Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin

Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin
Part 51 Mencurigai Kevin


__ADS_3

Kiara menceritakan kelebihan sang mama dengan hati yang bahagia. Kevin hanya menyimak dengan melihat Kiara yang bercerita sambil mengunyah makanan.


" Kau mengatakan jika ibumu menyiapkan semuanya untuk orang yang di rumahmu. Tetapi aku tidak mendengar tentang dirimu," sahut Kevin. Kiara melihat Kevin sebentar membuang napasnya perlahan.


" Aku terbiasa menyiapkan sendiri apa yang aku makan. Karena aku terbiasa hidup sendiri. Tanpa orang tua,"


" Tetapi terkadang. Aku harus mengakui jika aku sangat kesal dengan kebiasaan yang terlihat di rumah. Bagaimana mama melayani semua saudara-saudara ku," lanjut Kiara.


" Maksudnya?" tanya Kevin bingung.


" Ya jika hanya memotong buah untuk sarapan ku. Apa perlu aku harus meminta bantuan mama untuk menyiapkannya. Tetapi melihat kak Kak Rachel yang di bukakan botol selai sangat membuat ku kesal,"


" Bisa-bisanya mama memanjakannya hanya dengan itu. Padahal itu sangat mudah di buka, memangnya kak Rachel tidak punya tangan," jelas Kiara. Kevin tersenyum seakan bisa menebak apa yang di rasakan Kiara. Jika Kiara cemburu dengan perlakuan mamanya kepada saudara-saudaranya yang lain.


" Kalau begitu, kenapa menyiapkan sarapan sendiri, jika sebenarnya ingin di siapkan?" tanya Kevin.


" Seperti yang aku katakan. Itu sangat mudah," jawab Kiara.


" Tidak ada orang yang tidak bisa membuka botol selai. Tetapi kakakmu sengaja tidak membukanya agar mendapat perhatian," ucap Kevin.


" Tetapi masa iya setiap hari. Bukannya itu kemanjaan," sahut Kiara.


" Iya mungkin itu caranya. Dengan seperti itu kakakmu merasa di manjakan. Dan seharunya kau juga bisa melakukannya. Kau juga bisa tidak memotong buah dan mamamu akan menyiapkan untukmu," ucap Kevin.


" Kau mengajariku menjadi anak pemalas," sahut Kiara tersenyum tipis.


" Aku tidak mengajarimu. Aku melihat kau itu dengan perhatian kecil mama mu kepada saudaramu. Yang seharusnya bisa kau dapatkan. Tapi keadaan membuatmu tidak bisa melakukan itu," jelas Kevin.


" Kau benar. Aku tidak bisa harus berpura-pura tidak bisa melakukan apa-apa agar di manjakan. Karena itu bukan suatu hal yang penting bagiku," sahut Kiara.


" Karena itu kau sangat berbeda dari banyak orang yang aku temui," sahut Kevin tiba-tiba membuat Kiara langsung melihatnya.


" Benarkah!" lirih Kiara. Kevin menganggukkan matanya.


" Hmmm, kalau begitu menurutmu bagaimana apa aku harus menuruti saran mu. Atau tetap seperti biasa?" tanya Kiara meminta pendapat.


" Kau tau jawabannya," sahut Kevin.


" Hmmm, kau benar, aku sudah tau jawabannya dan aku tidak perlu melakukan apapun. Karena aku yakin orang tua tidak mungkin membeda-bedakan anaknya. Dan orang tua punya cara sendiri untuk memanjakan anaknya," sahut Kiara tersenyum. Kevin juga tersenyum melihat wajah itu.


Harus di akui Kevin. Kiara itu memang wanita yang berbeda. Selain cantik. Dia juga pintar. Wanita yang sangat mandiri dan pasti sangat dewasa menyikapi setiap masalah. Padahal usianya belum genap 19 tahu. Tetapi dari bicara dan pembawaannya Kiara begitu dewasa.


" Ayo makan lagi!" ucap Kiara. Kevin mengangguk dan melanjutkan makannya.


************


Setelah menghabiskan waktu bersama dari memakan nasi goreng, membaca buku di perpustakaan, menonton film, main kucing-kucingan dengan Evan dan Shirin dan terakhir makan malam di pinggir jalan sambil bercerita. Kevin akhirnya mengantar Kiara pulang sampai kerumahnya.


" Terima kasih sudah mengantarku," ucap Kiara membuka seat beltnya.


" Aku tidak mengantarmu, aku sekalian pulang," sahut Kevin dengan datar. Membuat Kiara berdecak.


" Ishhhh, terserahmu! ya sudah aku masuk Dulu!" ucap Kiara membuka pintu mobil.


" Kiara!" panggil Kevin.

__ADS_1


" Iya kenapa?" jawab Kiara tidak jadi keluar mobil.


" Istirahatlah," jawab Kevin.


" Oh, iya memang," sahut Kiara aneh, " ya sudah aku masuk!" Kiara kembali pamitan, Kevin mengangguk. Kiara keluar dari mobil melambaikan tangannya pada Kevin.


Kevin tersenyum dan melihat Kiara memasuki rumahnya. Kevin juga memasukkan mobilnya kedalam pagar rumahnya dan Kevin langsung keluar dari mobilnya dan memasuki rumahnya.


Saat ingin kekamarnya. Kevin di kejutkan dengan kakaknya yang berdiri di depan pintu dengan ke-2 tangannya di letakkan di dadanya dan menatap Kevin dengan tatapan yang sulit di gambarkan. Kesal, penuh pertanyaan dan kecurigaan.


" Ada apa?" tanya Kevin pada Clarissa. Clarissa diam dan terus melihat Kevin.


" Sampai kapan kakak berdiri di situ?" tanya Kevin.


Clarissa menghalangi jalaannya yang ingin memasuki kamarnya. Clarissa pun akhirnya minggir.


Kevin langsung membuka pintu. Duduk di ranjangnya membuka sepatunya. Sementara Clarissa masih berdiri di depan pintu dan terus melihat Kevin.


" Katakan ada apa?" tanya Kevin benar-benar bingung dengan sang kakak


" Kau benar-benar melakukannya," ucap Clarissa dengan suara menekan.


" Apa maksud kakak?" tanya Kevin bingung selesai membuka sepatunya, Kevin meletakkan di tempatnya. Kevin beralih membuka jasnya.


" Kiara, kau akan mengeluarkan surat baik untuknya dengan syarat dia melakukan ujian," jawab Clarissa.


Kevin menarik napasnya dan membuangnya kedepan, membuka jam tangannya. Pasti berita itu secepat kilat terdengar di telinga kakaknya dan sekarang kakaknya mengintrogasinya karena masalah itu.


" Sandy, dosen universitas Lexus. Sedang mempersiapkan ujian untuknya. Perintah itu dari Arya dan itu pasti karena kamu yang memerintahkannya," lanjut Clarissa dengan jelas. Terus menatap Kevin dengan mengintimidasi.


" Bukannya tidak ada masalah memberikannya kesempatan," sahut Kevin yang baru mengeluarkan suara.


" Kesempatan yang seharusnya tidak menjadi urusanmu," sahut Clarissa sinis, " jika itu orang lain apa kau akan melakukannya?" tanya Clarissa.


" Hmmm, dan jika itu bukan Kiara apa kakak tidak akan menahannya untuk melanjutkan kuliah di universitas Lexus," sahut Kevin membalikkan pertanyaan membuat Clarissa kesal.


" Kau tidak mengerti Kevin bagaimana Kiara. Kakak melakukan semua itu untuk kebaikan yayasan," jelas Clarissa dengan sedikit menaikkan volume suaranya.


" Dan kakak menggunakannya. Apa kakak tidak tau jika dia tidak ingin melakukannya. Kenapa harus memaksanya. Apa itu adil untuknya," ucap Kevin.


" Jadi sekarang, kamu benar-benar sangat mengerti Kiara. Kamu benar-benar sudah sangat sedekat itu dengannya," tebak Clarissa menduga-duga.


" Memberinya kesempatan bukan berarti dekat," sahut Kevin masih mengelak dan aku melakukannya, karena membutuhkannya di group Lexus," ucap Kevin.


" Itu cuma alasan kamu. Jika hanya event ke Paris. Bisa aja Kiara tidak mengikuti event itu," sahut Clarissa.


" Tapi aku mau pekerjaanku sempurna," ucap Kevin.


" Kau mau pekerjaanmu sempurna atau kau mau dia berda di sisimu," ucap Clarissa yang bisa menebak membuat Kevin melihat kearah kearah kakaknya.


" Kau benar-benar sangat menyukainya. Jatuh cinta kepadanya, sampai kau sangat peduli dengan dirinya. Hal yang tidak perlu kau kerjakan. Harus kau lakukan demi dirinya," ucap Clarissa lagi.


" Kapan itu terjadi. Apa itu sebuah kesalahan saat aku menempatkannya di dalam pesawat bersamamu. Tidak seharusnya kau marah saat ada orang asing bersamamu. Tetapi kau tidak menolak sedikitpun saat Kiara berada 1 kamar pesawat denganmu. Aku tidak percaya jika Kiara wanita yang membuatmu jatuh cinta," ucap Clarissa seakan menampar perasaan Kevin untuk lebih peka.


" Jangan suka menebak-nebak perasaan orang lain, kakak tidak punya kewajiban akan hal itu," sahut Kevin.

__ADS_1


" Menebak katamu, mata mu tidak bisa bohong. Jika kau benar-benar ingin dia terus di sisimu. Bahkan kau menghabiskan banyak waktu bersamanya," sahut Clarissa lagi.


" Aku hanya ingin memberi kesempatan kepadanya. Seharusnya kakak tidak berlebihan untuk mengaitkan dengan apa yang kakak pikirkan," sahut Kevin yang terus menutupi perasaan.


" Oh iya, kau terlihat sangat gugup Kevin saat membicarakannya. Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi, kakak memang menginginkannya tetap berada di Lexus. Tetapi sekarang Kiara sudah punya pawang jadi sekarang kakak tidak bisa melakukan apa lagi. Dia sudah ditarik oleh Kevin yang dingin," ucap Clarissa.


" Aku mau istirahat, keluarlah!" usir Kevin secara lembut.


" Kau akan terus melakukan sesuatu untuknya, Kevin. Kau hanya akan terjebak dalam perasaanmu. Seharusnya kau menyadari jika cinta itu membingungkan dan sangat menyeramkan untuk keluarga kita, sedikit saran kau kau harus siapa mengambil resikonya," ucap Clarissa dengan serius.


" Aku tidak berniat untuk mendengar teori kakak, jadi keluarlah!" usir Kevin lagi.


" Baiklah, aku hanya sedikit tidak percaya jika kau Benar-benar mengambilnya. Tetapi semoga saja kau bertanggung jawab atas dirinya," ucap Clarissa.


" Kau dengar Kevin. Kiara masih terlalu muda untuk terlibat dalam keluarga ini. Jadi bertanggung jawablah dengan apa yang kau lakukan. Jika kau jatuh cinta padanya. Kau harus bertanggung jawab untuk cinta itu," lanjut Clarissa lagi.


" Kakak sangat mengkhawatirkannya," sahut Kevin.


" Tidak aku hanya khawatir jika kamu tidak bisa menuntaskan apa yang kamu lakukan," ucap Clarissa.


" Kalau kakak sudah selesai, jadi silahkan keluar!" ucap Kevin mempersilahkan tangan.


" Iya tidak ada gunanya juga di sini," sahut Clarissa yang langsung pergi.


Kevin menarik napasnya panjang dan membuatnya perlahan kedepan. Tetapi Clarissa kembali membuka pintu membuat Kevin kaget.


" Aku baru tau jika sekarang koleksimu botol Kopi bekas," ucap Clarissa melirik susunan botol itu. Clarissa tersenyum mengejek lalu pergi.


Namun Kevin langsung malu. Bisa-bisanya kakaknya melihat itu.


********


Kiara memasuki kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan ke-2 kaki masih mengayun. Kiara menatap langit kamarnya dengan senyum di wajahnya.


" Aneh," 1 kata itu keluar dari mulutnya. Mungkin dia merasakan hal yang aneh saat berdekatan dengan Kevin.


" Huhhhhh," Kiara membuang napasnya panjang, " aku tidak menyangka jika pada akhirnya dia lah orang yang mengeluarkan ku dari masalah ini, dia selalu menolongku, walau wajahnya sangat menyebalkan," batinnya dengan senyam-senyum.


" Ada apa dengan diriku, bisa-bisanya aku memikirkannya," batin Kiara menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.


" issssh, kenapa juga aku harus menonton film seperti itu, Zavier benar-benar mengerjaiku, merusak suasana saja, Kevin pasti masih memikirkan hal itu," Kiara terus bergerutu kesal di hatinya. Jika mengingat kelakuan adiknya.


" Sudahlah, sekarang sebaiknya aku belajar, supaya lulus ujian darinya dan yang pastinya aku bisa Universitas Perth Australia," gumanya.


" Tunggu dulu, Harvard, kenapa tidak. Apa salahnya jika aku mencobanya," ucapnya tiba-tiba yang teringat perkataan Kevin agar dirinya memasuki universitas Harvard.


Bersambung


Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.


Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.


Jangan lupa terus kasih suport, Vote. like koment dan jadiin favorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2