
Alika cukup tercengang melihat apa yang dilakukan oleh Raja. Ia menghampiri Bibinya yang masih mematung.
"Bibi." panggilnya membuat sang bibi menoleh padanya.
"Bibi harus membawa Za!" Ucap Bibinya, seraya hendak melangkah untuk masuk kerumah besar itu, tapi dengan cepat tangan Alika mencegahnya.
"Jangan, Bibi!" Cegahnya, Resha menoleh dan menatapnya dengan tajam. "Kenapa? Za adalah putri Bibi, kenapa Bibi tak boleh membawanya pulang?"
Alika menggenggam tangan Resha, "Tolong dengarkan aku, sebentar saja, Bi. Setelah itu terserah Bibi melakukan apa, aku tidak akan menghalangi Bibi lagi." Ucap Alika.
Resha terdiam, membuat gadis itu melanjutkan kata-katanya. "Bibi, aku tak bermaksud membela Za atau siapapun."
"Aku adalah saksi bagaimana Za sangat menjaga perasaanmu selama ini, mungkin Bibi tidak tau tapi aku sering memergoki Za menangisi foto keluarga angkatnya saat masih kecil dulu. Dia sangat merindukan keluarganya tapi dia tak berkata apapun, karena dia tau Bibi akan sedih jika mengetahui dia masih mengingat keluarga angkatnya."
Resha masih bergeming mendengarkan semua kata-kata keponakannya, ia bukan tidak mengetahui bahwa putrinya memendam kerinduan teramat dalam pada keluarga yang membesarkannya.
Ia tau... ia bahkan pernah beberapa kali melihat putrinya terisak sembari memandangi foto keluarga pramudza, tapi keegoisannya serta kekhawatirannya saat itu mengalahkan rasa iba pada sang putri.
Ia khawatir, Za akan meninggalkan dirinya dan lebih memilih bersama mereka, ia juga khawatir Tuan Andika akan menyakiti putrinya lagi mengingat ancaman lelaki itu saat terakhir kali pertemuannya membuatnya menjadi begitu egois.
"Bibi." Panggilan Alika menyadarkannya. Ia masih diam menunggu gadia itu melanjutkan kata-katanya.
"Za tak pernah mencari keberadaan keluarga Pramudza, bahkan saat aku menyarankan untuk mencari pekerjaan di perusahaan milik keluarga itu dia dengan tegas menolaknya, Bibi tau apa alasannya? Karena dia sudah janji padamu bahwa dia tidak akan pernah mencari dan kembali pada mereka! Tapi ternyata justru takdirlah yang membawanya bertemu dengan keluarga itu." Alika menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Inder, atasan Za saat itu didaulat untuk menjadi bintang iklan untuk produk Pramudza group, hingga mau tak mau, Za bertemu dengan keluarga pramudza.
Tapi apa Bibi tau? Dia tak pernah memberi tau mereka bahwa dirinya adalah putri kecil mereka, padahal dia bisa saja mengatakan semuanya pada mereka, tapi dia tidak melakukannya karena dia sudah janji padamu! Namun... sekali lagi takdir membawanya untuk kembali pada mereka. Kak Raja ternyata sudah mencari Za selama bertahun-tahun, dan akhirnya dia tau kalau Za adalah adik kecilnya yang ia cari jadi dia bertekad untuk menyatukan Za dengan keluarganya lagi." Ucap Alika, Resha menatap dalam gadis itu mencoba mencari kebohongan didalam tatapannya, namun nihil ia bisa melihat gadis itu mengatakan yang sebenarnya.
Resha menghela nafasnya panjang.
Alika menatap wajah Bibinya, "Bibi, aku mengatakan semua ini hanya agar bibi tau, Za tak pernah mengingkari janjinya pada bibi, tapi jika Tuhan mentakdirkan dia harus bersatu dengan keluarga Pramudza lagi, apa yang bisa ia lakukan!"
Resha menghela nafasnya berat. "Jadi maksudmu Bibi harus merelakannya kembali pada keluarga lamanya? Dan itu berarti Bibi akan sendirian menjalani sisa hidup Bibi" Ucapnya serak, ia tak bisa membayangkan akan kehilangan putrinya untuk kedua kalinya.
"Itu tak perlu terjadi, Nyonya Resha!" Suara lembut membuat keduanya menoleh serempak kesumbernya, seorang wanita paruh baya berjalan dengan anggun menghampiri mereka.
"Aku sangat menyesalkan sikap egoisku dimasa lalu, seandainya saat itu aku bisa berpikir lebih bijak mungkin perpisahan dengan Queenza tak perlu kualami!" Ucap wanita yang tak lain adalah Maura.
Maura menggenggam tangan Resha, "Tak bisakah kita lupakan yang terjadi dimasa lalu, dan merawat Queenza bersama? Queenza menyayangi kita dengan sama besarnya, bukankah akan jauh lebih baik kalau kita mendampingi dia alih-alih bersaing untuk mendapatkan dirinya?" Ucap Maura, ia menatap Resha penuh harap.
"Apa maksudmu, Nyonya?"
"Nyonya Resha, selama ini kita selalu merasa bahwa kita berjuang untuk kebahagiaan Queenza, masing-masing dari kita selalu menganggap kalau Queenza akan bahagia dan aman jika berada bersama salah satu dari kita, baik itu Kau ataupun aku. Tapi... kita tak pernah bertanya padanya dengan siapa ia ingin tinggal, apa yang sebenarnya bisa membuatnya bahagia? Kita tak pernah tanyakan itu padanya!"
"Bagaimana jika yang ia inginkan adalah kita berdua? Kebersamaan kita dalam merawatnya akan membuatnya lebih bahagia, dia tak harus memilih satu diantara kita berdua, dia tak harus merasa takut menyakiti salah satu diantara kita! Nyonya kumohon pikirkan ini baik-baik, kita bisa merawat Za bersama." Ucap Maura, Resha tersenyum, ia membenarkan ucapan wanita didepannya.
Jika kebersamaan mereka membuat putrinya lebih bahagia kenapa harus terus bersiteru.
__ADS_1
Resha mengangguk, "Kau benar, Nyonya! Kenapa kita harus bersaing kalau kita bisa merawat dan membahagiakannya bersama." Ucap Resha membuat Maura menghembus nafas lega.
Mereka saling berpelukan, saling meminta maaf tentang kesalahan masing-masing dimasa lalu.
Rendy yang memperhatikan dari jauh, ikut lega melihat keduanya berpelukan, ia segera menghampiri mereka.
"Nyonya Resha, saya ingin minta maaf, atas kesalahan yang terjadi masa lalu. "Ucap Rendy, Resha menyambut tangan pria itu.
"Saya juga minta maaf, Pak Rendy."
Alika yang menyaksikan kejadian itu merasa ikut lega juga, ia memeluk Bibinya. "Terima kasih, Bibi." Ucapnya. "Za pasti sangat senang kalau tau kalian sudah berdamai." Ucapnya, membuat semua orang tersenyum bahagia.
Namun wajah Alika berubah sendu begitu mengingat jika Raja membawa Za dengan sangat Emosi tadi.
"Tante, tadi kak Raja terlihat sangat marah sampai menarik paksa Za, aku takut..."
"Jangan khawatir, Raja tidak akan menyakiti adiknya!" Ucap Rendy memotong perkataan Alika.
"Kami juga minta maaf atas perlakuan Raja, dia hanya takut kehilangan adiknya lagi, jadi..." Ucap Maura yang dipangkas oleh Resha.
"Aku mengerti, Nyonya! jadi tak perlu meminta maaf." Ucap Resha, ia melirik kearah rumah yang tertutup rapat dengan raut khawatir.
"Jangan khawatir, percayalah Raja melakukan itu karena sangat menyayangi Queen, dia takut kehilangan lagi. kami akan menjelaskan semuanya pada Raja!" Ucap Maura seolah mengerti kegundahannya.
__ADS_1