
Haria sedang beberes di dalam kamarnya. Dia memasukkan beberapa pakaiannya kedalam kopernya. Katanya pergi sebentar tetapi pakaian yang di bawanya cukup banyak.
" Aku harus menyusul Kevin. Kevin ada di Jerman. Aku harus ke Jerman dan menyusulnya. Ini kesempatan untukku bersama dengannya. Aku akan kembali meluluhkan hatinya," ucap Haria sambil memasukkan pakaian kedalam koper.
Dugaan Saras memang benar. Jika Haria tidak pergi ke Paris melainkan Haria yang akan menyusul Kevin. Dia memang sangat merindukan Kevin.
Selama mendapat hukuman Haria sama sekali tidak pernah melihat Kevin dan ketika hukumannya selesai. Dan saat dia bebas dalam hukumannya. Kevin malah ke luar Negri. Jadi dia memutuskan untuk menyusul Kevin ke luar Negri.
Selesai menyusun pakaiannya. Haria menutup kopernya dan langsung mengangkat kopernya dari atas ranjang. Dia memang sangat buru-buru seperti mengejar sesuatu. Jadi maklumlah. Kalau Haria sampai seperti itu.
Haria membuka pintu kamar dengan menyeret kopernya. Wajahnya langsung terkejut. Ketika melihat Saras yang berdiri di depan kamarnya.
" Kenapa dia ada di depan kamarku. Apa yang diinginkannya," batin Haria masih dengan wajahnya yang terkejut melihat Haria.
" Ada apa. Apa ada sesuatu?" tanya Hari yang tampak tenang.
" Iya, papa menyuruhku untuk mengantarkanmu ke Bandara," jawab Saras dengan sinis.
" Apa. Om Mitra Winata menyuruhnya untuk mengantarkanku ke Bandara," batin Haria yang benar-benar sangat terkejut.
" Kenapa diam. Ayo aku masih harus pergi kerumah sakit," ucap Saras.
" Aku ingin melihat apa wanita ini benar-benar akan ke Surabaya atau cuma hanya akal-akalanya saja. Tetapi jelas dia begitu panik. Aku yakin wanita ini memang tidak ke Surabaya," batin Saras yang memperhatikan Haria yang benar-benar di penuhi kepanikan.
" Sial, bagaimana ini. Aku tidak mungkin ikut dengannya. Aku memang akan ke Bandara. Tetapi bukan Bandara menuju Surabaya tetapi Jerman," batin Hari benar-benar bingung.
" Haria, jangan membuang-buang waktu. Aku sudah membeli tiket. Jadi buruan ayo," ucap Saras lagi.
" Dia bahkan sudah membeli tiket. Bagaimana ini," Haria benar-benar terjebak dengan rencananya sendiri. Sementara Saras. Hanya menyimpan senyum melihat kepanikan wanita itu.
" Kak Saras tidak perlu mengantarku, aku bisa pergi sendiri. Kalau kak Saras mau kerumah sakit. Maka pergilah. Aku akan naik Taxi ke Bandara," ucap Haria menolak ajakan Saras.
" Aku juga tidak ingin mengantarmu. Aku juga punya banyak pekerjaan selain itu. Tapi papa yang menyuruh makanya aku harus mengantarmu," ucap Saras menegaskan.
" Tapi kak. Aku tidak apa-apa. Aku juga tidak enak dengan kakak. Jadi biar aku pergi sendiri," ucap Haria yang berusaha membujuk Saras. Agar Saras membiarkannya pergi sendiri.
" Ayolah Saras, kamu biarkan aku pergi. Kenapa kamu tidak berpihak padamu. Padahal. Jika aku dekat dengan Kevin kamu yang mendapat keuntungan. Tetap bersama suamimu. Jadi sekarang lepaskan aku Saras biarkan aku pergi," batin Haria dengan berharap banyak
" Saras, Haria. Sedang apa kalian," tiba-tiba Janika istri pertama Winata datang. Janika pun menghampiri Haria dan Saras yang tampak berbicara berhadapan dengan wajah yang penuh ketegangan.
" Ya ampun kenapa juga Tante Janika pakai datang segala," batin Haria merasa urusannya bertambah ribet.
" Apa yang kalian bicarakan. Kenapa tampak serius sekali?" tanya Janika.
" Tidak apa-apa ma. Papa menyuruhku untuk mengantarkannya ke Bandara. Tetapi dia menolaknya," jawab Saras. Pandangan mata Janika langsung melihat ke arah Haria. Menatap dengan heran.
" Aku tidak bermaksud Tante untuk menolaknya. Aku hanya tidak mau merepotkan kak Saras. Jadi aku ingin pergi sendiri," sahut Haria yang mencoba menjelaskan.
" Haria. Saras hanya menjalankan apa di suruh. Jadi pergilah. Apa susahnya," sahut Janika yang mendukung Saras. Membuat Saras tersenyum tipis.
__ADS_1
" Sial. Aku benar-benar tidak akan bisa pergi ke Jerman. Jika seperti ini terus," batin Haria mulai emosi.
" Makanya jadi wanita jangan sok kepintaran," batin Saras yang sangat puas melihat Haria yang sangat panik.
" Tapi Tante. Haria bisa pergi sendiri. Lagian kalau kak Saras menemani Haria. Itu akan menyita waktunya Haria tidak mau merepotkan kak Saras," ucap Haria lagi yang sangat berusaha agar tetap bisa pergi sendiri ke bandara.
" Haria. Jangan berbicara masalah merepotkan. Kamu itu memang sudah merepotkan sejak awal. Kamu pikir dengan kamu datang kerumah ini. Tidak merepotkan Saras. Sangat merepotkannya. Karena dia harus setiap hari memikirkan rumah tangganya dan itu karena kamu. Jadi jangan berbicara merepotkan. Ikuti semua aturan di rumah ini. Jika tidak mau merepotkan Saras. Maka batalkan perjodohan itu," ucap Janika menekankan kepada Haria.
Perasaan Haria bagai di sambar petir dengan kata-kata pedas Janika. Yang juga dari bicaranya terlihat jelas. Jika Janika memang tidak menyukai Haria. Yang akan menjadi istri ke-2 dari Alan putranya.
" Apa maksud Tante bicara seperti itu?" tanya Haria yang menanggapi dengan serius.
" Sudahlah, jangan pura-pura tidak tau. Kamu bahkan sangat mengerti. Jangan membahas masalah itu. Sekarang pergilah bersama Saras. Sebelum Suamiku yang menyuruhmu," ucap Janika dengan sangat ketus berbicara pada Haria.
" Aku tidak menyangka jika mama akan mengatakan hal itu pada wanita ini. Memang sekali-kali dia harus sadar diri. Jika perbuatannya sangat membuat resah," batin Saras tersenyum tipis
Meski mama mertuanya itu tampak cuek. Tetapi dia tau mama mertuanya itu juga sangat tidak ingin jika Haria menjadi istri ke-2 dari suaminya. Karena Janika memang pasti tau bagaimana rasanya di madu.
" Jangan diam saja, ayo pergi," tegas Janika lagi.
" Baiklah Tante," sahut Haria yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan menyeret kopernya pergi terlebih dahulu.
" Ma, Saras pergi dulu," ucap Saras pamit mencium punggung tangan Janika.
" Iya kamu hati-hati. Setelah mengantarkannya ke Bandara. Kamu langsung kerumah sakit," ucap Janika.
" Iya ma," jawab Saras mengangguk dan langsung pergi.
**********
Kiara menuruni anak tangga. Dengan tangannya yang merogoh tasnya yang seperti mencari sesuatu yang ternyata mengambil ponselnya.
" Mau kemana Kiara?" tanya Rachel yang tiba-tiba saja sudah ada di depannya.
" Kak Rachel," lirih Kiara yang tersentak kaget melihat sang kakak. Bahkan dia sampai mengusap dadanya. Karena sangat terkejut.
" Kamu suka kagetan belakangan ini. Aneh banget," ucap Rachel yang sekarang sudah memprotes Kiara.
" Apaan sih. Kakak tuh yang aneh," sahut Kiara yang berjalan melewati Rachel yang Kiara langsung menuju dapur. Kiara mengambil gelas dan menuang air putih. Rachel masih saja tetap mengikutinya bahkan sampai kedapur.
" Kakak maunya apa sih, heran deh," sahut Kiara yang tampak kesal dengan Rachel yang dari kemarin seperti sangat penasaran dengannya.
" Memang kakak ngapain?" tanya Rachel.
" Ya mana Kiara tau. Kakak lah yang tau. Kakak itu selalu ngintilin Kiara akhir-akhir ini. Risih tau," ucap Kiara kesal lalu meneguk minuman nya.
" Kamu ini sewot amat baru aja di kayak gituan. Gini nih. Kalau sudah punya pacar," ucap Rachel.
Byurrrr.
__ADS_1
Kata-kata Rachel membuat Kiara menyembur minumanya nya dan langsung mengenai wajah Rachel.
" Kiara," ucap Rachel menekan suaranya saat wajahnya basah karena ulah Kiara. Sangking kagetnya mendengar omongan itu. Sehingga Kiara harus menumpahkan minuman itu pada wajah Rachel.
" Maaf kak, tidak sengaja," sahut Kiara merasa bersalah, sementara Rachel berusaha membersihkan dengan tangannya.
" Kamu ini apa-apaan sih," ucap Rachel langsung marah-marah.
" Ya maaf, orang kakak juga yang salah. Ngapain di depan Kiara. Jadi tidak sepenuhnya salah Kiara," ucap Kiara yang tidak ingin di salahkan.
" Nggak salah gimana. Kenapa tiba-tiba nyembur kayak orang kaget seperti itu," sahut Rachel masih marah-marah.
" Ya salah sendiri kenapa bicara yang tidak-tidak," ucap Kiara.
" Bicara yang tidak-tidak apanya. Memang benarkan kamu punya pacar," sahut Rachel menegaskan. Membuat Kiara langsung kaget sampai matanya ingin melotot.
" Apaan sih. Nggak jelas banget," sahut Kiara yang dengan cepat mengelak.
" Kalau tidak punya pacar. Kamu tidak mungkin sampai sekaget ini dan main sembur-sembur saja," ucap Rachel.
" Kak Rachel kok bisa sampai punya pikiran kayak gitu sih," batin Kiara yang tiba-tiba panik.
" Kenapa diam. Benarkan apa kata kakak, kamu itu memang punya pacar," tegas Rachel lagi.
" Apaan sih kak. Nggak jelas banget. Siapa juga yang punya pacar. Nggak usah asal bicara," sahut Kiara yang tetap membantah.
" Wajah kamu itu nggak bisa bohong Kiara," tegas Rachel menunjuk wajah Kiara dan dengan spontan langsung di pegang Kiara.
" Astaga, ada apa ini," sahut Sahila yang tiba-tiba datang dan melihat kekacauan di dapur. Ke-2 anak gadisnya bertengkar.
" Kiara nih mah, pakai main sembur-sembur segala," ucap Rachel yang langsung mencari pembelaan.
" Kiara tidak akan sembur. Kalau kak Rachel tidak mencari masalah duluan," sahut Kiara yang juga mencari pembelaan.
" Sudah-sudah. Jangan ribut. Kalian ini sudah dewasa dan malah ribut seperti anak kecil. Kamu juga Rachel. Sudah siang begini masih di rumah kenapa tidak buka kedai. Mau jam berapa dibuka," ucap Sahila yang langsung menegur Rachel yang masih bermalas-malasan.
" Dan kami Kiara. Bukannya tadi mama menyuruh kamu ke tempat kakak kamu Rangga dan kenapa belum pergi," Sahila juga menegur Kiara.
" Ini juga mau pergi ma. Hanya saja kak Rachel cari gara-gara," sahut Nayra.
" Pakai nyalahin lagi," sambar Rachel.
" Sudah jangan bertengkar lagi. Sekarang kalian berdua pergi. Jangan malah membahas itu lagi," sahut Sahila dengan penuh penegasan yang berada di tengah-tengah anaknya yang terus bertengkar.
" Sudah sana pergi," tegas Sahila sekali lagi.
" Iya ma, Kiara pergi dulu," ucap Kiara langsung mencium punggung tangan Sahila. Lalu langsung pergi dengan melihat Rachel sewot.
" Rachel juga," sahut Rachel dan langsung pergi.
__ADS_1
" Ada-ada saja," ucap Sahila geleng-geleng melihat kelakuan anaknya yang tidak ada hari tanpa bertengkar.
Bersambung.......