
Akhirnya Kiara kembali ke Indonesia terlebih dahulu dan Kevin masih menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal beberapa hari lagi di Jerman.
Kiara dan Rangga pun sudah berada di dalam pesawat menuju Indonesia. Pesawat mereka berangkatnya sore hari. Jadi Kiara yang menginap di Apertemen Kevin di antarkan Kevin siang hari.
Meski begitu Kiara masih tampak tidak bersemangat ketika pulang. Bagaimana tidak bersemangat. Kekasihnya masih tinggal Jerman. Dan dia akan di tinggal lagi. Padahal hanya beberapa hari saja.
" Jangan lama-lama pulang," ucap Kiara menulis pesan pada Kevin.
" Lesu amat, kenapa kayak banyak pikiran," ucap Rangga tiba-tiba yang duduk di samping adiknya dan melihat wajah adiknya yang tidak bersemangat.
" Nggak. Nggak lesu kok, biasa aja," jawab Clara mengelak.
" Nggak lesu gimana wajah kelihatan di tekuk kayak gitu. Kenapa masih kurang jalan-jalan di Jermannya?" tanya Rangga.
" Nggak siapa yang jalan-jalan. Orang cuma sekali doang," sahut Clara.
" Iya memang sekali. Karena kita hanya sebentar di sana. Dan selama di Jerman kamu sibuk sendiri. Ya tapi tidak apa-apa. Kamu menepati janji kamu tidak merepotkan kakak," ucap Rangga yang tidak masalah adiknya yang sibuk sendiri. Karena dia juga banyak pekerjaan.
" Lagian kita cepat amat pulangnya. Seharunya kan kakak gunakan kesempatan itu untuk liburan sehari saja kan lumayan buat reflesing. Memang nggak capek apa kerja Mulu, awas lo entar gila kalau kebanyakan kerja," ucap Kiara mengingatkan kakaknya.
" Kamu memang benar. Tetapi kakak masih banyak pekerjaan di Indonesia. Jadi kakak tidak bisa main-main dalam bekerja. Nanti ada waktunya untuk main-main," jawab Rangga.
" Tumben serius amat dalam bekerja nggak biasanya. Kayak mau naik jabatan aja," sahut Kiara.
" Hmmmm, itu kamu tau," sahut Rangga. Kiara langsung melihat ke arah Rangga dengan wajahnya yang penasaran.
" Kakak akan naik jabatan?" tanya Kiara tidak percaya. Rangga menganggukkan kepalanya. Bahwa tebakan sang adik benar dia memang akan naik jabatan.
" Serius?" tanya Kiara tidak percaya. Sampai wajahnya sekaget itu mendengar kabar dari Rangga.
" Ya serius lah. Kamu pikir kakak kerja mati-matian itu tidak untuk mengejar jabatan lebih tinggi. Kakak itu akan di promosikan sebentar lagi. Kakak akan menjadi manager pemasaran," ucap Rangga menjelaskan dengan detail.
Kiara tambah terkejut mendengarnya. Jabatan yang di terima kakaknya tidak main-main. Bahkan sama seperti papanya.
" Kakak serius?" tanya Kiara lagi masih tidak percaya.
" Iya Kiara. Kakak serius. Kenapa kamu ingin mengatakan kakak bodoh mau aja jadi budak Lexus. Itu yang ingin kamu katakan," ucap Rangga. Kiara langsung menggeleng.
" Perasaan Kiara tidak bicara apa-apa, aneh deh," sahut Kiara dengan bibirnya mengerucut.
" Kan kamu biasanya seperti itu. Selalu sensitif kalau masalah Lexus, dan kakak yakin tanggapan kamu juga sekarang seperti itu. Iya kan," ucap Rangga.
" Itukan biasanya dan sekarang sudah beda," batin Kiara tersenyum tipis.
" Malah senyum lagi," sahut Rangga.
" Ya senyum lah. Senyum itu menggambarkan kebahagian dan aku bahagia karena kakakku akan menjadi manager. Masa iya aku sedih, kakak ma aneh," sahut Kiara. Rangga menaikkan 1 alisnya merasa aneh dengan adiknya.
" Tumben amat kamu nggak banyak protes," ucap Rangga heran yang biasanya Kiara akan terus protes.
" Kakak ini aneh banget deh. Aku senyum salah tidak senyum salah. senang salah, tidak senang salah, maunya apa sih?" tanya Kiara yang benar-benar tidak paham dengan kakaknya.
" Ya kan biasanya nggak kayak gitu, jadi wajar kakak bertanya," ucap Rangga.
__ADS_1
" Sudah lupakan. Kapan kakak akan di promosikan?" tanya Kiara.
" Mungkin dalam waktu dekat ini. Bisa jadi dalam Minggu ini," jawab Rangga.
" Kalau begitu aku beri selamat. Untuk keberhasilan kakakku," ucap Kiara mengulurkan tangannya. Membuat Rangga semakin heran saja.
" Malah bengong bukannya di sambut," ucap Kiara.
" Iya deh, makasih," sahut Rangga yang menjabat uluran tangan itu.
************
Di sisi lain Mitra Winata sedang berada perusahaan Lexus dia duduk di dalam ruang meeting private. Meeting yang biasa di laksanakan bersama anak-anak.
Wajah Winata terlihat tidak baik-baik saja. Seperti ada sesuatu yang membuatnya marah Karena memang wajah itu jelas menunjukkan ekspresi yang tidak baik.
tok-tok-tok-tok.
" Masuk!" perintah Winata. Ketika melihat ada yang mengetuk pintu dan mempersilahkan masuk.
Seorang Pria yang tampak rapi dengan stelan jas dan terlihat heased putih ditelinganya terpasang yang tak lain adalah asisten pribadinya.
Pria tersebut menundukkan kepalanya ke Tika berdiri 3 meter dari hadapan Winata.
" Tuan manggil saya?" tanya Pria tersebut.
Winata meletakkan foto di depannya yang ternyata adalah foto Kiara yang tersenyum tanpa beban.
" Cari tau siapa wanita itu. Secepatnya lapor kepadaku, cari tau dengan benar," perintah Winata dengan tegas.
" Ada lagi tuan?" tanya Pria itu.
" Tidak ada. Pergilah!" perintah Winata.
" Baik tuan!" jawab pria itu langsung pergi.
Winata mengepal tangannya dan pandangan matanya turun kemeja melihat layar ponselnya dan melihat foto Kevin dan Kiara yang berciuman yang baru saja terjadi.
" Jadi tidak mendengarkan ucapanku. Hubungannya dengan wanita itu pasti sudah sangat jauh. Kau benar-benar menantangku Kevin. Aku memperingatkanmu. Tetapi kau tidak mendengarkanku. Jangan salahkan aku jika papa mu harus turun tangan untuk menyelesaikannya. Semua ini salah Kevin kau yang membuat papa harus turun tangan," ucap Winata yang benar-benar marah dengan Kevin.
Dia sangat terkejut saat membuka ponselnya dan tiba-tiba ada yang mengirim foto seperti itu. Setelah menegur Kevin. Winata memang tidak menyelidiki atau memata-matai Kevin lagi dan benar-benar tidak mencari tau siapa Kiara.
Dia mengira putranya yang tidak pernah membangkang itu akan menurutinya. Tetapi dia salah malah melanjutkan hubungan itu. Dia tidak tau siapa yang mengirim foto itu. Tetapi yang jelas apa yang di lihatnya membuatnya marah dan tidak akan tinggal diam dengan Kevin yang diam-diam berhubungan di belakangnya.
Mitra Winata memang sudah menegaskan peraturan seperti itu kepada anak-anaknya baik wanita maupun pria. Dia mengatakan dengan jelas dan tegas. Agar anak-anaknya tidak menjalin hubungan jika tidak dia yang mencarinya kan yang pasangan yang tepat.
Karena menurut Winata pilihannya sudah yang paling tepat. Walau putra pertamanya Alan telah berhasil meluluhkan hatinya dan Alan bisa melanjutkan hubungannya dengan Saras sampai pernikahan.
Tetapi mereka sama sekali tidak memiliki keturunan setelah 2 tahun pernikahan dan Mitra Winata semakin mempertegas kebijakan yang di buatnya. Agar tidak kejadian seperti Alan yang tidak tepat memilih pasangan.
Dan sekarang Kevin juga coba-coba untuk mengikuti jejak sang kakak dan pasti dia harus turun tangan dalam hal itu. Padahal Winata tidak tau saja jika bukan hanya Kevin yang mengikuti jejak itu.
Clarissa bahkan sudah mengikuti jejak itu berhubungan dengan Sandy salah satu dosen di universitas Lexus. Yang bahkan Clarissa sampai sekarang masih tinggal di rumah Sandy.
__ADS_1
Dan yang lebih parahnya adalah Evan yang berhubungan dengan Shirin pramugari di pesawat Lexus dan mereka sudah 1 tahun lebih berhubungan dan bahkan sudah menikah.
Semua anaknya ternya sudah memiliki pasangan masing-masing dan Winata tidak tau itu dan Kevin yang sialnya yang harus ketahuan sampai 2 kali.
**********
Haria duduk di pinggir ranjang dengan memegang ponselnya dan tersenyum seakan ada sesuatu yang membuatnya begitu sangat bahagia.
" Aku sudah katakan jika aku tidak memilikinya. Kamu juga tidak akan bisa memilikinya. Karena Kevin hanya milikku,"
" Jika aku tidak bisa menghentikannya. Maka biar om Mitra Winata yang menghentikan semuanya," batin Haria tersenyum dengan licik.
Ternyata Haria adalah dalang di balik semuanya dia yang sudah mengirim foto itu kepada mitra Winata.
Sebelum pergi dari Kevin dan Kiara. Hari memang memotret ciuman itu. Setelah memikirkan dengan tepat. Haria pun mengambil keputusan dan mengirim kepada Winata.
" Kamu rasakan sendiri akibatnya Kiara. Kamu harus tau berhadapan dengan siapa. Seharusnya kamu tidak berjalan terlalu jauh Karena akan sulit untuk kembali kebelakang," batin Haria dengan wajahnya yang benar-benar puas dengan apa yang di lakukannya.
Kebenciannya kepada Kiara dan sakit hatinya kepada Kevin karena menolaknha. Memang membuatnya harus melakukan itu. Dia tidak ingin Kevin di miliki orang lain dan satu-satunya cara memang harus membuat Mitra Winata bergerak sendiri. Demi tujuannya itu.
Haria langsung menjatuhkan tubuhnya berbaring di atas ranjang dengan melentangkan tangannya dan matanya menatap langit-langit kamar itu.
" Aku tidak sudah tidak sabar melihat reaksi dari Om Winata. Aku yakin dia akan langsung bergerak dan hal ini akan menyadarkan kamu Kiara. Kalau kamu tidak pantas untuk Kevin. Sebelum menjalin hubungan dengan Kevin seharusnya kamu sudah tau apa kamu pantas atau tidak," batin Haria yang merasa paling pantas dengan Kevin di bandingkan Haria.
" Hmmmmm," Haria membuang napasnya perlahan ke depan.
" Sebaiknya aku tidur, supaya besok aku kembali ke Indonesia dan aku akan melihat kekacauan di sana. Kapan lagi. Aku menonton drama yang begitu menarik," ucapnya senyum-senyum bahagia dan langsung memejamkan matanya dengan perlahan dengan wajahnya yang tidak henti-hentinya tersenyum lebar.
**********
Rachel menuruni anak tangga dan sudah tampak rapi yang mungkin dia akan ke kedai kopi untuk melaksanakan tugasnya seperti biasa.
" Ma, Rachel pergi dulu," ucap Rachel berteriak berpamitan pada mamanya.
" Rachel sebentar," sahut Sahila yang langsung menghampiri Rachel. Mencegah Rachel untuk tidak pergi dulu.
" Ada apa ma?" tanya Rachel heran.
" Kamu jangan ke chofee shop dulu. Kamu ke Bandara jemput Kiara dan juga Rangga," ucap Sahila.
" Mereka sudah pulang?" tanya Rachel.
" Hmmm, mereka sudah pulang. Jadi kamu jemput mereka.
" Cepat amat. Apa dia sudah selesai bicin-bucinan bareng pacarnya," batin Rachel.
" Malah bengong, cepat sana," ucap Sahila.
" Okelah kalau begitu, Rachel pamit dulu," ucap Rachel mencium punggung tangan mamanya dan langsung pergi.
" Hati-hati," ucap Sahila.
" Iya," sahut Rachel.
__ADS_1
Bersambung....