
Alika menghela nafasnya sebelum memasuki loby hotel tempatnya akan bekerja saat ini. Ini hari pertamanya menjadi bekerja di hotel mewah ini.
Ia melangkah masuk, menuju meja resepsionis untuk mencari informasi.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan pak Rega!" Ucapnya sambil tersenyum.
Alih-alih menjawab pertanyaan darinya, dua wanita berpakaian mini itu malah memincing dan memandangnya dari atas hingga bawah.
"Sepertinya bos kita sedang berbaik hati hingga merekrut office girl sendiri.".Ucap salah satu wanita itu meremehkannya.
"Kau benar, Bos kita benar-benar murah hati hingga mau repot-repot." Ucap satunya lagi, kemudian keduanya tertawa.
"Kau bisa langsung menuju ruang kepala ob, tak perlu menemui pak Rega!"Ucap wanita itu lagi.
Alika menghela nafas, ia berusaha menekan amarahnya mendengar celotehan dua wanita didepannya. Apa lelaki itu sengaja memaksanya bekerja hanya untuk mempermalukannya! Pikirnya.
"Baiklah bisa tunjukan dimana ruangannya." Ucapnya.
"Ikut denganku." Ucap salah satu dari mereka, lalu berjalan mendahuluinya dan ia mengekor di belakangnya.
Ia baru bejalan beberapa langkah ketika suara dari arah belakang memanggilnya.
"Alika"
Ia menoleh mendapati lelaki menyebalkan itu menghampirinya. "Pak." Ucap wanita berpakaian minum itu mengangguk sopan.
"Kau mau kemana?" Tanya lelaki itu.
"Saya akan mengantarnya keruangan kepala OB, Pak." Jawab wanita itu lagi tanpa diminta.
"Siapa bilang dia akan bekerja sebagai OB, disini? Lancang sekali kau!" Geram Rega membuat wanita itu menunduk.
"Maaf saya pikir..."
"Kau bisa kembali bekerja!" Ucap Rega, dan wanita itu menurutinya.
Alika yang sedari tadi hanya menyimak, merasa kaget saat lelaki itu menarik tangannya. "Ikut aku."
__ADS_1
Ia menurut saat pria itu membawanya masuk ke lift yang dikhususkan bagi Ceo.
Kemudian kembali membawanya menuju ruangan bertuliskan Direktur utama.
"Bukankah dia adalah manager artis? Lalu untuk apa dia membawaku keruangan Dirut hotel ini? Apa dia hendak menjualku pada Dirut hotel ini?!"
Alika melepas tangan Rega yang bertaut dijarinya, "Untuk apa kau membawaku kesini?" Tanyanya lantang.
"Menyuruhmu bekerja, apalagi?" Jawabnya santai.
"Bukankah kau ini managernya, Inder? Lalu kenapa aku bekerja disini? Bukankah harusnya aku membantumu untuk menyiapkan keperluan syuting Inder, tapi kenapa malah kesini? Kau tak berniat menjualku pada Dirut hotel ini, kan?" Cecarnya.
"hahhahaha." Rega tergelak. "Kau ini bicara apa?" Sambungnya.
"Aku Dirut hotel ini!" Ucapnya.
"Hah, maksudnya?"
"Hotel ini milik Inder, kau pikir Inder hanya seorang artis? Kau salah, Inder juga seorang pengusaha dia punya beberapa resto dan Hotel dan juga sebuah perusahaan yang bergerak dibidang otomotif! Dan aku yang mengelola semua usahanya." Jawabnya menjelaskan.
"Wawww ternyata Inder hebat juga, ya." Ucap Alika. "Lalu untuk apa dia jadi artis?"
"Pantas saja kariernya melesat pesat, semua karena dia melakukannya sepenuh hati."
"Ya seperti itulah."
Rega membuka pintu transparan itu. "Ayo masuk, ada banyak pekerjaan menunggumu!" Ucapnya.
Alika merasa ragu untuk masuk kedalam, ia menghela nafasnya meyakinkan diri kalau lelaki di depannya tak melakukan hal buruk padanya.
Ia mengedarkan pandangan keseluruh sudut ruangan itu, Rapi dan mewah adalah kesan pertama yang dilihatnya, didalam ruangan ini terdapat ruang kerja, sofa empuk dan juga mini bar, Keren tak pernah ia bayangkan akan bekerja ditempat semewah ini.
"Buatkan aku kopi!".Ucap Rega, setelah dia duduk dikursi kebesarannya.
"Apa?" Ucapnya sedikit tersentak.
"Buatkan aku kopi! Itu tugas pertama untukmu" Ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan turun ke pantry." Ucap Alika.
"Siapa yang menyuruhmu turun?"
"Tadi kau menyuruhku membuatkan kopi, itu berarti aku harus ke pantry, dan bukankah pantry ada dilantai bawah." Ucap Alika, tadi begitu keluar dari lift ia hanya melihat ada dua ruangan di lantai ini jadi sudaj bisa dipastikan ia harus turun naik untuk sekedar membuat kopi.
"Ada dapur dibelakang, kau bisa membuat kopi disana." Ucap Rega.
"Oh, baiklah."
Alika segera melangkah ke arah belakang ruangan ini dan benar saja ada sebuah dapur di belakang bar mini itu dan juga sebuah pintu yang mungkin saja kamar pribadi.
Ia begitu takjub melihat semua tertata begitu rapi, segera ia ambil toples bertuliskan coffee dan sugar lalu meraciknya, menjadikannya segelas kopi panas yang segera ia hidangkan untuk Rega.
"Hambar!" Ucap Rega mengomentari kopinya, " Bikin lagi yang benar." Sambungnya, membuat gadis itu menghela nafas lalu kembali menuju dapur.
"Kurang manis!" Komentar Rega pada kopi kedua yang ia buatkan.
"Aroma kopinya kurang kuat."
"Masih belum pas!"
"Terlalu manis, apa kau ingin membuatku diabetes!" sederet komentar lelaki itu pada kopi buatannya.
Huhhhhh ia menghembus nafas kesal, sudah lebih dari lima gelas kopi yang dihidangkan olehnya tapi masih belum bisa sesuai dengan keinginan lelaki itu.
Nampan berisi gelas-gelas kopi itu ia bawa kembali kedapur dan ia kembali diminta membuat kopi. "Memangnya kopi seperti apa yang diminum.orang kaya, mau minum kopi aja banyak banget syaratnya." Gerutunya. Sementara itu meja kerjanya.Rega terkikim geli melihat ekspresi wajah Alika..Entah kenapa terasa begitu menyenangkan baginya saat menggoda dan mengerjai gadis itu.
sementara itu penolakan demi penolakan kopi buatannya membuat Alika mulai tergugah untuk mencicipi satu persatu gelas kopi itu karena penasaran.
"Menurutku semua kopi ini enak, tapi kenapa masih belum pas menurutnya." Ucapnya mencicipi kopi yang ia buat satu persatu. "Atau apa dia sengaja ingin mengerjai aku?"
Kecurigaanya membuat ia menaruh kopi pertama yang dibuatnya kedalam gelas baru, lalu kemudian memberikan kopi itu pada Rega.
"Yang ini kuharap sesuai seleramu." Ucapnya tersenyum, sambil meletakkan gelas kopi itu di meja.
Rega mengambil kopi itu, "Ini baru, pas! Good job. Alika" Ucap Rega tersenyum manis.
__ADS_1
Alika memutar bola matanya. "Padahal itu adalah kopi yang pertama tadi, huhhh lelaki ini benar-benar sedang mengerjaiku!"