
EHemmmmm
Sura berdehem di belakang mereka membuat keduanya terperanjat. Queeza bahkan salah tingkah, memilih membalikkan badan "Aku beresin meja makan dulu." Ucap, Za. Melangkah pergi tanpa berniat melihat siapa yang baru saja datang.
Sementara Inder, menatap kesal pada orang yang baru saja datang mengganggu aktifitasnya. "Sepertinya gue datang di waktu yang tidak tepat." Ucap orang itu, seolah mengerti kekesalan sahabatnya.
"Sorry Bro, mana gue tau kalau kalian sedang romantis-romantisan, makannya lain kali chat gue dulu dong kalau mau bikin momen romance kayak tadi biar gue gak nyelonong masuk." Ucapnya lagi dengan bibir melipat menahan tawa.
"Berisik, ayo berangkat." Ucap Inder kesal.
"Yakin, mau berangkat." Tanya Rega, membuat Inder menatap sahabatnya itu, "Gak mau lanjutin yang tadu dulu, gue bisa kok keluar dulu, gue kasih waktu setengah jam, cukup kan?" Goda Rega lagi membuat Inder menatapnya kesal.
"Minta dipecat ya lo!" Ucap Inder kesal. Membuat Rega tergelak, "Ampun, Bos. Saya masih betah kerja dengan anda." Ucap Rega dengan wajah yang di buat memelas.
"Kalau begitu, berhenti ledekin gue." Ucap Inder seraya mengambil kunci mobilnya lalu melemparnya pada Rega. "Udah ayo berangkat."
"Gak mau pamit sama yang di rumah, Der? Cipika- cipiki dulu gitu." Goda Rega lagi, membuat Inder kembali menoleh padanya.
"Beneran minta di pecat nih orang."
"Hahaha, bercanda bos, sensi amat." Ujarnya seraya berjalan mendahului Inder. "Ayo buruan, Inder! Nanti kita terlambat."
"Dasar Manager gak ada akhlak!"
Mereka mengendarai mobil Inder menuju Pramudza Group. Hari ini Inder akan menandatangani kontak sebagai Brand Ambasador Pramudza Group, sebenarnya ia sangat malas untuk menyetuji kerja sama ini, namun apa dayanya ketika Ayahnya sendiri yang memintanya untuk menerima tawaran ini.
Mobil mereka berhenti di lahan parkir gedung berlantai dua puluh itu, begitu sampai di lobi mereka disambut langsung oleh Asisten Ceo Pramudza Group yang langsung membawa mereka ke lantai teratas gedung ini.
Mereka dibawa masuk keruangan Ceo Pramudza Group, disana sudah ada Rendy sahabat ayah Inder yang merupakan Ceo Pramudza Group dan juga beberapa orang yang sama sekali tak Inder kenali.
"Masuklah Inder, kami sudah menunggumu." Ucap Rendy ramah.
"Siang Om, maaf jika saya membuat kalian menunggu."Ucapnya sopan.
__ADS_1
"Tidak apa, santai saja. Ayo silahkan duduk."
Inder dan Rega duduk berhadapan dengan dua orang yang asing bagi mereka.
"Oh, iya kenalkan ini putra sulung Im, dia yang akan bertanggung jawab atas kerja sama ini nantinya." Ucap Rendy memperkenalkan pria di sampingnya.
Mereka saling berjabat tangan, mengucap nama masing-masing.
"Ini kontrak yang harus kamu tandatangani, kamu bisa membacanya dulu, jika ada yang kurang berkenan kamu bisa katakan pada Om."
Inder membaca berlembar-lembar kertas itu dengan seksama, tak ada yang merugikan menurutnya kontrak ini akan berlangsung selama dua tahun. Setelah merasa cukup yakin ia membubuhkan tanda tangannya, ia tak mau berlama-lama di sini ada banyak pekerjaan menantinya.
Inder memberikan kembali map berisi lembaran kertas itu pada Rendy, membuat senyum mengembang di bibir pria paruh baya itu.
"Terima kasih, semoga kerja sama kita berjalan lancar dan saling. menguntungkan, Om akan mengirim salinan kotraknya besok."Ucap Rendy. Inder mengangguk sopan.
"Kalau begitu saya permisi, Om." Pamitnya
"Tunggu, bagaimana kalau kita sarapan dulu? Lagipula Friska juga sedang dalam perjalanan bukankah kalian perlu bertemu? Untuk membahas pekerjaan ini."
"Ya sudah, Om mengerti."
"Saya permisi Om."
Inder melangkah meninggalkan ruangan itu, ia ingin segera pergi sebelum bertemu dengan gadis yang katanya sedang dalam perjalanan.
"Kenapa elo gak suka banget sama tuh cewek? Padahal menurut gue dia cukup cantik." Ujar Rega setelah mereka dalam mobil, Rega tau Inder menghindari perempuan bernama Friska itu, Inder awalnya bahkan menolak kontrak kerja sama ini karena tau pasangannya dalam iklan setiap product Pramudza Group adalah perempuan ini.
"Kalau menurut elo dia itu cantik, ya kenapa gak elo embat aja tuh cewek." Jawab Inder.
"Sory Bro, Gue lebih suka dikejar dari pada mengejar, cape... makan hati."
"Itulah bedanya gue sama elo! Gue ini pecinta sejati yang lebih suka berjuang, gue lebih suka dengan cewek yang jual mahal lebih menantang, dan juga lebih terjamin kualitasnya." Ucap Inder Ambigu.
__ADS_1
"Bacot lo, Inder. bilang aja lo nyindir gue, lo mau bilang kalau gue ini penampungan cewek murahan?" Ujar Rega sebal.
Inder terkekeh, "Bukan gue yang bilang, ya."
"Sialan lo! Tapi Inder asal lo tau, gue ini main cewek juga cuman iseng doang, gue gota ganti cewek juga sambil nyari yang klop di hati gue. Dan satu lagi yang mesti lo inget! Gue jadi playboy juga karena lo yang punya andil besar bikin gue jadi penampungan gadis-gadis malang itu."
"Ceh. Kenapa jadi gue?"
"Ya kalau lo gak selalu nolak cewek yang di bawa nyokap lo, gue gak bakal kayak gini."
Inder baru akan membalas ucapan sahabatnya itu, namun urung karena ponselnya berdering, ia tersnyum saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Ya, Za?" Ucapnya.
"Ok, tapi jangan pulang terlalu sore." Ucapnya lagi, dengan senyum yang makin melebar menghiasi bibirnya.
"Iya, bye." perckapan singkat itu berakhir tapi senyum di bibirnya masih tersungging.
"Duh yang di telpon gebetan tersayang." Cibir Rega.
"Sirik aja lo."
"Sirik sama lo? Ngapain gue sirik sama cowok yang baru ngerasain kasmaran. Hidup gue lebih menyenangkan, Bro. pacar gue banyak."
"Ceh, jadi playboy bangga, hidup lo deket sama dosa tuh."
"Tapi seenggaknya hidup gue lebih berwarna bro, kalau mau ke kondangan gue tinggal milih mau bawa siapa, gak ada acara bingung cari pasangan. gak ada ceritanya gue harus malu karena ditanya pacar lo mana?"
"Lo nyindir gue? Dasar manager minim akhlak." Gerutu Inder yang membuat Rega tergelak.
"Jadi kita kemana dulu nih?" ujarnya Kemudian, menyudahi percakapan Un faedah mereka.
"Ke resto aja, dah lama gue gak sidak kesana." Ucap Inder, syuting pagi hanya alasannya untuk segera pergi dari kantor Pramudza group.
__ADS_1
"Semua bisnis kita aman terkendali di tangan gue."
Rega melajukan mobil itu menuju resto milik mereka.