
Sebelumnya aku mau mohon maaf dulu karena baru bisa up sekarang๐ Padahal aku janjinya akan up kemarin siang, tapi apalah dayaku karena tiba-tiba aja ada suatu urusan yang membuatku harus nyimpen dulu naskahku di draf dan baru bisa up sekarang ini.
Ini bab terakhir, dan kuharap endingnya gak mengecewakan kalian semua, Makasih untuk semua dukungannya selama ini and
(Happy reading.)
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Sebuah sidang putusan digelar disebuah pengadilan, dengan terdakwa Friska nathalia dan Mike Morgan. Setelah melewati persidangan yang cukup panjang dan pelik, Hakim akhirnya memberi Friska hukuman penjara seumur hidup atas kasus penculikan Za, sedangkan Mike dihukum lima belas tahun untuk kasus yang sama.
Papi Rendy dan Mami Maura mendatangi Friska sebelum dibawa oleh petugas kepolisian.
"Kami harap, ini jadi pelajaran untukmu, Fris! Agar kedepannya kamu bisa lebih menggunakan hati dan akal sehatmu dibandingkan egomu sebelum bertindak." Ucap Papi Rendy.
Friska tak menjawab, ia hanya tersenyum masam.dan kemudian berlalu menuju mobil polisi yang akan membawanya.
"Semoga dia akan baik-baik saja dipenjara nanti, ya Pi." Ucap Mami Maura penuh harap.
๐บ๐บ๐บ
Malam harinya seluruh keluarga sedang berkumpul, keluarga ini baru selesai menggelar syukuran kecil untuk kepulangan Raja dari rumah sakit serta kehamilan Maya. Acara akan dilanjutkan dengan makan malam keluarga.
Wajah-wajah bahagia terpancar dari seluruh keluarga pramudza, dan keluarga Maya juga prasetya yang ikut berbahagia atas kebahagiaan sahabatnya itu. Bahkan Bunda Resha pun ikut andil dalam acara ini.
Queenza memandang kebahagiaan keluarganya, "Semua akan terasa sempurna jika saja kau berada disini bersama kami, Al." Gumamnya sedih.
"Selamat malam semuanya, maaf kami terlambat." Ucap seorang wanita paruh baya yang datang bersama keluarganya.
Semua orang megalihkan pandangan mereka, sedangkan Za segera beranjak dari tempatnya. "Za kau mau kemana?" tanya Maya saat melihat adik iparnya akan pergi.
"Aku lelah, mau istirahat!" Ucapnya. "Maaf semuanya aku istirahat duluan." Pamitnya pada semua orang.
Za melangkah menuju kamarnya, ia melayangkan tatapan sinis pada pasangan muda yang baru datang bersama orang tuanya itu sebelum benar-benar pergi meninggalkan semua orang.
Semua orang hanya menatap punggung wanita itu, mereka tau benar apa yang membuat wanita yang tengah hamil tua itu segera pergi. "Inder susul Za dulu, ya Pi!" Ucap Inder yang diangguki Papi Rendy.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Za berdiri dibalkon kamarnya, semilir angin malam menerpa wajahnya yang sudah basah.
Kepergian sang sepupu sebulan yang lalu masih begitu melukainya, hingga saat melihat penyebab kepergian gadis itu hatinya sangat merasa kesal.
Gep. Pelukan sang suami membuatnya sedikit terkejut. "Cuaca di luar sangat dingin tidak bagus untukmu dan bayi kita." Ucap Inder seraya menempatkan kepalanya di bahu sang istri.
Za mengusap pipinya yang basah, "Aku masih ingin disini Inder." Ucapnya.
Inder mengangkat kepalanya dari bahu sang istri, tangannya yang melingkar ia lepaskan dan membalikkan tubuh istrinya hingga kini mereka saling berhadapan.
"Kau menangis?" tanya nya saat melihat mata sang istri yang merah. "Ada apa?"
Za menggeleng pelan. "Hanya saja aku sangat merindukan Alika saat ini, entah dimana dia sekarang, bagaimana keadaannya, aku sangat menghawatirkannya." Ucap Za. "Sudah sebulan dan dia masih belum mengabariku, aku takut terjadi sesuatu padanya, Inder." Keluh Za.
Inder menghela napasnya, "Jangan terlalu banyak pikiran, sayang! Ingat kau sedang hamil, itu tidak akan baik untuk anak kita." Ujar Inder.
"Dan kau tak perlu khawatir tentang Alika, aku sudah mengutus seseorang untuk mencari keberadaannya." Ucap Inder mencoba menenangkan istrinya.
"Benarkah? Lalu apa kau sudah tahu dia berada dimana?" tanya Za antusias.
Inder menggeleng. "Sayangnya belum. Tapi aku sudah meminta bantuan pada Raja dan Reihan untuk mencarinya, kau sendiri tahu kan seberapa hebatnya orang-orang kakakmu itu? Jika kau yang hilang bertahun-tahun saja bisa mereka temukan, apalagi Alika yang baru pergi sebulan." Hibur Inder, dan itu berhasil membuat istrinya itu sedikit lega.
"Aku harap kalian segera menemukannya." Ucap Za penuh harap.
Inder mengelus lembut wajah istrinya, "Aku akan pastikan beberapa hari kedepan kami akan menemukannya, jadi bersabarlah dan jangan sampai kamu stres, aku tak ingin terjadi apapun padamu dan bayi kita." Ucapnya.
Za menatap suaminya nanar, ia memeluk sang suami dan merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Maafkan aku karena selalu membuatmu khawatir." Ucap Za.
__ADS_1
"Tak apa, aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu." Ucap Inder sambil mengecup puncak kepala istrinya.
"Uhhhh... Inder!" Pekik Za ketika merasakan sakit di perutnya. tangannya meremas pinggang suaminya erat.
"Ada apa, Sayang?" tanya Inder seraya menatap wajah istrinya.
"Ssshhhh, Inder perutku...Uhhhhh." Desis Za membuat pria itu panik.
"Sayang, ada apa? Apa kau merasa sakit? Mana yang sakit sini biar kupijit."
"Inder.... Uhhhh.....Sshhhh." Hanya desisan yang keluar dari mulut Za.
"Kita masuk kedalam dulu, ya!" Ucapnya yang diangguki oleh sang istri.
Inder memapah istrinya perlahan. "Sssshhhh, Inder sakit!" Ucap Za untuk kesekian kalinya.
Membuat pria itu semakin panik dan langsung membopong tubuh istrinya. "Tahan sebentar kita kerumah sakit sekarang, ya!" Ucapnya seraya membopong tubuh sang istri.
Dengan perlahan Inder meniti anak tangga, ia mencoba setenang mungkin meski sesungguhnya tangannya sudah gemetar.
"Inder ada apa?" tanya Mami Maura seraya menghampiri mereka di susul oleh semua anggota keluarga.
"Za mengeluh perutnya sakit, Mam!" Ucapnya.
Mami Maura meraba perut putrinya itu. "Sepertinya kamu akan melahirkan sayang!" Ucap Mami Maura saat merasakan perut Za mengencang.
"Tapi dokter bilang HPL nya masih dua mingguan lagi, Mam." Ujar Inder.
Tapi Mami mu benar, sepertinya istrimu akan segera melahirkan, cepat kita bawa dia ke rumah sakit." Ucap Bunda Resha.
"Ja, tolong siapkan mobil!" Titah Papi Rendy yang langsung dituruti putranya.
Inder melanjutkan langkahnya, dan membawa Za menuju mobil yang sudah disiapkan.
Mobil yang dikendarai Raja itu melaju menuju rumah sakit terdekat, bersama mobil lainnya yang berkonvoi di belakang mereka. Reihan memilih mengendarai motor gedenya agar bisa lebih cepat sampai ke rumah sakit, dengan sigap ia yang sudah sampai lebih dulu memanggil dokter dan para perawat agar bisa segera melakukan tindakan begitu mobil tuannya sampai.
Raut tegang sangat kentara di wajah aktor tampan itu saat mengantar sang istri menuju ruang bersalin rumah sakit. Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan istrinya. "Kamu kuat, Sayang! Kamu pasti bisa!" Ucapnya dengan bibir gemetar, ada rasa takut saat melihat sang Istri begitu kesakitan.
"Tuhan ... bisakah pindahkan rasa sakit itu padaku saja?" Pintanya dalam hati.
"Anda bisa menunggu di luar, Pak!" Ucap dokter.
Inder menggeleng. "Saya ingin menemani istri saya dokter, saya janji tidak akan mengganggu tapi tolong izinkan saya menemani istri saya!"
"Baiklah, silahkan."
"Sshhhhh, uhhhhhh."
"Mana yang sakit, biar ku pijit." Ucap Inder dengan mata berkaca-kaca, rasanya ia tak tega melihat istrinya menahan sakit seperti itu. "Maafkan aku, karena membuatmu harus merasakan kesakitan seperti ini." Ucapnya.
Za tersenyum, "Aku tidak apa-apa, Sayang." Ucapnya seraya menahan rasa mulas yang kembali datang.
"Katakan, apa yang bisa kulakukan untuk mengurangi sakitmu? Aku akan melakukan apa saja, dan jika bisa biar aku yang menggantikanmu." Ucapnya serius.
Za tertawa kecil, kemudian mendesis." Aku baik-baik saja, rasa sakit ini normal untuk orang melahirkan sayang." Ucapnya, ia menghela napasnya kemudian menghembuskannya perlahan untuk mengurangi rasa sakit di perutnya, Inder mengecup puncak kepala istrinya, ia terus menggenggam tangan Za menyalurkan kekuatan.
Seorang dokter datang, dan melihat pembukaan jalan lahir Za. "Alhamdulillah pembukaannya sudah sempurna.
"Siap, ya Mom! Ikuti intruksi saya." Ucap dokter yang diangguki oleh Za.
Za masih mencoba tersenyum, sekuat tenaga berusaha untuk tak merintih, dengan tangan yang terus digenggam oleh suaminya ia mengikuti semua intruksi dokter, hingga akhirnya rasa sakit itu semakin menjadi dan bayi dalam perutnya mengajaknya untuk mengejan.
Dan....setelah lebih dari lima jam berjuang, seorang bayi laki-laki lahir dengan sehat dan sempurna.
Dokter langsung melakukan Imd, membiarkan bayi yang baru lahir itu mencari sumber kehidupannya. Za tersenyum bahagia melihat bayi mungil itu bergerak mencari asi nya.
__ADS_1
Inder mencium.kening istrinya dengan mesra. "Terima kasih, Sayang! Terima kasih sudah berjuang untuk melahirkan bayi kita." Ucapnya dengan air mata yang sudah membasahi Pipinya.
Za tersenyum mengusap pipi suaminya, "Terima kasih juga karena sudah jadi suami terbaik untukku." Ucap Za.
keduanya kini terpaku pada malaikat kecil yang kini berada didekapan Queenza. "Welcome to the world, my baby!" Ucap Inder.
Za sedikit meringis saat bayinya berhasil mendapatkan asi pertamanya. Sedikit perih, tapi terasa begitu membahagiakan baginya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Pagi hari yang begitu ramai, ruangan President suite tempat Za dirawat sudah penuh oleh keluarga prasetya dan keluarga pramudza.
Semua bergiliran melihat bayi menggemaskan yang baru saja dilahirkan itu. "Dia benar-benar tampan dan menggemaskan." Ucap Ivana sembari memainkan jemari keponakannya.
"Siapa dulu ayahnya!" Sahut Inder bangga.
"Ceh. Dia bahkan lebih mirip Za daripada kau!" Cibir Ivana.
"Tentu saja, yang penting dia tidak mirip denganmu." Balas Inder.
Za tersenyum melihat perdebatan kakak beradik itu, sementara Bunda Arini sudah geleng-geleng kepala. "Kalian ini sudah punya anak masih saja bertengkar, malu dong sama anak kalian nanti." Omel Bunda Arini membuat keduanya diam seketika.
Za tertawa kecil, melihat suaminya diomeli sang mertua. kini giliran para orang tua yang bergantian menggendong putranya.
"Kau sudah menyiapkan Nama untuknya, Inder?" tanya Papi Rendy.
"Sudah, Pih!" Ucapnya membuat semua orang menatapnya. "Kaisar Gibran Prasetya." Ucapnya.
"Nama yang bagus! Papi menyukainya." Ucap Papi Rendy.
"Papi boleh aku coba menggendongnya?" tanya Maya.
"Tentu, Nak. Kau dan Raja harus mulai belajar menggendong!" Ucap Papi Rendy.
Sementara Baby Kai bersama Maya, Inder menghampiri sang istri."Sayang, aku keluar sebentar untuk press conference." Ucap Inder pada sang istri.
"Apa aku perlu ikut?" tanyanya.
Inder menggeleng. "Tidak perlu, biar aku, dan para dokter saja yang mewakili." Ucapnya.
"Baiklah kalau begitu."
"Aku pergi sebentar, Ya." Ucap Inder seraya mengecup kening istrinya.
Za menatap kebahagiaan seluruh keluarganya dengan senyuman, ia merasa sangat bersyukur bayi nya tak mengalami apa yang ia alami dulu, karena bayinya mendapatkan seluruh perhatian dan kasih sayang dari seluruh keluarga.
Sebuah notifikasi pesan dari sebuah nomor tak di kenal membuatnya meraih benda pipih itu. Dan matanya berbinar bahagia begitu membuka isi pesan itu. Sebuah pesan dari Alika melengkapi kebahagiaannya hari ini.
๐บ๐บ๐บ
Matahari sudah beranjak keperaduannya, satu persatu keluarga juga sudah berpamitan untuk pulang. Kini hanya tinggal mereka bertiga.
Inder menatap bayinya yang sedang mengasi, senyum tak pernah lepas dari bibirnya, ia masih tak menyangka ia sudah jadi Daddy sekarang. Inder dengan hati-hati menidurkan anaknya si box bayi, dan kembali duduk disamping istrinya.
"Tadi aku mendapatkan pesan dari Alika." Cetus Queenza. "Aku bisa lega sekarang, setidaknya aku tau kalau dia baik-baik saja." Sambungnya.
"Syukurlah kalau begitu, aku memang sengaja mengundang para wartawan dan melakukan press conference, tadi Raja bilang kalau Alika kemungkinan besar masih di indonesia, jadi dengan melakukan press conference secara live tadi, dia akan tahu kalau kau sudah melahirkan dan seperti dugaanku dia pasti langsung menghubungimu." Tutur Inder.
Za menatap suaminya."Jadi kau sengaja melakukannya supaya Alika menghubungiku?" Za, dan Inder mengangguk.
"Aku tidak mau kau terus kepikiran, Sayang. Aku tak suka melihatmu bersedih." Ucap Inder.
"Terima kasih." Ucap Za. "Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan demi aku, terima kasih untuk semua cinta yang begitu besar untukku, dan terima kasih sudah menjadi suamiku." Ucap Za.
Inder mengecup kening istrinya. "Kau tak perlu berterima kasih, Peri burungku! Kau pantas mendapatkan semuanya." Ucap Inder tulus.
__ADS_1
Za tersenyum mendengar ucapan suaminya, sebuah kecupan singkat ia daratkan dibibir lelaki itu, kecupan yang berakhir dengan ciuman hangat dari suaminya.
"Terima kasih Tuhan, sudah menjadikan dia sebagai takdir cintaku."