
Inder berpamitan pada Bundanya, hari ini ia akan mulai kembali melakukan rutinitasnya.
"Pokoknya setelah syuting langsung pulang, Bunda gak mau ada alasan!" Ucap sang Bunda. Ia hanya bisa mengiyakan, sejak kejadian itu Bunda jadi sangat posesif terhadapnya.
"Dan kamu Rega, Bunda gak mau kalau sampai kamu kecolongan lagi!" Ucap Bunda pada Rega.
"Siap, Bun."
Akhirnya mereka bisa berangkat setelah ceramah panjang kali lebar dari Bunda.
Matahari sudah hampir tenggelam ketika mereka menyelesaikan rutinitasnya. Syuting kali ini berada di tempat yang cukup jauh dari Ibukota, mereka berdua berencana mencari hotel untuk menginap sampai esok pagi, terlalu lelah jika mereka harus langsung pulang.
Rega melajukan mobilnya menuju hotel, sedangkan Inder sudah hampir terlelap karena efek obat yang ia minum sesaat sebelum perjalanan tadi.
Rega baru melajukan mobilnya setengah perjalanan ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Ia tersenyum melihat nama si penelpon, dengan menggunakan Earphone dia menerima panggilan itu.
"Ada apa? Apa kau merindukanku?" Godanya, yang justru di jawab dengan pekikkan panik dari sebrang telpon sana.
"Pak Rega, tolong Za!"
Suara Alika yang terdengar begitu panik membuatnya mengerem mendadak yang mengakibatkan kepala Inder terantuk pada dashboard membuat pria yang baru akan kealam mimpi itu terbangun karena kaget.
"Woi, Ga. Hati-hati dong!" Bentak Inder.
"Tenang bicara pelan-pelan, ada apa dengan Za?" Ucap Rega membuat Inder menoleh padanya.
"Aku tak bisa bicara sekarang, kumohon tolong kami!" Jawab Alika.
"Ok jangan panik, Sherlock posisi kalian kami menuju kesana sekarang."
"Ada apa, Ga? Lo nyebut Za, tadi." Tanya Inder.
Ting.
Notifikasi pesan masuk ke ponsel Rega.
"Kencengin sabuk pengaman lo Inder!" Ucapnya, membuat lelaki itu menurut tapi tetap bertanya padanya.
"Ada apa sebenarnya, Ga."
"Gue juga gak tau! yang jelas Sepertinya sesuatu terjadi pada Za, Alika terdengar panik tadi." Jawab Rega, kemudian melaju cepat menuju titik lokasi yang dikirim Alika.
đşđşđşđş
__ADS_1
Mereka sampai dalam waktu kurang dari dua puluh menit, untunglah posisi mereka lumayan dekat dengan Villa ditambah kemampuan Rega melajukan kendaraan dengan secepat kilat membuat mereka mampu memangkas waktu.
Begitu sampai di depan gerbang Villa, mereka di suguhkan dengan kerumunan warga yang masih terus berteriak bak mahasiswa yang sedang menyampaikan orasi.
"Usir saja, pelakor itu!"
"Kami tak sudi desa kami dijadikan tempat menyembunyikan wanita simpanan!"
Beberapa teriakan warga yang ditujukan pada gadis yang berdiri di teras Villa, bahkan beberapa warga melemparinya dengan tomat, kalau saja para pengawal tak membentuk barisan untuk menghalau gadis itu, sudah pasti tomat itu mendarat di tubuh si gadis.
Inder merangsek masuk diantara kerumunan warga, Ia berhasil maju dan berdiri didepan para warga yang menatap marah pada gadis di belakang para pengawal.
"Hentikan! Saya bisa menuntut kalian semua karena sudah bertindak semena-mena." Bentaknya marah, membuat warga saling berbisik.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur, kami hanya mau mengusir pelakor yang meresahkan ini." Ucap seorang warga.
"Siapa yang kalian sebut pelakor? Dan atas dasar apa kalian menyebutnya seperti itu!" Ucapnya
"Ucapan tanpa adanya bukti, itu adalah fitnah! Saya bisa melaporkan kalian semua kepolisi atas tuduhan fitnah, dan perbuatan tidak menyenangkan." Ancamnya yang membuat para warga diam.
"Jangan membelanya Inder! Kau tahu? wanita yang kau bela itu adalah simpanan kakakku, dia yang membuat hubungan kakakku dengan tunangannnya renggang, dia seorang pelakor." Ucap Friska berapi-api.
"Eh mbak, bisa gak tuh mulut di sekolahin, jangan seenaknya kalau ngomong!" Teriak Alika.
"Kau dan kakakku sudah tertipu wajah polosnya, wajah malaikatnya itu hanya topeng untuk menutupi kebusukannya." Timpal Friska mengabaikan protesan Alika terhadapnya.
"Atas dasar apa kau menuduhnya seperti itu? Dan kalian semua apa punya bukti kalau gadis ini pelakor, atau simpanan seperti yang kalian tuduhkan?" Inder menunjuk semua warga yang masih saling berbisik.
"Memangnya kamu sendiri siapa? kenapa terus membela pelakor itu" Tanya seorang Ibu-ibu. "Eh kenapa kok saya seperti tidak asing ya dengan wajahnya?" Gumam si ibu itu kemudian.
"Saya? Saya calon suaminya." Ucapnya.
Friska membulatkan matanya mendengar jawaban dari Inder, ia menggeleng keras.
"Tidak! Kamu bohong! bagaimana bisa kamu jadi calon Suami jalang itu?"
"Jaga bicaramu Friska, aku bisa menuntutmu karna menghina calon istriku!" Ucap Inder.
"Kenapa jadi begini Friska? Bukannya kamu bilang wanita itu simpanannya Raja? kenapa lelaki ini mengaku sebagai calon suaminya?" Tanya Raisa.
"Dia bohong, Kak." Ucap Friska. "Kamu bohongkan Inder! bilang kalau semua yang kamu katakan adalah kebohongan! Kamu hanya ingin menyelamatkan jalang itu kan?" Cecar Friska.
Inder tak menanggapinya, ia berjalan mendekati Raisa. "Kau pacarnya Raja? Bodohnya kau bisa dihasut oleh Friska, kau tau siapa gadis itu? Dia adalah adik kesayangan dari kekasihmu, dan aku pastikan Raja akan sangat kecewa karena kau sudah mempermalukan adiknya." Ucapnya pada Raisa membuat wanita itu terbelalak.
__ADS_1
"A...adik?" Ulang Raisa dengan nafas yang tercekat.
"Bohong semua yang kau katakan adalah kebohongan, kenapa pria seperti kalian melakukan segala hal untuk melindunginya." Teriak Friska histeris
"Aku... akulah putri keluarga pramudza! Wanita itu tak ada kaitannya dengan keluarga Pramudza bagaimana bisa dia jadi adik kak Raja?" Sambungnya.
"Jadi ini teh mana yang benar?" Ucap satu warga.
"Kok jadi adiknya? Katanya itu selingkuhannya, gimana sih."
"Tapi tetap itu laki-laki yang itu kok saya kayak pernah lihat dimana, ya?"
Itulah bisik-bisik sebagian warga yang kini merasa bingung sendiri.
Inder meninggalkan Friska dan Raisa lalu menghampiri Queenza yang langsung menghambur kepelukannya.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku." Bisiknya pada gadis itu.
"Saya menitipkan Queenza disini, sebelum melamarnya secara langsung pada orangtuanya karena saya tahu Raja adalah kakaknya." Ucapnya lagi membuat Za mendongak menatapnya.
"Jadi wanita ini bukan simpanannya pak Raja?"
"Jadi dia bukan pelakor?"
Pertanyaan-Pertanyaan itu dijawab oleh suara barinton dari arah belakang mereka.
"Tentu saja bukan! Dia adalah adik saya!" Jawab Raja.
"Bagaimana bisa kalian berasumsi sekejam itu hanya karena hasutan dari orang yang bahkan tidak kalian kenal?" Ucapnya membuat semua orang kini beralih padanya.
Dia melangkah bersama beberapa orang yang tak lain adalah pengurus desa setempat, setelah di jelaskan akhirnya semua warga membubarkan diri.
"Terima kasih atas bantuannya, Pak." Ucap Raja, sembari menjabat tangan kades setempat.
"Saya sangat menyesal hal ini terjadi, Pak. Atas nama warga desa saya mohon maaf atas ketidak nyamanan ini!" Ucap Pak Kades.
"Ini hanya Kesalahfahaman, Pak. Bukan sepenuhnya salah warga." Ucap Raja sembari menatap tajam pada dua orang gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Setelah itu pak kades beserta pengurus lainnya pamit. Raja hendak melangkah masuk kedalam Vila namun tangannya di tarik oleh Raisa.
"Ja, Maaf!" Ucap Raisa. "Aku tidak tau kalau..." Ucapannya terhenti melihat sorot tak bersahabat dari mata Raja.
"Jangan tunjukan wajahmu di depanku untuk beberapa waktu kedepan, atau mungkin aku tak bisa menahan diri untuk menyakitimu!" Ucapnya dingin kemudian berlalu dari hadapan wanita itu.
__ADS_1