
Hanya tinggal Kevin dan Haria yang berada di ruang tamu itu. Kevin pun berdiri dan ingin pergi dari ruang tamu.
" Kevin!" panggil Haria ikut berdiri, " aku ingin bicara denganmu," ucap Haria. Kevin melihat kearah wanita yang di depannya.
" Benar kau akan menikah dengan Kak Alan?" tanya Kevin memastikan. Sebelum Haria berbicara apa-apa dengannya.
" Aku ingin bicara denganmu bukan membicarakan hal itu. Kita sudah lama tidak bertemu dan bukankah seharunya kita saling bicara. Membicarakan tentang kita. Bukan yang lain," ucap Haria.
" Jawab saja pertanyaanku," sahut Kevin dengan suara dingin.
" Iya. Tapi.."
" Kau tau dia sudah memiliki istri," sahut Kevin memotong pembicaraan Haria.
" Kevin aku..."
" Aku tidak percaya kau kembali tiba-tiba dengan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain," ucap Kevin langsung pergi.
" Kevin dengarkan aku dulu," panggil Haria yang tidak di pedulikan Kevin. Kevin lebih memilih meninggalkan wanita yang akan menjadi kakak iparnya.
Haria duduk di kursi, dengan menyapu rambutnya kebelakang dengan tangannya.
" Kamu salah paham Kevin," ucapnya dengan wajah memerah nya. Dia sangat kecewa dengan Kevin yang tidak memberinya kesempatan untuk bicara.
********
Kevin menaiki anak tangga menuju kamarnya. Saat melewati kamar kakanya langkah Kevin harus berhenti karena mendengar suara kakak iparnya yang menangis.
" Kenapa mas, kenapa aku harus menderita? Kenapa mas? kenapa?" tanya Saras yang merasa sesak di dadanya. Saat melihat wanita yang akan menjadi istri ke-2 suaminya.
" Saras, kamu tau aku tidak akan melakukan itu," ucap Alan yang berlutut di depan Saras. Sementara Saras yang duduk di pinggir ranjang.
" Kamu memang tidak melakukannya, tapi papa. Apa yang harus aku lakukan. Apa aku benar-benar akan melihat kamu menikah dengannya," ucap Saras yang sudah tidak bisa berkata apa-apa.
" Saras!
" Ini semua salahku. Aku terlalu berani mencintai Pria dari keluarga winata. Aku tidak menyangka jika luka itu akan aku dapatkan," ucap Saras yang benar-benar kehilangan kendali.
" Saras, ini belum tentu terjadi," ucap Alan masih berharap banyak.
" Tidak akan terjadi jika aku akan hamil," sahut Saras dengan luka yang di hatinya.
Kevin memilih pergi. Tidak ingin menjadi penguping di dalam pertengkaran kakak dan kakak iparnya. Kevin memasuki kamarnya dan langsung berbaring dengan menatap langit kamarnya.
Kevin kembali membuang napasnya kedepan. Tidak tau apa yang di pikirkannya. Yang jelas pikirannya masih terfokus pada Kiara. Dan tidak tau kenapa Kevin seakan menakutkan sesuatu.
" Apa semuanya bisa berjalan dengan baik," gumam Kevin.
*******
__ADS_1
Kiara memasuki kamarnya dengan langkah pelan karena kondisinya yang memang belum fit. Untungnya Kiara tadi tidak bertemu siapa-siapa. Jika tidak dia akan di beri beribu pertanyaan.
" Aku lupa mengembalikan jasnya," ucap Kiara saat melepas jas Kevin dengan senyum indah di wajahnya.
" Yang kemarin aku juga lupa mengembalikannya," Kiara tiba-tiba mendengus.
" Apa tadi dia mengkhawatirkanku?" tanyanya dengan wajahnya yang penuh kecerian, " masa iya dia mengkhawatirkanku. Salahku juga kenapa sangat suka jajan sembarang bisa-bisanya aku keracunan," Kiara menyadari kesalahannya.
" Tetapi memang iya. Dia sempat mengatakan Khawatir. Sudah lah! yang penting aku baik-baik saja," ucapnya sedikit lega.
************
Besok adalah hari keberangkatan Kiara Ke Paris. Dia benar-benar menjaga kondisinya agar fit dan tidak terjadi masalah lagi. Apa lagi dengan kejadian 2 hari lalu membuat pelajaran besar dalam hidupnya.
Makanya selama 2 hari ini. Kiara berada di dalam rumah terus menerus. Dia lebih memilih istirahat. Kiara sekarang sedang menyusun pakaiannya kedalam koper. Membawa apa-apa yang di perlukannya.
Sebelumnya Tari Sekretaris Kevin juga sudah memberi beberapa dokumen yang perlu di bawa Kiara untuk ke Paris.
" Akhirnya selesai, jadi besok tinggal berangkat saja," ucapnya melihat paspor dan tiketnya yang berada di atas meja.
Setelah Meres kopernya Kiara menggeser di dekat pintu.
Matanya menoleh ke arah meja belajarnya. Terdapat paper bag. Berwarna pink dengan motif bunga-bunga. Wajahnya kembali tersenyum.
Lalu melangkahkan kaki mendekati meja belajarnya. Kiara mengeluarkan isinya. 1 botol farfum aroma favoritnya. Kiara mengambil kartu ucapan di dalamnya.
" Hadiah karena kau lulus ujian, kau memintanya sebelumnya. Jaga kesehatanmu," tulisan tangan itu terlihat manis untuknya.
Kiara sangat kaget jika ternyata paket paper bag mini itu untuknya dan yang lebih mengagetkan. Dia menerima hadiah dari Kevin. Hal yang membuat Kiara lebih kaget Kevin tau parfum yang biasa di pakainya.
" Aneh kenapa dia sangat tau," batin Kiara tersenyum memengang botol farfum itu. Kiara mengambil kartu ucapan dan meletakkan di dalam buku yang selalu di bawanya sebagai catatan.
Kiara memasukkan parfum itu kedalam tas sandang kecilnya yang akan di pakainya untuk terbang ke Paris. Padahal parfum Kiara masih banyak. Tetapi dia ingin saja memakai parfum pemberian dari Kevin.
Belakangan ini harinya memang sangat bahagia. Selain mendapat hadiah dari Kevin. Dia juga akan terbang ke Paris yang akan menjadi syarat terakhirnya.
Setelah itu dia akan benar-benar mendaftar kuliah dan bisa memulai kuliah lagi. Walau Kiara sangat berharap Kevin akan menemaninya ke Paris.
Tetapi Kiara hanya banyak berkhayal. Memang Paris seperti pergi ke perpustakaan apa yang sering di kunjunginya.
Kiara akhirnya keluar dari kamarnya setelah persiapannya untuk besok sudah selesai. Dengan raut wajah penuh kebahagiaan Kiara menuruni anak tangga menuju dapur.
" Ma," sapa Kiara yang menghampiri mamanya sibuk di dapur.
" Kiara. Bagaiman sudah selesai packing? tanya sang mama sembari membuka kukusan yang ternyata sang mama sedang memasak kue.
Kiara mengangguk dan melihat apa yang di lakukan mamanya. Uapnya membuatnya selera untuk segera memakannya.
" Kamu mau?" tanya Sahila.
__ADS_1
" Memang sudah masak?" tanya Kiara.
" Sudah," jawab Sahila.
" Boleh, deh pasti enak," ucap Kiara.
Sahila tersenyum dan mengambil piring kecil. Memberi kue lapis buatan dari tangan mamanya.
Kiara meraih dari tangan sang mama dan duduk di meja makan. Kiara mengingat Kevin jika melihat kue lapis.
" Ma, yang ada di Coffee shop mama yang buat," tanya Kiara sambil meniup-niup kue tersebut.
" Iya," jawab Sahila melihat sebentar ke arah Kiara.
" Mama bisa masak segalanya?" tanya Kiara tiba-tiba.
" Kamu menguji keahlian mama," sahut Sahila nada bercanda. Kiara menggeleng.
" Memang kamu pengen di masakin apa. Bukannya kamu akan berangkat Ke Paris, kamu juga kemarin lulus ujian. Mama belum sempat memberikan hadiah untuk kamu. Apa lagi memasak yang enak," ucap Sahila menghampiri Kiara.
" Kamu mau dimasakin yang special?" tanya Sahila menawarkan dengan suka rela.
" Memang boleh?" tanya Kiara. Sahila langsung mencubit hidung Kiara.
" Memangnya mama bukan mama kamu, harus bertanya segala," sahut Sahila gemes.
" Bukan itu maksud Kiara. Kiara hanya takut merepotkan mama," ucap Sahila.
" Ya sudah katakan mau di masakin apa?" tanya Sahila.
" Nasi kuning," jawab Kiara cepat.
Nasi kuning terlintas di pikirannya ketika mengingat Kevin. Kevin yang pernah mengatakan menyukai makanan itu dan semenjak mamanya meninggal tidak pernah memakannya.
" Nasi kuning," sahut Sahila mengkerutkan dahinya.
" Susah ya," sahut Kiara lesu yang memang sudah tau itu sukit. Tetapi Sahila menggeleng dengan cepat.
" Tapi mama harus di bantuin," sahut Sahila.
" Iya Kiara akan bantu mama," sahut Kiara dengan semangat.
" Ya sudah makan dulu kuenya, setelah itu kita akan memasaknya," ucap Sahila. Kiara mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya.
Bersambung
Hay para leader pertama ingin mengucapkan terima kasih yang sudah mampir dan sering suport novel-novel aku yang lain.
Ini novel terbaru aku. Aku hanya banyak belajar. Dan membuat novel semenarik mungkin dengan alur cerita yang berbeda-beda. Semoga di sukai dan masuk selera masing-masing.
__ADS_1
Jangan lupa terus kasih suport, Vote. like koment dan jadiin favorite kalian. Terima kasih untuk semuanya aku tunggu koment dan sarannya ya
Terima kasih...