Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Mengungkap kebenaran


__ADS_3

Queenza terus mencoba menghubungi Inder, entahlah sejak tiga hari lalu Inder tak menjawab telponnya bahkan tak ada satupun pesannya yang di balas pria itu.


"Mungkin dia sedang sibuk, Za." Hibur Alika. "Sesibuk apa? Sampai tak bisa membalas satu pesan saja dariku." Keluhnya.


Beruntunglah sang kakak sedang pergi kekota sejak dua hari yang lalu, kalau tidak, sudah dipastikan dia akan di berondong pertanyaan karena uring uringan begini.


"Atau dia memang sengaja tak mau bicara denganku lagi, Al?"


Alika yang merasa iba menyodorkan ponselnya. "Ini pakai punyaku." Ucapnya. "Nomor ini aku beli sesaat sebelum kesini, jadi belum ada yang tau nomor itu."


Za mengambil ponsel Alika menekan nomor ponsel Inder. Satu kali tak diangkat, membuatmu berpikir mungkin memang pria itu sedang sibuk atau istirahat. namun kali kedua telepon itu mendapatkan jawaban, yang justru membuat hatinya kesal.


"Hallo." Terdengar suara pria yang sangat dia kenali.


"Apa aku harus memakai nomor lain dulu, baru kau mau menjawab telponku, Inder?" Ucapnya kesal.


"Za." Ucap pria di sebrang sana.


"Iya, ini aku. Kalau kau kecewa padaku karena aku menyembunyikan kebenaran tentang keluarga pramudza, bukankah seharusnya kau meminta penjelasan dariku, Inder? Bukan malah menghindariku seperti ini." Ucapnya penuh emosi, airmatanya meluncur begitu saja karena merasa kecewa.


"Aku tak bermaksud seperti itu, Za."


"Kau tak bermaksud, tapi melakukannya Inder."


Hening tak ada jawaban dari sana.


"Baik kalau kau sudah tak mau bicar padaku, aku tidak akan menghubungimu lagi." Ucapnya lalu menutup panggilan itu.


"Dia sengaja tak mau menjawab telponku, Al. Dia sengaja menghindariku." Keluhnya.


"Dia pasti punya alasan, Za." Ucap Alika.


"Kenapa Tuhan selalu mempertemukan aku dengan seseorang, membuatku nyaman, lalu kemudian ditinggalkan." Keluhnya lagi.


"Aku percaya Inder tak akan melakukannya, Za. Dia tidak akan meninggalkanmu." Ucap Alika. Ia begitu Iba melihat sahabat sekaligus sepupunya ini. "Seperti kau punya alasan menyembunyikan identitasmu dulu, aku yakin dia juga pasti punya alasan".


🌺🌺🌺🌺


Raja, sudah dua hari ini ia kembali kekota. Ia mengambil ponselnya, memandangi wajah gadis yang ada di layar. "Sebentar lagi, kita akan bisa berkumpul seperti dulu Queen." Ucapnya sembari tersenyum, ia kembali mengingat kejadian dua hari yang lalu.


Flasback On

__ADS_1


Raja datang kerumah orangtuanya, ia tak sendiri ada Reihan dan seorang pria paruh baya yang ikut serta. Ia menyuruh mereka untuk di luar terlebih dahulu dan baru akan masuk saat ia memanggilnya nanti.


"Sayang, kau kemana saja nak? " Sapa Mami Maura begitu memasuki ruang keluarga rumahnya. "Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, Mam. Dimana Papi? Ada yang harus kubicarakan dengan Mami dan Papi." Ucapnya.


Mami Maura menatapnya, kemudian tersenyum." Apa ini tentang rencana pernikahanmu dengan Raisa? Apa dia sudah setuju untuk menikah?" Ucap Mami Maura.


Raisa... ahhh dia bahkan melupakan wanita itu sejak ia menemukan Queenza. Entahlah tapi cintanya yang dulu begitu menggebu pada wanita itu seperti teralihkan dengan kehadiran adiknya, yang ada dipikirannya saat ini hanya Queenza, Queenza dan Queenza.


Entahlah ia juga tak mengerti, tapi karena sejak menemukan Queenza ia merasa tak membutuhkan yang lain, dunianya seperti berpusat pada adiknya itu.


Raja menggeleng. "Bukan, Mi. tapi ada hal yang lebih penting yang harus kubicarakan dengan Mami dan Papi." Ucapnya.


"Hal apa? Kau membuat Mami penasaran." Cibir Maminya.


Ia hanya tersenyum, tak lama papinya turun dari ruang kerjanya bersama dengan asisten pribadinya, Sepertinya mereka baru saja membahas pekerjaan.


"Kalau begitu saya permisi, pak." Ucap sang asisten yang diangguki oleh Papi Rendy.


"Tunggu paman." Ucap Raja, Asisten pribadi Rendy juga adalah saksi kunci dalam kecelakaan itu, bahkan Hendra bilang, Reno dan asisten pribadi Rendylah yang di tugaskan untuk mencari tempat yang dijadikan kuburan Za.


"Iya, Tuan Muda." Ucap sang Asisten, gugup.


Ada apa, Ja?" Tanya Papi.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, dan aku ingin paman juga mendengarnya."


Ucapannya membuat semua orang saling memandang. "Raja jangan membuat Mami takut, ada apa sebenarnya?"


"Mami akan segera tahu." Ucapnya, ia lalu menelpon seseorang.


"Apa ayahmu sudah datang?" Tanyanya. "Bagus, kalau begitu bawa mereka semua masuk." Ucapnya lagi.


Raja tersenyum saat Reihan masuk bersama beberapa orang yang sudah ia siapkan sebagai saksi dan juga bukti pada ayahnya.


"Mereka? Astaga... apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan, Nak?" Tanya Rendy penasaran.


Raja bersikap setenang mungkin, walau hatinya sedang cemas tentang Bagaimana reaksi orang tuanya nanti.


orang-orang itu membungkuk hormat pada Rendy. "Duduklah, dan jelaskan ada apa ini sebenarnya?"

__ADS_1


"Rei, tunjukan rekaman cctv rumahsakit itu, pada Papi." Ucapnya, membuat kedua orang tuanya menatapnya bingung.


Reihan mematikan semua lampu di ruangan itu kemudian muncullah layar besar yang berasal dari proyektor hingga semua orang bisa melihatnya.


Gambar berawal dari sebuah rumahsakit, dimana seorang gadis kecil menangis di depan pintu sebuah kamar, itu Queenza kecil saat memohon untuk bertemu dengan kakaknya.


Raja memejamkan matanya, kejadian 12 tahun lalu itu masih sangat menyakitkan baginya. Sementara kedua orang tuanya menatap layar tanpa berkedip dengan air mata berderai.


Kini gambar berganti dengan pemandangan memilukan saat Queenza meronta di pangkuan Aldi, yang membawanya menjauh, lalu kembali berganti dengan latar halaman depan rumah sakit yang menampilkan saat Aldi dan Resha membawa gadis itu memasuki sebuah taksi.


Lampu kembali dinyalakan, Rendy masih mematung sedangkan Maura sudah terduduk dilantai, tangisnya pecah.


Raja memeluk ibu yang melahirkannya itu, "Maaf karena harus membuka luka lamamu, Mam! Tapi kalian harus tau kebenarannya." Ucapnya.


" Jadi Queenza benar-benar masih hidup,


ya Tuhan...apa yang kulakukan." Erang Rendy. "Apa ada yang ingin kalian jelaskan?" Suara Rendy menggelegar, menatap tajam satu persatu lelaki yang kini menunduk dihadapannya.


"Ma...maafkan saya, Tuan. Saya tak berani membantah perintah Tuan besar saat itu." Ucap Asisten pribadi Rendy.


Plak.


Sebuah tamparan mendarat di pipinya. Rendy mencengkram kerah kemeja asistennya itu." Kau tak bisa membantah perintah ayahku, tapi kau bisa menghianatiku." Geramnya.


"Tuan tenangkan diri anda." Ucap Reno sembari mencoba melepaskan tangan Rendy. Tatapan Rendy kini beralih padanya. "Dan kau, teganya kau menghianatiku, Reno."


"Maafkan saya Tuan, saya tak berdaya saat Tuan besar mengancam keselamatan keluarga saya." Ucap Reno penuh sesal.


Satu persatu dari mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu, Raja bisa melihat sekecewa apa sang Papi pada kakeknya, juga bagaimana Mami Maura begitu menyesal karena mempercayai ucapan ayah mertuanya.


keadaan sudah hening, semua orang yang ia bawa sudah ia suruh pergi, kini hanya tersisa Raja dan kedua orang tuanya.


"Kita harus mencarinya, Mas!" Ucap Maura.


"Ini sudah lebih dari sepuluh tahun, Sayang. Apa mungkin kita bisa menemukannya." Ucap Rendy.


"Aku tidak mau tau, aku ingin Queen kembali pada kita, Mas."


"Iya, aku akan mulai mencarinya, jadi doakan supaya aku bisa menemukannnya."


Raja tersenyum mendengar pekataan Mami dan papinya.

__ADS_1


"Kalian tak perlu mencarinya, aku yang akan membawanya pada kalian!"


__ADS_2