
Mentari pagi kembali tiba. Kiara sudah bangun dari tidurnya dan sudah mandi. Dia tidak tau mau berbuat apa lagi. Mengecek ponsel sudah sangat lelah. Karena tidak ada sesuatu di ponselnya.
Yang ada dia hanya akan semakin pusing memikirkan semua masalahnya. Terlebih lagi yang terus menerus menunggu Kevin mengabarinya. Boro-boro mengabari.
Kevin malah menyuruh Arya menyampaikan beberapa hal yang seharunya Kevin yang melakukannya. Dan pasti hal itu membuatnya sangat kecewa.
Kiara pun keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur melihat sang mama yang sibuk di dapur.
" Kiara!" tegur Sahila yang melihat Kiara menuang air dari ceret kegelas.
" Iya ma," sahut Kiara.
" Kamu tidak kemana-mana kan hari ini?" tanya Sahila.
" Tidak ma, memang kenapa ma?" tanya Kiara.
" Mama minta tolong ya, tolong antar sarapan untuk papa. Tadi papa buru-buru. Jadi tidak sempat untuk sarapan," jelas Sahila.
" Ya sudah mama siapin aja. Biar Kiara nanti antarkan untuk papa," jawab Kiara yang sama sekali tidak keberatan.
Walau sebenarnya dia sangat malas berbuat apa-apa. Tetapi dia menyadari tidak boleh seperti itu.
" Ya sudah tunggu sebentar," ucap Sahila yang mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya agar anaknya membawa ketempat suaminya.
***********
Akhirnya Kiara sampai di depan perusahaan itu.
Kiara berjalan dengan langkah yang tidak bersemangat. Memang tidak tau kapan semangatnya akan muncul lagi.
Semangnya sudah hilang hampir satu mingu hilang dan pasti balik-balik lagi. Semuanya gara-gara tidak ada kejelasan dari Kevin.
Meski tidak bersemangat. Tetapi Kiara masih berharap akan bertemu Kevin di sana. Dan paling tidak bicara dengannya. Agar dirinya bisa kembali tenang.
Apa lagi masalah kemari. Di mana Kevin menyuruh Arya memberikannya dokumen penting mengenai Harvard yang mana seharusnya Kevin yang memberikannya sendiri. Tetapi malah menyuruh Arya. Jelas Kiara masih berharap sedikit-sedikit penjelasan dari Kevin.
Saat Kiara menginjakkan kaki di lantai perusahaan dan belum memasuki Perusahaan Lexus. Dengan bersamaan dengan Haria yang turun dari mobil. Haria langsung melihat wanita yang berjalan ingin memasuki Perusahaan itu.
" Bukannya dia wanita yang ada di bandara itu," batin Haria yang mengingat jelas. Siapa wanita itu.
" Iya, itu dia, ngapain dia di sini, apa dia ingin menemui Kevin. Apa dia tidak sadar, jika dan Kevin sangat tidak cocok. Bahkan hubungan mereka sangat tidak di restui. Dia pasti ingin menemui Kevin dan membujuk Kevin," gumam Haria menebak-nebak tujuan Kiara datang.
Saat Kiara sudah berada di depan pintu. Kiara berpapasan dengan tuan Mitra Winata yang di ikuti 3 anak anak buahnya.
Haria juga melihat hal itu. Haria tersenyum miring seakan memiliki rencana sesuatu. Haria langsung berlari mendekati Kiara.
" Om!" panggil Haria.
Langkah Kiara berhenti ketika mendengar teriakan dari belakangnya. Haria langsung berlari. Dan Mitra Winata sendiri mengehentikan langkahnya tepat di samping Kiara.
" Haria," sapa Winata ketika Haria sudah berada di depannya.
" Bukannya dia Wanita itu," batin Kiara menoleh kesamping dia sangat jelas bisa melihat wajah Haria.
__ADS_1
Jarak Kiara dan Haria dan Winata sangat dekat. Bahkan hanya 2 meter saja.
" Kamu panggil Om?" tanya Winata.
" Benar Om," jawab Clarissa.
" Memang ada apa dan Sedang apa kamu di sini?" tanya Winata.
" Aku Ada perlu sama Kevin Om. Tadi di rumah aku tidak sempat bicara dengannya," jawab Haria dengan tersenyum lebar. Haria sengaja menguatkan suaranya agar terdengar oleh Kiara.
" Menemui Kevin, dan dia sangat dekat dengan papanya Kevin. batin Kiara yang merasa minder dengan hal itu.
" Kamu ini aneh sekali. Tinggal serumah dengan Kevin. Tetapi malah bicara saja tidak bisa," sahut Winata. Kiara mendengarnya kaget dan Haria pasti tersenyum saat Winata mengatakan hal itu.
" Jadi kenapa dia keluar dari rumah Kevin. Dia tinggal serumah dengan Kevin. Bukannya Kevin pernah cerita siapa-siapa aja yang tinggal di rumahnya dan kenapa Kevin tidak mengatakan tentang dia," batin Kiara yang benar-benar terkejut. Bahkan seperti dadanya sangat sesak.
" Kevin sangat sibuk Om, jadi Haria belum sempat bicara dengannya," sahut Haria.
" Baiklah! Tapi sepertinya Kevin akan berangkat meeting," sahut Winata yang memang Kevin ikut meeting dengannya.
" Itu dia," tunjuk Haria. Ketika melihat Kevin berjalan keluar menghampiri mereka. Kiara juga langsung melihat kedepannya dan melihat Kevin.
Langkah Kevin memelan saat Kevin melihat Kiara yang berdiri mematung.
" Kiara?" kenapa dia ada di sini dan papa," batin Kevin yang tiba-tiba cemas.
Kevin langsung menormalakan langkahnya supaya terlihat biasa. Dia memang tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak mungkin mundur sementara sang papa ada di sana.
" Kevin!" tegur Haria yang kelihatan sok akrab.
" Dia bahkan tidak melihatku dan seperti tidak mengenalku. Apa memang iya dia sungguh sangat menghindariku. Apa karena wanita ini," batin Kiara dengan matanya berkaca-kaca dengan apa yang di lihatnya.
" Papa kamu bilang kamu mau meeting. Tadinya aku ingin bicara. Tetapi kamu sedang sibuk. Ya sudah kamu pergilah. Nanti kita bicara di rumah," ucap Haria. Mendengar kata rumah membuat Kevin melirik kearah Kiara.
" Maaf ya Om Haria menggangu. Om sama Kevin boleh meeting. Nanti Haria akan bicara lagi," ucap Haria.
" Ya sudah kalau begitj. Ayo Kevin kita pergi. Waktunya sudah mepet," ucap Winata.
" Iya pa," jawab Kevin.
" Hati-hati Om dan kamu Kevin," ucap Haria menundukkan kepalanya.
Winata hanya mengangguk dan langsung pergi terlebih dahulu. Kevin mkwmbali melirik Kiara yang masih mematung. Lalu Kevin langsung pergi.
Dengan hatinya yang sesak. Mungkin lebih parah dengan hati Kiara. Yang pasti Kevin tau dengan melihat hal ini membuat Kiara benar-benar bingung.
Kiara bahkan membalikkan tubuhnya dan melihat kepergian Kevin yang benar-benar tidak melihatnya dan tadi adalah pertama kali dia kembali mendengar suara Kevin dan bahkan wajahnya yang sangat dekat.
Haria menoleh ke arah Kiara yang terus melihat Kevin sampai masuk mobil dan sampai mobil pergi.
" Dia kekasihku," ucap Haria singkat. Membuat Kiara kaget
Darah Kiara berdesir saat mendengarkan hal itu. Kiara tidak tau wanita yang bernama Haria itu mengatakan kepadanya atau bagaimana. Tetapi dia jelas sangat terluka mendengar wanita tersebut.
__ADS_1
" Aku dan dia adalah pasangan kekasih," jelas Haria lagi dan langsung peri. Membiarkan Kiara dalam schok dan pasti bingung dengan kalimat Haria.
" Apa ini kenapa seperti ini. Tidak mungkin apa yang di katakan wanita itu. Tetapi Kevin sangat djelas menghindariku. Dia tidak peduli kepadaku. Dia tidak menegurku dia sangat jahat," batin Kiara.
" Tidak Kiara. Kamu tidak boleh seperti ini. Meski wanita itu mengatakan hal itu. Semuanya belum tentu benar. Kamu harus mendengar sendiri Kevin kamu harus mendapatkan penjelasannya langsung. Kamu tidak boleh berpikiran buruk hanya karena dari ucapan dan dengan apa yang kamu lihat," batin Kiara yang merasa sangat sesak. Tetapi berusaha kuat.
" Mungkin Kevin sibuk. Iya dia pasti akan menjelaskannya nanti," batin Kiara yang benar-benar masih berfikir positif. Karena dia ingin langsung mendengarkan dari Kevin.
*************
Keesokan harinya Kiara bangun dari tidurnya dengan kepalanya yang sangat berat. Lagi dan lagi. Tadi malam dia tidak bisa tertidur lelap. Karena masalah Kevin yang sama sekali tidak terpecahkannya.
Dengan memijat kepalanya yang sangat berat Kiara mulai bangkit dari tempat tidurnya. Tubuhnya sangat lemas bahkan sangat hangat. Kiara berjalan dengan tertatih-tatih menuju teras kamarnya. Lagi dan lagi dia masih mengharapkan ada Kevin di sana.
Kiara yang berjalan dengan lemas sudah tiba di teras kamarnya. Tetapi sudah tidak menemukan Kevin.
" Aku terlambat," gumam Kiara seakan sangat kecewa.
Kiara pun kembali masuk dan memilih masuk. Tubuhnya yang semakin lemas membuatnya kesulitan berjalan sampai Kiara memegang dingding untuk bahannya berjalan.
Brukkk.
Kerena memang benar-benar tidak kuat. Akhirnya Kiara pingsan. Di depan teras kamar nya. Pikirannya membuatnya lelah dan tubuh lelahnya membuatnya tidak sadarkan diri.
*********
Rumah sakit.
Kiara sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Rangga yang berada di rumah memasuki kamar adiknya dan melihat adiknya sudah tergeletak di lantai.
Rangga langsung melarikan adiknya kerumah sakit. Memang di rumahnya tidak ada orang. Mamanya sedang menemani papanya ke luar kota untu perjalanan bisnis.
Ziva dan Zavier sedang sekolah seperti biasanya dan Rachel juga berada di coffee shop. Untung saja Rangga yang sudah berangkat kerja.
Tetapi ketinggalan sesuatu langsung pulang. Tidak melihat Kiara keluar dari kamar membuatnya menegcek sendiri dan menemukan adiknya tidak sadar kan diri.
" Bagaimana ke adaannya? tanya Rangga pada Saras.
" Dia baik-baik saja, sebentar lagi juga akan bangun. Oh iya apa Kiara sering pingsan seperti ini?" tanya Saras.
" Selama di rumah ini baru ke-2 kali dan. Tegapu dia memang suka lemas," jawab Rangga.
" Lalu selama tidak di rumah?" tanya saras.
" Kami tidak tau, karena adik saya sekolah di Luar Negri dan dia tidak pernah mengatakan apa-apa," jawab Rangga.
" Baiklah! saya akan cek darahnya dulu. Silahkan tunggu di luar," perintah Saras.
Rangga mengangguk dan meninggalkan adiknya di periksa kembali oleh Dokter.
Rangga menunggu di luar duduk dengan gelisah. Dengan gelisah. Dia belum mengabari orang tuanya karena tidak mau nanti khawatir.
Rangga masih bisa mengatasi adiknya dengan sendiri. Dia juga sudah menghubungi Raquel untuk menjaga Kiara. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.
__ADS_1
Bersambung.....