
Kevin terus menelpon Kiara. Tetapi tetap tidak di angkat.
" Angkat Kiara, angkat," ucap Kevin yang kepanikan dengan matanya yang memerah.
" Sial," teriak Kevin yang tidak mendapatkan apa-apa, Kevin mencari Kiara sambil terus menelponnya. Sampai akhirnya Kevin mendengar suara ponsel Kiara berdering.
Pada akhirnya Kevin melihat pohon besar dari ponsel itu berada. Kevin di kagetkan dengan kaki yang tergeletak di tanah.
" Kiara," lirih Kevin langsung berlari kuat semakin khawatir.
Tebakan Kevin benar Kiara sudah tergeletak di atas rumput dengan wajahnya yang miring dan di tutup rambutnya.
" Kiara," ucap Kevin langsung berlutut melihat Kiara. Betapa terkejutnya Kevin saat membalikkan melihat wajah Kiara yang sudah di penuhi busa dan wajah Kiara yang pucat dan sangat dingin.
" Kiara, Kiara bagun," ucap Kevin panik mengucap wajah Kiara yang di penuhi busa.
" Kiara bangun, Kiara," tanpa menunggu lama. Kevin langsung mengendong Kiara ala bridal style dan berlari membawa Kiara.
Ternyata banyak orang yang keracunan minuman itu sehingga taman itu di penuhi kericuhan tangisan histeris oleh para orang tua yang melihat anaknya keracunan.
Di dekat taman ada rumah sakit. Orang-orang membawa kesana para pasien yang keracunan.
Kevin pun membawa Kiara kesana ke rumah sakit yang ada di dekat taman. Rumah sakit yang kecil itu ricuh dengan para pasien yang banyak. Ibu-ibu saling dorong saling mendahului agar sang anak dapat di tolong.
" Anak saya dulu, anak saya dulu," teriak para ibu-ibu yang ingin anaknya terlebih dahulu.
Kevin yang juga semakin panik berlari menghampiri Dokter yang sedari tadi menenagkan pasien.
" Dokter tolong selamatkan dia tolong Dok," ucap Kevin yang mendesak dengan penuh kekhawatiran.
" Sabar pak!" sahut Dokter.
" Kondisinya sangat lemah, tolong selamatkan dia," ucap Kevin dengan suara meninggi yang benar-benar panik dengan Kiara yang terus mengeluarkan busa dari mulutnya.
" Mas, memang dia saja yang mau hidup, anak saya juga, lagian dia sudah dewasa, masa nggak kasian melihat anak saya yang masih kecil," sahut ibu-ibu yang langsung protes.
" Benar, anak-anak dulu," sahut salah seorang ibu lagi yang menyolot.
" Benar,"
" Benar,"
" Benar,"
" Benar,"
__ADS_1
Kevin malah di serang para emak-emak yang mulutnya seperti rel kereta api. Para emak-emak protes. Karena orang dewasa cuma Kiara satu-satunya.
" Hentikan!" teriak Kevin.
" Apa kalian pikir karena dia dewasa dia akan kuat, anak kalian masih sadarkan diri, kalian tidak lihat wanita ini sudah sekarat," teriak Kevin yang kehilangan kendalinya dengan rahang kokohnya yang mengeras meluapkan emosinya.
Ternyata di sebrang jalan Saras yang keluar dari mobilnya melihat kerumunan di depan rumah sakit kecil itu.
" Bukannya itu Kevin," ucap Saras yang melihat Kevin dengan jelas.
" Ngapain dia?" tanya Saras heran dan langsung menyebrang jalan memastikan.
Saras sampai di kerumunan yang ingin anak-anak mereka mendapat perawatan sementara Saras melihat Kevin menggendong Kiara dengan kondisi Kiara yang lemah sampai Saras kaget.
" Kevin," tegur Saras. Kevin langsung menoleh kearah suara itu.
" Kak Saras," lirih Kevin dengan suara serak.
Saras melihat wajah Kevin yang merah bahkan air mata Kevin yang ingin keluar. Tetapi masih di tahan.
" Apa yang terjadi?" tanya Saras panik memegang denyut nadi Kiara.
" Tolong selamatkan dia," lirih Kevin sudah lemas dan penuh harapan. Saras sebelumnya tidak pernah melihat Kevin seperti itu.
" Aku mohon selamatkan dia," ucap Kevin yang terduduk lemas.
Saras memeriksa kondisi Kiara di dalam mobil Kevin. Kiara di baringkan di kursi belakang dan Saras menyuntikkan sesuatu ketangan Kiara.
Sementara Kevin berada di luar mobil dengan frustasi keadaan Kiara yang benar-benar membuatnya ketakutan. Seharusnya dia datang lebih cepat agar Kiara tidak sempat membeli apa-apa.
Setelah memerikasa Kiara, Saras bernapas lega, untunglah Kiara tidak kenapa-napa. Saras keluar dari dalam mobil dan melihat Kevin yang terduduk lemas.
" Dia tidak apa-apa," ucap Saras membuat Kevin mengangkat kepalanya dan membuang napasnya perlahan. Dia merasa lega mendengar perkataan kakaknya.
" Aku harus membawanya kerumah sakit," ucap Kevin.
" Tidak perlu, kakak sudah memberinya cairan impus yang di campur obat, jadi kondisnya akan baik-baik saja," sahut Saras yakin.
" Dia keracunan makanan, di tambah kondisinya yang sedang tidak baik-baik saja, makanya keadaannya seperti itu," jelas Saras.
" Kamu tinggal membawanya pulang, dia cukup istrirahat di rumah," saran Saras.
" Iya terimakasih, sudah menyelamatkanny," sahut Kevin.
" Itu tugas seorang Dokter tidak perlu berterima kasih. Kamu begitu mengkhawatirkannya. Pasti dia sangat berarti untukmu," tebak Saras. Kevin terdiam meyadari emosinya yang sangat berlebihan saat melihat Kiara yang seperti itu.
__ADS_1
" Iya aku mengkhawatirkan," batin Kevin kembali menyadari perasaannya.
" Kamu mencintainya?" tanya Saras.
Kevin melihat Saras. Diam sesaat tidak tau harus mengatakan apa untuk kata cinta Kevin belum tau apa itu bisa di sebut cinta.
" Hmm, air matamu sudah menjawabnya," sahut Saras tersenyum tipis.
Reflex Kevin memegang pipinya. Tidak sadar ada air mata yang jatuh hanya karena seorang wanita.
" Sudahlah, kakak kembali dulu, ada pasien harus di operasi. Kamu antar dia pulang dia harus istirahat," saras menjeda omongannya melihat Kevin yang masih penuh pemikiran, " kakak pulang," ucap pamit Saras.
Kevin kembali membuang napanya, mengusap wajahnya. Lalu memasuki mobilnya.
Kevin membuka pintu belakang dan melihat Kiara yang tertidur di belakang. Kevin membuka jasnya dan menutup ketubuh Kiara yang terlihat mengigil yang mungkin karena efek racunnya.
Setelah 2 jam di tempat yang sama. tetes infus Kiara habis dan saat itu juga Kiara terbangun. Perlahan matanya membuka matanya.
Matanya langsung berkeliling melihat di sekitarnya, dia tau dia berada di dalam mobil. Tetapi di mana dia tidak tau.
Dengan perlahan Kiara kembali bangkit dari tidurnya melihat botol infus yang menggantung dan selang berada di tangannya membuatnya bingung.
" Kevin," lirih Kiara melihat Kevin yang duduk di pengemudi.
" Kau sudah bangun?" tanya Kevin mulai tenang.
" Hmmm, aku ada di mana, kenapa aku sampai seperti ini?" tanya Kiara dengan kebingung.
" Kau tidak ingat apa-apa?" tanya Kevin dengan lembut.
Kiara memijat kepalanya dan membayangkan kejadian sebelumnya. Dia hanya menolong anak yang terkapar keracunan. Saat orang-orang membantu anak itu. Malah kepalanya semakin sakit dan merasa sesak.
" Apa aku sama seperti..."
" Hmmm, kau keracunan," sahut Kevin. Kiara membuang napasnya perlahan.
" Kau baik-baik saja?" tanya Kevin.
Bersambung
Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.
Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.
Jangan lupa terus kasih suport, Vote. like koment dan jadiin favorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya
__ADS_1
Terima kasih...