Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Apa Kau Tau sedekat Apa Mereka?


__ADS_3

Rega menunggu Inder di luar cafe.


Ia bisa melihat wajah tegang keduanya dari balik cermin di cafe itu.


Rasa khawatirnya makin menjadi ketika melihat sahabatnya berjalan keluar dengan wajah yang di penuhi amarah.


"Kunci mobil gue mana, Ga!" Ucap Inder. Rega memberikan kunci mobil itu padanya.


"Lo mau kemana?" Tanyanya khawatir.


"Gue lagi butuh waktu sendiri" Ucap Inder, seraya melangkah pergi.


"Apa yang terjadi, Apa yang dikatakan Raja padamu?" Tanyanya lagi.


Inder menghentikan langkahnya, lalu meliriknya."Jangan ada yang ngikutin gue." Ucap Inder tak menjawab pertanyaannya, namun cukup untuk membuktikan bahwa pria itu sedang tidak baik_baik saja.


🌺🌺🌺🌺


Raja kembali kekamar rawat Za setelah pertemuannya dengan Inder. Ia cukup yakin apa yang dilakukannya akan dituruti sang adik.


Ia masuk kedalam kamar itu, tapi hanya mendapati Alika yang sedang asyik dengan ponselnya. Sedangkan sang adik sudah terlelap di tempat tidurnya.


Alika terlihat terperanjat saat menyadari keberadaannya, "Apa dia sudah lama tertidur?" Tanyanya.


"Cukup lama. Tadi dokter memberinya obat tidur agar bisa istirahat." Jawab Alika.


"Alika, boleh saya bertanya sesuatu?" Tanyanya kemudian.


"Tentu saja boleh, pak."


"Jangan memanggilku Pak, kau bisa memanggilku Kakak, seperti Queen memanggilku." Ucapnya, yang diangguki oleh Alika.


"Baik, Pak, eh Kakak."

__ADS_1


"Begitu lebih enak di dengarnya." Ucap Raja sambil tersenyum.


"Alika apa kau tahu sedekat apa mereka" Ucapnya.


"Maksudku hubungan Queen dengan atasannya?"


Alika terlihat berpikir, "Emhh... setahuku mereka memang cukup dekat sih! Za selalu bercerita kalau Inder selalu memperlakukannya dengan baik" Jawab Alika. " Za bilang Inder memperlakukannya dengan baik, dan juga bisa membuatnya nyaman."


"Nyaman?"


Alika mengangguk "Ia pasti sudah keluar dari bulan pertama kalau dia tak merasa nyaman disana, dia bahkan tak pernah mengeluh tentang Inder."


"Kau pasti sudah sangat dekat dengannya hingga kau tau apa yang dia rasakan. Bisa ceritakan hidup Queen setelah berpisah dengan kami." Ucap Raja penuh harap.


Alika mengangguk, "Sejak pertama kali bibi Resha membawanya ke rumah, Za adalah seorang yang pemurung, ia bahkan tak pernah bicara pada siapapun Selama bulan-bulan pertama. Aku bahkan tak menyukainya saya pertama kami bertemu, karena menganggapnya sangat sombong." Ujar Alika sembari tersenyum kecil.


Raja diam tak menyela, Ia ingin Mendengar kelanjutan cerita Alika.


"Menangisi foto?"Tanya Raja.


"Foto keluarga kalian," Ucap Alika, sambil menoleh pada Raja. "Ia selalu merindukan kalian. Tapi ia tak pernah bicara apapun pada bibi. dari situlah aku mulai mengerti kalau Za, bukan sombong tapi... memang ada hal yang membuatnya jadi seperti itu. Perlu sebuah satu tahun hingga akhirnya dia bisa membuka diri meski hanya pada orang tertentu saja."


Raja memejamkan matanya, hatinya terasa sesak mendengar penuturan Alika. Padahal dulu Queenza adalah anak yang ceria, mendengar cerita Alika membuatnya seakan merasakan betapa terlukanya Queenza saat itu.


"Maaf, jika ceritaku membuatmu sedih." Ucap Alika.


Raja menggeleng, "Kau tak salah." Ucapnya, "Aku hanya menyesali kejadian di masa lalu yang tak bisa kucegah. Tapi mulai dari sekarang, aku akan memastikan kalau Queenza hanya akan memperoleh kebahagiaan." Janjinya pada diri sendiri.


"Za sangat beruntung mempunyai orang-orang yang sangat menyayanginya dengan tulus."


🌺🌺🌺🌺


Inder melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, "Saya ingin Anda melepas adik saya"

__ADS_1


Kata-kata Raja kini berputar di otaknya, "Melepas? Apa dia pikir aku mengurung Za, atau mengikatnya?" Geramnya.


Ia menepikan mobilnya di sebuah club milik temannya, Inder masuk dan duduk di sana.


"Hai Bro. Ahhh suatu kehormatan club gue kedatangan artis besar." Ucap pemilik club yang bernama Niko.


Inder hanya tersenyum menanggapi.


"Kenapa Bro? lagi suntuk sama rutinitas?" Tanya lelaki itu lagi.


"Iya, lagi suntuk banget gue." Ujarnya.


"Kalo gitu gimana kalau kita minum? Gue temenin sampe lo puas."


Inder berpikir sejenak, ia tau benar dengan kondisi tubuhnya. sejak kecil ia mempunyai alergi terhadap alkohol, ia mengetahuinya saat duduk di bangku SMA, saat itu ia mencoba minum bersama teman-temannnya untuk merayakan kelulusan sayangnya dia justru berakhir di rumah sakit.


Tapi... saat ini hatinya benar-benar sedang kacau, ia merasa membutuhkan minuman itu untuk menenangkan pikirannya.


Inder mengambil gelas yang di tawarkan oleh Niko, satu gelas ia masih bisa menahan Rasa panas yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya, gelas kedua ia mulai merasa terbakar hingga mulai meringis menahan sakit di tubuhnya.


"Inder lo baik-baik_baik saja?" Tanya Niko yang mulai merasa aneh melihat keadaan Inder.


"Gue... baik_baik aja." Ucapnya terbata, nafasnya terasa mulai tersenggal, dengan sekujur tubuh yang terasa panas terbakar.


"Uhukk....uhuk... uhuk..." Ia merasa oksigen di sekitarnya menyempit.


"Astaga... lo kenapa??" Ujar Niko yang mulai panik.


Ia sudah tak bisa menjawab lagi, ia mulai merintih, kesadarannya mulai berkurang, tubuhnya ambruk kalau saja seseorang tidak segera menopangnya. Ia masih bisa mendengar teriakan panik dari suara yang sangat di kenalnya,


"Bantu gue bawa dia ke mobil."


Hingga akhirnya kesadarannya benar-benar menghilang.

__ADS_1


__ADS_2