Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Pucuk Di Cinta Ulam Tiba


__ADS_3

Queenza


Menghembus nafas kesal, hari ini ia harus kembali membuat surat lamaran pekerjaan setelah persyaratan lamaran kerja nya hilang entah kemana.


Terakhir yang ia ingat, surat lamaran itu ia bawa ke restoran terakhir yang ia datangi, dan setelah itu ia lupa apa lamaran itu di bawa kembali atau ia simpan di restoran itu untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu restoran itu membutuhkan pegawai, pihak resto bisa menghubunginya.


"Mau bareng, gak?" Tanya sepupunya, hari ini Queenza berencana kembali melamar pekerjaan. Ia mengangguk.


"Kau benar-benar tak ingin mencoba melamar ke Pramudza group, Za?" Ujar Alika, sekali lagi sepupunya itu memberi saran yang sudah pasti akan di tolaknya.


Queenza menggeleng pasti."Aku tak mau melanggar janjiku pada bunda, Al. Aku akan mencoba mencari pekerjaan di cafe atau jadi Cleaning servis sekalipun, tapi aku tidak akan menemui keluarga pramudza lagi."


Alika menghela nafas. "Ya sudah, kau mau ku antar kemana? biar sekalian sambil aku berangkat kerja." Ucap Alika kemudian.


"Tolong antar aku ke resto kemarin saja, aku harus memastikan apa lamaran itu ku tinggal disana atau memang hilang di tempat lain."


"Baiklah ayo naik, biar ku antar."


Motor matic itu melaju hingga sampai di tempat yang dituju.


🌺🌺🌺


Sementara itu di lain tempat, Inder sedang menikmati sarapannya, di sebuah resto di dekat lokasi syutingnya hari ini.


Ia asyik memandangi sebuah pas foto berukuran 4x6 itu dengan tersenyum. Entah kenapa gadis yang wajahnya berada di foto itu mampu membuatnya seperti orang gila, tersenyum sendiri hanya dengan memandangi fotonya saja.


Rega sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu, sudah dari kemarin ia memperhatikan tingkah absurd Artis sekaligus sahabatnya itu. Dan dari kemarin pula Inder tak berhenti membicarakan gadis yang disebutnya aneh namun mampu membuatnya tertarik.

__ADS_1


"Kalau para penggemar melihat lo seperti ini, mereka bisa ill feel karena menyangka artis idolanya sudah tidak waras." Ejek Rega. Sahabatnya itu benar, ia memang seperti orang gila saja, tapi...dia tak mau ambil pusing toh restoran ini ia boking untuk sarapannya kali ini jadi tak ada siapapun selain ia dan sahabatnya.


" Kau menyebutku gila? Beraninya.." Sungut Inder.


" Lo tersenyum-senyum sendiri seperti itu, apalagi namanya kalau bukan gila?" Jawab Rega tak mau kalah.


"Menurut Lo, pekerjaan apa yang cocok untuk gadis itu?" Tanya nya tak mengindah kan cibiran Rega.


"Hah?"


"Gue berencana kasih cewek itu pekerjaan, menurut lo, pekerjaan apa yang tepat?"


Rega cukup kaget mendengar ucapan sahabatnya itu, tapi ia tetap menjawabnya.


"Ya.. lo tinggal lihat di surat lamaran itu, dia lulusan apa? Lo bisa memberinya pekerjaan di resto atau cafe kita, atau mungkin dihotel." Saran Rega.


Inder kembali membuka Map itu."SMA" Katanya.


Inder tak menjawab apapun, ia ingin gadis itu bisa dilihatnya setiap hari, jika menempatkan gadis itu di Resto atau salah satu hotel miliknya, dia tak akan bisa melihatnya.


Entahlah sejak bertemu dengan gadis itu kemarin, seperti ada sesuatu yang menarik dirinya untuk mengenal gadis itu lebih dekat.


Gadis itu seperti mempunyai magnet yang mampu membuatnya tertarik.


Inder menggelengkan kepalanya, "Gue mau dia bekerja di rumah gue, bukan di resto, cafe apalagi hotel."


"Rumah lo?" Ulang Rega, memastikan telinganya tak salah dengar.

__ADS_1


"Kenapa kaget gitu? Biasa aja kali." Ucap Inder santai.


"Ahhh iya, kenapa dia gak jadi asisten manager saja? Jadi dia bisa gantiin lo buat temani gue kemanapun, dan lo bisa fokus ngurus bisnis gue!" Ujarnya lagi.


Rega mematung mendengar penuturan sahabatnya itu, Asisten manager? Bukankah selama ini sahabatnya ini sangat anti mempekerjakan perempuan? Bahkan ia meminta sekertaris laki-laki untuk di pekerjakan di hotelnya. Dan sekarang dia sendiri yang menginginkan seorang gadis untuk menemaninya kemanapun, ada apa dengan Inder?


"Gimana menurut lo?" pertanyaan dari Inder menyadarkannya.


"Hah.. apa??" Ucapnya linglung.


"Soal pekerjaan buat cewek ini? Lo gak keberatan kan kalau gue jadikan cewek ini Asisten manager? Atau mungkin lebih baik gue jadiin dia asisten pribadi gue?" Ujar Inder dengan berbinar.


"Terserah lo, deh. Tapi gue gak tanggung jawab kalau terjadi sesuatu yang tak di inginkan, karena ini murni kemauan lo!"


"Lo tenang saja, gadis ini beda, Ga. Dia bahkan gak tertarik sama sekali saat melihat gue, bahkan konyolnya dia malah nyangka gue ini penjahat."


"Ya..ya.. gue tau, lo udah cerita berkali-kali dari kemarin. Tapi Inder, Ijasahnya hanya SMA, Lo yakin mau dia jadi asisten pribadi lo?" Tanya Rega sekali lagi.


"No problem, lo kan bisa ngajarin dia nanti, dan lagian urusan kontrak, itu tetep tugas lo! Dia hanya akan menyiapkan keperluan syuting gue, gimana? Deal?" Tanya Inder sembari mengulurkan tangannya.


"Deal, aja lah,Lagipula mana bisa gue nolak lo. Kan lo bosnya." Ujarnya pasrah..


Inder baru akan membalas ucapan Rega, namun ia urungkan karena melihat sosok gadis yang ia bicarakan sedang berada di luar Resto.


"Pucuk di cinta ulam tiba." Ujarnya, sembari beranjak dari kursi dan melangkah menuju luar resto, mengabaikan pertanyaan sahabatnya yang kebingungan.


Ia menyuruh kedua pengawal yang mengikutinya untuk menjaganya dari jauh saja. Sebelum kemudian menyusul gadis itu yang sudah berjalan meninggalkan resto.

__ADS_1


"Nona, Queenza." Teriaknya, gadis itu menoleh, dan terlihat mengernyit.


"Masih ingat padaku??"


__ADS_2