
"Maya cepat pulang, ibumu masuk rumah sakit!"
Ucapan sang Bibi dari sebrang telpon membuat Maya segera beranjak dari tempatnya."Ibu kenapa, Bibi?" Tanyanya cemas.
"Bibi tidak bisa cerita di telepon, kamu pulang saja akan Bibi ceritakan semuanya nanti!"
"Baik, Bi! Maya akan izin dulu sama atasan May."
Dengan hati Khawatir ia pergi menemui Ivana yang sedang berbincang dengan teman-temannya. "Maaf, Bu. Boleh bicara sebentar?"
"Ada apa, May?"
"Ibu saya masuk rumahsakit, Bolehkah saya izin untuk pulang duluan, sekaligus izin untuk cuti beberapa hari, karna saya harus segera pulang kekampung!"
Ivana terlihat berpikir sebentar, "Tentu!" Jawabnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan diberikannnya pada Maya. "Ini, untuk pegangan kamu." Ucapnya seraya menyodorkan uang tersebut. "Ini sudah cukup malam, kau tunggulah diluar, saya akan menyuruh supir untuk mengantarmu."
"Terima kasih, Bu." Ucap Ivana, ia sangat bersyukur mempunyai majikan sebaik Ivana. "Kalau begitu saya permisi!"
sesuai perintah dari Ivana, Maya menunggu diluar hotel dan sebuah mobil datang mendekat. "Nona Maya?" Tanya sang supir memastikan.
Ia mengangguk, kemudian sang supir membukakan pintu, dan mempersilahkannya untuk masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan Maya sangat gelisah, ia terus mencoba menghubungi bibinya kembali.
"Halo, Bibi. Bagaimana keadaan Ibu?"
"Ibumu sudah masuk kamar rawat, tapi kamu tetap harus pulang Maya, Ibumu sangat membutuhkanmu saat ini!" Jawab Bibinya disebrang telepon.
"Iya, Bi. Ini Maya sedang dalam perjalanan kok, tolong jaga Ibu sampai Maya datang, ya bi." Pintanya.
"Kamu sudah dalam perjalanan? Syukurlah kalau begitu."
"Tolong kirim alamat rumah sakitnya, Bi. Biar Maya langsung kesana!" Ucap Maya lagi, namun Bibinya melarangnya.
"Emhhh kau pulang kerumah saja!"
"Kerumah? Bukankah lebih baik aku langsung kerumah sakit, Bi?" Tukas Maya, merasa heran.
"Tidak! Kau pasti lelah, pulanglah dulu dan istirahatlah sejenak, baru besok pagi kerumah sakit." Sergah sang Bibi.
"Aku tidak apa-apa, Bi. Kirim saja alamatnya, aku bisa istirahat dirumah sakit saja." Ucap Maya, ia ingin segera melihat keadaan Ibunya.
"Menurutlah, Maya. Pulanglah kerumahmu terlebih dahulu!"
"Baiklah, Bi." Meski merasa janggal Maya mengalah, ia menuruti keinginan Bibinya, toh sebentar lagi pagi, ia bisa langsung kerumah sakit begitu pagi tiba.
Ia sampai dirumah, ia turun dari mobil seraya mengucapkan terimakasih. Ia baru akan mengetuk pintu, tapi pintu yang sedikit terbuka membuatnya langsung masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
Maya merebahkan tubuhnya disofa ruang tengah, ia baru akan terlelap ketika suara ketukan pintu membuatnya kembali membuka mata, dan beranjak untuk membukanya.
Dan Matanya membelalak lebar ketika melihat wajah lelaki yang kini menyeringai padanya.
"Kau...? Mau apa kau kesini?!" Pekiknya, Maya mencoba menutup pintu rumahnya, tapi dua pria berbadan kekar menghalangi dan mendorong kuat pintu itu.
Maya mundur, ia berusaha mencari tempat yang bisa melindunginya dari pria yang kini sudah berjalan mendekatinya.
"Tolooooong!" Teriaknya, berharap ada seseorang yang mendengar dan menolongnya.
"Tidak akan ada yang menolongmu, cantik!" Ucap pria paruh baya yang tak lain adalah kepala desa. "Menurutlah dan akan kulunaskan semua hutang ayahmu."
"Toloooooong..." Sekali lagi ia berteriak.
"Diamlah sayang, nikmati saja permainan ini."
Pria itu menarik kasar tangannya hingga ia terpelanting ke sofa, tak mau membuang kesempatan pria paruh baya itu menindih tubuhnya, ia meronta dan tak berhenti berteriak.
"Kubilang diam! Aku sudah membayar mahal pada Bibimu agar bisa menikmati tubuhmu malam ini!" Ucap pria itu, membuat matanya membelalak tak percaya. Bagaimana bisa Bibinya setega ini menjebaknya.
Maya terus berontak, mungkin tubuhnya sudah tak suci lagi, tapi dinodai untuk kedua kalinya? Tidak ia tak akan membiarkan itu terjadi!
Ia terus melakukan perlawanan pada pria yang kini terus menyerukkan wajahnya. "Lepas...lepaskan aku brengsek!" Makinya.
Airmatanya terus meleleh, dalam hatinya ia terus berdoa. "Tuhan... tolong selamatkan aku kali ini!"
Raja mendengarkan semua yang Ucapan Maya, saat meminta izin pulang pada Ivana. Ia segera ikut keluar dari pesta itu, meminta Reihan untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Maya.
Jalanan yang lumayan lancar memuluskan pejalanan mereka, sehingga kurang dari tiga jam mereka sudah memasuki wilayah kota S.
Mobil yang ditumpangi Maya mulai memasuki kawasan pedesaan, membuat Reihan juga sigap mengekor meski sesekali menguap karena rasa kantuk yang mulai menyerang, hingga mobil itu berhenti disebuah rumah sederhana.
Maya terlihat keluar dari mobil dan menunduk mengucapkan terimakasih, kemudian masuk tergesa kerumah tersebut.
"Apa ini rumah gadis itu?" Tanya Raja.
"Benar, Tuan."
"Kita tunggu sebentar, Rei! Tadi kudengar Ibunya masuk rumah sakit, berarti ada kemungkinan dia akan pergi lagi." Ucap Raja.
"Baik, Tuan." Ucapnya seraya mematikan mesin mobilnya.
Cukup lama mereka menunggu tapi tak ada tanda-tanda gadis itu akan keluar dari rumah lagi.
"menurutmu apa dia tidak akan keluar lagi?" Tanya Raja pada sang asisten.
Reihan memperhatikan raut muka Tuannya, Untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi kekhawatiran sang Tuan Muda pada lawan jenis selain pada Queenza.
__ADS_1
"Jika anda mau, kita bisa menunggunya sampai pagi disini untuk memastikan apa Nona keluar lagi atau tidak!" Ujar Reihan, sembari kembali menguap, maklum saja hari sudah lewat tengah malam, dan ia belum tidur sedari pagi.
"Tidak! Aku tidak segila itu, Rei! Kita cari hotel saja dan kembali esok untuk mencari informasi." Ucap Raja.
Baru saja Reihan bersiap menyalakan mesin mobilnya, sebuah mobil datang dan berhenti di halaman rumah Maya. Tiga orang lelaki berbadan kekar dan seorang paruh baya keluar dari mobil itu dan mengetuk pintu Rumah Maya.
"Siapa mereka?" Tanya Raja, dijawab gelengan dari Reihan.
"Sebaiknya kita pastikan dulu kalau mereka bukan orang jahat, entah kenapa aku punya firasat buruk!" Ujar Raja.
Reihan menurut, ia mematikan mesin mobil dan kembali mengintai.
Dan mata mereka membelalak begitu melihat para pria itu memaksa masuk kerumah Maya, Pria paruh baya itu masuk dan menutup pintu rumah itu sedang para pria berbadan kekar itu menjaga diluar pintu.
"Toloooong...".Suara teriakan Maya terdengar sampai ketelinga mereka.
"Tuan!" Rei baru akan meminta perintah Tuannya, namun ketika ia menoleh kebelakang pria itu sudah keluar dari mobil dan menghampiri mereka, membuatnya mau tak mau ikut turun juga.
"Toloooong..." Sekali lagi Maya berteriak membuat keduanya mempercepat langkah namun, mereka dihadang oleh para pria yang besar badannya dua kali lebih besar dari mereka.
Bugh. Satu pukulan mengenai wajah Raja, membuat sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar.
Namun, itu tak membuat nyalinya menciut, ia justru membalas pria yang memukulnya dengan bringas.
Dengan dibantu Reihan, Ia memukul, dan menendang pria berbadan kekar itu beserta teman-temannnya hingga ketiganya menyerah dan melarikan diri.
"Lepaskan... lepaskan aku brengsek!" Teriakan histeris Maya kembali terdengar.
Membuat Raja bergegas menuju pintu, tapi ternyata pintu itu terkunci.
Brak... Pintu rumah itu di dobrak paksa membuatnya terbuka seketika, dan masuk kedalam rumah. Darahnya terasa mendidih saat melihat Maya sedang meronta sembari berteriak, tangannya menghalau wajah pria paruh baya yang hendak memaksakan kehendaknya.
Bugh sebuah tendangan darinya membuat pria itu terjengkang, disusul dengan pukulan membabi buta diwajahnya.
"Hentikan, Tuan! Jangan kotori tangan anda!" Ucap Reihan. Namun, ia tak menanggapinya, ia masih belum puas menghajar lelaki yang lebih pantas menjadi ayah Maya itu.
"Tuan! Nona Maya membutuhkan anda, lebih baik anda menenangkannya, dia pasti sangat ketakutan sekarang!" Ujar Reihan lagi, kali ini ia menoleh pada asistennya itu. "Serahkan dia pada saya!" Ucap Reihan.
Ia hempaskan tubuh tua pria itu dengan kasar. "Bawa dia kekantor polisi, pastikan dia mendapatkan hukuman yang berat!" Geramnya.
Dengan langkah gontai ia menghampiri gadis yang kini meringkuk disudut ruang tamu itu. Ia melepas jasnya lalu memakaikan pada tubuh gadis itu, untuk menutupi pakaiannya yang sudah tak berbentuk.
"Jangan sentuh saya!" Pekik gadis itu saat ia melampirkan jasnya.
"Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu." Ucap Raja, ia menatap gadis itu iba, bisa ia lihat tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Maya merundukan wajahnya, bahunya naik turun diiringi isakan yang semakin mengencang, Raja mengulurkan tangannya mengusap punggung gadis itu perlahan. "Tenanglah, kau sudah aman sekarang!" Ucapnya lirih.
__ADS_1