
Za terbangun saat hari sudah pagi, kepalanya terasa berputar membuat tubuhnya merasa bergolak. Za bermaksud untuk beranjak dan pergi kekamar mandi, tapi geraknya terhalang oleh jarum infus yang menempel di tangannya.
"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Inder yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Za hanya mengangguk, ia sedang menahan sesuatu diperutnya yang terasa mendesak ingin dikeluarkan.
"Ada apa? Kau ingin kekamar mandi?".Tanya suaminya lagi, dan ia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Dengan cekatan Inder mengambil botol infus dan membopongnya menuju kamar mandi.
Begitu berada di kamar mandi, Za sudah tak bisa menahannya ia memuntahkan semua isi perutnya dengan sabar Inder memijat tengkuk sang istri, hingga akhirnya ia terkulai lemas.
Setelah selesai Inder kembali membaringkan Za dengan hati-hati. "Masih merasa mual? Minum dulu sayang!" Tanyanya sembari mengusap penuh di kening Za, dan memberikan segelas air pada istrinya.
Za menggeleng. "Udah lebih baik, kok." Ucapnya. "Kenapa aku bisa ada dirumah sakit?" Tanyanya.
"Kau tenggelam semalam, apa kau tidak ingat?" Jawab Inder.
Za terdiam mencoba untuk mengingat kejadian semalam. "Ahh iya aku ingat!" Ucapnya.
"Aku memintamu menunggu bersama yang lain, kenapa kau pergi menuju kolam hemh?" Tanya Inder lagi.
Za mengerutkan keningnya berpikir, "Friska bilang kau menungguku di sana, jadi aku pergi ketempat yang ditunjuk Friska, ternyata kau tak ada di sana. Aku bermaksud untuk kembali, tapi seseorang mendorongku masuk kekolam." Jelas Za. Kini Inder sudah yakin kalau Friska dalang dibalik semua ini.
"Friska benar-benar sudah keterlaluan!" Geramnya. "Kau jangan khawatir, mulai sekarang aku sendiri yang akan menjagamu dan calon bayi kita!" Ucap Inder.
"Calon bayi kita?" Tanyanya tak mengerti.
Inder tersenyum lebar seraya menganggukkan kepalanya. "Iya, calon bayi kita! Kamu lagi hamil, Sayang!"
"Hamil? Aku hamil?" Tanya Za antusias.
"Iya, sebentar lagi kamu akan jadi seorang Mommy! Dan aku akan menjadi Daddy!" Sahut Inder dengan wajah berbinar.
Za tersenyum sumringah, ia mengelus perutnya yang masih rata. "Terima kasih, Tuhan! Terima kasih sudah menitipkan anugrah ini pada kami." Ucapnya penuh syukur.
Inder mengecup mesra kening istrinya. "Terima kasih, Sayang! Sudah menyempurnakan kebahagiaanku!" Ucapnya.
đşđşđşđş
Sementara itu di kampusnya Friska baru saja sampai ketika dua orang berbadan tegap menghadangnya. "Nona, Tuan besar memanggil Anda! Mari ikut dengan kami." Ucap salah satu pria itu dengan sopan.
__ADS_1
"Aku ada kelas hari ini, katakan pada Papi, aku akan menemuinya setelah kelasku selesai!" Ucapnya setengah ketakutan, ia yakin semua orang pasti curiga padanya tentang peristiwa semalam. Bodohnya ia begitu yakin kalau semua rencananya akan berjalan mulus hingga ia sendiri yang mengatakan kebohongan pada Za.
"Ikut dengan kami secara baik-baik? Atau kami harus menggunakan kekerasan?!" Tegas pengawal itu.
"Beraninya kau mengancamku! Aku adalah Nonamu!"
"Maaf, tapi kami hanya menjalankan perintah Tuan besar! Jadi tolong jangan mempersulit kami!"
"Baiklah- baiklah! Aku akan ikut."
Friska menuruti kedua pengawal itu, sejujurnya ia sedikit takut, Papi Rendy pasti sangat murka padanya saat ini. Namun, ada secercah harapan dihatinya bahwa mereka akan memaafkan dirinya begitu mengingat bahwa ia mempunyai kartu As keluarga itu!
"Semarah apapun kalian padaku, kalian tidak akan bisa berkutik saat aku memperlihatkan isi amplop ini!"
Friska menggenggam erat amplop berwarna coklat yang berada di tas miliknya sembari tersenyum.
đşđşđşđşđş
Di rumah keluarga Pramudza, Rendy dan Raja sudah menunggu Friska, mereka sudah membawa orang yang dibayar oleh Friska sebagai saksi agar gadis itu tak bisa berkelit, berkat kamera cctv ditempat kejadian mereka bisa menemukan wanita itu.
Pagi tadi Rendy sengaja menyuruh Istrinya den dan calon menantunya untuk kerumah sakit, Maura berhati sangat lembut, Rendy takut Maura tidak akan tega melihatnya menghukum gadis itu.
"Pa...Papi memanggilku?".Tanya gadis itu sambil menunduk takut.
"Kalian berdua boleh pergi!" Titah Rendy pada dua pengawalnya. "Duduklah Friska! Ada yang ingin Papi tanyakan padamu!" Suara Papi Rendy yang biasanya lembut kini terdengar begitu dingin ditelinganya.
Ia duduk dengan hati yang berdebar seperti menunggu putusan ketuk palu hakim di pengadilan. "Dimana kau saat Queen terjatuh kekolam semalam?!" Tanya Papi Rendy.
"A...aku bersama anak dari teman-temannnya Mami, aku tidak berada dekat dikolam renang! Papi bisa tanya kak Raja, dia juga melihatku, aku tidak sedang bersama Za! Jadi kalian tidak bisa menyalahkanku!" Ucapnya menjelaskan.
"Tak ada yang menyalahkanmu, Friska! Papi hanya bertanya padamu, kenapa kau terlihat gugup seperti itu?!" Ujar Raja.
"Friska mendongak, "Aku tidak gugup!"
"Raja panggil wanita itu kemari?" Titah Papi Rendy yang langsung dituruti oleh putranya.
Raja kembali bersama seorang gadis. Deg. Jantung Friska serasa meloncat dari tempatnya menyadari jika gadis itu adalah gadis yang ia bayar.
"Apa kau mengenalnya, Friska?" Tanya Papi Rendy.
__ADS_1
Friska menggeleng keras. "Aku tidak mengenalnya! Papi tau sendiri aku tak pernah berhubungan dengan kaum jelata seperti itu!" Kilah Friska.
"Kau masih tidak mau mengaku juga, hah!" Geram Raja mulai tidak sabar.
"Raja, kau harus bisa bersabar, Nak! Bawa pergi wanita itu!" Ucap Papi Rendy. "Friska kau tau apa akibat dari kelakuanmu? Kami hampir saja kehilangan Queen dan calon anaknya." Ucap Papi Rendy, membuat matanya terbelalak.
"Calon anaknya? Maksud Papi Za hamil?" Tanyanya.
"Iya, dan kau hampir saja membuat kami kehilangan mereka." Geram Papi Rendy sambil menahan emosinya. "Kau tau? Perbuatanmu itu termasuk percobaan pembunuhan, dan bisa saja dipenjara!"
"Papi ingin memenjarakanku? Selama ini kalian sudah berbuat tak adil padaku dan sekarang kalian ingin memenjarakanku? Kenapa kakian sekejam ini padaku?" Cerca Friska.
"Kalau kami kejam, kami sudah menyeretmu kepenjara!" Geram Papi Rendy. "Papi masih berusaha berbaik hati padamu, meski kesalahanmu kali ini sudah tak termaafkan! Apa kau pikir kami ridak tahu kelakuanmu selama ini, Hah?! Semua video yang tersebar luas, semua fitnah di media sosial itu, kau pikir kami tidak tahu kalau kau dalang dibalik semua itu?"
Deg. Friska membisu, ia tak menyangka kalau selama ini Papi Rendy sudah mengetahui kebusukannya.
"Papi masih memaafkanmu, karena berharap kau akan berubah, dan menyadari kesalahanmu. Tapi bukannya sadar kau malah semakin brutal! Apa salah Queen padamu? Kenapa kau sangat membencinya hingga mencelakainya?!" Hardik Papi Rendy.
"Salah? Kesalahan Za padaku banyak, Pi! Dia sudah merenggut semua yang kupunya! Dia merebut kasih sayang dan perhatian kalian! Dia juga merenggut Inder dariku! Dia merebut sagalanya dariku! Dan Papi masih bertanya apa kesalahannya padaku!"
"Tak ada yang merebut apapun darimu, Friska! Kau yang selalu sibuk dengan duniamu dan menhidari kami, dan masalah Inder, itu bukan kesalahan Queen! Inder memang sudah jatuh cinta padanya sejak awal, bukan salah Queen jika Inder lebih memilihnya daripada kau!" Bentak Papi Rendy.
"Cukup! Aku tak mau mendengar Papi terus membelanya!" Pekik Friska.
"Papi benar-benar kecewa padamu, Fris! Tapi kami masih berbaik hati tidak melahirkan tindakanmu kepolisi!" Ucap Papi Rendy, membuat Friska menatapnya.
"Papi memaafkanku?" Tanyanya.
Papi Rendy menggeleng "Kau tetap akan dapat hukuman! Papi sudah memutuskan, Papi akan mengasingkanmu di tempat yang jauh agar tak bisa mengganggu Queenza lagi!"
"Papi juga akan mencabut semua fasilitas yang selama ini Papi berikan, dan termasuk mencabut hak mu sebagai putri dari keluarga Pramudza! Kau hanya seorang gadis biasa sekarang!" Ucap Papi Rendy penuh penekanan.
Friska menggeleng keras. "Papi tidak bisa melakukan itu padaku!" Teriaknya.
"Kenapa? Harusnya kau bersyukur karena kami tidak menyeretmu kepenjara!" Geram Papi Rendy.
Friska meraba tas nya mencari amplop coklat yang ia bawa tadi. Amplop coklat yang ia temukan di brankas kakeknya, berisi hasil DNA dirinya denga nsang kakek yang menyatakan kalau dia adalah Anak kandung dari Andika Pramudza. Ia sempat syok saat menemukan dan membaca surat itu, tapi sekarang ia akan menggunakannya untuk mempertahankan posisinya di keluarga ini.
"Karena aku adalah anak kandung dari Andika Pramudza! Kalian tidak bisa mengusir aku dari rumah ini!" Ucapnya lantang. "Ini adalah bukti yang tak bisa dibantah, kalian bisa melihatnya sendiri!" Sambungnya sambil melempar Amplop coklat itu.
__ADS_1