
Friska baru pulang dari apartement nya, ia merasa harus menenangkan diri disana setelah kejadian di Villa saat itu, perlakuan kasar Reihan yang menyeretnya hingga kemobil membuatnya sedikit syok.
Ia mengenal lelaki itu sejak kecil, bahkan ia jauh lebih mengenal Rei daripada Raja.
Tapi untuk pertama kalinya Reihan berbuat sekasar itu padanya.
"Jangan pernah mengusik Nona Queen lagi! Jika kau ingin hidup tenang di keluarga Pramudza!" Ucapan Reihan saat itu.
"Sial!!" Umpatnya.
Bagaimana bisa dunianya berubah dalam waktu sekejap, hanya karena seorang Queenza? Wanita kampungan yang sama sekali tidak lebih baik darinya.
Ia merasa tak punya harapan lagi, keberadaannya di keluarga ini juga terancam karena gadis itu. "Aku harus cari cara, untuk menyingkirkan benalu itu!" Gumamnya, ia mencoba menghubungi Raisa untuk mencari dukungan namun nihil ponselnya tak bisa dihubungi.
"Ahghhhhh, bahkan Kak Raisa pun tak bisa kuhubungi." Lagi-lagi ia mengumpat kesal. Seandainya saja Kakek Andika masih ada, tentu padanyalah ia akan meminta tolong tapi nyatanya pria tua itu sudah tiada dan kini ia sendirian tak ada yang mendukung membuatnya merasa frustasi.
"Oke, Friska! Yang bisa lo lakukan saat ini hanya berpura-pura kalah dan menjadi anak baik." Ucapnya pada diri sendiri. "Mengalah bukan berarti kalah, kan!" Sambungnya, menyeringai.
Ia menghela nafas lalu masuk kedalam rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama dua belas tahun belakangan ini.
Ia terus melangkahkan kakinya, naik kelantai atas menuju kamar pribadinya. Namun langkahnya terhenti pada pintu kamar yang sedikit terbuka padahal biasanya kamar itu selalu terkunci rapat.
Ia hendak mengintip dari balik pintu, namun suara langkah kaki mengurungkan niatnya, membuatnya segera melanjutkan langkah dan masuk kekamarnya.
Dan ternyata itu Mami Maura yang memanggil lembut penghuni kamar itu untuk makan malam.
"Wanita itu disini?" Tanyanya dalam hati. Ia mengintip di balik pintu kamarnya.
"Hugh... Bahkan selama ini hanya pembantu yang selalu memanggilku untuk makan malam."
Friska menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, bayangan saat pertama kali masuk kerumah ini kembali hadir di ingatannya. Ia datang kerumah ini atas perintah Kakek Andika, orang yang kata ibunya adalah penolong keluarganya, hingga ibunya merelakannya untuk dibawa sebagai pengganti putri kecil anaknya yang meninggal dalam kecelakaan. Dan sejak saat itu ia tinggal dirumah ini bersama Keluarga ini.
Keluarga Pramudza memang memperlakukannya dengan baik, apapun yang ia inginkan bisa ia dapatkan dengan mudah. Tapi ia pun sadar, kehadirannya tidak benar-benar bisa menggantikan posisi gadis kecil mereka.
Meski dimanjakan dengan harta melimpah juga fasilitas mewah toh nyatanya dia tak bisa mendapatkan kasih sayang tulus dari keluarga ini terutama Raja yang selalu bersikap ketus padanya.
Tapi dulu ia tak pernah perduli yang terpenting baginya ia bisa melakukan dan mendapatkan apapun yang ia mau, namun sekarang setelah kehadiran gadis desa yang ternyata adalah gadis kecil mereka, ia merasa posisinya terancam.
Ia beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri tak lama terdengar suara ketukan pintu dan disusul suara pelayan memintanya turun untuk makan malam.
Ia turun dengan memberikan senyum termanisnya, duduk manis di kursi yang biasa ia tempati, namun Mami Maura memintanya pindah di kursi sebelah membuat otaknya serasa mendidih karena marah, tapi ia hanya menurut.
Dan ketika Queenza turun, menatap canggung semua orang, dia hanya bisa melayangkan tatapan tak suka tanpa bisa berbuat apa-apa, Pun saat Mami Maura meminta gadis itu duduk dikursi biasa ia duduki membuatnya sadar bahwa posisinya kini telah tergeser dan mungkin akan segera tersingkir.
__ADS_1
Ia hanya bisa berpura-pura makan dengan tenang sembari memutar bola mata jengah saat Mami Maura menyuapi gadis itu atau saat mendengar percakapan hangat keluarganya, hingga seorang pelayan memberi kabar tentang kedatangan tamu untuk Za.
Awalnya ia masih melanjutkan makannya tapi melihat yang lain beranjak untuk melihat siapa yang datang membuatnya ikut penasaran juga.
Dan....deg.
Hatinya terasa seperti dihantam benda ribuan ton melihat siapa tamu untuk gadis itu.
"Inder!" Gumamnya pelan.
Pria yang sangat disukainya itu terlihat menyeringai lebar pada Za.
Membuat hatinya yang telah remuk, semakin hancur hingga menjadi debu.
đşđşđşđşđşđş
Inder menyeringai lebar begitu melihat Za datang dengan mata membulat.
"Kau... benar-benar datang." Ucap Za, membuatnya terkekeh.
"Bukankah kau yang memintaku datang? Jadi aku datang kemari." Ucapnya.
"Tapi aku kan hanya bercanda, Inder! Aku tak bermaksud menantangmu."
Mereka saling mengunci pandangan,
"Ehhhem" Deheman Rendy membuat keduanya saling mengalihkan pandangan kearah lain.
"Malam, Om, Tante." Sapanya pada kedua paruh baya yang berjalan kearah mereka.
"Malam juga, Inder. sebuah kejutan kau datang kesini." Ucap Maura.
Ia tersenyum sembari melirik Za yang menunduk di tempatnya. "Maaf kalau menganggu malam-malam begini, Tante."
"Gak ganggu, kok. Tante malah senang." Ucap Maura. "Apa kamu kesini untuk bertemu Queen?"
Inder mengangguk. "Iya, Tante."
"Berarti kamu sudah tau kalau Queenza adalah..." Tanya Maura lagi yang langsung di angguki oleh Inder.
"Za sudah cerita semuanya, Tante." Ucapnya.
"Sepertinya kalian sangat dekat, hingga Queenza tidak menyimpan rahasia padamu." Ucap Papi Rendy.
__ADS_1
Ia tersenyum. "Sepertinya begitu, Om." Ucapnya seraya melirik Za yang membulatkan mata padanya.
"Ya sudah, Mi. Kita tinggalkan mereka berdua." Ucap Papi Rendy, kali ini Mami Maura mengangguk.
Huuuuuuh Za menghembus nafas lega begitu Mami dan Papinya pergi.
"Om Rendy dan Tante Maura sangat pengertian!" Ucap Inder, membuat Za mendelik padanya.
"Heiii kenapa mendelik seperti itu? Apa kau tidak senang aku datang." Ucapnya, seraya mendekat pada gadis itu.
"Bukan begitu." keluh Za.
"Itu berarti kau senang kan aku datang." Ucapnya menggoda, kemudian mengenggam tangan Za.
"Apa aku boleh menagih jawabanku sekarang?" Tanyanya.
Za menjadi gugup, "Harus sekarang?" Sesungguhnya ia sudah punya jawaban atas pernyataan cinta Inder, hanya saja ada ketakutan mengingat asal usul masa lalunya.
"Apa kau masih belum punya jawaban?"
Za menatap wajah Inder yang penuh harap. Ia menghela nafasnya. "Inder apa kau yakin dengan perasaanmu? Aku ini bukanlah siapa-siapa, aku hanya seorang anak angkat di keluarga ini, dan aku takut kamu akan kecewa begitu tahu kebenaran tentang masalaluku." Ucapnya sendu.
"Apa yang kau takutkan? Memangnya kenapa kalau kau anak angkat? Itu tak akan jadi masalah untukku ataupun keluargaku." Ucap Inder yakin.
Za menggeleng. "Bukan hanya karena itu, Inder! Aku adalah anak yang lahir..."
"Yang lahir di luar nikah, dan pernah di buang oleh ibumu saat bayi." Ucap Inder, memangkas perkataan Za.
Za menatap lelaki itu nanar."Kamu tau tentang itu?"
"Aku tau semuanya tentangmu!" Ucap Inder lembut, ia menangkup
wajah Za. "Dan aku pastikan keluargaku tidak akan mempermasalahkannya." Ucapnya, ia kembali menggenggam tangan gadis itu. lalu melanjutkan kata-katanya.
"Za, ketika aku jatuh cinta padamu, itu berarti aku akan menerima apa adanya dirimu! Tak perduli seburuk apapun asal usul, ataupun masa lalumu. itu tak akan mempengaruhi perasaanku." Ucap Inder, membuat mata Za berkaca-kaca karena terharu.
Za menghambur ke pelukan pria itu, "Apa ini berarti jawabannya, Iya?" Tanya Inder, membuat gadis itu mendongak.
"Apa aku masih harus menjawabnya?" Tanya Za, Inder menggeleng dan tersenyum.
Tatapan mereka saling terkunci satu sama lain, Inder mendekatkan wajahnya kearah Za namun gadis itu mendorong wajahnya dengan tangannya.
__ADS_1
Za menggeleng. "Aku tak mau kena malu karena terciduk Mami dan Papi."