Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Bunda


__ADS_3

Resha mengamati sepanjang jalan yang dilewati mobil yang membawanya, jalanan yang belasan tahun lalu ia lewati terakhir kalinya.


Ia menghela nafas, ia berharap apa yang disampaikan wanita disampingnya memang hanya kesalahpahaman, ia sangat yakin putrinya tak akan mungkin melakukan hal seburuk itu.


Meski... beberapa bulan ini ia sempat curiga dengan kiriman uang dari sang putri yang dua kali lipat lebih besar dari biasanya, Tidak! Tak mungkin putrinya seperti itu.


Mobil itu berhenti di sebuah rumah yang cukup besar baginya, yang tidak mungkin menjadi tempat tinggal putrinya, ataukah ini adalah rumah artis tempat putrinya bekerja?


Ia menatap wanita di sampingnya, "Kenapa anda membawa saya kesini?"


"Karena disinilah putri anda tinggal sekarang."


"Tunggu Nona, boleh saya bertanya?"


"Tentu!"


"Apa kekasih anda itu artis, jika iya sepertinya anda salah paham! Putri saya hanya bekerja, jadi mau tidak mau dia harus menuruti kontrak dan tinggal bersama kekasih anda." Ucapnya coba menjelaskan.


Raisa tersenyum getir." Jadi anda fikir putri anda masih bekerja sebagai asisten artis? Dia benar-benar sudah menipu anda, Nyonya."


Resha mengerutkan kening tak mengerti. "Apa maksudmu, Nona?"


"Putri anda sudah lama tak bekerja sebagai asisten lagi, dia bahkan kuliah sekarang."


"Tak bekerja lagi?" Gumam Resha. "Lalu darimana dia mengirimkan uang sebanyak itu setiap bulan" Sambungnya dalam hati.


Tak lama sebuah mobil datang masuk kehalaman rumah itu, lalu keluarlah seorang lelaki yang kemudian membukakan pintu mobil lainnya.


Seorang gadis yang sangat dikenalinya keluar dari mobil dengan senyuman merekah, membuat Resha membelalak tak percaya.


"Queenza." Ucapnya pelan, tapi masih bisa didengar jelas oleh wanita disampingnya.


"Iya, itu Queenza. Putri anda dan lelaki itu adalah calon suami saya!" Ucap Raisa. "Apa sekarang anda masih bisa bilang kalau ini sebuah kesalahpahaman."


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Queenza baru menyelesaikan kelas terakhirnya hari ini, ia harus mengikuti banyak kelas tambahan untuk mengejar ketertinggalannya.


Ia menghidupkan ponsel yang ia matikan dari pagi tadi, banyaknya panggilan dan notifikasi pesan dari sang kekasih membuat senyumnya melengkung.


๐Ÿ“ฉ- Apa kau sudah makan?


๐Ÿ“ฉ- Ahh kenapa nomormu harus tidak aktif?


๐Ÿ“ฉ- Za aku ingin makan siang denganmu.


๐Ÿ“ฉ- Telpon aku jika kelasmu sudah selesai! Aku merindukanmu๐Ÿ˜˜


"Kenapa dia jadi menggelikan seperti ini?" Ucapnya sambil terkekeh.


Ia kembali memasukkan ponsel kedalam tasnya, ia berencana menelpon setelah sampai dirumah nanti. Karena saat ini pria itu pasti sedang sibuk syuting. Baru saja akan melangkah seseorang memanggilnya.


"Nona, tunggu!" Seru orang itu.


Za berbalik melihat sekitarnya, ia melihat seorang lelaki berlari kecil menghampirinya.


"Akhirnya aku bertemu denganmu." Ucap lelaki itu dengan nafas tersenggal.


"Emhh maaf, kau mencariku?" Tanyanya.

__ADS_1


Lelaki itu menegakkan badannya, lalu mengangguk. "Apa ini punyamu?" Tanya lelaki itu, sembari menyodorkan sebuah buku padanya.


"Oh, aku mencarinya dari tadi! Terima kasih, dimana kau menemukannya?"


"Terjatuh saat kita bertabrakan tadi pagi." Ucap lelaki itu.


"Jadi kau orang yang kutabrak tadi, sekali lagi aku minta maaf, dan terimakasih untuk bukunya." Ucapnya.


"Sama-sama!" Ucap lelaki itu. "Mike." Sambungnya sembari mengulurkan tangan.


Queenza menyambut tangan lelaki itu, "Queenza, kau bisa memanggilku, Za." Ucapnya.


"Senang bisa berkenalan denganmu." Ucap Mike.


Za segera melepas tangannya, "Aku juga senang bisa dapat teman di hari pertamaku kuliah." Ucapnya tersenyum.


"Maaf, Mike. Tapi aku harus pergi, dan sekali lagi terimakasih." Ucapnya lagi seraya berbalik dan pergi menjauh dari pria itu.


Namun baru beberapa langkah, pria itu kembali mengejarnya dan mensejajarkan langkahnya, membuatnya tidak nyaman


"Kelasku juga baru saja selesai, bagaimana bila aku mengantarmu pulang?" Ucap Mike.


Za menggeleng, "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Ucapnya mempercepat langkahnya, namun lagi-lagi lelaki itu mengejarnya.


"Aku ini bukan orang jahat, Za. Kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu? aku hanya menawarimu tumpangan."


"Emmmh, maaf membuatmu berpikir begitu. Tapi sungguh, aku bisa pulang sendiri." Ucapnya, ia tersenyum lega melihat Raja datang menjemputnya.


"Za aku hanya..."


"Maaf, Mike. kakakku sudah menjemputku, aku pergi dulu. Senang berkenalan denganmu." Potong Za, lalu melangkah cepat menghampiri Raja.


Raja menatap pada lelaki yang bicara dengan Za tadi, lalu masuk dan duduk dibelakang kemudi.


"Apa lelaki itu menganggumu, Queen?" Tanyanya.


Za menggeleng, "Dia hanya menawarkan tumpangan, tapi kau tau sendiri kan, kak. Aku tidak mudah nyaman dengan orang asing." Ucapnya.


Raja mengangguk paham, "Jadi bagaimana kuliah pertamamu?" Tanyanya lagi sembari mengemudikan kendaraannya.


"Cukup baik." Ucapnya singkat.


"Kita langsung pulang, atau makan dulu?".


"Kita pulang saja ya kak, aku sangat lelah hari ini." Rengeknya.


"Baiklah, kita langsung pulang." Ucap Raja.


"Tadinya kupikir, Kak Reihan atau supir yang akan menjemputku." Ucap Za.


"Rei sedang menggantikan kakak menghadiri rapat, jadi kakak yang menjemputmu."


"Kalau kakak ada rapat, kenapa malah menjemputku dan menyuruh kak Rei menggantikanmu? Padahal aku bisa naik taksi atau dijemput supir." Ucap Queenza.


"Rapatnya tidak terlalu penting Queen, lagipula kakak tidak akan percaya orang lain untuk menjemputmu."


"Aku ini sudah besar, Kak. Aku bukan adik kecilmu lagi." Sungutnya dengan bibir mengerucut.


"Bagiku kau tetap adik kecilku." Ucap Raja sambil mengelus rambutnya. "Jadi berhenti protes tentang apapun yang kulakukan padamu, karena aku melakukan itu sebagai wujud rasa sayangku padamu, Queen!" Sambungnya.

__ADS_1


Queenza menghela nafasnya berat. "Tapi karena itu juga semua orang bisa salah paham dengan hubungan kita." Keluhnya mengingat kembali kejadian di Villa.


Raja menghentikan mobilnya sejenak, ia menatap wajah adiknya yang berubah menjadi sendu. "Mereka hanya tak tau Apa yang kita alami sewaktu kecil, Kakak yakin mereka akan bisa mengerti jika mereka tau ceritanya." Ucapnya.


Za mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak. "Aku hanya takut kejadian di Villa terulang kembali." Ucapnya. "Kakak, bisakah kakak tidak terlalu berlebihan padaku, perlakukan aku sewajarnya saja, sama seperti kau memperlakukan Friska."


"Bagaimana mungkin, aku memperlakukanmu seperti Friska, aku bahkan tak pernah menyapanya , hal yang tak mungkin kulakukan padamu." Gumam Raja dalam hati.


"Sudah cukup bicaranya, kau tak perlu memikirkan apapun, kau cukup hanya pokus pada kuliahmu saja, jangan memikirkan yang lain."


"Tapi kak."


"Gak ada tapi-tapian." Sergah Raja, kemudian kembali melajukan mobilnya menuju rumah.


Raja keluar lebih dulu lalu memutari mobilnya dan membukakan pintu mobil Za. "Terima kasih, Kak." Ucap Za.


Mereka berjalan beriringan dengan tangan Raja yang tak pernah lepas menggenggam tangan Za, "Queenza!" Teriak seorang wanita.


Za menoleh, memdapati wajah seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenali.


"Bu...Bunda..." Ucapnya.


Wanita itu menghampirinya lalu kemudian...


Plak!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya, meninggalkan rasa panas dan perih secara bersamaan.


"Bunda tak pernah mengajarimu menghalalkan segala cara untuk mencari uang! Bunda tak pernah mengajarimu untuk menjadi simpanan!"




Haiiii.aku menyapa lagi, apa kabar semuanya?



semoga selalu baik dan sehat ya๐Ÿ˜˜



Cuman mau kasih info nih, aku baru bikin gc, jadi buat mau gabung bisa klik profile ku, terus kirim permintaan masuk gcnya.



![](contribute/fiction/2268216/markdown/11035666/1625816467216.jpg)



Tadinya mau kuundang semua, berhubung beberapa belum ku follow jadi ku share disini. Ya barangkali ada yang mau gabung๐Ÿ˜‚



Makasih yang buat yang masih setia sama Queenza, lov U All๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜



Boleh dong minta like dan komennya, biar aku makin semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2