
"Maaf...Maafkan aku!" Kata yang terus keluar dari bibir Maya setelah menyadari apa yang sudah dilakukannya pada sang suami di malam pertama mereka.
Dengan isakan yang masih keluar dari bibir ranumnya ia mengompres punggung Raja dan tak henti meminta maaf.
Raja berbalik, menggenggam tangan sang istri dan menatap wajahnya dalam. "Berhentilah meminta maaf, sayang! Ini bukan salahmu," Ucapnya penuh pengertian.
"Tapi gara-gara aku kau terluka, bekas operasimu belum sembuh benar dan sekarang aku malah membuatnya semakin parah. Maafkan aku! Padahal aku sudah berusaha menahannya tapi..." Ucap Maya penuh sesal.
Raja merengkuh tubuh istrinya itu."Sssshhh... sudah, aku tidak apa-apa! Kau tak perlu sekhawatir itu." Hibur Raja. "Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau mengalami trauma sejak kejadian malam itu?" tanya Raja.
"Karena... aku tidak mau membuatmu semakin merasa bersalah, aku sudah coba untuk mengatasinya sendiri dan kupikir setelah bisa membiarkanmu menciumku dirumah sakit itu, traumaku sudah sembuh tapi ternyata dugaanku salah! Bayangan malam itu tiba-tiba saja muncul, dan..." Ucap Maya disela tangisnya. "Maafkan aku..."
Raja membelai surai panjang istrinya, dikecupnya puncak kepala gadis itu. "Sudah ya. Aku benar-benar baik-baik saja, sekarang lebih baik kau tidur! Kau pasti sangat lelah." Ucap Raja. "Apa kita perlu tidur terpisah, hemz?" Tanyanya.
Maya menggeleng. "Tak perlu."
"Tapi aku tak ingin kau memaksakan diri, jika tidur bersamaku membuatmu tak nyaman, aku bisa tidur di sofa," Kata Raja penuh pengertian.
"Jangan membuatku semakin berdosa, Mas." Ucap Maya. "Lagipula aku pernah mendengar cara paling ampuh menghilangkan rasa trauma adalah dengan menghadapi penyebab trauma itu sendiri." Imbuhnya.
Raja mengangguk. "Baiklah, aku hanya tak ingin jadi penyebab ketidaknyamananmu. Sekarang tidurlah hari sudah hampir pagi."
Maya mengeratkan pelukannya, ia mencoba memejamkan mata hingga akhirnya ia terlelap kealam mimpi.
đşđşđşđşđş
Raja merebahkan tubuh Maya perlahan ketika hari sudah berganti pagi, semalaman matanya terjaga karena rasa nyeri dipunggungnya, tapi dia menahannya demi melihat Maya yang begitu terlelap.
Pria itu beranjak perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Raja tersenyum melihat sang istri yang sama sekali tak terganggu dengan semua aktivitasnya.
Ia keluar dari kamar hotelnya setelah memberikan kecupan di kening sang istri membuat wanita itu menggeliat pelan namun, sedetik kemudian kembali terlelap.
Raja menghubungi sang Asisten untuk mengantarnya kerumah sakit, membuat pria itu segera meluncur menjemputnya.
"Apa terjadi sesuatu padamu, Tuan?" tanya Reihan dengan panik begitu sampai di hadapan Tuan mudanya.
"Tidak apa-apa, hanya saja bekas tembakan itu terasa sakit lagi." Ucapnya membuat pria itu berkerut heran.
"Apa kau hanya akan berdiri disitu, Rei?" teriak sang tuan membuat pria itu segera memasuki mobilnya dan mengantar tuannya ketujuan.
đşđşđşđşđş
Reihan memperhatikan tuannya yang kini terlelap di kursi belakang mobil. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang ke hotel.
Ada banyak pertanyaan dipikirannya, terlebih ucapan dokter tentang memar dipunggung sang tuan yang diakui Raja akibat terbentur hingga membuat luka pasca operasinya kembali terasa.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah harusnya semalam itu jadi malam yang paling membahagiakan untukmu? Kenapa kau malah terluka?" batin Reihan.
__ADS_1
Mobil yang dikendarainya sudah sampai didepan hotel, sebenarnya ia sangat enggan membangunkan tuannya yang sedang terlelap itu, hingga ia sengaja menunggu beberapa saat sampai akhirnya Raja terbangun sendiri.
"Ahh sudah sampai, ya? Kenapa kau tidak membangunkanku, Rei?" Keluhnya.
"Saya tidak tega membangunkan Anda! Tidur Anda terlihat sangat lelap." Ucapnya.
"Benarkah? Mungkin karena aku tidak tidur semalaman." Ucap Raja membuat Reihan semakin khawatir.
"Uhhh" Keluh Raja ketika sakit dipunggungnya terasa lagi.
"Sakit lagi, Tuan? Mau saya antar sampai kedalam?" tanya Reihan sembari membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Raja menggeleng. "Tak perlu! Kau bisa pulang, Rei! Aku masuk dulu." Ucap Raja seraya melangkah keluar.
"Anda yakin?" tanyanya lagi.
"Tentu! Sudahlah tak perlu khawatir, kau tadi dengar sendiri bukan? tak ada yang serius hanya memar selebihnya aku baik-baik saja." Ucap Raja, kemudian ia kembali menatap asistennya itu.
"Rei, tolong rahasiakan ini dari Maya! Aku tidak ingin dia khawatir." Pintanya sebelum benar-benar berlalu dari pandangan lelaki itu.
"Apa yang sebenarnya diperbuat Nona Maya pada Anda, Tuan? Apa wanita memang berubah jadi bar-bar di malam pertama?"
đşđşđşđşđşđş
Maya terbangun saat hari sudah terang ia mengedarkan pandangan mencari suaminya tapi nihil, ia tak mendapati sang suami dimanapun. "Apa dia pergi? Apa dia marah padaku karena kejadian semalam?" gumamnya.
"Atau apakah aku harus menemui psikiater?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
Maya beranjak segera menyelesaikan ritual mandinya, segera berpakaian. Ia menyalakan ponsel yang dari semalam terabaikan sebuah pesan dari Raja menjawab semua kegelisahannya. "Jadi dia ke kantor." Ucapnya merasa lega.
Suara cacing diperutnya membuatnya mau tak mau harus keluar dari kamar hotel ini, meski dia bisa pesan makanan tapi baginya makan sendirian tidak menyenangkan.
Baru saja.membuka pintu, wajah suaminya sudah menyambutnya. "Kau sudah pulang?" tanya Maya.
"Iya, dan kau mau kemana?" tanya suaminya seraya masuk kekamar mereka.
"Tadinya mau cari makan, tapi sepertinya aku makan disini saja." ucap Maya sembari menutup pintu.
"Kalau kau mau makan di luar, biar kutemani." Ucap Raja, sambil melampirkan jas nya.
Maya menggeleng. "Di sini saja, sebenarnya aku juga malas keluar, hanya saja aku tak ingin makan sendirian." Ucap Maya.
"Kalau begitu aku pesan dulu, ya! Kau mau makan apa?"
"Apa saja!"
Baiklah ku pesan nasi goreng saja." Ucap Raja yang diangguki oleh istrinya.
__ADS_1
Sementara Raja bicara dengan pelayanan hotel, Maya mengambil sebuah plastik yang tadi sempat ia lihat di saku jas suaminya. "Ini obat apa?" tanyanya sembari mengamati obat yang ia pegang. "Kau dari dokter?" Katanya seraya menoleh pada suaminya.
Raja merebut obat itu dari istrinya dengan sedikit kasar. "Ini hanya vitamin!" jawabnya.
"Vitamin?"
"I...iya belakangan ini aku sering merasa kelelahan jadi aku menemui dokter dan minta diresepkan vitamin!" kilahnya.
"Jangan bohong padaku, Mas! Apa ini karena kejadian semalam?" tanya Maya curiga. "Apa aku membuat luka operasimu lebih parah?"
Raja menggeleng. "Bukan, ini benar-benar vitamin, kau tidak percaya padaku?" sanggah Raja.
"Kalau begitu aku ingin lihat obatnya!"
"Tidak perlu, ini benar-benar vitamin, sayang!"
"Aku mau lihat, Mas!"
"May, jika kubilang ini vitamin, berarti vitamin! Aku tidak apa-apa! Aku baik-baik saja!" Bentak Raja membuat Maya terdiam seketika.
Namun sedetik kemudian Raja menyesalinya begitu melihat wajah istrinya berubah sendu dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, aku tak bermaksud membentakmu, May!" ucapnya penuh sesal.
"Aku hanya ingin tahu keadaanmu yang sebenarnya, aku hanya ingin memastikan kalau kau memang baik-baik saja! Aku tak mau terjadi sesuatu denganmu dan aku tidak mengetahuinya." Ucap Maya dengan air mata yang sudah jatuh.
"Dulu, Ardi juga selalu bilang kalau dia baik-baik saja, tapi nyatanya dia sakit parah dan akhirnya meninggalkanku, aku hanya tak mau itu terjadi lagi." Ucap Maya seraya melangkahkan kakinya menuju balkon dan meninggalkan Raja.
Raja menyusul Maya, menatap punggung sang istri yang membelakanginya.
Gep. ia memeluk tubuh istrinya dari belakang, membuat wanita itu semakin terisak.
"Maafkan aku!" Ucapnya. "Aku hanya tak ingin kau khawatir." Imbuhnya.
Raja membalikan badan istrinya agar bisa memandang wajahnya dan menghapus air mata istrinya.
"Maafkan aku!" Ucapnya. "Itu hanya obat pereda nyeri saja, saat jatuh semalam punggungku terbentur dan memar, tapi aku sungguh baik-baik saja." Ucap Raja.
"Lalu kenapa kau berbohong?"
"Aku hanya tak ingin kau khawatir, sayang." Aku Raja.
"Berjanjilah kau akan mengatakan apapun padaku mulai dari sekarang! Aku tak mau ada rahasia termasuk tentang kesehatanmu." Pinta Maya.
Raja mengangguk. "Aku berjanji, kau akan jadi orang pertama yang mengetahui segalanya tentangku." Ucap Raja. "Jadi berhentilah menangis, hemz."
Maya tersenyum lalu memeluk suaminya itu, "Maafkan aku jika kau merasa ini berlebihan, tapi aku benar-benar tak ingin kehilangan lagi." Ucap Maya.
__ADS_1
"Aku justru yang harus minta maaf, harusnya aku tak menyembunyikan apapun darimu." Ucap Raja seraya mengecup lembut puncak kepala istrinya.