
Assalammualaikum semuaa๐๐ Maaf ya baru bisa up๐ mertuaku masih belum sembuh, jadi cuman bisa up sesempatnya๐ makasih buat kalian yang masih tetap stay di novel remahanku ini, makasih buat semua dukungan kalian ๐
Maafkan jika masih terdapat banyak kekurangan dari tulisanku ini lov u all, and tankyu so much๐๐
Oh ya cuman sekedar informasi novel ini cuman tinggal beberapa bab lagi abis itu beneran tamat. Selanjutnya aku mau fokus ke Hika dulu, Ya๐ kasian karya ku yang satu itu dah cukup lama terabaikan, setelah tamat Hika, ada rencana mau bikin kisahnya Alika sama Mas Rega๐
Mohon doanya semoga semua dilancarkan๐
Ada yang kangen Za sama Inder? Kita balik kekisah mereka dulu ya!,
Happy reading๐
๐บ๐บ๐บ๐บ
Inder terbangun dari tidurnya ketika tak merasakan kehadiran sang istri disamping tempat tidurnya. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya, kemudian memakai pakaiannya lalu segera beranjak turun untuk mencari istrinya.
Suara berisik dari arah dapur membuatnya melangkahkan kaki menuju tempat itu. Ia tersenyum mendapati istrinya sedang sibuk berkutat dengan berbagai bahan masakan.
"Kau sedang masak apa, sayang?" Tanyanya seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Kau mengejutkanku, Inder!" Protes Za, sebelum menjawab pertanyaannya. "Aku mau masak nasi goreng sosis untuk sarapan kita." Sambungnya.
"Kenapa kau yang masak? Memangnya Mbak Tami kemana?" Tanyanya tanpa melepas pelukannya, bahkan kini bibirnya mulai menciumi tengkuk lalu turun menyusuri leher jenjang sang istri membuat gadis itu meremang.
"Inder!" Sergah Za, sambil berusaha melepaskan diri dari suaminya. Za berbalik seraya membulatkan mata pada sang suami yang sudah mengganggunya. "Kita akan kelaparan kalau kau tak berhenti menggangguku!" Sungutnya kesal.
Inder terkekeh, melihat reaksi sang istri. "Memangnya Mbak Tami kemana, hemz? Kenapa istriku yang cantik sampai harus turun kedapur untuk membuat sarapan?" Tanyanya.
Za kembali berbalik, menyelesaikan pekerjaannya. "Mbak Tami semalam izin pulang, anaknya sakit jadi dia izin untuk menengok dan merawat anaknya." Ucap Za.
Inder menyeringai mendengar penuturan istrinya, "Itu berarti hanya ada kita disini?" Ucapnya, seraya lebih mendekat pada istrinya, Za mengangguk polos.
"Inder apa yang kau lakukan?" Pekik Za, saat suaminya tiba-tiba membopongnya, dan membawanya menjauh dari dapur.
"Aku... mau sarapan!" Ucapnya sembari tersenyum penuh arti.
"sarapan? Lalu kenapa malah menggendongku begini? Turunkan aku, biar kulanjutkan memasak nasi gorengnya biar kita bisa makan" Pinta Za.
__ADS_1
"Tapi aku lebih suka memakanmu dari pada makan nasi goreng!" Ucapnya sembari melangkah meniti anak tangga menuju kamar mereka.
"Wahhh aku baru tau kalau suamiku ternyata suka makan orang!" Godanya, pura-pura tak mengerti maksud suaminya.
Inder menggeleng."Hanya memakanmu, Sayang! tidak yang lainnya."
Inder membaringkan tubuh istrinya, matanya sudah dipenuhi oleh gairah. "Apa kau menyuruhku untuk tidur lagi, sayang?" Tanya Za, tersenyum menggoda.
Inder menggeleng." Aku ingin mengajakmu melakukan hal yang menyenangkan!" Ucapnya sembari mendekatkan wajah mereka, mengecup lembut bibir istrinya, lalu turun menyusuri leher jenjang Za yang selalu menjadi candu baginya.
"Emhhh....kau ada syuting jam sembilan, Sayang! Kau bisa terlambat kalau kita melakukan ini lagi!" Ujar Za mengingatkan disela erangannya. Inder tak menjawab ia masih menikmati aktivitasnya, tangannya kini ikut bergerak meremas bukit kembar istrinya, membuat wanita itu mendesah, kepalanya sudah berada di depan tempat vavoritnya menikmati puncak gunung kembar itu dengan rakusnya. "Kenapa kau tidak ada puasnya, huh!"
"Aku tak akan pernah puas jika itu denganmu! Kau sudah seperti candu bagiku." Ujar Inder, seraya kembali menyerang dititik sensitif istrinya.
Za mendesah menikmati apapun yang dilakukan suaminya. keduanya benar-benar menikmati aktivitas pagi ini hingga getar ponsel diatas nakas tak diberikan mereka.
Inder memposisikan dirinya dan mulai melakukan penyatuan tubuh mereka, Za memeluk erat tubuh sang suami. erangan dan ******* memenuhi ruang kamar mereka bersama napas yang memburu menuntut kepuasan. Keduanya tenggelam dalam kenikmatan menjadikan ruangan ber ac yang dingin itu memanas dan membuat keduanya bermandikan keringat. Inder mulai mempercepat gerakannya hingga keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatannya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Sementara ditempat lain Rega hampir membanting ponselnya karena kesal. Ini sudah jam sembilan lewat, tapi Inder masih belum sampai dilokasi syuting. Kru film sudah beberapa kali menghubunginya menanyakan keberadaan lelaki itu.
Ia tak putus asa, dan mencoba menghubungi Za, nihil sama saja ponselnya aktif tapi tak diangkat. Ada rasa khawatir pada sahabatnya itu, "Apa Inder sakit? Atau Za yang sakit?" Pikirnya.
Rega memutuskan untuk menyusul pria itu kerumahnya. Ia keluar dari ruangannya namun, langkahnya terhenti begitu melihat gadis yang baru saja datang dari arah pantry dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
"Ikut saya kerumah Za sekarang!" Titahnya sambil melangkah pergi melewati gadis itu. membuat mau tak mau gadis itu ikut mengekor dibelakangnya.
Mereka berdua pergi menuju rumahnya Za dalam diam. Tak ada percakapan apalagi perdebatan seperti yang biasa terjadi jika mereka bersama, Alika lebih memilih sibuk dengan ponselnya sementara Rega pokus menyetir meski sesekali ekor matanya mengawasi aktivitas gadis disampingnya.
Mobil mereka sudah memasuki halaman rumah Inder dan Za. keberadaan mobil Inder yang terparkir di halaman rumah, membuat pria itu semakin merasa khawatir, tak biasanya pria itu terlambat. "Apa dia lupa kalau pagi ini ada syuting ya?"
Rega melirik gadis disampingnya yang masih sibuk dengan ponselnya. membuat pria itu menggeram kesal.
"Bisa gak sih ponselnya disimpan dulu! dilarang main ponsel saat jam kerja!" Sungutnya.
Alika menyimpan kembali ponselnya kesaku pakaiannya lalu keluar dari mobil tanpa memperdulikan gerutuan atasannya. Ia tak beniat berdebat dengan pria itu lebih memilih melangkah menuju rumah sepupunya dan memencet bel. Rega mengikuti langkah Alika, Memperhatikan gadis yang sudah dua hari ini bersikap sangat aneh padanya.
__ADS_1
"Mungkin mereka masih tidur!" Ucap Rega.
Alika berhenti memencet bel dan duduk di kursi yang ada diteras rumah Inder, Ia benar-benar tak berniat bicara pada lelaki yang kini menatapnya tajam.
Alika tak memperdulikannya, lebih memilih membuang muka mengalihkan perhatiannya membuat pria itu semakin merasa kesal hingga mendekat kekursi tempatnya duduk lalu membungkukkan tubuhnya dan kini pria itu mengungkung tubuh mungilnya.
"Sampai kapan kau bersikap seperti ini padaku, Al?" Tanyanya kesal. "Katakan apa kesalahanku? Kenapa kau jadi bersikap dingin seperti ini padaku?"
"Saya tidak bersikap dingin! Saya hanya bersikap sewajarnya sebagai seorang bawahan pada atasannya.!" Jawab Alika dengan raut datar.
"Apa maksudmu? Atasan, bawahan? Kau bahkan bicara formal padaku sekarang? Ada apa denganmu?"
"Bukankah memang seharusnya.saya bicara formal pada atasan saya? Dan satu lagi pak! Saya ini Pegawai Anda, bukan salah satu dari wanita- wanita Anda yang bisa Anda sentuh seenaknya!" Tegas Alika.
Suara pintu yang terbuka dari dalam mengalihkan perhatian keduanya, Alika mendorong tubuh Rega menjauh lalu segera beranjak menuju pintu.
"Inder apa Za baik-baik saja?" Tanya Alika begitu melihat Inder yang membuka pintu.
"Za? Za ku baik-baik saja!" Jawabnya.
"Lalu kenapa kalian berdua tidak mengangkat telpon gue?" Sungut Rega yang muncul dari belakang. "Lo tau, sudah puluhan kali gue ditelpon sama crew nanyain keberadaan lo!"
"Oh...soal itu? Ya sudah ayo berangkat, gue udah siap!" Ucap Inder tanpa menjawab pertanyaan Rega.
Baru selangkah Inder kembali berhenti dan berbalik. "Al, kamu temenin Za saja hari ini,! Biar urusan kantor jadi urusanku dan Rega!" Ucap Inder.
"Baiklah!" Jawab Alika.
"Dan tolong masakan sesuatu untuk, Za. Dia pasti akan merasa sangat lapar saat bangun nanti!" Ucap Inder lagi.
"Za masih tidur? Kau bilang dia baik-baik saja!"
"Dia memang baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan!" Jawab Inder sambil terkekeh kecil.
"Sekarang gue paham apa yang bikin lo terlambat!" Cibir Rega, yang dibalas kekehan oleh Inder.
"Tolong temani Za, ya! siang nanti akan ada orang yang gantiin mbak Tami untuk sementara." Ujar Inder yang di angguki Alika. Inder kembali melangkah menuju mobilnya.
__ADS_1
"Pembicaraan kita belum selesai, Al! Kita akan bicara lagi nanti!" Ucap Rega sambil berlalu menghampiri Inder.