
Queenza
Gadis itu kembali ke resto tempat ia melamar pekerjaan kemarin. Tapi ternyata lamarannya itu memang kembali ia bawa.
"Ahhh terima kasih atas waktunya, kalau begitu saya permisi." Pamitnya.
Ia berjalan lesu menuju luar halaman restoran itu, sebenarnya bukan karena sayang dengan surat lamaran itu, ia bisa membuatnya lagi tapi ia hanya takut surat-surat itu di salah gunakan jika ditemukan orang yang tidak bertanggung jawab.
"Nona Queenza." Panggilan di belakangnya membuatnya menoleh kearah sumber suara.
Ia mengernyit, rasanya wajah lelaki itu tak asing baginya.
"Masih ingat padaku?" Ujar lelaki itu tadi sembari berjalan mendekat dan menyeringai lebar.
Ahhhh ya, sekarang ia ingat siapa lelaki di hadapannya ini. "Tentu!" Ucapnya. "Kau artis yang katanya terkenal itu, kan?"
"Astaga... gadis ini." Batin inder.
"Bukan katanya, tapi aku memang terkenal, hanya kau saja yang ..."
"Ya..ya..ya.. Terserah kau saja." Ucap Queenza memangkas perkataan Inder. "Ada apa kau memanggilku? Apa kau menemuiku untuk mengajakku berdebat? atau ....jangan-jangan kau ingin menagih ongkos taksi waktu itu?" Cecarnya, membuat pria di depannya itu terkekeh.
"Kenapa kau selalu berprasangka buruk padaku?"
"Bukan karna itu, ya? Lalu apa?" Ucapnya dengan pipi yang memerah, malu.
"Kau sedang butuh pekerjaan?" Tanya Inder, membuat Queenza menatapnya curiga.
"Darimana dia tahu kalau aku sedang butuh pekerjaan?" Batin Queenza.
Inder menyadari tatapan penuh tanya itu, lalu
mengibaskan dua tangannya." Jangan berpikir macam-macam." Katanya. "Kemarin saat di taksi aku menemukan surat lamaran pekerjaanmu!"
"Oh... tertinggal di taksi rupanya." Gumamnya lega.
"Aku punya penawaran Untukmu." Ujar Inder lagi. "Aku sedang membutuhkan seorang asisten, apa kau berminat?"
Queenza berpikir sejenak, Asisten? apa maksud pria ini asisten rumah tangga?
"Bagaimana? Kau berminat?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Emhhh boleh aku memikirkannya dulu?" Tawar, Za. Pria itu mengangguk.
"Tentu." Jawab Inder. "Ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku jika kau berminat."
Queenza menerima kartu nama itu, lalu mengangguk." Kalau begitu aku permisi." Ucapnya sopan.
"Aku berharap, kau memberiku kabar malam ini." Ujarnya yang membuat gadis itu menoleh lalu mengangguk hingga akhirnya kembali melanjutkan langkahnya.
Inder menatap punggung gadis itu, yang mulai menjauh dan kemudian hilang.
Jika saja yang ditawarinya itu adalah gadis lain, sudah pasti tawarannya akan langsung di terima, tapi gadis ini benar-benar berbeda.
"Jadi itu, gadis yang kau ceritakan?" Tanya Rega, yang kini sudah berada di sampingnya.
Inder mengangguk. "Cantik, kan?" Tanyanya, membuat sahabatnya itu menoleh padanya.
đşđşđş
Malam harinya Queenza menceritakan tentang tawaran pekerjaan yang di terimanya pada Alika, ia menunjukan kartu nama yang di berikan pria itu padanya.
"Ivander Kamal Prasetya!" Rafal sepupunya,
"Oh Queenza... beruntung banget kamu di tawari pekerjaan oleh Ivander secara langsung, Kalau aku yang ditawarin gak bakal banyak mikir langsung ku terima walau itu jadi pembersih toilet rumahnya sekalipun." Seru sepupunya itu.
"Tentu saja, sepupuku sayang, kapan lagi kau dapat kesempatan bagus seperti ini." Ujar Alika lagi. "Coba kau bayangkan, kau akan melihat wajah tampan Ivander setiap hari, Ahh Za..... kau tahu berapa banyak gadis yang menginginkan pekerjaan ini."
"Kau benar, karena jadi asisten dari artis seperti itu pasti gajinya besar, iyakan?" Ucapnya yang langsung membuat sepupunya merenggut kesal.
"Astaga, Za. apa hanya uang yang kau pikirkan?" Sungut sepupunya, yang malah membuatnya tertawa.
"Memangnya apalagi yang harus kupikirkan? Memandang wajah tampan artis idolamu itu, tak akan membuatku kenyang dan tak akan membuat bundaku sembuh." Ucapnya.
"Ceh... kau benar-benar hanya memikirkan uang saja." cibir sepupunya. "Aku kekamar duluan, ya. aku sudah mengantuk, dan besok aku harus kerja pagi." Ucap Alika lagi, sembari pergi meninggalkannya.
Hari sudah menjelang larut malam, ia sedang menimang apa dia akan menghubungi pria itu sekarang? atau besok pagi saja?
Tapi..bukankah pria itu menunggu jawabannya malam ini? Tapi.. bagaimana kalau pria itu sudah tidur?
Akhirnya Za memutuskan mencoba menghubunginya, jika tidak diangkat maka berarti pria itu sudah tidur.
Ia mengetik nomor yang ada di kartu nama itu, setelah beberapa saat terdengar suara di seberang telpon.
__ADS_1
"Hallo, Pak Ivander. aku Queenza yang anda tawari pekerjaan tadi siang."
đşđşđş
Inder menatap jam yang melingkar di tangannya, Dari pulang syuting dia merasa gelisah. Waktu yang seharusnya si pakai beristirahat malah ia gunakan untuk memandangi jam tangannya. Konyol bukan?
Sudah pukul setengah sebelas, tapi telpon yang di tunggunya masih belum berdering. Inder menghembuskan nafas kesal, apa gadis itu memang tak berminat dengan pekerjaan yang ia tawarkan?
Huh.... Seorang Ivander Kamal prasetya menanti telpon gadis untuk menyetujui pekerjaan yang ia tawarkan, apa kata dunia? Bukankah biasanya orang lain yang selalu ia buat menunggu keputusannya?
Satu jam berlalu, sebuah dering telpon yang ia tunggu benar-benar berbunyi.
" Halo, Pak Ivander. Aku Queenza yang anda tawari pekerjaan tadi siang."
Deg.
Bahkan hanya mendengar suaranya saja bisa membuat jantungnya seakan meloncat.
Ia berdehem sebelum menjawab, "Emmh iya, jadi bagaimana? Apa kau berminat?"
" Iya untuk itulah saya menghubungi anda, saya akan menerima pekerjaan ini."
"Yes.." Ucap Inder tanpa suara, ingin rasanya ia berjingkrak " Emh... baguslah."
"Tapi ada yang beberapa hal yang harusq saya tanyakan mengenai pekerjaan ini?"
"Tak masalah, kau bisa bertanya apapun." Ucapnya.
" Sepertinya tidak sekarang, pak Ivander. Ini sudah terlalu malam." jawab gadis di sebrang telpon.
" iya, bagaimana kalau kita bertemu besok? Sekalian kau menandatangani kontrak kerjamu."
"Baiklah, anda atur saja waktu dan tempatnya. Saya akan datang."
"Baiklah.. sampai bertemu besok."
"Sampai bertemu besok."
Telpon itu di putus dari sebrang, namun Inder masih menatap layar dengan senyum mengembang.
"Ahhh iya, gue kan belum siapin kontrak kerjanya." Serunya panik. Segera ia menejan nomor manager sekaligus sahabatnya.
__ADS_1
"Bikinin gue surat kontrak kerja atas nama Queenza, gue mau besok pagi harus sudah selesai."