
Kiara yang berada di dalam kamarnya berdiri di pinggir jendela. Dengan tangannya yang memeluk tubuhnya. Tidak tau apa yang di pikirkannya yang jelasnya dia memang sedang tidak baik-baik saja dan memang memikirkan hal yang serius.
Sejak bertemu dengan Winata Kiara memang sangat murung dan terlihat sedang memiliki banyak beban pikiran.
Dratt Dratttt Dratttt.
Lamunan Kiara terhenti ketika mendengar suara ponselnya yang berada di meja riasnya. Kiara membuang napasnya perlahan dan melangkah berjalan mendekati ponselnya. Kiara melihat panggilan masuk dari ponselnya adalah Kevin.
Kiara melihat cukup lama. Sampai akhirnya mengangkat telpon dari pacarnya itu. Setelah kembali membuang napasnya dengan panjang.
" Kenapa napasmu berat sekali. Ada apa?" tanya Kevin yang menelpon jauh di Negara orang yang ternyata mendengar suara napas berat Kiara dan pasti hal itu menggambarkan sesuatu. Jika pacarnya sedang ada masalah.
" Tidak apa-apa," jawab Kiara bohong. Padahal memang dia sedang ada apa-apa.
" Tidak apa-apa bagaimana, suaramu juga terdengar tidak bersemangat," sahut Kevin yang tidak percaya dan malah khawatir dengan Kiara.
" Kevin aku tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk. Makanya seperti itu," ucap Kiara yang mengelak dan berbicara dengan tenang agar Kevin tidak memikirkan apa-apa.
" Benar tidak ada apa-apa?" tanya Kevin yang masih tidak percaya.
" Hmmm, iya. Sama sekali. Aku tidak apa-apa," jawab Kiara menekankan pada Kevin bahwa dia tidak apa-apa. Walau pasti dia sangat apa-apa. Pikirannya yang sangat tidak tenang.
" Baguslah jika begitu. Jika ada apa-apa. Beritahu aku. Jangan menyimpannya sendirian. Aku tidak mau kamu memikirkan sesuatu yang berat. Kamu harus mengingat kondisi kamu," ucap Kevin menegaskan dengan serius kepada Kevin.
" Iya Kevin kamu santai saja. Kamu jangan berlebihan. Aku benar-benar tidak apa," ucap Kiara yang terus meyakinkan Kevin.
" Dan sekarang katakan kenapa menelponku, apa ada yang penting?" tanya Kiara.
" Kiara. Aku minta maaf sama kamu. Aku belum bisa pulang. Tiba-tiba saja aku harus melanjutkan pekerjaan ku ke Paris. Papa memberi perintah tiba-tiba," ucap Kevin yang ternyata ingin pamit lagi pada pacarnya akan ada pekerjaan baru.
" Jadi Om Winata sengaja membuat Kevin tidak kembali secepatnya ke Indonesia," batin Kiara yang sebenarnya sudah tau jika itu akan terjadi. Dia memang harus mengakui jika Winata bukan orang yang bisa di anggap main-main.
" Kiara. Kamu kenapa diam?" tanya Kevin yang tidak mendapat respon apa-apa dari Kiara.
" Ha, iya. Tidak, aku hanya tidak menyangka. Jika kamu malah akan pergi lagi," ucap Kiara.
" Maafkan aku ya. Aku pasti sudah membuat kamu kecewa," ucap Kevin merasa bersalah.
" Tidak Kevin. Tidak apa-apa. Lagian aku juga sibuk mengejar waktu belajar. Agar bisa lulus beasiswa. Jadi kita berdua memang benar-benar punya urusan yang penting. Jadi itu bukan masalah yang besar," ucap Kiara yang dengan santai menanggapi hal itu.
" Kami benar tidak marah?" tanya Kevin yang takut Kiara akan marah. Memberitahu Kiara saja dia sudah ragu-ragu. Karena takut mengecewakan sang pacar.
" Tidak lah. Kenapa juga harus marah. Memang kamu mau ngapain. Kamu kan mau bekerja. Bukan melakukan hal yang aneh-aneh. Jadi aku tidak perlu marah dan harus mendukung kamu," ucap Kiara yang tampak legowo mendengar pamitannya Kevin.
" Makasih ya," ucap Kevin. Kiara tersenyum tipis.
" Tidak ada yang perlu di ucapkan dalam terima kasih, memang aku melakukan hal apa," ucap Kiara.
" Hmmmm, ya sudah lah. Kalau kamu pergi. Kamu hati-hati. Jangan lupa makan yang teratur dan bekerja jangan kelelahan," ucap Kiara memberi pesan pada pacarnya.
__ADS_1
" Iya Kiara. Kamu juga. Jaga makan dan yang lainnya," ucap Kevin yang memberikan saran.
" Hmmm, pasti. Aku akan mengingat apa yang kamu katakan. Ya sudah aku tutup telponnya dulu, aku mau istirahat dulu. Aku mengantuk," ucap Kiara yang pamitan.
" Iya, kamu istirahat lah," sahut Kevin.
" Hmmmm, selamat malam," ucap Kiara langsung mematikan telponan.
Kevin yang berada di Jerman yang di dalam kamarnya heran dengan Kiara yang langsung mematikan telpon. Padahal dia belum sempat menjawab selamat malam itu dan seperti biasa mengakhiri dengan ucapan cinta.
" Ada apa dengannya. Kenapa dia terlihat aneh, tidak biasanya dia seperti itu.," batin Kevin merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu.
" Dia juga tampak biasa saja. Saat aku mengatakan akan melanjutkan perjalanan bisnis ke Paris. Biasanya dia akan berbicara manja seperti tidak ingin aku pergi. Tetapi sekarang dia malah santai dan tidak protes apa-apa," Kevin bergerutu kebingungan di dalam hatinya dengan tingkah Kiara yang tiba-tiba berubah dengan cepat.
" Ada apa dengannya. Kenapa dia seperti itu. Apa dia marah dengan aku yang tidak menepati janji dan marahnya dengan cara seperti itu," batin Kevin yang menebak-nebak sendiri. Apa yang terjadi pada pacarnya itu.
***********
Sementara Kiara yang menutup telponnya dari Kevin. Langsung bertambah sedih.
" Memang semuanya tidak semudah apa yang aku pikirkan. Om Winata ternyata memang bisa melakukan apapun. Aku benar-benar melangkah sangat jauh. Sehingga harus kuat dengan semua resikonya," batin Kiara dengan air matanya yang menetes. Dan langsung mengusapnya.
" Tenanglah Kiara. Semuanya pasti akan baik-baik saja," ucapnya menguatkan dirinya sendiri. Karena jika dia siapa lagi.
Pembicaraanya dengan Winata memang cukup lama dan mungkin mereka membahas banyak hal sampai Kiara benar-benar murung dan penuh pikiran yang pasti inti dari pembicaraan itu pasti mengenai hubungannya dengan Kevin.
**********
Sementara Rachel yang duduk di depannya yang memperhatikan perubahan sikap adiknya. Dia jelas tau banyak. Dia tau adiknya yang berpacaran dengan anak tetangga mereka.
Orang yang pasti tidak bisa di anggap main-main dan dia juga tau kemarin Kiara sedang bertemu dengan Mitra Winata dan bahkan berbicara sangat lama. Walau Kiara mengatakan tidak apa-apa. Tetapi dia yakin jika adiknya itu menyembunyikan sesuatu.
" Apa ya kira-kira yang di bicarakan Om Winata dengan Kiara. Kenapa Kiara tampak murung seperti itu," batin Rachel yang penasaran dengan adiknya.
" Hmmm, kok aneh banget ya," sahut Ziva tiba-tiba membuat orang melihat sebentar kearahnya.
" Aneh kenapa Ziva?" tanya Sahila heran dengan putrinya yang mengatakan aneh.
" Mama dan papa tau tidak. Kalau Om Mitra Winata. Kemarin itu datang ke sekolah kami dan aku di traktir olehnya. Aku Alana anaknya dan Om Mitra Winata makam bersama-sama di kantin sekolah," ucap Ziva tiba-tiba. Mendengarnya Kiara langsung kaget. Rachel juga kaget mendengarnya.
" Aku lihat itu," sahut Zavier yang ternyata juga melihat kakaknya bicara dengan Mitra Winata dan Alana.
" Dia bicara apa?" tanya Kiara dengan cepat yang seketika menjadi panik.
" Nggak ada sih. Hanya nanya-nanya soal sekolah saja," jawab Ziva sambil mengunyah makanannya.
" Ada yang di lakukan om Mitra Winata. Kenapa dia harus bicara dengan Ziva," batin Kiara yang kepanikan dengan hal itu.
" Hanya itu saja. Bukankah itu biasa," sahut Sahila.
__ADS_1
" Aneh dong ma. Dia tiba-tiba seperti itu dan malah tanya-tanya masalah kak Kiara lagi," sahut Ziva lagi. Kiara semakin panik mendengarnya.
" Tanya-tanya Kiara. Tanya-tanya apa?" tanya Rachel yang juga penasaran.
" Ya pasti pendidikannya," jawab Ziva.
" Tidak ada yang lain?" tanya Rachel memastikan.
" Tidak ada. Hanya itu saja," jawab Ziva dengan yakin.
" Gila. Kayaknya ini memang tidak bisa di anggap main-main. Aku yakin hubungan Kiara dan Kevin sudah ketahuan dan kemarin Kiara dan Om Winata bertemu pasti membahas hubungan itu. Bukan menanyakan kenapa Kiara keluar dari universitas Lexus," batin Rachel yang merasakan ada yang tidak beres.
" Ya sudah lah. Yang penting kamu sopan dengan beliau," sahut Danu.
" Iya pa," jawab Ziva.
" Oh iya Rangga kamu sendiri bagaimana kapan kamu akan di promosikan?" tanya Danu pada Rangga.
" Belum tau pa," jawab Rangga lemas. Danu heran dengan jawaban putranya.
" Kok bum tau," sahut Danu heran.
" Soalnya katanya ada pengunduran dan anak-anak bilang ada seleksi baru dan bisa jadi aku tidak jadi di promosikan," sahut Rangga sedikit penjelasan dan membuat Kiara semakin kaget.
" Berati kakak tidak jadi naik jabatan dong," sahut Zavier.
" Hmm, bisa jadi," sahut Rangga yang terlihat pasrah.
" Apa kal Rangga tidak jadi naik jabatan," batin Kiara yang semakin panik dengan berita yang di dengarnya.
" Saya juga melihat jika kakak kamu juga bekerja di perusahaan saya dan sebentar lagi akan di promosikan. Tapi sepertinya itu waktu yang cepat untuk dia yang bekerja baru sebentar," lintasan kata-kata Winata terngiang di telinga Kiara.
" Apa ini ada hubungannya denganku," batin Kiara yang merasa sangat was-was.
" Tapi sudahlah kita lihat saja nanti bagaimana kedepannya," sahut Rangga yang benar-benar terlihat sangat pasrah.
" Ya semoga saja. Kamu jadi di promosikan," ucap Sahila dengan harapan yang banyak pada putranya.
" Amin," jawab Rangga yang hanya bisa berdoa juga.
" Ini pasti ada yang tidak beres. Baru saja Kiara bertemu dengan mitra Winata. Tetapi masalahnya. Sudah sangat banyak. Aku harus bicara serius dengan Kiara masalah ini," batin Rachel yang kepikiran sesuatu.
Bersambung
Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.
Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.
Jangan lupa terus kasih suport, Vote. like koment dan jadiin favorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya
__ADS_1
Terima kasih...