Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin

Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin
Part 109. Masih ingin berduaan


__ADS_3

Mentari pagi kembali tiba. Sinarnya begitu cerah membuat orang-orang yang di luar sana beraktivitas dengan baik dan penuh kegembiraan dan mungkin kegembiraan itu juga masih di rasakan Kiara yang masih tertidur di dalam pelukan Kevin.


Tetapi Kevin sudah bangun dan setia menatapi wajah cantik yang begitu polos yang di depannya itu. Kevin malah tidak hentinya tersenyum dan terus mempererat pelukannya. Karena masih merindukan Kiara. Yang beberapa hari jauh darinya.


Kevin mencium kelopak mata Kiara yang masih terlihat bengkak. Mungkin Kiara kebanyakan menangis karena perbuatannya kemarin.


" Maafkan aku sudah membuat mu seperti ini. Aku tidak akan membiarkan air matamu keluar lagi," ucapnya dengan lembut terus memandangi wajah wanitanya yang sangat cantik itu. Tidur saja Kiara sangat cantik dan mencuri perhatiannya.


Beberapa kali Kevin memebelai rambut Kiara dan bahkan menyelipkan rambut Kiara ke belakang daun telinganya. Kevin sangat menyesali apa yang di lakukannya.


Menghindari Kiara adalah hal yang paling bodoh yang pernah di lakukannya. Dia telah menyakiti wanita yang menjadi cinta pertamanya itu. Karena jelas Haria bukanlah wanita yang pernah mencintainya.


Bahkan tindakannya juga sudah merusak pikiran Kiara. Sampai-sampai Kiara juga akhirnya drop dan bahkan masuk rumah sakit dan bisa menyebabkan kanker otak. Dan semua itu hanya karena keegoisannya yang tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya yang menggantungi anak orang.


Lama menatap Kiara yang ternyata membuat Kiara perlahan mengerjapkan matanya. Dia sangat mengantuk dan tidak ingin bangun. Karena mimpinya sangat indah.


Matanya terbuka sambil menguap. Tetapi Kiara langsung menutup mulutnya saat melihat wajah Kevin yang dengan jarak dekat berada di depannya.


Wajah polos yang cantik itu berubah menjadi panik dan malu dengan kelakuannya sendiri. Tetapi Kevin justru tersenyum menikmati keaslian Kiara yang semakin lama semakin terlihat.


" Kamu kok ada di sini. Bukannya bergerak," ucap Kiara merasa malu.


" Memang kenapa jika aku ada di sini?" tanya Kevin dengan tersenyum miring.


" Ishhhh, sudahlah," sahut Kiara yang langsung ingin bangkit. Tetapi Kevin menarik tangannya dan membuat Kiara jatuh di atas tubuh Kevin.


Membuat mata Kiara melotot dan menelan salavinanya saat wajah mereka yang sangat dekat dan bahkan hidung mereka sudah bersentuhan. Kevin mengusap lembut pipi Kiara dengan menatapnya begitu dalam. Debaran jantung Kiara pasti bisa di rasakan Kevin.


" Dia mau apa," batin Kiara yang kegugupan dengan kondisi yang seperti itu.


" Apa aku tidak boleh menatapmu lama-lama?" tanya Kevin dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


" Tapi ini sudah pagi. Aku harus bangun. Aku juga harus pulang dan kamu bukannya juga harus kekantor," ucap Kiara dengan terbata-bata. Dia benar-benar menunjukkan kegugupannya.


" Tapi aku tidak ingin bekerja. Aku ingin di sini bersamamu. Menghabiskan waktu lebih lama lagi. Aku masih merindukanmu," ucap Kevin dengan lembut.


" Tapi Kevin, nanti papamu akan curiga. Yang ada dia akan tau. Jika kita punya hubungan. Bukannya itu akan menjadi masalah besar," sahut Kiara yang tiba-tiba khawatir. Kevin menanggapi rasa khawatir kekasihnya itu dengan senyuman.


" Kamu benar. Papa akan tau," sahut Kevin yang sekarang tidak bisa menganggap remeh papanya.


" Ya sudah lepaskan tanganku. Agar aku bangkit," ucap Kiara dengan pelan. Kevin mengangguk dan melepaskan tangan Kiara. Kiara merasa lega. Akhirnya bisa bebas dari Kevin. Dan sekarang dia sudah duduk di samping Kevin. Kevin juga akhirnya ikut duduk.


" Apa luka kamu masih sakit?" tanya Kiara yang harus mengetahui kondisi luka Kevin. Karena dia juga tau luka itu sangat parah.


" Sudah tidak?" jawab Kevin bohong. Padahal jelas sakit. Tetapi dia tidak ingin Kiara mencemaskannya.


" Benar?" tanya Kiara tidak percaya.


" Iya," jawab Kevin.


" Iya. Aku tidak akan melakukannya. Maafkan aku sudah membuatmu khawatir," ucap Kevin. Kiara hanya mengangguk saja.


" Ya sudah kalau begitu. Aku sebaiknya pulang dulu. Soalnya kemarin aku mengatakan menginap di rumah teman dan aku takut kak Rangga mencari tau keberadaanku dan mengetahui. Jika aku berbohong," ucap Kiara.


" Aku akan mengantarmu," sahut Kevin.


" Jangan!" tolak Kiara dengan cepat


" Kenapa?" tanya Raihan bingung.


" Papamu bisa tau. Kalau kamu mengantarku," jawab Kiara. Raihan mengubah posisi duduknya menghadap Nayra. Bersilah kaki di depan Kiara. Memegang ke-2 tangan Kiara.


" Aku tau kamu khawatir. Tetapi kamu tidak perlu berlebihan. Serahkan semuanya kepadaku. Hanya mengantar saja. Tidak akan membuat papa ku mengetahuinya. Lagian aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian," ucap Kevin.

__ADS_1


" Tapi Kevin," sahut Kiara yang malah khawatir.


" Kiara sudah ya. Jangan membantah. Kita akan pulang bersama. Sebelum kita pulang kita sarapan dulu. Setelah itu baru kita pulang," ucap Kevin memutuskan.


" Kamu yakin?" tanya Kiara yang tampak ragu. Kevin mengangguk dengan penuh keyakinan.


" Ya sudah kalau begitu, aku bersih-bersih sebentar," sahut Kiara yang akhirnya mengalah.


" Iya," jawab Kevin dengan lembut. Kiara pun akhirnya bangkit dari atas ranjang.


*********


Di sisi lain Mobil Haria berhenti di depan rumah Kevin. Dia tidak tau di mana Kevin berada. Karena sudah menghubungi Kevin berkali-kali. Tetapi sama sekali tidak di respon oleh Kevin. Dan akhirnya Haria memutuskan untuk kembali pulang untuk memastikan Kevin sudah pulang atau tidak.


" Mobilnya tidak ada. Apa dia masih mencari wanita itu," gumam Haria yang masih berada di dalam mobil. Dia semakin gelisah. Karena tidak melihat mobil Kevin terparkir.


" Apa istimewanya wanita itu sampai Kevin harus mengejarnya dan sekarang sama sekali tidak kembali," oceh Haria yang semakin kesal dengan tindakan Kevin. Mengoceh terus tidak ada gunanya dan akhirnya Haria memilih ke luar dari mobil.


Dia juga harus beristirahat mengingat dia semalaman tidak tidur dan bahkan 2 hari tidak berada di rumah itu. Haria menarik napasnya panjang dan langsung memasuki rumah Mewah tersebut.


Baru saja ingin membuka pintu. Pintu sudah terbuka yang ternyata Mitra Winata yang membukanya yang membuat Haria kaget.


" Om," sapa Haria langsung menundukkan kepalanya.


" Om ingin berangkat kerja?" tanya Haria dengan gugup. Tetapi Mitra Winata diam tanpa menjawab pertanyaan Haria.


" Kenapa Om Winata diam saja dan malah menatapku," batin Haria yang malah panik.


" Ya sudah Om. Haria masuk dulu. Haria mau istirahat," ucap Haria yang lebih baik memilih pergi dari pada lama-lama di depan Winata. Haria menundukkan kepalanya dan melewati Winata yang tampak mengacuhkannya.


" Jika tinggal di rumah ini. Seharusnya mengikuti aturan rumah ini," ucap Mitra Winata membuat langkah Haria langsung terhenti. Dan debaran jantungnya mulai tidak beraturan. Saat mendengar suara yang dingin itu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2