karena memang dia sudah lama berdiri di tempat itu. Jadi wajar saja dia mendengarnya.


" Kamu mendengarnya?" tanya Rachel memastikan sekali lagi. Ziva mengangguk membenarkan. Jika dia memang mendengar apa-apa yang di katakan kakaknya.


" Dia mendengarnya. Walau pun dia mendengarnya aku yakin dia tidak akan mengerti. Karena dia masih kecil. Jadi tidak akan tau apa-apa," batin Rachel yang tidak akan mempersalahkan hal itu.


" Memang kak Kiara ngapain di sana?" tanya Ziva tiba-tiba. Rachel mengkerutkan dahinya.


" Kamu kok nanya gitu?" tanya Rachel heran.


" Kan memang benar kak Kiara di sana kan lagi di undang sama Om Mitra Winata," ucap Ziva.


" Kamu kok tau?" tanya Rachel heran.


Perasaan dia melihat di sampul undangannya tidak ada yang menuliskan Winata yang mengundang. Makanya mamanya juga tidak tau siapa yang mengundang Kiara.


" Tuh aku lihat di meja undangannya?" jawab Ziva santai.

__ADS_1


" Kamu ya kebiasaan pake lihat-lihat undangan orang segala lagi," sahut Rachel kesal dengan kelakuan Ziva.


" Apaan sih hanya lihat doang emang apa yang salah," sahut Ziva merasa kakaknya sangat berlebihan.


" Lihat doang tetap aja nggak boleh," ketus Rachel.


" Nggak usah alay deh kak. Nggak usah main rahasia-rahasiaan. Hanya undangan saja," sahut Ziva.


" Tetap saja itu privasi orang," sahut Rachel kesal.


" Kakak pake bilangin privasi segala. Terus kakak ngapain di sini coba. Kepo kan sama kak Kiara. Kakak juga suka kepo sama hubungan kak Kiara dan kak Kevin," ucap Ziva tiba-tiba.


Mendengar nama Kevin membuat Rachel. Kaget.


" Kamu bilang apa Kevin. Jangan bilang kamu tau hubungan Kiara sama Kevin?" sahut Rachel yang menebak-nebak dengan wajahnya penuh curiga melihat sang adik.


" Ya kakak mah ketinggalan. Aku sudah tau lebih dulu dari pada kakak," ucap Ziva lagi. Rachel semakin kaget mendengarnya. Tidak menyangka adiknya yang masih remaja ini mengetahui hal sebesar itu.


" Kamu benaran tau?" tanya Rachel lagi memastikan yang sudah memegang tangan adiknya.


" Aku tau kak," sahut Ziva lagi.


" Kamu kok bisa tau?" tanya Rachel.


" Ya tau lah, aku itu sering tidak sengaja, melihat kak Kiara turun dari mobil kak Kevin. Aku juga pernah melihat kak Kevin kesekolahan dan bicara sangat akrab dengan kak Kiara. Bukan hanya itu aku juga pernah melihat mereka di taman berduan. Dan aku juga tau kalau mereka sedang melakukan liburan bersama ke Luar Negri. Pertama ke Paris, lalu ke Amerika bersama dan terakhir mereka ke Jerman," jelas Ziva dengan detail yang benar-benar mengetahui hubungan Kiara dan Kevin.


Rachel yang mendengarnya sampai menganga kaget. Tidak percaya jika sang adik lebih banyak tau dari pada dia.


" Jadi apa lagi kalau bukan namanya mereka berpacaran. Lagian mereka juga sering telpon-telponanan belakangan ini. Jadi kan pasti mereka pacaran," lanjut Ziva yang punya keyakinan 100%.


" Aku benar bukan?" tanya Ziva.


" Iya sih kamu benar. Kakak tidak percaya. Jika kamu tau sebanyak itu tentang hubungan Kiara dan juga Kevin," sahut Rachel yang masih tidak percaya dengan sang adik.


" Kamu juga tau Kiara mendapatkan masalah?" tanya Rachel.


" Hmmmm, Om Winata itu menemuiku di sekolah yang kemarin aku ceritakan. Dia menanyakan masalah kak Kiara. Dia bukan hanya menanyakan masalah pendidikan kak Kiara saja. Tetapi yang lebih utama. Dia menanyakan masalah pribadi kak Kiara dan dari bicaranya aku yakin dia tidak menyukai hubungan kak Kiara dan juga kak Kevin," jelas Ziva lagi.


" Kamu benar sih. Lalu apa Om Winata mengatakan hal-hal yang lain lagi yang lebih intens gitu?" tanya Rachel penasaran.


" Dia menanyakan ku apa keluarga kita tau hubungan kak Kiara dengan Kevin," jawab Ziva.


" Lalu kamu jawab apa?" tanya Rachel.


" Aku bilang saja. Aku juga tidak tau jika mereka ada hubungan. Aku juga bilang kayaknya mereka tidak ada hubungan," jawab Ziva.


" Lalu dia bilang apa?" tanya Rachel lagi yang semakin penasaran.


" Dia bilang agar aku menyuruh mama dan papa untuk lebih mengawasi kak Kiara," jawab Ziva.


" Dia bilang kayak gitu?" tanya Rachel tidak percaya.


" Iya dia bilang kayak gitu. Pokoknya nggak suka gitu lah dengan hubungan kak Kiara dan kak Kevin," ucap Ziva lagi.


" Kasian sekali Kiara. Bisa-bisanya dia menyukai pria yang hanya akan menyakitinya saja," ucap Rachel yang semakin prihatin dengan adiknya.


" Kak. itu kak Kiara?" tunjuk Ziva tiba-tiba yang melihat Kiara. Rachel langsung berbalik badan dan melihat Kiara yang keluar dari rumah itu bersama Kevin.


" Kevin," gumam Rachel, heran melihat Kevin.


" Kak Kevin ada di sana juga?" tanya Ziva yang sudah berdiri di samping Rachel.

__ADS_1


" Kakak juga tidak tau kenapa Kevin ada di sana. Karena setau kakak Kiara bilang Kevin sedang di Paris," jawab Rahel bingung.


" Mau kemana mereka?" tanya Ziva penasaran yang terus melihat kakaknya dan Kevin yang pergi berjalan dan terlihat bahwa Kevin sesak menarik Kiara.


" Kakak juga tidak tau," sahut Rachel yang juga penasaran. " Tapi syukurlah Kiara sudah keluar dari rumah itu dan Kevin bada di sana yang kemungkinan Kiara masih tertolong," ucap Rachel yang bisa merasa sedikit lega.


" Iya, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan kak Kiara. Karena kasihan dia. Jika harus mengalami masalah serumit ini," sahut Ziva yang sepertinya sangat dewasa menanggapi masalah Kiara.


" Iya kita doakan saja apa yang terbaik untuk mereka dan semoga mereka bisa menyelesaikan masalah mereka," sahut Rachel yang ikut berdoa yang baik-baik


*********


Kevin membawa Kiara ketaman di sekitar komplek dan tangan Kiara masih di pegang Kevin dengan sedikit menarik Kiara.


" Kevin lepas. Kamu mau bawa aku kemana?" keluh Kiara yang sudah merasakan sakit di pergelangan tangannya.


Mendengar keluhan itu Kevin pun akhirnya melepas dan menghadap Kiara yang masih ada bekas air mata di pipi Kiara.


" Ini yang kamu katakan kamu baik-baik saja?" tanya Kevin masih dengan suaranya yang keras.


Dia masih terlihat marah pada Kiara sampai wajahnya masih memerah dan rahang kokohnya mengeras.


" Kenapa Kiara kamu tidak jujur kepadaku? Kenapa kamu tidak bilang kepadaku? Jika papa sudah tau semuanya. Kenapa kamu menyembunyikan semua ini? Kenapa kamu mengikuti semua kemauan papa?" tanya Kevin dengan kemarahannya pada Kiara.


" Apa kamu pikir kamu bisa menghadapinya sendirian. Apa susahnya Kiara memberi tahuku. Apa kamu merasa jika kamu...." Omongan Kevin terputus saat Kiara memeluknya dengan erat.


" Jangan memarahi ku terus. Aku semakin tidak bisa berpikir. Kamu jangan marah-marah terus kepada ku. Aku tidak tau harus melakukan apa. Aku masih kaget dengan semuanya. Seharusnya kamu minta maaf kepadaku. Karena kamu sudah membentakku. Aku takut dengan perlakuan kamu tadi Kevin. Aku takut," ucap Kiara yang sudah menangis sengugukan.


Kevin menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Dia mencoba menenangkan dirinya dengan emosinya yang benar-benar tidak terkendalikan dan tidak iya sadari. Jika Kiara pasti terkejut dengan apa yang terjadi.


" Maafkan aku Kiara," ucap Kevin yang memeluk erat kekasihnya.


Dia menenangkan kekasihnya yang masih menangis di pelukannya. Bahkan tubuh Kiara sangat bergetar yang mungkin memang benar. Kiara masih sangat takut dengan semua itu.


" Seharusnya aku tidak membentakmu. Seharusnya kamu tidak melihat apa yang terjadi. Maafkan aku sudah membuat mu terkejut. Aku tau kamu pasti sangat ketakutan dengan semua ini. Kamu pasti kebingungan dengan semua ini, maafkan aku Kiara sudah membuat kamu harus mendengar dan melihat hal yang tidak perlu kamu lihat," ucap Kevin lagi yang merasa bersalah pada Kiara.


Kiara memang sedari tadi diam saja dengan menahan takut. Apa yang di lakukan Kevin jelas membuatnya semakin takut. Dia takut Kevin juga akan mendapatkan masalah. Karena tadi dia melihat Winata sangat marah kepada Kevin. Hal itu membuat Kiara semakin takut.


Kevin melepas pelukannya dari Kiara dan melihat wajah Kiara yang sudah memerah penuh air mata dan Kiara masih terdengar suara isakan.


" Kamu jangan menangis lagi," ucap Kevin mengusap lembut air mata kekasihnya.


" Kamu memaafkanku?" tanya Kevin menatap Kiara dengan dalam. Kiara mengangguk menjawab pertanyaan dari Kevin.


" Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kiara dengan bibirnya yang bergetar.


" Bagaimana selanjutnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, apa yang akan terjadi besok?" tanya Kiara yang benar-benar sudah takut. Bahkan pasti besok akan ada masalah besar. Dia sudah meyakini semua itu akan terjadi.


" Kaku tenangkan diri kamu dulu. Ketika sudah tenang maka kita akan bicara," ucap Kevin dengan lembut.


" Kamu jangan menangis ya. Air mata kamu tidak ada gunanya. Kita akan menghadapi semuanya kamu dan aku pasti bisa menghadapinya.


Bukannya sebelumnya kita sudah tau resikonya dan berarti kita juga akan siap menghadapai semuanya," ucap Kevin dengan lembut berusaha meyakinkan Kiara.


" Apa semua ini akan ada penyelesaiannya?" tanya Kiara yang benar-benar ingin tau kelanjutan apa yang akan terjadi dengan kisah mereka.


" Pasti akan ada. Jadi kamu tenang saja. Kamu jangan menangis kamu tenangkan diri kamu dulu dan ceritakan kepadaku. Apa yang kamu alami selama aku tidak ada," ucap Kevin.


" Kamu akan menceritakannya kan tanpa menutupi apa-apa lagi?" tanya Kevin memastikan Kiara. Kiara mengangguk. Kevin mengusap kembali air mata yang terus saja jatuh itu dan langsung memeluk Kiara dengan erat memberi ketenangan kepada Kiara.


" Semua akan baik-baik saja Kiara. Percayalah kepadaku," ucap Kevin memberikan keyakinan. Kiara dia saja tanpa menjawab apa-apa.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2