
Ternyata hal itu juga memasuki pikiran Kiara. Setelah pergi dari Perusahaan itu. Kiara dengan wajah sendunya menaiki bus dengan kepalanya yang miring menyender di jendela bus.
Kiara masih teringat dengan apa yang di lihatnya. Dia sangat berharap Kevin tadi menjelaskan tentang wanita itu. dan membuat moodnya kembali. Lalu mereka duduk dan melihat Kevin memakan makanan yang sudah di buatnya.
Tetapi ternyata tidak ada penjelasan dan semua tidak sesuai dengan apa yang di pikirkannya. Kiara kembali berpikir dengan logikanya. Kenapa juga Kevin harus menjelaskan kepadanya. Sementara mereka tidak ada hubungan.
" Apa yang kau pikirkan Kiara. Apa urasannya denganmu. Memang ada apa. Kenapa juga kau merasa sangat tidak suka, memang kau siapa," batin Kiara meraba dadanya. Yang seperti ada luka di sana. Luka yang butuh penjelasan.
" Tidak!" Kiara memukul kepalanya, " stop Kiara, ini nggak benar, kamu hanya lelah karena memasak dan kesal karena_Karena_karena.... Bukan karena wanita itu. Ya memang kamu hanya kesal, iya hanya kesal_ memang kesal. Ya supir taxi nya tadi membawa mobil tidak baik. Sehingga kamu kesal dan mood yang sudah kamu bangun sudah hilang," Kiara bergerutu meyakinkan perasaannya. Jika dia sama sekali tidak cemburu dengan wanita yang memeluk Kevin.
" Kamu tidak cemburu," kata itu pun akhirnya terucap dari mulutnya. Jika dia benar-benar cemburu.
" Kenapa harus cemburu...Huhhhhhh, stop memikirkan hal lain," gumamnya lagi yang berkali-kali membuang napasnya.
**********
Sementara Kevin yang berada di dalam mobilnya menunggu macet yang panjang. Kevin melihat bekal yang di berikan Kiara. Lalu kevin mengambilnya.
Kevin langsung membukanya. Kevin mendengus tersenyum ketika melihat isinya.
" Dia benar-benar melakukannya," gumam Kevin tidak percaya bisa melihat makanan yang sudah 20 tahun tidak di makannya. Kevin tersenyum lalu memakannya. Dengan meneliti rasanya.
" Sama, tidak berbeda," gumanya dengan mata berkaca-kaca, mengingat masakan mamanya.
Kevin tidak menyangka kenapa tuhan harus mempertemukannya dengan Kiara. Tidak bisa di pungkiri jika harinya begitu berwarna karena kehadiran wanita itu. Wanita yang tau cara membuatnya tenang, membuatnya bahagia. Dia juga tau dia sangat bahagia belakangan ini dengan kehadiran Kiara.
Kevin menemukan kartu ucapan di bekal tersebut.
..." Jadilah makanan favoritmu dari tangan ku dan mamaku. Ini sangat sulit jadi aku membutuhkan tangan mamaku untuk membuatnya. Semoga kau suka. Jangan menangis saat memakannya. Karena aku memasaknya dengan serius. Bukan! Bukan aku yang memasaknya. Aku hanya membantu. Sampai jariku terkena pisau. Terima kasih atas hadiah yang kau berikan. Aku sangat bahagia bisa memiliki kesempatan bertemu denganmu. Makanlah! Tidak kita akan ber-2 akan memakannya," tulisan indah itu membuat Kevin tersenyum dengan matanya bergenang....
Dia kembali memakannya. Sebenarnya untung saja tidak memakan saat ada Kiara. Kiara bisa melihat air matanya yang jatuh karena langsung teringat dengan sang mama.
Kevin meraih ponselnya. Dia membuka dan mencari kontak nomor Kiara langsung menelponnya.
Kiara yang masih melamun di dalam bis membuka tasnya saat ponselnya berdering. Belum sempat milhat siapa yang memanggil. Ponsel itu sudah mati.
" Lobet lagi," decaknnya kesal, " kenapa aku sial sekali," gunanya yang kembali membuang napas kasar.
Kevin sedikit kecewa. Karena telponnya tidak di angkat sama sekali oleh Kiara.
__ADS_1
" Kenapa ponselnya mati," gumam Kevin yang kembali mencoba.
*****
Akhirnya Kiara sampai kerumah dengan tidak bersemangat. Sedari tadi langkah wanita itu tidak seperti biasanya. Sang mama yang membuka pintu juga heran. Tumben sekali anaknya cepat pulang. Sahila juga tidak melihat wajah yang sedari tadi tersenyum itu.
" Kenapa wajahnya di tekuk seperti ini?" tanya Sahila. Kiara menggeleng. Dia juga tidak tau apa yang terjadi dengannya dan kenapa dia merasa sedih.
" Ya sudah kamu makan sana, sudah di buatin bukannya di makan," ucap Sahila.
" Iya ma, tetapi Kiara mau kekamar dulu, entar aja makannya," jawab Kiara dengan suara yang malas berbicara. Dia sudah tidak bernafsu untuk makan.
Sahila memang tidak mengerti dengan putrinya dia juga tidak ingin menanyakan yang lebih lagi.
" Oh iya ini," Sahila menghampiri ruang tamu dan mengambil paketan yang berada di atas meja.
" Apa ini?" tanya Kiara ketika Sahila memberinya paket tersebut.
" Mana mama tau. Ini untuk kamu," jawab Sahila.
Kiara melihat nama pengirimnya Shella yang ternyata teman SMA nya. Kiara jadi ingat jika Shela pernah mengatakan akan mengirim album sewaktu mereka di SMA Singapura dan juga berbagai foto-foto yang di ambil sewaktu wisuda dan party malam itu.
Kiara memasuki kamarnya. Kiara meletakkan paketan itu di atas meja belajarnya. Lalu mencas ponselnya masih dalam ke adaan mati. Agar dayanya cepat terisi penuh.
Kiara menghempas tubuhnya di atas ranjang dengan merenggangkan tangannya menatap langi kamarnya yang berwarna putih.
Huhhhh, suara hembuasan napas itu terdengar dan sudah entah berapa kali Kiara menghembuskan napasnya.
" Siapa wanita itu," kalimat itu akhirnya ke luar dari mulutnya, " Sepertinya wanita itu sangat special untuk Kevin,"
Dia sangat tidak menyadari jika kata-kata yang terucap dari mulutnya adalah kata-kata seseorang yang sedang cemburu.
" Astaga kartu ucapannya ada di sana kenapa tidak aku ambil tadi," Kiara teringat meninggalkan jejak dan menyesal karena sangat ceroboh.
" Sudah biarkan saja," ucapnya yang pasrah dan seakan sudah tidak peduli lagi.
Kiara memejamkan matanya. Membawa pikiran itu di dalam tidurnya. Dia harus beristirahat agar perjalananya besok lancar.
Untung saja dia sudah berkemas dengan lengkap. Walau berbohong pada Kevin bahwa dia belum berkemas. Itu juga hal yang aneh untuknya. Kenapa dia harus berbohong.
__ADS_1
Apa salahnya mengatakan memang sengaja datang untuk menemuinya. Tetapi ada rasa gengsi, marah, kecewa yang bercampur menjadi satu ketika melihat hal yang sangat menyesal untuk di lihatnya.
Di sisi lain Kevin yang kembali ke ruangannya yang sibuk bekerja di sela-sela menandatangani tumpukan berkas. Kevin masih berusaha menelpon Kiara. Tetapi ponsel itu tetap saja mati.
Tok! Tok!
" Masuk!" titah Kevin.
Kevin melihat ke arah pintu. Orang yang mengetuk pintunya adalah sang kakak ipar yang mungkin pertama kali bagi Saras memasuki ruangan itu.
" Kak Saras," ucap Kevin sedikit kaget menghentikan menandatangani berkasnya.
" Kenapa kakak kemari? Ada apa?" tanya Kevin.
Saras melangkahkan pelan kakinya, mendekati meja Kevin berdiri di depan Kevin. Tetapi pandangan Saras langsung tertuju pada bekal ping di samping laptop Kevin.
Di mana dia mengingat kotak bekal itu adalah bekal yang sama di pegang Kiara tadi saat berpapasan dengannya.
Seharusnya Saras tidak lagi mempertanyakan atau menebak-nebak hubungan Kiara dan Kevin. Karena dia sudah bisa melihat semua itu. Dari cara Kevin yang sangat mengkhawatirkan Kiara. Saat Kiara yang sekarat.
Kevin masih menunggu jawaban sang kakak yang masih diam dan malah seperti memikirkan sesuatu.
" Kak!" tegur Kevin.
" Oh iya, ini," Saras memberikan kertas yang di lapisi plastik putih.
" Apa ini?" tanya Kevin mengambilnya. Kevin melihat sang kakak saat melihat hasil laporan rumah sakit Lexus
" Ini punya siapa?" tanya Kevin tidak melanjutkan membacanya.
Bersambung
Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.
Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.
Jangan lupa terus kasih suport, Vote. like koment dan jadiin favorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya
Terima kasih...
__ADS_1