
Kiara masih tidak mengerti dengan ucapan Kevin dia hanya berusaha menyimak apa yang di katakan Kevin.
" Aku tidak mengerti maksudmu. Apa sebelum kita bertemu di Paris. Selain di hotel apa kita pernah bertemu sebelumnya," tanya Kiara penasaran. Kevin menganggukkan matanya.
" Iya kita pernah bertemu sebelumya," jawab Kevin membenarkan.
" Ya jelaslah. Bukannya rumah kita berhadapan. Pasti kita pernah tidak sengaja berpapasan," sahut Kiara menyimpulkan kearah sana.
Karena mungkin mereka memang pasti tidak sengaja berpapasan. Karena tidak saling mengenal. Jadi mereka tidak saling menegur.
" Bukan karena itu. Kita bertemu pertama kali di malam special. Dan hanya beberapa menit," ucap Kevin dengan wajahnya yang serius berusaha membuat Kiara mengingat malam yang tidak bisa di lupakan nya itu.
" Malam special apa maksudnya. Malam yang mana?" batin Kiara menjadi kebingungan.
" Kamu mengingatnya?" tanya Kevin.
Sebenarnya jika dia menunjukkan Vidio itu Kiara pasti mengingatnya. Dia memang akan senang jika Kiara mengingat moment itu. Tetapi sayang Kiara menggeleng kebingungan.
" Aku tidak mengingatnya. Yang aku tau. Kiara bertemu di depan lift," jawab Kiara yang benar-benar tidak mengingat hal itu.
Kevin mendekatkan wajahnya kearah Kiara mengusap pipi Kiara dengan lembut. Membuat jantung Kiara berdebar tidak menentu. Belum lagi Kevin menatapnya dengan tatapan yang membuat nya benar-benar gugup.
" Jadi kamu tidak mengingatnya?" tanya Kevin memastikan. Kiara menggeleng pelan.
" Aku akan membuatmu mengingatnya," ucap Kevin dengan lembut.
Tanpa permisi Kevin memiringkan kepalanya dan langsung meraih bibir Kiara menciumnya dengan lembut. Kiara yang kembali mendapat ciuman itu dengan cepat memejamkan matanya.
Dia tidak bisa menolak hal itu. Dia memang tidak siap dengan ciuman itu. Dan dia tidak memberontak sama sekali dengan ciuman itu.
Seakan mendapat izin dari Kiara. Kevin memperdalam ciumannya. Berusaha membuat Kiara untuk kembali mengingat kejadian malam itu. Tangan Kevin sudah memegang ke-2 pipi Kiara agar dapat memperdalam ciuman itu.
Sementara Kiara di dalam ciuman itu masih penuh kebingungan dengan debaran jantung yang pastinya tidak normal. Tetapi sama sekali dia tidak bisa mengingat apapun yang di katakan Kevin.
Tetapi Kevin terus berusaha. Karena jika Kiara mengingat pertemuan mereka yang sebenarnya bisa di katakan pertemuan pertama kali bibir mereka.
Kevin akan sangat puas ketika Kiara mengingat ciuman panas yang pertama kali terjadi di acara party kelulusan.
Di mana Kevin juga menciumnya dengan panas. Kepada gadis yang berusia 17 tahun pada saat itu. Ciuman yang membuatnya tidak bisa lupa sampai detik ini.
Ciuman terus berlanjut. Kiara bahkan meremas kuat mantel Kevin. Baginya ini ke-2 kalinya mendapat ciuman dari Kevin. Sementara Kevin ini ke-3 kalinya mencium Kiara.
Setelah lama berciuman. Akhirnya kevin melepas ciuman itu perlahan, melihat wajah Kiara yang memerah dengan napas Kiara yang pasti tidak normal.
Kiara masih memejamkan matanya. Kevin tersenyum lalu meraih keningnya. Mengecupnya dengan lembut dan mengusap-usap pipi Kiara.
Kiara membuka matanya perlahan dan melihat wajah Pria tampan itu benar-benar dihadapannya.
Hidung mereka masih bersentuhan dan pandangan mereka masih saling beradu pandang dengan mata yang seakan menelusuri wajah dari pasangan masing-masing.
__ADS_1
" Aku tidak mengingat apapun," ucap Kiara jujur.
Karena pikirannya yang tidak menentu membuatnya memang tidak bisa mengingat apa yang di katakan Kevin. Kevin tersenyum mendengarnya.
" Tidak apa-apa. Jika di perlukan aku akan memberitahukannya," sahut Kevin. Meraih Kiara kedalam pelukannya. Kiara hanya tersenyum tipis.
" Apa memang iya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya," batin Kiara yang malah penasaran dengan hal itu.
*********
Pagi harinya Kiara dan Kevin masih berada di Amerika. Besok mereka baru kembali ke Indonesia. Karena urusan mereka sudah selesai di Amerika Serikat.
Sekarang mereka sedang menikmati sarapan pagi yang pastinya sudah di pesan Kevin. Kevin dan Kiara melaksanakan sarapan di kamar Kiara. Tadi malam mereka tidur di kamar masing-masing.
" Besok kita akan pulang?" tanya Kiara yang sudah menikmati sarapannya.
" Kenapa kamu sudah bosan terus bersamaku?" Tanya Kevin yang juga sudah sarapan.
" Bukan begitu. Aku hanya merindukan keluargaku. Sudah berapa hari tidak bertemu. Mereka pasti bertanya-tanya kenapa aku belum pulang," jawab Kiara.
" Apa kamu tidak mengabari mereka. Kalau kamu lanjut ke Amerika?" tanya Kevin. Kiara menggeleng dengan cengengesan membuat Kevin menaikkan 1 alisnya.
" Kenapa tidak mengabari?" tanya Kevin dengan wajahnya yang serius.
Dia benar-benar tidak tau. Kalau Kiara tidak memberitahu orang tuanya. Dan jelas itu membuat Kevin kaget.
" Aku tidak mau mendengar pertanyaan. Aku harus bilang apa kalau aku memberitahu. Ke Amerika. Mereka akan bertanya dengan siapa. Bukannya akan banyak lagi pertanyaan. Jadi menurutku itu tidak penting dan memilih untuk tidak memberi tahu," ucap Kiara memberikan alasannya.
" Kiara. Tetapi tetap saja. Apa yang kamu lakukan tidak benar. Itu sama saja aku membawamu pergi dan mungkin akan menimbulkan kekhawatiran," sahut Kevin dengan wajahnya yang benar-benar serius.
" Apaan sih Kevin. Kamu jangan berlebihan aku hanya tidak berpamitan. Itu tidak akan masalah," sahut Kiara yang masih tetap santai.
" Tidak masalah kamu bilang. Jika kamu pergi tanpa berpamitan. Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu padamu," ucap Kevin tiba-tiba kesal.
" Lalu bagaiaman, aku tidak mungkin memberitahu mereka sekarang kan. Kalau aku sudah di Amerika dan mengatakan aku pergi bersamamu," sahut Kiara dengan suaranya yang pelan.
" Kita pulang hari ini," ucap Kevin tiba-tiba mengambil keputusan. Membuat Kiara kaget.
" Kok gitu," sahut Kiara, seakan tidak setuju.
" Karena aku tidak mungkin membawa anak orang pergi bersamaku. Tanpa izin orang tuanya," sahut Kevin dengan serius.
" Anak orang bagaiman. Bukannya mereka tau kalau aku ke Paris," sahut Kiara menaikkan volume suaranya.
" Orang tua kamu tau kamu ke Paris. Tetapi tidak tau jika kamu ke Amerika," sahut Kevin.
" Ya tapi kan..."
" Cukup Kiara," sahut Kevin memotong pembicaraan Kiara.
__ADS_1
" Kamu jangan melakukan hal itu lagi. Kamu masih kecil Kiara. Kamu tidak bisa pergi bersama sembarangan orang. Apa lagi hanya mengiyakan tanpa berpikir apa-apa dan juga tidak berpamitan. Usia kamu belum bisa melakukan hal semacam itu," ucap Kevin dengan penuh penekanan.
" Jadi kamu menganggap aku anak kecil. Usia ku yang belum bisa melakukan hal. Kamu kok bisa bicara seperti itu. Lalu usia seperti apa yang harus sesuai," sahut Kiara marah dengan kalimat Kevin.
" Kiara, usia kamu masih 19 tahun dan aku 27 tahun. Kamu tidak bisa pergi dengan orang sembarangan. Oke jika itu di Jakarta. Tapi Amerika dan tanpa meminta izin kepada orang tuamu itu tidak benar," jelas Kevin.
" Tapi aku bukan anak di bawah umur Kevin. Dan soal berpergian. Aku biasa sendiri tanpa di awasi. Aku sudah biasa dengan hal-hal seperti itu. Kamu tidak perlu berbicara seperti itu," sahut Kiara yang tiba-tiba kesal dan bahkan melepas sendok dari tangannya. Selera makannya benar-benar hilang.
" Sekarang aku tau. Kenapa kamu melakukan semuanya. Cek tiket pesawat apa-apa kamu cek kamar hotel dan segalanya. Kamu melakukannya sendiri. Karena kamu berpikir aku anak kecil yang tidak mungkin bisa melakukan hal itu sendiri dan kamu pria dewasa seakan menjadi seorang mentor. Kenapa tidak bodyguard aja sekalian," ucap Kiara yang mengeraskan suaranya yang marah-marah di depan Kevin.
" Apa dia sangat keberatan menghabiskan waktu bersama anak kecil. Jika memang begitu kenapa mendekatiku," batin Kiara benar-benar tersinggung dengan perkataan Kevin.
" Kiara, bukan itu maksudku," ucap Kevin melihat Kiara yang tampak tidak nyaman.
" Sekarang kamu baru berbicara soal usia dan kedewasaan setelah kamu melakukan semuanya. Jika kamu memikirkan hal itu dari awal kamu tidak perlu seperti ini," lanjut Kiara.
" Kiara, aku hanya tidak ingin kamu pergi tanpa meminta izin," jelas Kevin mencoba menenangkan suasana.
" Kita pulang jam berapa," sahut Kiara yang benar-benar hilang mood. " Aku akan siap-siap," Kiara berdiri.
" Kiara," ucap Kevin.
" Jika kamu ingin berpergian dengan orang yang sepantaran dengan kamu. Seharusnya jangan mengajakku. Aku juga tidak terbiasa berpergian dengan orang dewasa sepertimu," ucap Kiara dengan penuh penekanan dan penegasan lalu langsung pergi.
" Kiara!" Panggil Kevin. Kiara menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap Kevin.
" Aku bisa pulang sendiri. Kita pulang masing-masing saja. Aku bukan anak kecil yang seperti apa yang kamu pikirkan. Yang harus kamu awasi. Jadi aku pulang sendiri," ucap Kiara melanjutkan langkahnya lalu pergi.
" Kiara! panggil Kevin lagi. Kiara tidak mendengarnya dan langsung melanjutkan langkahnya keluar dari kamar tersebut bahkan membanting pintu kamar hotel yang pasti menunjukkan kemarahannya.
Kevin membuang napasnya panjang kedepan. Melihat kemarahan Kiara yang tidak di duganya. Kevin mengusap wajahnya sampai rambutnya dengan situasi panas di antara mereka.
" Kenapa bisa jadi seperti ini," batin Kevin.
Kevin memang marah dengan Kiara yang pergi tanpa meminta izin. Tetapi dia juga seharusnya tidak membawa Kiara sembarangan dan tadi kesannya dia malah menyalahkan Kiara dan berkata-kata yang pasti membuat Kiara kesal sampai harus semarah itu.
Sekarang Kevin jadi pusing sendiri. Belum lagi Kiara mengatakan akan pulang sendiri dan Kevin yakin Kiara akan melakukan hal itu.
**********
Kiara memasuki kamarnya dengan kekesalan nya. Dia sangat sensitif saat Kevin mengatakan dia anak kecil dan bahkan membandingkan sebuah usia.
" Sangat menyebalkan. Kalau begitu mengapa mengajakku pergi ke Amerika. Apa dia berpikir aku wanita gampangan yang bisa di ajak seenaknya," Kiara mengoceh benar-benar kesal dengan Kevin yang membuat paginya berantakan.
Kiara pun menaikkan kopernya ke atas ranjang. Kiara yang di penuhi kemarahan. Mulai membereskan pakaiannya
" Sekarang baru berbicara soal kedewasaan. Dia pikir aku tidak bisa melakukannya sendiri apa," gerutu Kiara yang terus mengumpat.
" Aku akan pulang tanpa mu," ucapnya dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Bersambung.....