
" Kita mau kemana?" tanya Kiara bingung dengan Kevin yang mengandeng tangannya dan membawanya pergi membuatnya kebingungan. Kemana kekasihnya itu membawanya.
Kevin tidak menjawab dan malah membawa wanita itu kedalam ruanganya. Yang membuat Kiara semakin bertanya-tanya.
" Ayo masuk!" ajak Kevin yang masih menggenggam tangan Kiara. Kiara menurut saja dan memasuki ruangan itu. Sesampai di dalam Kevin melepas genggaman tangannya dari Kiara.
Sementara Kiara malah bingung dengan keberadaannya. Kepalanya berkeliling melihat isi ruangan itu yang membuatnya bertanya-tanya dan Kevin sudah menurunkan tirai penutup kaca yang tembus pandang ke luar.
Jika tidak di tutup. Mungkin Karyawan akan bisa melihat. Jika ada wanita di dalam ruangan Kevin yang mungkin akan menimbulkan pertanyaan yang aneh-aneh dan bisa menjadi gugup.
Kiara mengingat ruangan itu adalah ruangan Kevin. Karena dia pernah Kesana sebelumnya. Sewaktu meminta tanda tangan Kevin.
" Kenapa dia membawaku Keruangannya," batin Kiara yang kebingungan dengan Kevin.
" Ayo duduk, jangan melamun saja,"ucap Kevin mempersilahkan Kiara. Kiara mengangguk dan akhirnya duduk di sofa panjang putih di ruangan itu.
" Kenapa membawaku kemari?" tanya Kiara yang masih dengan kepala berkeliling melihat seisi ruangan itu.
" Memang kenapa. Apa kamu tidak suka," jawaban Kevin malah kembali bertanya. Kevin beralih ke despenser yang ada di ruangan itu dan menuangkan air putih kedalam gelas. Lalu langsung mengambil posisi duduk di sebelah Kiara.
" Kenapa masih bengong. Kamu tidak suka berada di ruanganku?" tanya Kevin lagi.
" Bukan begiti. Apa tidak apa-apa. Jika aku di sini. Apa tidak akan masalah, bagaimana nanti jika ada yang melihat kita. Dan papaku. Bagaimana. Jika papa tau. Kalau aku ada di ruangan mu?" tanya Kiara yang menakutkan hal itu.
Karena pasti jika papanya tau. Papanya mungkin akan bertanya-tanya kepadanya. Dan dia pasti tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu.
" Jangan khawatir. Tidak akan ada yang melihat kita. Aku sudah menutup pintunya dan orang-orang jika pun mau masuk. Harus mengetuk dulu. Atau tidak harus menelponku. Ruangan papamu. Berbeda lantai dengan ruangan ku. Jadi papamu juga tidak mungkin mendatangi ruanganku," jawab Kevin meyakinkan kekasihnya yang penuh kecemasan itu.
" Begitu rupanya," sahut Kiara yang terlihat mulai tenang. Setelah Kevin menjelaskan banyak hal kepadanya.
" Sudah, jangan memikirkan apa-apa. Bukannya kita harus makan sangat tidak baik makan banyak pikiran," ucap Kevin.
" Iya, kamu benar," jawab Kiara dengan tersenyum. Kiara pun membuka isi yang ada di dalam kantung tersebut yang memperlihatkan kotak bekal. Kiara juga membukanya.
" Makanlah!" ucap Kiara mempersilahkan Kevin untuk makan.
" Terima kasih," sahut Kevin yang langsung mengambilnya.
" Kamu tidak makan?" tanya Kevin.
" Aku membawanya untukmu. Jadi ini untukmu. Bukan untukku. Maka makanlah!" ucap Kiara.
__ADS_1
" Bukannya tadi kamu mengajakku untuk makan bersama. Jadi kenapa aku harus makan sendiri," ucap Kevin.
Kevin pun menyendokkan makanan yang di bawakan Kiara untuknya. Tetapi bukan menyendokkan kemulutnya. Tetapi menyodorkan ke mulut Kiara.
" Kita makan bersama. Karena kamu sudah ada di sini," ucap Kevin. Kiara tersenyum dan menganggukkan matanya.
Lalu iya membuka mulutnya dan dengan senang hati menerima suapan pertama dari Kevin. Padahal dia membawa makanan itu untuk Kevin tetapi malah dia yang mencicipi pertama.
" Kamu juga makan," ucap Kiara. Kevin menganggu dan juga menyendok sendiri ke mulutnya.
" Apa makanannya enak?" tanya Kiara.
" Iya, bukannya setiap apa yang kamu berikan akan menjadi makanan favorite ku," ucap Kevin membuat Kiara tersenyum.
" Apa kamu tidak punya makanan yang tidak kamu sukai?" tanya Kiara.
" Mungkin makanan yang aku tidak sukai. Adalah makanan yang juga tidak kamu sukai," jawab Kevin kembali menyendokkan makanan itu pada Kiara membuat Kiara tersenyum mendengarnya.
" Kamu bisa aja," sahut Kiara.
" Kamu sendiri bagaimana apa kamu mempunyai makanan yang tidak kamu sukai?" tanya Kevin. Kiara menggeleng.
" Aku menyukai semuanya," jawab Kiara. Kevin tersenyum dan kembali menyuapi Kiara. Tampaknya. Kiara yang makan dan bukan Kevin.
" Kamu mendengarnya?" tanya Kevin. Kiara mengangguk.
" Hmmm, iya aku mendengarnya. Apa papaku sedang ada proyek besar dari mu?" tanya Kiara.
" Iya. Papamu sedang menangani proyek besar dari ku," jawab Kevin.
" Apa kau menyukai papaku?" tanya Kiara. Membuat Kevin mengkerutkan dahinya.
" Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Kevin.
" Aku ingin tau saja. Bukannya papa ku sudah lama bekerja denganmu. Aku ingin tau bagaimana pendapatmu tentang papaku?" tanya Kiara.
" Papa mu orang yang pekerja keras dan pekerjaannya sangat bagus. Semua proyek di tanganinya tidak pernah mengecewakan. Termasuk Hotel Lexus yang membuat banyak memori di antara kita," jelas Kevin.
" Memori, memori apa," sahut Kiara.
" Banyak hal. Jika hotel Lexus tidak aku percepat peresmiannya. Kamu tidak mungkin menjadi model dadakan. Kamu tidak akan menciumku dengan tidak sengaja dan semua yang terjadi tidak akan panjang seperti ini," jelas Kevin. Mendengarnya Kiara menjadi malu.
__ADS_1
" Kan aku sudah mengatakan. Ciuman itu tidak sengaja," sahut Kiara.
" Aku tau. Tetapi aku merasa apa yang terjadi awal kedekatan kita," sahut Kevin.
" Jadi kamu menganggap papaku sangat baik?" tanya Kiara. Kevin menganggukkan matanya dan kembali menyuapi Kiara.
" Aku juga menganggap papamu baik. Aku tadi bertemu papa mu, di depan," ucap Kiara tiba-tiba.
Membuat Kevin berhenti menyendokkan makanan itu dan melihat ke arah Kiara dengan wajah seriusnya. Bahkan senyumnya hilang.
" Kalian bertemu?" tanya Kevin memastikan dengan wajahnya yang penuh kecemasan. Kiara mengangguk dengan santai.
" Lalu?" tanya Kevin yang tampak panik.
" Tidak apa-apa. Aku hanya melihat papamu saja dari jauh. Ya tidak terjadi apa-apa. Kan dia tidak mengenalku. Aku juga tidak menyapanya dan malah asal main pergi saja," ucap Kiara menjelaskan.
" Kiara, lain kali, jika melihat papa. Pergilah jangan berusaha mendekat. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu," ucap Kevin yang mencemaskan Kiara.
" Tidak apa-apa Kevin. Jangan terlalu mencemaskan masalah itu. Itu bukan masalah yang besar. Meski kami tidak saling mengenal aku juga bisa merasakan. Jika papa mu baik," sahut Kiara yang menanggapi dengan santai.
" Lagi pula. Apa akan selamanya seperti ini. Apa kita akan sembunyi-sembunyi terus. Apa aku tidak bisa berkenalan dengan papamu," ucap Kiara dengan pelan. Membuat Kevin menoleh ke arahnya.
" Maksud kamu?" tanya Kevin.
" Kevin. Tiba-tiba aku kepikiran sesuatu sebuah kata-kata yang mengatakan. Jika hubungan diam-diam itu. Tidak akan ada akhirnya. Bagaimana aku bisa mengenal keluargamu. Jika kita saja berhubungan seperti ini," ucap Kiara yang ternyata memikirkan perkataan Shirin dan menyangkutkan dengan hubungannya dengan Kevin.
" Kamu tidak nyaman dengan semua ini?" tanya Kevin yang menanggapi serius bahkan Kevin menghentikan makannya dan meletakkan kotak bekal yang di pegangnya di atas meja.
" Kevin bukan itu maksudku," sahut Kiara yang mungkin salah bicara. Sehingga Kevin menanggapi dengan serius dan bahkan terlihat marah.
" Ya sudah. Kita jangan membahas ini. Waktunya tidak tepat untuk membicarakan masalah ini. Ini sangat menggangu makan kita," ucap Kevin yang sepertinya tidak mau mencari ribut dengan Kiara.
" Apa aku salah bicara. Kevin terlihat sangat marah. Apa yang salah dalam bicara ku," batin Kiara yang merasa tidak enak dengan Kevin.
" Ayo makan lagi!" ucap Kevin dengan suara dingin bahkan tidak melihat ke arah Kiara.
" Aku minta maaf," ucap Kiara yang merasa bersalah. Bicaranya yang mungkin kelewatan kepada Kevin.
" Lupakan!" ucap Kevin yang tampak tidak ingin membahas masalah itu. Kiara mendekatkan dirinya pada Kevin dan memegang tangan Kevin.
" Kevin. Aku minta maaf, kamu jangan marah. Aku tidak bermaksud untuk bicara seperti itu," ucap Kiara yang seakan ingin membujuk Kevin. Kevin melihat Kiara dan menumpukkan tangannya pada Kevin.
__ADS_1
" Kiara. Aku tau apa yang kamu pikirkan. Aku tau ini tidak nyaman untukmu. Tetapi aku juga belum bisa melakukan apa-apa. Kamu harus tau aku sangat mencintaimu dan aku memikirkan hubungan kita. Setiap hari aku selalu memikirkan bagaimana caranya agar kita berdua tetap bersama," ucap Kevin dengan tua menatap Kiara dengan dalam.
Bersambung