Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Pesta Untuk Za 2


__ADS_3

"Sepertinya sekarang hanya pria itu yang ada di pikiranmu!"


"Kakak?" Za menunduk merasa tak enak hati pada kakaknya. "Maaf, kupikir tadi..."


"Inder!" Ucap Raja memotong perkataan Za. "Apa kau sedang menunggunya?"


Za menatap kakaknya, "Haruskah aku jujur pada kak Raja tentang hubunganku dengan Inder?" Batin Za.


Raja menghela nafasnya, diamnya Za sudah cukup memberinya jawaban.


"Tak perlu dijawab!" Sergahnya, "Ayo kakak ingin tunjukan sesuatu padamu!" Ucapnya seraya menarik tangan Za lembut.


Za mengikuti kemana sang kakak membawanya, meski hatinya kini tengah gelisah menanti seseorang yang belum kunjung datang.


Raja membawa Za ketempat yang sudah ia siapkan, mata Za terbelalak melihat Gazebo halaman belakang disulap menjadi tempat yang begitu indah dengan lilin dan juga bunga di sepanjang jalannya.


"Kau menyukainya?" Tanya Raja, dan ia segera mengangguk.


"Apa kakak yang menyiapkan semua ini?"


Raja mengangguk, "Ayo!" Ajaknya sembari menggandeng tangan sang adik untuk melangkah.


Kembali Za dibuat ternganga melihat semua makanan kesukaannya tertata di meja, ia menatap sang kakak berbinar.


"Kau masih mengingat semua makanan kesukaanku." Ucapnya terharu.


Raja tersenyum, "Aku akan ingat apapun itu tentangmu."


Za menghambur kepelukan kakaknya, "Terima kasih." Ucapnya. "Terima kasih, sudah jadi kakak terbaik untukku." Ucap Za.


Raja membelai lembut rambut Za, namun entah kenapa kata kakak terasa menganggu pikirannya. Entah kenapa ia tak suka mendengar julukan kakak terbaik yang diberikan Za, ada apa dengan hatinya? Apa sekarang ia mengnginkan Za menganggapnya lebih dari seorang kakak?


Za melepas pelukannya, "Aku adalah orang yang paling beruntung didunia, karena dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayangiku!" Ujarnya dengan bibir melengkung sempurna.


"Ayo kita makan, sebelum makanannya dingin."Ujar Raja.


Mereka makan dengan diselingi nostalgia tentang apa yang pernah mereka lakukan ditempat ini semasa kecil dulu. Hingga senyuman tak pernah lepas dari bibir mereka.


"Ahhh rasanya perutku sudah sangat penuh!" Ucap Za ketika Raja menyuapinya.

__ADS_1


Raja tersenyum, ia mengambil tisu dan membersihkan sisa makanan yang ada di bibir adiknya sembari menatap lekat wajah cantik sang adik, ada getar aneh kala tatapannya terpokus pada bibir ranum Za.


Tanpa sadar ia mendekatkan wajahnya, makin dekat, dan semakin dekat lagi.


"Kakak! biar aku saja." Ucap Za, mengambil tisu dari tangannya, gadis itu kemudian berdiri membelakanginya, memandang langit yang malam ini bertabur bintang.


Raja menggelengkan kepala berulang kali."*Apa yang baru saja kupikirkan? Bagaimana bisa aku berpikir untuk mencium adikku sendiri!"


Raja* menatap punggung adiknya, meski dari belakang dia bisa melihat kalau saat ini adiknya sedang merasa gugup atau gelisah.


Raja menghela nafasnya, ia berdiri lalu menggandeng tangan adiknya. "Kita kembali kedalam saja, takut Mami dan Papi mencarimu." Ucapnya. Ia memutuskan untuk membatalkan niatnya melihat bintang dari teropong bersama Za, sepertinya untuk saat ini berduaan dengan Za menjadi hal yang cukup berbahaya.


🌺🌺🌺🌺


Inder datang terlambat bersama Rega, ia harus rela terlambat demi menyiapkan hadiah kecil untuk kekasihnya itu.


Mereka masuk keruangan tamu rumah keluarga Pramudza, dan langsung disambut oleh tuan rumah dan juga orang tuanya. "Ini dia nih, yang dari tadi kita tunggu." Seloroh Maura, "Cowok-cowok ganteng keluarga Prasetya." Sambung Maura.


Ia hanya tersenyum menanggapi, sembari matanya tak berhenti menyisir ruangan itu berharap menemukan sosok yang ia cari.


"Vana, tidak ikut, Bun?" Tanya Rega pada Bundanya.


"Tidak, dia sedang kurang sehat apalagi Razka juga sedang dirumah, kau tau sendiri kan seperti apa saudaramu kalau suaminya sedang dirumah." Jawab Bundanya.


"Inder apa kau mencari sesuatu, atau seseorang?" Tanya Sang Ayah. "Ayah lihat kau celingukan saja dari tadi." Lanjutnya l.


"Maaf, Ayah!" Ucapnya. "Emhhhh Za dimana, Om?" Tanyanya membuat semua orang tergelak.


"Jadi dari tadi kau mencari Queenza?" Tanya Rendy, masih belum menghentikan tawanya.


"Wahhh Ren, sepertinya kita akan berbesan!" Ucap sang Ayah.


"Dari pertama melihat kedekatan mereka aku tau, sepertinya hubungan mereka lebih dari sekedar teman!" Ucap Rangga.


Dan banyak lagi godaan dari para orangtua padanya. Ia hanya tersenyum kikuk, tak tau harus menjawab apa.


"Tenang saja, Nak! Tante mengenalmu dari kecil dan sepertinya kau memiliki kriteria menantu idaman." Ujar Maura menggoda Inder.


"Sudahlah berhenti menggoda putraku, apa kalian tidak lihat wajahnya sudah semerah kepiting rebus." Ucap Bunda Arini, membuat para orangtua justru semakin gencar menggodanya.

__ADS_1


"Gimana menurut mbak Resha? Apa putra ku cocok untuk putri cantikmu itu?"


"Siapapun yang dipilih Za nanti, aku akan mendukungnya." Ucap Bunda Resha.


"Tuh, udah dapat lampu ijo dari Bundanya Za." Goda Rega ikut-ikutan.


"Alhamdulillah, berarti tinggal nunggu persetujuan Za, aja nih." Ucap Maura.


"Tante tenang aja, hubungan mereka lebih dari yang kalian tahu selama ini." Sambut Rega yang dihadiahi pelototan dari Inder.


"Dasar mulut ember." Hardiknya.


"Emhhh jadi dibelakang kami kalian menjalin hubungan?" Tanya Rendy, dengan wajah serius.


"Emhhh kami tak bermaksud menyembunyikannya dari kalian." Ucapnya dengan hati yang kini berdebar.


Rendy tersenyum mendengar ucapan Inder yang secara tidak langsung mengakui hubungannya dengan sang putri. "Kau tenang saja, Nak! Jika memang kalian mempunyai hubungan kami justru sangat senang, Bukan begitu, Sayang?" Ucapnya sembari menatap sang istri.


"Benar, sayang! Dan seperti kata mbak Resha, siapapun pilihan Queen kita akan mendukungnya. Apalagi jika itu adalah kamu, Nak." Ucap Maura, membuat Inder tersenyum lega.


"Apa itu berarti aku sudah dapat restu?" Ucapnya membuat semua orang tertawa.


"Astaga, Nak. Apa kau sudah tidak sabar! Wahhh sepertinya pulang kerumah putraku akan merengek minta dilamarkan." Goda Ayah nya.


"Kau benar, Ayah! Dan, Ra. Bersiaplah karena sepertinya setelah pesta ini kita akan disibukkan dengan pesta-pesta berikutnya." Ucap Bunda Arini yang diangguki oleh Mami Maura.


"Dan itu berarti kau benar-benar harus tinggal disini, Mbak. Karena setelah ini sepertinya putri kita akan segera dilamar!" Ujar Mami Maura.


"Siapa yang akan dilamar?"


Suara dari belakang mereka membuat semua orang menoleh bersamaan, "Darimana saja kalian?" Ujar Mami Maura.


"Kami habis makan malam di halaman belakang." Jawab Raja. "Mam, siapa yang akan dilamar?" Tanyanya kemudian.


Maura menghampiri putrinya, "Adikmu! Kau tau Raja? Adikmu ini ternyata sudah dewasa, dibelakang kita dia sudah menjalin hubungan bersama seorang pria!"


Deg.


Jantung Raja seolah terlepas dari tempatnya, Queenza menjalin hubungan dengan seorang pria? Kenapa terdengar begitu menyesakkan baginya.

__ADS_1


"Dan mungkin setelah pesta ini usai, kita akan kembali disibukkan untuk pesta berikutnya, Pertunangan, lamaran atau bahkan pernikahan!" Sambung Mami Maura, yang entah mengapa membuat hatinya makin berdenyut nyeri, hingga sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulutnya.


"Aku tidak setuju!"


__ADS_2