
Kiara pun akhirnya pergi dari dapur. Kiara menoleh kebelakang dan melihat sang kakak yang masih mengekorinya. Sehingga membuat langkahnya terhenti.
" Kaka, ngapain lagi sih," geram Kiara dengan menghentakkan kakinya.
" Apaan," sahut Rachel.
" Ya kakak ngapain masih ikut-ikut," ucap Kiara kesal.
" Eh, nggak usah kepedean. Aku juga mau keluar. Yeeeee," sahut Rachel dengan menjulurkan lidahnya.
" Sudah sana duluan," ucap Kiara yang benar-benar tampak kesal.
" Ihhhh, mentang-mentang punya pacar, jadi sekarang tambah galak," ejek Rachel. Dan langsung berlari. Membuat Kiara merapatkan giginya.
" Ishhhhh, apa-apaan sih. Kenapa kak Rachel bisa bicara seperti itu. Masa iya dia tau. Tapi kayaknya dia memang tau deh," batin Kiara yang malah mencemaskan situasi yang di hadapinya.
" Issshhh, masa bodoh deh," ucapnya yang langsung melanjutkan langkah nya keluar dari rumahnya.
Sampai di depan gerbang terlihat Rachel yang masih ada di sana yang membuka gerbang.
" Bantuin. Nggak usah diam-diam aja," sahut Rachel.
" Iya," ucap Kiara yang langsung menghampiri Raquel. Kiara tidak bicara apa-apa lagi. Nanti Rachel akan menggodanya lagi tentang pacar-pacaran. Jadi dia lebih memilih untuk diam dan mendorong gerbang rumah secara bersamaan.
Sangat kebetulan. Gerbang rumah itu terbuka dan ternyata menampilkan Haria dan Saras yang juga keluar dari rumah. Dan ada supir yang memasukkan koper kedalam bagasi.
Kiara dan Haria saling melihat. Dan pasti Haria sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Melihat Kiara yang keluar dari rumah tepat di depan rumah Kevin.
" Wanita ini. Jangan bilang dia tinggal di sana," batin Haria yang mulai menebak-nebak.
Saras melihat ke arah Haria yang tampak sangat terkejut dan juga melihat ke arah Kiara yang tampak biasa. Karena memang Kiara sudah tau. Jika Haria memang tinggal di rumah itu.
" Siapa wanita itu kenapa Kiara dan wanita itu saling melihat seperti itu," batin Rachel penasaran. Dia memang tidak pernah melihat Haria. Dia hanya tau namanya dari media. Untuk wajah Haria sendiri tidak pernah di tampilkan. Jadi wajar saja dia bertanya-tanya.
" Kiara," tegur Saras.
" Dokter Saras," sahut Kiara menyapa dengan tersenyum. Haria langsung melihat ke arah Saras yang seperti sangat akrab dengan Kiara.
" Saras mengenalnya. Apa jangan-jangan Saras juga sudah tau hubungan Kiara dan Kevin makanya dia sangat terlihat jelas mendukung Kevin. Clarissa juga tau. Apa sebenarnya. Semua orang juga tau hubungan mereka dan mereka sengaja diam dan membiarkan saja," batin Haria yang merasa resah.
" Kamu mau kemana?" tanya Saras.
" Mau ke kantor kak Rangga," jawab Saras.
__ADS_1
" Begitu rupanya," jawab Saras.
" Kiara memang sangat terlihat akrab sama Dokter Saras. Apa karena Kiara adalah pasiennya atau memang ada hal lain," batin Rachel yang melihat kedekatan adiknya dengan Dokter yang tak lain adalah kakak ipar dari Kevin.
" Nyonya, silahkan," ucap supir membukakan pintu mobil.
" Oh iya," jawab Saras.
" Ya sudah kakak duluan ya," ucap Saras pamit. Kiara mengangguk senyum.
" Ayo Haria!" ajak Saras. Haria yang masih bengong dengan banyak pertanyaan melangkah saja.
" Jadi yang bernama Haria," batin Rachel yang akhirnya bisa tau Haria itu siapa.
" Astaga. Aku kelupaan dengan ponselku," ucap Saras tiba-tiba menepuk keningnya yang teringat ponselnya.
" Aku ambil terlebih dahulu," ucap Saras langsung memasuki rumah.
" Kiara! ayo bantu dorong," ucap Rachel. Kiara berbalik badan dan langsung membantu.
" Jadi dia benar-benar tinggal di rumah ini. Pantas saja. Kevin sangat dekat dengannya," batin Haria yang benar-benar kesal dengan hal itu.
Tiba-tiba Haria tersenyum dan seperti memliki rencana. Haria mengambil ponselnya dan meletakkan di telinganya.
" Aku langsung ke apartemennya. Karena dia sudah mengirim alamatnya. Kemungkinan setelah bertemu Kevin. Aku baru akan menemuimu," lanjut Haria lagi.
Mendengar nama Kevin membuat Kiara terkejut dan pikirannya pasti sudah kemana-mana.
" Apa dia ingin menyusul Kevin," batin Kiara yang gelisah dengan hal itu.
" Iya tunggu saja. Aku akan lama di sana. Karena aku ingin menghabiskan waktu di sana," lanjut Haria lagi yang memang sangat jelas memanas-manasi Kiara.
Rachel yang mendengarnya. Langsung melihat kearah Kiara. Wajah Kiara yang seketika menjadi sendu dengan kata-kata Haria. Rachel juga melihat ke arah wanita yang menelpon itu tampak tersenyum.
" Siapa wanita itu dan kenapa dia menyebut-nyebut nama Kevin. Apa urusannya dengan Kevin. Bukannya dia akan menjadi istri Alan. Lalu kenapa dia mengatakan Kevin. Dan juga Kiara terlihat sangat mengenalnya. Tetapi wanita itu seperti tampak tidak suka dengan Kiara dan sangat jelas terkesan dia sedang memanas-manasi. Dan jika Kiara tidak ada hubungan dengan Kevin. Tidak Kiara sampai berekspresi seperti itu," batin Rachel yang mengawasi ekspresi Kiara dan juga Haria.
" Apa dia akan ke Jerman untuk menemui Kevin. Tetapi kenapa Kevin tidak bicara apa-apa. Pasti Kevin tidak tau jika Haria pergi menemuinya," batin Kiara yang tampak gelisah ketika mendengar Haria yang menyusul kekasihnya ke Jerman.
" Kiara, ayo," tegur Rachel. Kiara tersentak kaget dan langsung mengangguk.
" Iya kak," jawab Kiara.
Rachel dan Kiara pun akhirnya pergi meninggalkan Haria yang sibuk dengan aktingnya. Setelah kepergian Kiara Haria tersenyum penuh kemenangan dan langsung menurunkan ponselnya.
__ADS_1
" Kau akan siapa aku. Karena aku tidak akan membiarkan milikku di ambil. Kau baru bertemu dengannya. Tapi aku sudah lama dengannya. Dan orang baru. Harus terhempas," batin Rachel dengan senyum kemenangan.
Dia memang berhasil membuat Kiara kepikiran. Dengan sandiwaranya yang berpura-pura menelpon dan mengatakan segala hal tentang Kevin yang juga Inging ke Jerman menyusul Kevin.
Saras memang akan pergi ke Jerman. Tetapi sepertinya rencana akan gagal karena Saras memang akan memastikan Haria ke Surabaya. Sampai Haria tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.
*********
Rangga dan Kiara duduk di salah satu bangku di taman hotel. Meja yang menjadi pembatas mereka penuh dengan lembaran kertas dan juga makanan yang tadi di belikan Kiara.
Rangga tampak menyusun lembaran kertas itu. Sementara Kiara duduk melamun dengan ke-2 tangan yang menopang pipinya. Pada lagi jika dia tidak memikirkan kata-kata Haria yang sepertinya takut.
Jika memang benar Haria akan menyusul Kevin. Di tengah pekerjaannya Rangga melihat adiknya. Wajah adiknya tampak lesu. Seperti banyak pikiran.
" Kamu kenapa Kiara?" tanya Rangga.
" Nggak apa-apa," jawab Kiara yang tampak lesu.
" Tidak apa-apa. Tetapi wajahnya seperti itu," ucap Rangga.
" Kiara hanya pusing sedikit saja," ucap Kiara dengan kebohongannya.
" Begitu rupanya," sahut Rangga kembali menyusun-nyusun lembaran kertas itu.
" Akhirnya selesai juga. Jadi besok tinggal berangkat ke Jerman," ucap Rangga yang merasa lega. Kiara yang mendengar kata Jerman langsung melihat ke arah kakaknya.
" Kakak mau ke Jerman?" tanya Kiara dengan wajahnya yang serius dan melihat ke arah sang kakak.
" Hmmmm, ada beberapa pekerjaan yang harus membuat kakak kesana?" jawab Rangga.
" Kiara boleh ikut," ucap Kiara yang langsung main ikut saja.
" Kamu mau ikut?" tanya Rangga heran. Kiara mengangguk dengan cepat.
" Kiara kakak itu ke Jerman mau kerja. Bukan liburan. Jadi ngapain kamu pakai ikut segala," ucap Rangga.
" Iya Kiara tau. Tetapi Kiara mau ikut saja. Kiara janji tidak akan nyusahin kakak. Kiara hanya menemani kakak saja," ucap Kiara yang sepertinya memang nekat ke Jerman. Pasti karena berhubungan dengan Kevin dan juga Haria.
" Boleh ya kak," ucap Kiara yang sekarang sudah menyatukan ke-2 tangannya memohon kepada kakaknya.
" Ayolah kak Rangga. Plisss aku boleh ikut," batin Kiara yang terus berdoa agar Rangga memberinya izin untuk ke Jerman.
" Anak ini aneh-aneh saja mau ikut segala ke Jerman," batin Rangga yang heran melihat sang adik. Tida biasanya Kiara yang ingin ikut bersamanya.
__ADS_1
Bersambung.....