
"Nak, adikmu sudah meninggal, yg mereka bawa itu jenazahnya! Kau harus ikhlaskan adikmu"
Kata-kata Papinya sebulan yg lalu masih terngiang di telinganya. Ingin rasanya ia mengutuk kakeknya yg telah melakukan semua ini. Namun apa yg bisa di lakukan anak berusia 15 tahun?
Ia sudah berusaha meyakinkan Papinya, namun ucapannya tak di percaya, sang kakek benar-benar menyiapkan drama ini dengan sangat sempurna. Surat kematian, hingga kuburan palsu telah di siapkan sang kakek sebagai bukti kematian sang adik.
Bahkan Kakeknya membawa seorang anak untuk menggantikan posisi adiknya.
' Untuk kebaikan kita' Alasan yg selalu diberikan kakeknya. Dan saat ini ia hanya bisa pasrah mengikuti semua keinginan kakeknya karena kesehatan Maminya yg tidak memungkinkan.
đşđş
Dua tahun kemudian.
Queenza mengayuh sepeda hadiah dari ayah tirinya, hari ini sang bunda memintanya membeli beberapa barang ke kampung sebelah.
Ia berhenti untuk beristirahat sejenak, jarang sekali ia bisa keluar rumah seperti ini.
Ia duduk, memandang hamparan sawah yg luas membentang di depannya.
Saat ini hidupnya sudah jauh lebih baik, dia sudah bisa menerima takdir yg tuhan berikan padanya. Senyuman juga sudah bisa kembali tersungging dari bibir manisnya.
Dulu... saat setahun pertama tinggal bersama ayah dan bundanya , hidupnya terasa begitu berat. Ia hanya berdiam diri di kamar, keluar hanya untuk makan, dan membantu pekerjaan rumah yg ringan seperti, menyapu ataupun mencuci piring saja, selebihnya ia hanya menghabiskan waktunya dengan merenung didepan jendela kamarnya ataupun meringkuk di tempat tidurnya.
Hingga di akhir tahun itu, sebuah berita di televisi membuatnya tergugah untuk beranjak.
Berita yg menampilkan kabar keluarganya, Mami dan papi yg mengantar sang kakak ke bandara untuk melanjutkan study nya.
Mereka tersenyum manis saat berhadapan dengan kamera, ia meraba tv dengan mata berkaca-kaca. seolah benar-benar menyentuh mereka."Aku sangat merindukan kalian." Gumamnya lirih.
Matanya mengembun, hatinya terasa lega melihat mereka baik-baik saja, meski juga terasa perih mengingat mereka tak mencarinya.
"Hentikan, Za." Seru Resha menghempaskan tangannya dari layar tv.
"Kau lihat! Kau bisa lega sekarang, mereka baik-baik saja bahkan mereka terlihat bahagia." Ia masih setia membisu, mendengar perkataan sang Bunda.
"Queenza, dengarkan bunda. Mereka sudah bisa tersenyum tanpamu, mereka selamat tapi tak pernah mencarimu, jadi berhenti mengharapkan mereka seolah hanya mereka yg menyayangimu."
"Aku memang bersalah karena membuangmu saat lahir, tapi aku terpaksa melakukannnya, dan aku menyesalinya, bisakah kau memberi bundamu kesempatan untuk menebus dosa Bunda? Ayo kita mulai dari awal, Ayo kita hidup tanpa bayangan mereka, apa kau mau?""
Saat itu ia hanya diam, namun air mata yg jatuh di pipinya memperlihatkan seberapa terlukanya ia.
__ADS_1
Ia terluka! Ia kecewa! Kenapa keluarga yg selalu ia harapkan tak pernah datang mencarinya? Bukankah mereka bilang, mereka sangat menyayanginya?
Ia kembali kekamarnya tanpa mengatakan sepatah apapun, kembali untuk mengurung diri, meringkuk di kasur yg tak begitu besar itu.
Sebuah foto yg sempat ia bawa dari rumahnya menjadi pengobat rindunya, beruntung kakeknya memberikan tas sekolahnya hingga ia bisa memiliki foto ini. ia pegang erat, mendekapnya dengan berderai airmata.
Cukup! ia tak mau lagi meratapi nasibnya. Cukup! ia tak mau menangisi kekejaman yg terjadi di hidupnya.
Malam itu ia memutuskan untuk memulai hidup baru, ia akan bangkit memulai kehidupan barunya bersama orang tua kandungnya.
Ia tersenyum kecil mengingat masa terpuruknya, juga mengingat wajah bahagia ayah dan bundanya saat untuk pertama kalinya ia memanggil ayah, bunda pada mereka.
meski setelah itu ia harus menerima keputusan sang bunda yg tak pernah lagi mengijinkannya nonton tv karna takut akan ada berita tentang kebahagiaan keluarga lamanya yg akan membuatnya terluka.
Tapi ia tetap bersyukur, setidaknya ada yg menemaninya melalui saat terburuknya.
Teriakan- teriakan yg samar tertangkap indra pendengarannya, terasa mengganggunya.
"Susah, Ga. gue gak bisa naik!" Teriak seorang anak laki-laki, ia beranjak memperhatikan dari jauh apa yg anak itu" lakukan. "Cari tangga, Ga!" Teriak anak itu lagi, membuatnya penasaran.
Dan matanya membelalak marah, saat melihat sarang burung berada di tangan anak lelaki itu.
"lepaskan anak burung itu!" Teriaknya marah, ia tetap maju meski tahu anak lelaki itu lebih besar darinya.
"Dasar gak punya perasaan! Apa kau tak kasihan dengan anak burung itu? nanti sia terpisah dengan keluarganya!" Makinya lagi, sarang burung itu ia rebut dari lelaki remaja yg kini menatapnya dengan mata membelalak, bingung.
"Tenang anak burung yg malang, aku akan menyelamatkanmu!" Ucapnya sembari membelai anak burung itu.
Dari jauh ia melihat anak lainnya yg menghampiri mereka. "Inder nih, Gue dapet tangganya! " Seru teman pria itu." Lo bisa naik dan balikin sarang burung itu ke pohon." Ucap teman lelaki itu lagi, membuatnya mengernyit heran.
"Balikin ke pohon?" Tanyanya.
Kedua remaja itu menoleh padanya, "Lo siapa?" Ucap lelaki yg membawa tangga tadi balik bertanya.
"Dia sepertinya peri burung! dia bilang ingin menyelamatkan anak burung itu dari gue." Cibir remaja yg ia bentak tadi.
Dari lo? bukankah lo justru ingin menolong anak burung itu?"
Ucapan teman pria itu membuatnya malu, sepertinya ia telah salah faham. "Maaf !" Ucapnya.
"Maaf, sudah salah faham denganmu. Kupikir kau sengaja mengambil anak burung itu."
__ADS_1
pria remaja itu tersenyum "Kali ini gue maafkan, lain kali harusnya kau bertanya dulu sebelum memaki orang."
Ucapan Pria itu membuat bibirnya mengerucut.
"Ga, bantuin pegangin tangganya!"
" Oke, bos."
Queenza mendekat pada mereka "Nih burungnya, Aku bantu pegangin tangganya, ya." Ucapnya yg di angguki mereka.
Lelaki itu mulai naik, meniti anak tangga satu persatu hingga sampai di atas pohon.
namun saat turun, anak tangga yg menjadi pijakannya patah membuatnya terjatuh.
Temannya mencoba nenangkap tubuhnya, tapi malah ikut tertimpa. Berbeda dengan Queenza yg malah mundur kebelakang, ia selamat tanpa luka sedikitpun.
"Awww" Kedua Lelaki itu menggaduh bersamaan, sementara Queenza mengulurkan tangan membantu mereka bangun.
"Kau ini, ya. bukannya tangkap tubuhku malah mundur menjauh." Sungut pria itu, yg hanya ditanggapi senyuman olehnya.
"Aku hanya realistis, Kak. Aku tau takkan bisa menahan berat tubuhmu, jadi kuputuskan untuk mundur. Kalau aku juga terluka seperti kalian siapa yg akan mengobati kalian?"
"Kemarilah aku akan membersihkan lukamu! " Ia mengambil air dari botol minumnya, membasuh luka pria itu, setelah itu mendongak menatap satu pria lagi yg mungkin juga butuh bantuannya.
"Aku bisa melakukannya sendiri! Bantu saja temanku." Ucap lelaki itu seolah mengerti.
Ia merogoh saku celananya, hanya tinggal satu plester sedangkan ia harus mengobati luka dua orang. Ia memandang kedua lelaki itu bergantian, luka lecet lelaki yg naik tadi cukup lebar sedang temannya hanya tergores.
"Ini, pakai plester ini untuk menutupi luka kakak!"
Pria itu menerimanya, ia lalu mengeluarkan sapu tangan, sempat ragu tapi sepertinya saat ini pria itu lebih membutuhkan saputangan itu.
"Selesai!" Ucapnya puas.
"Pulang nanti, bersihkan lagi lukamu dengan antiseptic biar gak infeksi!"
Ia beranjak, "Maaf, aku harus pergi! Terima kasih sudah menolong burung itu!"
Queenza melangkah mengambil sepedanya. Ia masih bisa mendengar teriakan pria itu "Heii bagaimana dengan saputangannya?"
"Kembalikan padaku saat kita bertemu lagi nanti!"
__ADS_1