Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin

Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin
Part 54 Khawatir


__ADS_3

" Kau mengenalnya?" tanya Saras berdiri di samping Kiara dihadapan Kevin. Memeriksa infus Kiara.


Kevin diam seakan tidak punya jawabban. Saras melihat kembali ke arah Kevin yang fokus melihat Kiara dengan penuh arti. Wajah Kevin yang tidak di sembunyikan terlihat khawatir dengan pasiennya itu.


" Jika tidak mengenalnya mana mungkin kamu menemuinya," sahut Saras menjawab sendiri ucapannya sambil melanjutkan pekerjaannya.


" Siapa wanita itu," batin Saras yang penasaran dengan wanita yang di cemaskan adik iparnya.


" Kakak yang menjadi Dokternya?" tanya Kevin.


" Hmmm, dia baru di antar keluarganya tadi. Setelah pingsan dan sampai sekarang belum sadar," jawab Saras.


" Kenapa dia sampai seperti itu?" tanya Kevin yang benar-benar ingin tau. Karena tadi pagi Kiara masih bersamanya dan tidak ada tanda-tanda wanita itu sakit.


" Dia kelelahan, banyak pikiran, di tambah telat makan, makan yang tidak teratur dan memakan makanan yang asal-asalan di saat kondisi perutnya tidak baik, makanya dia sampai seperti itu," jelas Saras dengan detail


" Lalu apa bagaimana kondisinya?" tanya Kevin lagi.


" Tidak ada yang di perlu di khawatirkan, kondisinya akan membaik setelah besok bangun. Hanya saja dia perlu istirahat agar kondisinya jauh lebih baik, dan pastinya minum obat, agar kesehatannya membaik," jelas Saras.


" Kenapa, dia begitu mengkhawatrkan gadis ini. Dia bahkan terus bertanya. Aku tidak pernah melihat Kevin sekhawatir itu," batin Saras heran melihat adik iparnya.


" Ehmmm, kamu khusus datang untuk menemuinya?" tanya Saras yang masih penasaran dengan gadis itu.


" Tidak aku menemui klien di sini," jawab Kevin memang apa adanya.


Dia memang menemui klien. Tetapi mendengar Kiara berada di rumah sakit membuatnya spontan untuk melihat gadis yang terus bersamanya itu.


" Kakak kira kamu menemui profesor Han," sahut Saras. Kevin melihat ke arahnya.


" Dia ada di sini?" tanya Kevin yang memang tidak tau. Saras mengangguk.


" Hmm. Profesor Han sedang mengobrol sama papa," sahut Saras dengan santai.


" Papa ada di sini?" tanya Kevin lagi. Saras mengangguk.


" Kamu tidak tau?" tanya Saras. Kevin menggelengkan kepalanya.


" Sudahlah, kakak mau keluar dulu," ucap Saras pergi. Saat di samping Kevin Saras menghentikan langkahnya.


" Kau lebih cerewet dari pada keluarganya. Jangan terlalu khawatir dia baik-baik saja," ucap Saras menepuk bahu kevin lalu pergi. Saras sangat bisa melihat Kiara dan adik iparnya itu memiliki hubungan.


Kevin terdiam mendengar ucapan kakak iparnya. Kevin tidak bisa menyembunyikan perasaannya kepada Kiara. Sehingga semua orang bisa melihatnya yang benar-benar mencemaskan Kiara.


Dia memang tidak mengerti, dia bahkan berlari mencari di mana Kiara, sesaat mendengar Kiara masuk rumah sakit.


***********


Pagi hari kembali. Kiara masih tetap berada di rumah sakit. Kiara bangun dari tidurnya, memijat kepalanya yang masih berat. Matanya perlahan terbuka. Fokus pada langit kamar yang tidak di kenalnya.


" Di mana aku," ucapnya pelan, kepalanya berkeliling melihat keberadaannya, Kiara heran melihat tangannya yang di pasang selang impus.


" Rumah sakit," ucap Kiara menyadari keberadaannya.


" Kenapa aku bisa di sini? Astaga hari ini aku ujian," pekik Kiara saat menyadari di akan ujian Kiara langsung duduk dan melihat jam yang menggantung di ding-ding.


" Aku terlambat," ucapnya melihat pukul 11 siang. Kiara ingin mencopot selang imfus yang berada di punggung tangannya dan untung saja Rachel datang.


" Hey, Kiara," pekik Rachel langsung menghentikan kebodohan adiknya.


" Kamu gila ya," ucap Rachel langsung marah.


" Aku harus pulang, aku ada ujian, kenapa aku di sini," ucap Kiara panik.


" Nggak bisa, kamu belum bisa pulang, Dokter belum kasih izin," ucap Rachel tegas.


" Bagaimana ini, aku haru pulang aku harus ujian, aku akan kehilangan kesempatan," Kiara terus kepanikan.


" Ponsel ku, di mana ponselku," ujarnya.


" Sebentar," Rachel membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel Kiara yang memang sengaja di bawanya, pasti Kiara jika bangun akan langsung melihat ponselnya.


Kiara langsung merampas dengan cepat membuat Rachel berdecak.


" Nggak sabaran amat,"

__ADS_1


Saat membuka ponselnya Kiara langsung mendapat pesan.


..." Ujianmu di laksanakan hari Senin, Ada sesuatu yang membuat ujianmu tidak bisa di laksanakan, jadi di cansel. Persiapkan dirimu. Terutama kesehatanmu," ...


Mendapat pesan dari Kevin membuat Kiara merasa lega dan langsung membuang napasnya perlahan kedepan.


" Untunglah," gumamnya dengan lega dan merasa tenang membuat Rachel bingung.


" Kamu kenapa sih? kayak kebakaran jenggot, sampai buka-buka infus segala," oceh Rachel. Kiara hanya mengeleng.


" Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Kiara.


" Ziva nemuin kamu pingsan di kamar, jadi di bawa kerumah sakit," jawab Rachel.


" Lalu aku kapan bisa pulang?" tanya Kiara.


" Tergantung Dokter, makanya jangan berbuat yang aneh-aneh kalau mau cepat pulang," ucap Rachel.


" Untunglah ujiannya di cansel, aku kira aku akan kehilangan kesempatan itu," batin Kiara yang masih merasa lega.


" Hmmm, kamu tunggu sini, aku mau cari makan dulu," ucap Rachel.


" Iya, aku mau makan...."


" Tidak..." sahut Rachel memotong pembicaraan Kiara, " kamu tidak bisa makan yang kamu mau, aku yang pilihkan," tegas Rachel membuat Kiara mengkerutkan dahinya.


" Kamu tunggu sini, ingat jangan berbuat yang aneh-aneh," tegas Kiara.


" Iya," sahut Kiara tidak ikhlas melihat kepergian kakanya.


Setelah kakaknya pergi Dokter Saras memasuki ruangan perawatan Kiara.


" Selamat pagi," sapa Saras tersenyum


" Pagi Dok," sahut Kiara.


" Saya periksa bentar ya," ucap Saras.


Kiara mengangguk dan merebahkan dirinya. Saras memeriksa menggunakan steteskopnya.


" Mungkin nanti sore sudah bisa, lihat perkembangan kamu," jawab Dokter. Kiara langsung tersenyum.


" Sepertinya ada rencana, sampai ingin cepat pulang," ucap Saras selesai memeriksa Kiara dan Kiara kembali duduk menyandarkan punggungnya dengan nyaman.


" Aku harus mengikuti ujian. Seharusnya hari ini. Tetapi untunlah di cancel," jawab Kiara.


" Jadi kamu seorang pelajar," sahut Saras menulis data kesehatan Kiara di kertas yang di lapisi ujian.


" Saya mahasiswa," jawab Kiara.


" Kamu akan mengikuti ujian semester," tebak Saras.


" Tidak, ujian memperbaiki nilai, di universitas Lexus," jawab Kiara. Membuat Saras melihat sebentar ke arah Kiara.


" Memang kamu tinggal di mana?" tanya Saras penasaran.


" Di perumahan Lexus," jawab Kiara. Saras kembali menatapnya.


" Di daerah mana?" tanya Saras yang memang perumahan Lexus sangat banyak. Dia juga sangat ingin tau lebih banyak dengan gadis yang di khawatirkan adik iparnya itu.


" Jalan melati barat, no 11," jawab Kiara dengan lengkap. Membuat saras berhenti menulis.


" Jadi gadis ini tinggal di depan rumah, aku tidak pernah melihatnya, dan Kevin sepertinya sangat mengenalnya," batin Saras.


**********


Di dalam ruangan hanya Kevin sibuk menandatangani berbagai berkas. Tetapi tangan Kevin berhenti dan mengambil ponselnya. Kevin melihat pesan Wa-nya sudah di baca.


" Berarti dia sudah bangun," ucap Kevin seakan lega.


" Apa dia baik-baik saja," batin Kevin yang penasara. Kevin menulis pesan. Tetapi kembali menghapusnya. Dia tidak tau ingin mengirim pesan apa lagi kepada Kiara.


Sementara Kiara dan Saras masih berada di ruangan itu. Saras masih terus menulis data kesehatan Kiara denga rasa penasarannya.


Drett Drett ponsel Kiara yang berdering di atas nakas tidak sengaja terlihat Saras dan melihat nama yang menelpon Kevin.

__ADS_1


" Kevin," batin Saras heran.


" Sebentar Dokter," ucap Kiara mengangkat telponnya, Saras hanya mengangguk.


📞" Halo," sapa Kiara.


📞" Kau sudah membaca pesanku?" tanya Kevin yang gugup di meja kerjanya menggaruk kepalanya dengan jarinya.


📞" Hmmm, aku sudah membacanya pesan dari mu," jawab Kiara.


📞" Oh aku hanya mengatakan itu, aku heran saja kau tidak membalasnya," sahut Kevin semakin gugup dan mematikan telponnya dia tau mau bicara apa lagi.


Kiara merasa aneh saat Kevin mematikan tiba-tiba.


" Aneh," ucap Kiara menurunkan ponselnya dari telinganya. Saras hanya tersenyum melihat Kiara.


" Ya sudah istirahatlah, agar cepat pulih," ucap Saras pamit.


" Makasih Dok," jawab Kiara.


Saras keluar dari ruang perawatan Kiara.


" Sepertinya hubungan Kevin dan gadis itu sangat dekat. Apa gadis itu kekasihnya," batin Saras pergi.


Sebenarnya Saras tidak peduli hanya saja Saras heran dengan Kevin yang bisa menjalin hubungan dengan seorang wanita. Saras memang tidak terlalu mengenal Kevin. Tetapi yang dia tau adik iparnya itu sangat dingin.


***********


" Kenapa aku tidak menanyakan keadaannya, kenapa aku malah mematikan telponnya," batin Kevin seakan penasaran dengan kondisi Kiara dan menyesal mematikan ponselnya.


" Apa dia sudah makan?" tanya Kevin lagi yang penasaran dengan Kiara.


Masih dengan memakai pakaian rumah sakit Kiara dan Rachel makan bersama dengan berbagai makanan yang di pesan Rachel yang sama sekali tidak membuat Kiara selera dan makan seperti orang tidak bersemangat.


" Ayo makan banyak, biar kamu cepat sembuh," oceh Rachel yang malah makanan yang diinginkan Kiara.


" Iya," sahut Kiara tidak ikhlas.


Dia memang harus cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit. Agar tidak terbengkalai dengan ujiannya.


" Makanya jangan kebanyakan belajar, lagi pula nggak kuliah juga. Tetapi belajar, mending reflesing," oceh Rachel.


" Aku mau mengikuti ujian," sahut Kiara kesal. Membuat Rachel melihatnya.


" Ujian, ujian apa?" tanya Rachel yang benar-benar tidak tau. Kiara memang tidak memberi tahu keluarganya. Karena masih kesal.


" Ujian memperbaiki nilai, agar bisa mendaftar kuliah lagi," jawab Kiara.


" Serius, universitas Lexus memberi kamu kesempatan memilih kampus lain?" tanya Raquel tidak percaya.


" Iya," jawab Kiara singkat.


" Mama sama papa tau?" tanya Rachel. Kiara menggeleng.


" Ohhh, begitu," sahut Rachel tersenyum biasa. Dia melihat adiknya itu masih marah, makanya tidak ada yang tau.


" Kiara, seharusnya kamu beri tahu kami semua, jadi bisa ikut mengontrol diri kamu, sehingga kejadian ini tidak terjadi," ucap Rachel dengan lembut.


" Kalian juga tidak peduli," sahut Kiara menunduk mengaduk-aduk makanannya.


" Kamu mah, suka salah paham mana mungkin tidak ada yang peduli aneh," ucap Rachel mengusap pundak adiknya. Dia memang sering bete-betean dengan Kiara.


Tetapi melihat kondisi adiknya sebagai kakak dia kasihan melihat Kiara yang terus berjuang dan malah beranggapan jika tidak ada hangendukungnya.


*********


Bersambung


Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.


Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.


Jangan lupa terus kasih suport, Vote. like koment dan jadiin favorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2