
Acara tahlil peringatan setahun kematian ayah Maya berjalan lancar, Raja juga ikut serta mendoakan almarhum ayah Maya.
Maya... ia tak lagi banyak bicara, wajahnya mendadak murung sepanjang acara, dan itu membuat Raja semakin merasa bersalah.
Satu persatu tamu mulai pamit pulang, kini hanya ada Ibu, Maya, Mita, dan dirinya dirumah itu.
"Nak Raja, Ibu tidak melihat temanmu yang kemarin menemanimu?" Tanya Ibu setelah suasana rumah sepi.
"Dia sudah pulang tadi pagi, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Ucap Raja.
"Jadi Kakak tinggal sendirian, dong?" Mita Adiknya Maya ikut menyahuti.
Raja mengangguk.
"Kenapa Kakak tidak tinggal disini saja?" Cetus Mita, yang langsung mendapat pelototan dari Maya.
"Kak Raja kan sedang sakit, Mbak! Gimana kalau ada apa-apa? Dia kan tinggal sendirian." Ujar Mita lagi.
"Mita benar, Nak Raja tinggal saja disini sampai lukamu benar-benar sembuh, takutnya ada apa-apa." Ucap Ibu.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini hanya luka kecil saja, lagipula mungkin besok saya harus pamit pulang." Ucap Raja.
"Kalau begitu, malam ini Nak Raja menginap disini saja!" Ujar Ibu. Raja menatap Maya yang sedari tadi hanya terdiam, dan sepertinya gadis itu tau maksudnya.
__ADS_1
"Iya menginaplah malam ini! Supaya besok aku bisa kembali memeriksa lukamu." Ucap Maya singkat, lalu beranjak membawa piring kotor kedapur untuk dicuci.
Malam sudah beranjak larut semua penghuni rumah itu sudah masuk dalam kamar masing-masing. Maya mengantarkan Raja kekamarnya.
Rumah ini hanya mempunyai tiga kamar, kamarnya, kamar adiknya dan kamar Ibunya. Biasanya jika ada saudara menginap, kamar adiknyalah yang akan di pakai oleh tamu, tapi kali ini Maya merelakan kamarnya untuk dipakai oleh Raja.
"Ini kamarku, kau bisa tidur disini. Maaf jika kau merasa tak nyaman, tapi hanya kamar ini yang paling besar." Ucapnya.
"Lalu kau? Kau akan tidur dimana?" Tanya Raja.
"Aku akan tidur bersama Mita." Jawab Maya. "Tidurlah, malam sudah larut." Ucap Maya seraya berbalik hendak pergi dari kamar itu, tapi tangan Raja menahannya.
"Besok aku harus pulang!" Ucapnya membuat gadis itu menoleh. "Ada banyak pekerjaan yang tak bisa diwakilkan oleh Reihan." Sambungnya. Ia menghela napasnya sebelum melanjutkan kata-katanya. "Aku tidak tau apa saja akibat yang harus kau tanggung karena kesalahan yang kuperbuat, tapi kuharap aku mendapat jawaban darimu besok! Apapun jawabanmu aku akan menerimanya, sekalipun itu adalah penolakan."
Maya menatap pria itu lekat, "Beri aku satu alasan kenapa kau ingin menikahiku! Kau tidak mencintaiku, apa yang terjadi diantara kita adalah sebuah kesalahan yang tidak kau Sengaja, dan aku sudah bilang kau tak perlu merasa bersalah atas kemalangan yang menimpaku." Ucap Maya.
"Kenapa kau minta maaf tentang tunanganku?" Tanya Maya dengan kening berkerut heran.
"Saat kau memberikan pakaian padaku kemarin, kau terlihat sangat sedih saat bicara tentang tunanganmu, apalagi setelah itu kau terlihat sangat murung, jadi..." Ucap Raja. "Apa kalian berpisah karena dia mengetahui tentang kejadian malam itu? Jika benar, aku sangat menyesalkan itu terjadi" Sambung Raja mengutarakan apa yang ada dipikirannya.
Maya terdiam, wajahnya kini berubah sendu. "Jangan berspekulasi apapun! Perpisahanku dengan tunanganku bukan karena itu, lagipula itu sudah cukup lama berlalu." Ucap Maya. "Tidurlah, aku juga sudah mengantuk." Sambungnya. sambilberlalu, melangkah pergi menuju kamar yang tak jauh dari kamar itu.
Kali ini Raja membiarkannya, melihat cara Maya bersikap bisa ia pastikan ada kepedihan tentang kisah mereka, tapi untuk bertanya lebih ia pun enggan.
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Raja menyapukan pandangan pada ruangan yang di dominasi warna peach itu, hanya ada dua perabotan didalam kamar itu, sebuah lemari kayu yang sudah nampak usang, dan sebuah meja belajar sederhana yang beralih pungsi menjadi meja rias.
Mata Raja kembali beredar, kini netranya tertuju pada sebuah foto yang dicetak sebesar poster dan dibingkai dengan pigura sederhana. Foto seorang pria yang tersenyum manis kearah kamera.
"Apa ini foto tunangannya Maya?" Gumamnya. Raja beralih pada beberapa foto Lainnya yang berada dimeja belajar.
Ada beberapa foto disana, Maya bersama teman-temannnya saat mengenakan baju putih-abu-abu, juga beberapa bersama keluarganya. Gadis itu tersenyum manis dengan lesung pipit yang menghiasi kedua pipinya.
"Hidupmu dulu pasti sangat menyenangkan!" Gumam Raja lagi. "Dan aku sudah menghancurkannya!" Sambungnya penuh sesal. Seandainya waktu bisa ia putar, ia tak akan pergi ke bar itu, agar tak perlu menjadi penyebab kehancuran hidup orang lain yang membuatnya menyesal seumur hidup.
Sebuah foto kembali mencuri perhatian Raja, foto Maya, kali ini digendong oleh seorang pria. siapapun bisa melihat kalau mereka adalah pasangan yang bahagia, keduanya tertawa lepas dengan tangan Maya merangkul keleher pria itu, wajah yang sama dengan foto besar yang ia lihat didinding tadi.
"Kau pasti sangat mencintainya!" Gumam Raja. Ia taruh kembali foto itu, kemudian merebahkan tubuhnya dikasur yang tak terlalu besar tapi sepertinya cukup nyaman, ia coba memejamkan matanya apapun jawaban Maya esok ia harus bisa menerimanya.
Assalammualaikum, All๐ gimana nih kabarnya? Semoga semua sehat selalu ya.
Makasih buat kalian semua yang selalu dukung aku sampai saat ini, serepot apapun aku didunyat, kusempetin untuk selalu nulis, tapi maaf bila mungkin belum bisa up rutin๐ karena kesehatan mertuaku juga belum pulih.
Semoga kalian semua selalu ada dalam lindungan Alloh S.w.T dan selalu diberi kesehatan๐
Happy reading ya, jangan lupa like dan komennya, tekan vav biar dapet notifikasinya.
__ADS_1
Jadi jawabannya Maya mau besok apa hari ini?
Love You All๐๐๐