
Raja sudah dua hari ini tak pulang kerumah orang tuanya, pikirannya benar-benar sedang kalut, pernikahan Queenza dan kejadian diapartemennya membuatnya benar-bebar pusing.
Ya. Raja sudah mengetahui dan mengingat apa yang terjadi padanya malam itu, rekaman cctv apartemen serta kelebatan bayangan yang sering muncul di kepalanya membuat semuanya jadi terang benderang.
Apalagi kedatangan Raisa kemarin untuk berpamitan sekaligus meminta maaf karena dengan sengaja bermaksud menjebaknya dengan memberikan obat perangsang dalam minumannya.
Shit! Ia mengumpat kesal, bagaimana bisa ia terjebak seperti ini, dan kalau saja tak ada Reihan dan juga lelaki yang mengantar Raisa saat itu dia pasti sudah melenyapkan gadis itu dengan tangannya.
Dan ia sudah bersumpah tak akan memaafkan Raisa seumur hidupnya l yang sudah menghancurkan kehidupannya, karena sudah membuatnya melakukan hal bejat pada gadis tak bersalah.
Ia sudah menodai seorang gadis! Seorang perawan! Ahhhhh otaknya bahkan masih menyimpan memori malam itu dengan sangat baik, teriakan-teriakan histeris gadis itu, tangisan pilunya terus terngiang di telinga Raja, membuatnya didera rasa bersalah yang teramat hebat hingga ia tak pernah bisa tidur tenang karena bayangan malam itu terus menghantuinya, dan itu membuatnya makin frustasi, hingga ia harus mabuk hanya agar bisa tertidur.
Ia juga tak bisa pokus dalam mengerjakan apapun, terlebih setelah tau gadis itu menghilang bagai ditelan bumi, ia sudah menggerakkan semua anak buahnya, bahkan mendatangi club itu namun nihil tak ada jejak gadis itu.
Seolah gadis itu tak bisa ia temukan, atau tak ingin ditemukan?
๐บ๐บ๐บ๐บ
Sementara di kantor keluarga Pramudza Reihan menghela nafasnya, dua hari ini ia menjadi orang yang super sibuk hingga tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Kejadian yang menimpa Raja dua hari yang lalu membuat tuannya itu sangat frustasi, dan diantara semua orang tentu dialah yang paling direpotkan.
Bolak-balik kantor dan apartemen Raja juga mencari berbagai alasan saat Rendy, sang tuan besarnya menanyakan keberadaan anaknya.
Belum lagi dia harus mencari keberadaan gadis yang sudah ditiduri tuan mudanya itu, karena pihak club mengaku tak mengenal gadis yang dimaksud, dan tak ada pelayan club yang mempunyai ciri-ciri seperti yang nampak di cctv apartemen Raja, benar-benar memusingkan!
Belum lagi dengan kabar gadis yang disukainya kini bekerja di perusahaan saingannya sendiri, lengkap sudah deritanya!
Ketukan pintu ruangannya membuyarkan semua lamunannya. "Maaf, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan anda." Ucap sekertarisnya.
Alisnya mengerut, sepertinya dia tak punya janji dengan siapapun hari ini," Siapa?" Tanyanya.
"Saya!" Ucap seseorang yang muncul di belakang sekertarisnya. Membuatnya cukup terkejut melihat adik sekaligus gadis yang dicintai tuannya yang datang.
"Nona!" Ucapnya seraya menunduk hormat. "Kau bisa kembali bekerja!" Titah Reihan pada sekertarisnya.
"Mari silahkan duduk, Nona!" Ucapnya sopan, setelah sekertarisnya pergi."Ada yang bisa saya bantu?" sambungnya.
"Aku ingin bertemu dengan kakak!" Ujar gadis itu membuatnya kembali menghela nafas.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Queenza terus merasa gelisah, dua hari kakaknya tak pulang, terlebih Papinya bilang Raja juga tak datang kekantor membuat kekhawatiran dihatinya makin besar.
Pertengkaran yang terjadi dikali terakhir pertemuannya dengan sang kakak membuatnya merasa harus meluruskan permasalahan ini!
Ia harus bicara dengan kakaknya! Ya. Ia sangat yakin kakaknya hanya sedang bingung dengan perasaannya dan jika ia bisa meyakinkan kakaknya bahwa tak akan ada yang berubah setelah pernikahannya dengan Inder, kakaknya pasti akan mengerti dan memberi restu. Dan semoga hubungan mereka bisa kembali seperti dulu, layaknya kakak adik.
Dengan semangat ia menuju kantor Papinya, berniat menemui asisten pribadi kakaknya, untuk mengetahui keberadaan kakaknya saat ini.
Za naik taksi menuju kantor Pramudza group, lalu dengan menggunakan lift ia naik kelantai teratas gedung ini dimana tempat ruangan kakaknya berada, Reihan pasti sedang ada disana menggantikan kakaknya seperti yang dikatakan Papinya, ia abaikan semua tatapan penuh rasa ingin tau dari orang-orang disekitarnya, terus melangkah menuju sebuah ruangan bertuliskan Presiden direktur.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan pak Reihan!" Ucapnya sopan pada sekertaris yang berada di depan ruangan itu.
"Sudah ada janji?" Tanya Sekertaris itu, memandanginya dari atas sampai bawah, merasa tak asing dengan wajahnya.
Ia menggeleng, "Tapi saya harus bertemu dengan pak Reihan sekarang!" Ujarnya sedikit menekan kata-katanya.
"Baiklah biar saya tanya dulu." Ujar sekertaris itu, berdiri dan berjalan menuju ruangan presdir.
__ADS_1
Ia mengekor dibelakang, berdiri dengan gugup didepan pintu, kemudian memutuskan ikut masuk saat Reihan bertanya pada sekertarisnya.
"Siapa?" Ucap Reihan yang terdengar jelas ditelinganya.
"Saya!" Ucapnya seraya menyembulkan kepala dari balik punggung sekertaris itu.
Ia bisa menangkap keterkejutan di wajah asisten Kakaknya itu.
"Nona!" Ucap pria itu, sembari menunduk hormat padanya. "Kau bisa kembali bekerja!" Titah pria itu pada sekertaris yang masih berdiri didepannya.
"Mari ,Nona. Silahkan duduk!" Ucap Reihan setelah kepergian sekertarisnya.
Ia mendudukkan diri di kursi tepat didepan pria itu, wajahnya menunduk tangannya saling bertautan karena gugup, ia memang selalu merasa tak nyaman berdekatan dengan irang asing."Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap pria itu lagi, membuatnya mendongak menatap asisten kakaknya itu.
"Aku ingin bertemu dengan kakak!" Ucapnya tanpa basa-basi.
"Saya tidak tahu dimana keberadaan tuan muda!" Ucap pria itu. Namun, ia tak percaya begitu saja. "Jangan berbohong! Kumohon, bantu aku bertemu dengan kakak! Biarkan aku bicara padanya." Mohonnya sekali lagi.
"Membiarkan Anda bicara dengan Tuan muda, bukan ide yang bagus untuk saat ini, Nona!" Ujar Reihan, membuatnya semakin khawatir. "Pulanglah!" Ujar lelaki itu dingin.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan kakak?" Tanyanya penasaran. "Dia baik-baik saja kan?" Ujarnya memastikan.
Reihan menggeleng, "Tuan tidak baik-baik saja, Nona!" Ucap pria itu. "Tuann..."
"Bawa aku padanya sekarang!" Titahnya memotong perkataan Reihan.
"Tapi, Nona!"
"Bawa aku, atau aku cari kakakku sendiri!" Ancamnya keras kepala.
Didalam hatinya ada ketakutan yang sangat besar Namun, segera ditepis dengan berpikir fositif, ia harus bertemu kakaknya, dan memastikan kakaknya baik-baik saja.
Reihan membawanya kesebuah apartemen mewah, ini apartemen kakaknya ia pernah beberapa kali diajak kesini. Kelegaan nampak jelas diwajahnya setidaknya Reihan tidak membawanya kerumah sakit, dan itu berarti kakaknya memang baik-baik saja, kan?
Reihan membuka pintu apartemen itu, yang membuatnya segera menghambur masuk.
Namun, alangkah terkejutnya saat ia melihat betapa kacaunya apartemen itu! Bau alkohol sangat menyengat, semua barang berantakan membuatnya melirik Reihan berusaha mendapat jawaban dari pertanyaan yang bahkan tak ia ucapkan.
"Ada apa ini?" Seperti itu makna sorot matanya pada Reihan.
"Anda bisa masuk dan melihat keadaan Tuan muda, dengan mata anda sendiri!" Ucap Reihan seolah mengerti maksud tatapannya.
Dengan langkah gemetar ia masuk pada ruangan berantakan itu, mengedarkan pandangannya keseluruh arah mencari sosok yang ia cari, dan netranya menangkap sosok sang kakak berada di mini bar yang ada di pojok apartemen kakaknya.
Matanya terbelalak melihat keadaan kakaknya yang berantakan dengan gelas minuman ditangannya, segera Za mempercepat langkah merebut gelas yang akan diminum kakaknya itu.
"Sudah cukup, Kak!" Bentaknya, seraya merebut gelas berisi minuman itu.
"Heiii Beraninya kau!" Hardik sang kakak membuatnya tersentak.
Mata merah sang kakak menatapnya marah, lalu sedetik kemudian meneduh begitu menyadari itu dirinya. "Queen, kau datang!" Ucap kakaknya parau,sembari tersenyum
"Akhirnya kau memilihku..." Ucap Raja lagi, seraya berusaha memeluknya, tapi ia menghindar membuat pria itu menatapnya.
"Kau, tak mau kupeluk?" Ucap Raja kemudian terbatuk, membuatnya berinisiatif mengambil air putih dan meminumkannya.
"Kenapa kau menghacurkan hidupmu seperti ini, Kak? Mami pasti sedih jika tau kau seperti ini!" Ucapnya sedih.
__ADS_1
Raja menggeleng."Bukan aku yang menghancurkan diri, tapi takdir yang begitu kejam menghancurkan hidupku." Keluh Raja.
"Takdir susah mempermainkanku Queen, kenapa dia membuat rasaku padamu berubah cinta tapi dia tak mengubah perasaanmu juga? dan bahkan takdir membuatku menghancurkan hidup orang lain."
"Apa maksudmu, Kak?" Tanyanya tak mengerti.
"Aku sudah hancur! Aku hancur tanpamu. Kenapa takdir begitu kejam padaku, Queen?" Racau Raja membuatnya semakin merasa bersalah padanya, sekaligus bertanya-tanya.
"Kakak, kau pasti salah mengartikan perasaanmu padaku, kau hanya takut merasakan kembali kehilangan seperti saat kecil dulu." Ucapnya dengan berderai airmata.
"Kakak aku berjanji, tak akan ada yang berubah setelah pernikahanku, aku akan sering mengunjungimu, juga Mami dan Papi, aku berjanji, kita akan tetap bertemu dan menghabiskan waktu bersama!" Sambungnya.
"Jadi kumohon hentikan semua ini, jangan mabuk lagi, ini tak baik untukmu." Ucapnya lagi, tapi Raja malah menatapnya tajam.
"Kau yang tidak mengerti, Queen!" Bentak Raja. Raja mencengkram tangannya erat membuatnya ketakutan. "Kakak!" Pekiknya.
"Aku menginginkanmu jadi milikku seutuhnya, aku menginginkanmu berada disisiku selamanya sebagai pendampingku, bukan sebagai adikku!" Ucapnya penuh penekanan.
Raja menarik tangannya, membawa tubuhnya dalam pelukan. "Tetaplah bersamaku, tinggalkan pria itu! Jangan pergi dariku."
"Kakak... le..lepaskan aku kak. kumohon!" Pekiknya mengiba.
"Tidak! Kali ini aku tidak akan melepaskanmu!" Ucap sang kakak mempererat pelukannya, "Kau harus jadi milikku, Queen!"
Ia terus meronta, tak pernah menyangka kakaknya akan bereaksi seperti ini, "Kakak lepaskan aku." Ucapnya lagi sambil terus meronta saat merasa kesulitan bernapas saking eratnya pelukan Raja.
"Aku mencintaimu, Queen. Tolong jangan tinggalkan aku!" Ucap Raja, sembari mengecup puncak kepalanya. "Aku memcintaimu!" Ulangnya lagi.
Queenza menggeleng, "Kau kakakku! Aku tak bisa mencintaimu! Perasaanmu padaku itu salah, Kak." Ucapnya membuat pria itu melepas pelukannya.
Raja menatapnya marah. "Apanya yang salah, kita tidak sedarah! Kenapa perasaanku padamu harus disalahkan?"
"Kakak, sadarlah kak. Aku adikmu!" Teriaknya.
"Baik jika kau merasa kalau aku salah mengartikan perasaanku bagaimana kalau kita membuktikannya?"
"Apa maksudmu?"
Dan Raja tanpa ia sadari Raja menarik kepalanya, mendekatkan wajah mereka memangkas jarak untuk menyatukan bibir mereka. Namun sebelum itu terjadi tubuh Raja ditarik kebelakang dan...
Bugh.
Seseorang memukul keras kakaknya hingga tersungkur jatuh, membuatnya menghela nafas lega sekaligus kaget dan langsung mendongak.
"Inder..."
Assalammualaikum, maaf baru bisa up, ya๐
Badan ngedrop nih, mau nulis kepala kleyengan jadi baru bisa selesaikan sekarang.
Tapi tenang kukasih bonus bab yang panjang ya, ini 1,5k kata.
Makasih buat yang masih setia sama Queenza, semoga selalu diberi kesehatan oleh allah S.W.T.
Happy reading and Lov U all๐๐
Jaga selalu kesehatan ya, sakit itu gak enak๐ข
__ADS_1