
Kevin dan Kiara duduk di salah satu kursi di taman di sekitar komplek. Dengan Kiara meletakkan kepalanya di bahu Kevin dan tangan Kevin mengusap-usap rambut Kiara.
Kiara sekarang sudah lebih tenang dengan keadaannya yang sudah bersama Kevin di sampingnya dan memberinya ketenangan.
Kiara juga sudah menceritakan semua pada Kevin. Tentang apa yang di alaminya dari Winata menemuinya sampai beberapa yang terjadi dalam keluarganya.
" Papa melakukan semua itu?" tanya Kevin lagi memastikan. Kiara mengangguk pelan. Memang tidak ada yang di tutupinya. Dia menceritakan semuanya dengan detai.
" Lalu kenapa tidak memberi tahuku Kiara. Kenapa menyimpannya sendirian. Apa salahnya memberitahuku?" tanya Kevin.
" Aku ingin memberitahumu Kevin. Tapi nanti kalau kamu sudah pulang. Aku tidak mau kamu jadi kepikiran tentangku. Aku ingin kamu selesaikan kerjaan kamu baru aku memberitahumu. Aku juga tidak tau kenapa kamu pulang tiba-tiba. Aku masih kaget dengan kedatangan kamu tiba-tiba," ucap Kiara yang memberikan alasannya pada Kevin.
Kiara mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Kevin.
" Maafkan aku. Maaf jika aku tidak memberitahumu terlebih dahulu," ucap Kiara menatap Kevin dengan dalam.
" Jangan minta maaf! kamu tidak salah. Tapi lain kali. Jika ada apa-apa. Kamu harus memberitahuku. Jangan seperti ini lagi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Aku tidak ingin kamu menanggung semuanya sendirian," ucap Kevin sambil membelai- belai rambut Kiara.
" Kamu jangan melakukannya lagi ya," ucap Kevin. Kiara mengangguk.
" Lalu kenapa kamu bisa pulang tiba-tiba. Bukannya kamu baru menelponku dan mengatakan. Jika kamu sedang ke Paris. Kenapa tiba-tiba ada di Indonesia?" tanya Kiara yang masih belum mendapatkan jawaban itu.
" Aku merasa ada yang aneh. Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan tidak jadi ke Paris. Karena aku memikirkan mu. Firasatku tidak enak dan dugaanku benar. Kamu sedang dalam masalah," jawab Kevin.
" Perasaan mu begitu kuat kepadaku. Sampai apa yang kamu pikirkan benar," ucap Kiara dengan wajahnya yang cemberut.
" Itu karena aku mencintaimu," sahut Kevin. Kiara tersenyum mendengarnya.
" Maafkan aku. Kamu harus mengalami semua karena aku Kiara, seharusnya tidak terjadi. Seharusnya aku lebih menjagamu. Aku tidak seharusnya membuatmu mengalami ini. Aku tidak seharusnya membuatmu melihat hal tadi," ucap Kevin yang merasa bersalah.
" Kamu sangat galak tadi, aku tidak pernah melihatmu semarah itu," ucap Kiara.
" Apa kamu tamu pada ku?" tanya Kevin. Kiara mengangguk pelan. Kevin tersenyum dan mengusap pipinya dengan lembut. Lalu mencium keningnya lembut.
" Maaf membuatmu takut," ucap Kevin yang kembali minta maaf.
__ADS_1
" Kamu minta maaf terus padaku. Jangan meminta maaf lagi. Aku tidak ingin mendengar kata maaf itu lagi," ucap Kiara.
" Iya. Aku tidak akan seperti itu lagi. Aku tidak bisa menahan diriku. Makanya aku bisa sampai seperti itu. Aku tidak ingin ada yang menyakitimu sedikitpun. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Aku sangat takut jika pacarku akan terjadi sesuatu hal buruk, jadi aku bersikap seperti itu," ucap Kevin sambil terus memegang rambut Kiara.
" Ya sudah kita jangan membahas itu lagi. Yang sekarang kita bahas bagaimana selanjutnya. Aku yakin papa kamu pasti sudah melakukan sesuatu. Dia sangat marah dengan hal tadi," ucap Kiara yang takut jika sesuatu akan terjadi.
" Aku akan bicara sama papa dan masalahnya akan selesai. Jadi jangan memikirkan apa-apa," ucap Kevin.
" Tidak mungkin masalahnya akan selesai. Masalahnya akan selesai jika kita sudahi semuanya," ucap Kiara tiba-tiba membuat wajah Kevin menjadi serius.
"Apa maksud kamu?" tanya Kevin.
" Bukannya Om Mitra Winata tadi sudah menanyakan itu pada kamu. Lalu apa lagi jika tidak penyelesaian masalahnya juga dengan hal itu. Kamu dan aku berpisah," ucap Kiara Kevin langsung meletakkan jarinya di bibir Kiara.
" Shuttt, kamu juga tadi sudah mendengar jawabannya. Jika aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan meninggalkan mu. Apapun yang terjadi jadi jangan pernah berpikir hal itu," ucap Kevin memegang pipi Kiara.
" Tapi memang itu kenyataannya Kevin. Pasti papa kamu....cup," Kevin langsung mengecup bibir Kiara.
" Jangan bicara lagi. Kamu hanya perlu mendengarkanku," ucap Kevin menatap Kiara dalam-dalam.
" Aku mengerti. Aku paham ketakutan kamu. Aku tau kamu takut. Tapi semua ini aku yang bertanggung jawab dan kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Jangan melakukan apa-apa untuk memikirkannya saja kamu tidak perlu," ucap Kevin.
" Jadi serahkan semua kepadaku. Aku akan menyelesaikannya," lanjut Kevin dengan meyakinkan Kiara.
" Kamu percaya padaku?" tanya Kevin. Kiara mengangguk pelan. Kevin tersenyum dan meraihnya kedalam pelukannya.
" Aku akan mengantarmu pulang kamu harus beristirahat dan jangan memikirkan apa-apa lagi. Kamu hanya memikirkan kuliah mu. Karena itu yang paling penting," ucap Kevin.
" Iya," jawab Kiara.
***********
Di sisi lain Haria tampak kepanasan di dalam kamarnya. Padahal cuacanya sangat dingin. Tetapi dia kepanasan. Dia duduk di pinggir ranjang dengan mengepal tangannya.
Wajahnya sangat memerah. Terlihat kemarahan yabg sangat besar di wajahnya dan pasti itu karena makan malam tadi. Dia mengira Kiara akan mendapatkan penghinaan yang besar.
__ADS_1
Yang mungkin memang akan terjadi kalau Kevin tidak datang. Dan itu yang membuatnya kepanasan di mana melihat Kevin karang yang sangat di cintainya membela Kiara bahkan melakukan sesuatu hal yang tidak pernah di lakukan Kevin hanya untuk Kiara.
" Apa Kevin benar-benar mencintainya. Dia mencintai Kiara sebegitunya. Sampai dia menentang Om Winata. Rencana ku berantakan. Percuma aku melakukan semuanya jika pada akhirnya Kiara lah pemenangnya," ucapnya yang terlihat tidak terima dengan apa yang terjadi.
" Tadi saja Kevin sudah jelas memilih wanita itu. Kevin bahkan tidak mempedulikan apapun. Dia memilih Kiara tanpa takut dengan apapun. Lalu apa semuanya. Semuanya sia-sia apa yang aku lakukan hanya sia-sia," ucapnya lagi menguatkan volume suaranya. Dengan giginya yang di rapatkan yang benar-benar geram dengan hal itu.
" Ahhhh," teriaknya memukul tempat tidur dengan tangannya.
Tok-tok-tok-tok.
Tiba-tiba ada seseorang mengetuk kamarnya.
" Sial, siapa lagi itu," ucap Haria yang masih emosian langsung berdiri dan membuka pintu dengan cepat yang ternyata menampilkan pelayan di rumah itu.
" Ada apa?" tanya Haria dengan ketus seperti mau menerkam saja.
" Maaf nona. Tuan sedang memanggil anda," ucap pelayan itu mengatakan maksud dan tujuannya.
" Om Winata memanggil ku. Memang ada apa?" tanya Haria heran.
" Tidak tau nona. Tuan menunggu nona di ruangannya. Dan saya tidak tau apa untuk apa," sahut pelayan itu.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Aku akan kesana," sahut Haria.
" Baik nona, saya permisi!" ucap pelayan itu langsung pergi.
" Ngapain dia memanggilku. Ada-ada saja. Apa dia tidak pikir kepalaku pusing. Sekarang malah memanggil-manggil lagi. Dia benar-benar menyusahkan," ucap Haria mengoceh kesal dengan Winata yang memanggilnya.
Bersambung....
Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.
Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.
Jangan lupa terus kasih suport Vote. like koment dan jadiin vavorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya
__ADS_1
Terima kasih...