
Tepat pukul tujuh malam, Za sudah bersiap di ditempat acara diadakan. Setidaknya mereka datang sebelum Papi dan Maminya sampai di hotel ini.
"Astagaa dari mana saja kau Za, aku kerepotan memeriksa semuanya sendirian!" Keluh Alika.
"Maafkan aku, Tadi ada sedikit masalah!" Ucapnya Berbohong. "Masalah ranjang!" Sambungnya dalam hati.
"Ya sudah, coba telpon kak Raja mereka sudah sampai mana, aku cek dibelakang dulu ya!"
"Baiklah!" Ucapnya. Ia melakukan apa yang diminta Alika, tapi alih-alih Raja ia lebih memilih menghubungi Maya untuk mencari informasi.
"Kalian sudah sampai mana?" Tanyanya pada Maya disebrang telpon sana.
"Kami ada di mini market dekat hotel, Za. Apa semua sudah siap?"
"Iya, kau bisa membawa Mami kesini sekarang."
"Baiklah, kalau begitu aku tutup telponnya."
"Iya baiklah, bye Maya!"
Za menutup panggilan itu, dan mulai bersiap menyambut para tamu yang mulai berdatangan.
đşđşđşđşđş
Sementara itu di lain tempat Mami Maura sedang kesal pada anak, suami dan calon menantunya. Semuanya ikut mengerjainya bahkan Friska yang biasanya selalu tak perduli sekitarnya kini ikut andil dengan menutup matanya dan memapahnya berjalan entah kemana.
"Sebenarnya kalian mau bawa Mami kemana, sih?" Tanyanya saat merasakan perjalanannya tak kunjung sampai ketujuan.
"Pokoknya Mami ikut saja, kami punya kejutan kecil untuk Mami!" Ujar Maya seraya memapah langkahnya sementara terdengar tawa kecil dari sang putra dan juga suaminya.
"Awas ya kalau ngerjain Mami, yang macem-macem!"
"Cuma satu macam, kok Mi. tenang saja!" Ucap Papi Rendy.
Mami Maura tak banyak bertanya lagi, ia menurut setiap intruksi dari Maya.
Suara riuh tepuk tangan membuat Mami Maura tersenyum meski matanya belum bisa dibuka. Maya membuka penutup mata Mami Maura, membuat Mami Maura memincingkan matanya menyesuaikan cahaya lampu yang masuk retinanya.
Dan matanya membulat sempurna saat melihat didepannya. Hotel diubah bak tempat Fashion Show. Wajah-wajah para sahabatnya saat ia menjadi model dulu juga berada di depannya dan tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Maura." Ucap mereka secara bersamaan, menyalaminya satu persatu.
Mata Mami Maura berkaca-kaca, ia bahagia sekaligus terharu. "Selamat Ulang tahun Mami!" Ucap Za memeluk Maminya dari arah belakang.
"Terima kasih, Sayang!" Ucap Mami Maura seraya mengelus lembut rambut putrinya.
"Ini semua rencana, Queen! Dia tahu Mami sangat merindukan dunia modeling." Jelas Papi Rendy. "Jadi dia sengaja membuat pesta ini sekaligus ajang Mami untuk Reuni bersama teman-teman lama Mami" Sambung Papi lagi.
Mami Maura menatap Za penuh haru. "Terima kasih sayang, kamu begitu perhatian sama Mami!"
"Aku tak bisa melakukan ini tanpa bantuan semua orang, Mami."
"Iya terima kasih untuk kalian semua! Tapi darimana kamu tau teman-teman Mami, Sayang." Tanyanya penasaran
Za tertawa kecil "Aku minta bantuannya Bunda Arini Dan minta bantuan Mas Rega untuk mencari keberadaan mereka, karena Mamanya Mas Rega juga teman Mami di dunia model, kan!" Jelas Za pada Maminya.
"Terima kasih Sayang!" Ucap Mami Maura sembari mengecup kening Za.
"Sama-sama Mami." Ucap Za. "Ayo Mami, tunjukan pesonamu!" Seru Za, seraya menuntun Maminya menuju catwalk, yang disahuti tapu tangan semua orang.
Mami Maura melirik sang suami yang berada disebelahnya, Papi Rendy menghela napasnya. "Baiklah, untuk malam ini kubebaskan kau melakukan apapun yang kau sukai!" Ujar Papi Rendy.
Ditempatnya Papi Rendy tersenyum lebar melihat sang Istri tersenyum, bahkan tertawa lepas. "Terimakasih, Sayang. Kau membuat Mamimu Sangat bahagia malam ini." Ucapnya pada sang putri.
"Tak perlu berterima kasih Papi, bukankah tugas seorang anak adalah membahagiakan orang tuanya!" Ucap Za.
Semua orang larut dalam kebahagiaan, mungkin hanya segelintir orang yang berwajah masam, dan Friska menjadi salah satunya.
Ia tak suka saat semua orang memuji Za, terlebih pria yang disukainya juga tambah lengket dengan gadis itu.
Saat para paruh baya menikmati waktunya, pasangan muda pun ikut menikmati pesta ini, Queenza, Inder, Maya dan Raja mereka duduk bersebelahan membicarakan banyak Hal. Bahkan Inder dan Raja.bisa bercengkrama normal tanpa emosi atau saling sindir membuat sebuah senyuman terbit dibibir Za.
Hanya Alika dan Rega saja yang duduk berjauhan, Alika memilih duduk didekat Za, menyibukkan diri dengan ponselnya, sedang Rega lebih memilih duduk di sofa kosong menatap gadis yang sudah membuat pikirannya kacau beberapa hari ini. Sedang Friska? Ia bergabung dengan anak teman-teman Maminya sembari mengawasi mereka dari jauh.
"Mau kemana, Sayang?" Tanya Inder ketika melihat istrinya hendak beranjak.
"Mau ambil minum, aku haus." Ucap Za.
"Duduk saja disini, biar aku yang ambilkan." Titah Inder.
__ADS_1
Baru saja ia melangkah untuk mengambil minuman, sebuah panggilan masuk diponselnya. "Hallo.!"
"Oh,... baik Tunggu sebentar, saya keluar sekarang." Ucapnya seraya mematikan ponselnya. Inder memanggil pelayan untuk memberikan minuman untuk istrinya, dan menyampaikan pesan kalau dia keluar hotel sebentar.
Sayangnya Friska menghadang pelayan itu dan mengambil minuman Za. "Biar aku yang berikan pada Za!" Ucapnya. Pelayan itu sempat menolak namun dengan beberapa lembar uang merah Friska berhasil membujuknya. "Lihatlah Za, bahkan takdirpun mendukung rencanaku." Gumamnya sembari melengkungkan bibir melihat Inder melangkah keluar hotel.
Friska sudah menyelidiki semua tentang Za, dari mantan pengasuh Za, ia tau kalau gadis itu tak bisa berenang.
Dan kabar tentang pesta ini membuatnya mempunyai ide cemerlang, Ia akan membuat gadis itu jatuh kekolam yang berada diarea hotel ini, Dan ia akan melakukannya didepan Raja, berharap pria itu akan panik menolong Za, dan melakukan hal bodoh karena paniknya. Friska tersenyum lebar membayangkan Raja memberikan napas buatan pada Za dan tentu saja itu akan memancing rasa cemburu Inder.
Dengan senyum yang tersungging ia melangkah menuju tempat Za berada.
"Za, Inder memanggilmu!" Ucapnya berbohong.
Tak hanya Za tapi semua orang ikut menatapnya. "Dia bilang ingin mengenalkanmu pada temannya, jadi dia menunggumu disana!" Ucapnya lagi, sembari menunjuk area dekat kolam renang.
"Baiklah aku akan kesana!" Ucap Za tak curiga sedikitpun. "Aku kesana sebentar." Pamitnya pada semua orang.
Raja menatap punggung adiknya itu dari kejauhan. Entah kenapa hatinya tergerak untuk ikut beranjak mengikuti langkah kaki Za.
Friska tersenyum lebar saat melihat Raja mengikuti langkah Za, Ia mengirimkan pesan pada seseorang yang sengaja ia bayar untuk membuat Za jatuh kekolam.
Sementara itu, Za terus melangkah menuju tempat yang ditunjuk Friska. Aneh, tak terlihat keberadaan Inder disana. Ia berbalik hendak kembali namun, tiba-tiba seseorang menabrak dan mendorong tubuhnya cukup keras hingga terpental masuk kekolam yang memang dekat dengan tempatnya berdiri.
"Tolong... tolong..." Za berusaha berteriak dengan paniknya. dan itu membuat tubuhnya semakin tenggelam.
Byurrrrr seseorang menceburkan diri kekolam, dan meraih tubuhnya. Lelaki itu membaringkan tubuh Za yang sudah tak sadarkan diri.
Berulang kali ia memanggil-manggil nama Za dan menepuk pipinya berusaha untuk menyadarkannya, tapi Za tak bereaksi.
Dengan cekatan lelaki itu melakukan CPR, menumpu kedua tangannya dan memompa dada Za dengan cepat, tapi Za masih tidak bereaksi sehingga pria itu memutuskan untuk memberikan napas buatan.
Hingga setelah dua kali ia menyalurkan udara dari mulut kemulut akhirnya...
"Uhuk...uhuk..." Za terbatuk membuatnya menghembuskan napas lega.
"Syukurlah kau selamat!" Ucapnya lega seraya memeluk wanita itu.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang membelalak kaget melihat adegan mereka.
__ADS_1