Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Syndrome Couvade


__ADS_3

Hari sudah beranjak siang, tapi Raja masih belum beranjak dari tempat tidurnya membuat sang istri merasa cemas.


"Mas, ini sudah siang lho. Kamu gak ke kantor?" ucap Maya sembari menggoyangkan tubuh sang suami, membangunkannya.


"Emmmh...aku masih sangat mengantuk, sayang." Ucap Raja tanpa membuka matanya.


Kedua alis Maya bertaut, tak biasanya suaminya seperti ini. "Tapi semalam kamu bilang ada rapat pagi ini, sayang?" ucapnya lagi membuat lelaki itu memaksakan matanya yang terasa begitu lengket untuk terbuka.


"Iya, iya aku bangun." Ucap Raja sedikit kesal. Bukannya benar-benar terbangun pria itu malah duduk disisi ranjang dan menyandarkan kepalanya seraya kembali memejamkan matanya.


Maya menggeleng-gelengkan kepalanya, ada apa dengan suaminya beberapa hari belakangan ini? Kemarin pria itu bahkan memakan mie instan dengan lahapnya, dan muntah setelah memakan olahan seafood padahal selama ini seafood adalah makanan favoritnya.


"Kamu sakit?" tanyanya seraya menempalkan punggung tangannya di dahi sang suami. "Tapi, gak panas" ucapnya lagi.


"Entahlah, tapi tubuhku rasanya begitu lemas, dan juga tak nyaman. Rasanya sangat malas untuk sekedar bergerak saja." Keluh Raja, seraya menarik lembut tubuh istrinya. membuat wanita itu sedikit protes. "Mas!"


"Sebentar saja, sayang!" ucapnya, sembari merekatkan pelukannya. "Aku sangat merindukanmu." Aku nya.


Maya terkekeh. "Kita bahkan bertemu setiap hari sayang. Kenapa kau harus merindukanku?"


"Entah. Tapi rasanya aku merindukanmu setiap saat, rasanya aku ingin seperti ini saja memelukmu setiap detiknya." Ucap Raja.


Maya tersipu, "Tapi sekarang kau pergi bekerja, sayang. ponselmu tak berhenti berdering dari tadi, Reihan sudah menuju kemari untuk menjemputmu, jadi mandilah agar kau merasa lebih segar." Ucap Maya, sembari menarik tangan suaminya.


Mau tak mau Raja beranjak, dan masuk kekamar mandi untuk memulai ritual mandinya.


"Ada apa dengannya? Kenapa pagi-pagi begini dia sudah semanis itu?" gumam Maya tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Kenapa belakangan ini dia jadi begitu aneh?"


Maya menyiapkan pakaian yang akan dipakai suaminya, sebuah ketukan pintu membuatnya segera melangkah untuk membukanya.


"Nyonya sarapan sudah siap!" Ucap salah seorang pelayan.


"Baiklah, sebentar lagi kami turun,"


Maya menutup pintu, suara gaduh di dalam kamar mandi membuatnya melangkah cepat menuju ruangan itu.


Hoooekkkkk....hoooek...


"Mas kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Tak ada jawaban, hanya terdengar suara suaminya yang terus menerus muntah membuatnya semakin khawatir.


"Mas buka pintunya! Kamu kenapa?" Mulai panik, ia berpikir untuk mendobrak pintu saja, tapi diurungkan sebab tau ia tidak sekuat itu.


Ceklek. pintu kamar mandi terbuka, Raja keluar dengan wajah pucat dan terlihat meringis. "Kamu kenapa?" tanya Maya makin khawatir.

__ADS_1


"Perutku mual, dan mulutku bahkan terasa pahit" Keluh Raja.


Maya memapah tubuh suaminya yang terlihat lemah, ia mengambil pakaian untuk suaminya. "Pakai baju dulu, Mas!" Ucapnya cemas menyadari sang suami hanya memakai handuk saja. "Kita panggil dokter ya, atau kita kerumah sakit saja?" tanyanya kemudian.


"Gak perlu, sayang. mungkin aku hanya masuk angin saja." Tolak Raja.


"Atau mungkin karena kamu makan mie instan kemarin, kamu kan gak pernah makan mie instan, mas!" ucap Maya lagi.


Raja mengangguk. "Iya mungkin juga Karena itu."


"Makannya, sebaiknya kita kerumah sakit untuk memastikannya." Ucap Maya, membuat Raja mengangguk pasrah.


🌺🌺🌺🌺🌺


Dengan dibantu oleh supir pribadinya Maya memapah sang suami menuju mobil.


"Ada apa dengan Tuan muda, Nona?" tanya Reihan yang baru saja tiba.


"Mas Raja gak enak badan, dia muntah-muntah terus Rei!" Jawab Maya dengan wajah khawatirnya. "Bisakah kamu handle pekerjaan mas Raja dulu, Rei?" tanyanya kemudian.


"Tentu, Nona! Dan biar saya yang mengantar kalian kerumah sakit." Ucap Reihan, sambil mengambil alih tubuh Raja membantunya untuk memasuki mobil.


Namun, diluar dugaan Raja malah mendorongnya dan kembali muntah.


Hooeeekkk... hoeekkkk


"Mas!" Pekik mereka bersamaan.


"Jangan mendekat Rei! Parfum mu membuat perutku semakin mual! Hoooeeeek." Keluh Raja.


"Parfum apa yang kau pakai, Hah? Sampai wanginya sampai menusuk ke hidungku!" Hardiknya pada sang asisten.


"Ini parfum yang biasa saya pakai, Tuan! Biasanya Anda tak pernah terganggu dengan Parfum saya." Ucap Reihan membela diri.


"Diam! Suaramu itu membuat kepalaku pusing." Bentak Raja lagi.


Maya sampai ternganga melihat kelakuan suaminya, meski tegas Raja tak pernah membentak orang didepan umum, meski seorang pelayan sekalipun. Dan sekarang ia membentak Reihan, asisten kepercayaannya hanya karena masalah sepele? What happened? Ada apa dengan suaminya?


"Sayang, suruh sopir saja yang mengantar kita. Aku tidak tahan dengan bau Reihan yang menyengat itu!" Ucap Raja pada sang istri, seraya masuk kemobilnya.


"Iya, Mas." Ucap Maya. ia lalu menepuk bahu Reihan. "Tolong maafkan mas Raja, ya! Dia memang sedang agak aneh belakangan ini." Hiburnya pada asisten suaminya itu.


Reihan mengangguk. "Tidak apa-apa, Nona. Saya sangat mengerti dengan keadaan Tuan muda saat ini." Ucap Reihan tersenyum. "Sebaiknya Nona segera masuk Kemobil, saya akan mengawal Anda dan Tuan dari belakang." Imbuhnya.


"Baiklah, Terima kasih." Ucap Maya, seraya masuk kedalam mobil menyusul suaminya.

__ADS_1


Mobil mereka melaju diantara kemacetan Ibukota, Sepanjang perjalanan Raja menyandarkan kepalanya di bahu sang istri sembari terus mengeluh, perutnya yang terasa bergolak, dan juga kepalanya yang mendadak pusing. Juga mengoceh tentang kendaraan yang tidak juga bergerak, membuat sang sopir yang berada didepan geleng-Geeleng kepala melihat kelakuan Tuannya yang mendadak cerewet mirip emak-emak.


Padahal ia sudah mengabdi selama sepuluh tahun lebih di keluarga pramudza dan hapal betul seperti apa Tuan mudanya, dingin, bicara seperlunya bahkan saat bersama Za pun ia lebih banyak Mendengarkan dari pada bercerita itulah sebabnya is terkesan angkuh. Dan ini kali pertama ia mendengar Raja begitu cerewet.


Sedang sang istri dengan sabar menanggapi setiap keluhan suaminya, memijat keningnya saat ia mengeluh sakit dikepalanya atau.mengusap tengkuk sang suami saat Raja kembali memuntahkan isi perutnya..Maya juga hanya tersenyum canggung saat Raja terus menempel padanya meski sedikit heran ia coba memaklumi, Raja sedang sakit mungkin itu sebabnya dia menjadi begitu manja.


Mereka sampai di rumah sakit x, dengan sigap Reihan mengambilkan kursi roda untuk tuan mudanya hanya kali ini ia membiarkan sopir membantu Raja.


🌺🌺🌺🌺


"Suami saya sebenarnya kenapa, Dok?" tanya Maya saat bicara dengan dokter yang menangani suaminya


"Kami sudah memeriksa keseluruhan, bahkan kami melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, tapi... tak ada yang serius, sepertinya Tuan muda hanya kelelahan dan stress akibat pekerjaannya." Ucap Dokter.


"Tapi dokter, apakah bisa sampai mempengaruhi sikapnya? Maksud saya, belakangan ini suami saya terlihat aneh, dia menginginkan makanan yang biasanya sangat dia hindari, sementara makanan kesukaannya justru membuatnya mual hingga muntah, dia juga cenderung sensitif bahkan sesuatu yang sepele saja bisa sangat mengganggunya."


Dokter mengerutkan keningnya, mendengar penuturan Maya."Kalau begitu ada satu kemungkinan lainnya." Ucap dokter.


"Apa itu dokter?" tanya Maya antusias.


"Saya belum berani mengatakannya, tapi sebaiknya kita melakukan pemeriksaan pada anda untuk memastikan dugaan saya." Ucap dokter lagi membuatnya bingung.


"Saya sehat-sehat saja, dokter! Kenapa saya harus melakukan pemeriksaan juga?" tanyanya.


Dokter tersenyum. "Nona Maya, bolehkah saya bertanya sesuatu?"


Maya mengangguk. "Tentu."


"Kapan terakhir kali Anda mendapatkan tamu bulanan Anda?"


Deg.


Kening Maya mengkerut, kedua alisnya menyatu mencoba mengingat. "Sekitar...dua atau tiga bulan yang lalu..." Ucapnya. "Tapi... bulan ini aku memang belum mendapatkannya, padahal seharusnya aku mendapatkannya awal bulan." Sambungnya. Dan mata Maya membesar ketika ia menyadari sesuatu. Dokter menanyakan hari terakhirnya haid, dan kalau dipikir apa yang terjadi pada Raja memang seperti gejala orang mengidam.


"Tunggu! Apa Anda pikir kalau saya sedang..." Maya tak melanjutkan kata-katanya saat melihat dokter itu mengangguk. "Tapi bagaimana bisa? Jika memang saya hamil, kenapa justru suami saya yang merasakan semua gejalanya?" Tambahnya penasaran.


"Dalam dunia medis, itu dinamakan Syndrome Couvade, atau kehamilan simpatik! Dimana calon ayah ikut merasakan gejala kehamilan yang biasanya di rasakan calon Ibu." Ucap dokter menjelaskan. "Tapi untuk memastikannya kita harus melakukan serangkaian tes kehamilan, bagaimana Anda bersedia, Nona?"


Maya mengangguk cepat, ia berharap dugaan dokter benar, akan sangat menyenangkan jika ada malaikat kecil dirumah mereka.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Maya mengikuti serangkaian tes dan pemeriksaan, ia juga melakukan usg.


Dan... dugaan dokter tidak meleset, dokter kandungan rumah sakit X menyatakan dirinya sedang mengandung janin hasil buah cinta mereka. Rasanya ingin sekali ia berteriak kegirangan saat dokter memberinya hasil tes bersama foto usg itu.

__ADS_1


Dengan senyum mengembang Maya melangkahkan kaki menuju kamar rawat suaminya. Namun, tubuhnya mematung seketika, dadanya bergemuruh dan sesak mendapati suaminya sedang disuapi seseorang dengan rambut panjang tergerai.


__ADS_2