Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Menyesal (Raja)


__ADS_3

Raja memandangi langit-langit kamar masa kecil Queenza, lampu kecil berwarna-warni masih terpasang disana. Lampu kado ulang tahun darinya untuk sang adik saat masih kecil dulu.


Ya, ia sudah kembali kerumah orang tuanya. Tangisan Mami saat menemuinya diapartemen tak bisa diabaikan begitu saja. Mungkin ia bajingan karena sudah memperkosa anak gadis orang, dia bahkan hampir melecehkan adiknya sendiri, tapi... dia tak mau menambah dosa dengan menjadi anak durhaka.


Raja bangun, kini ia duduk menyandarkan punggungnya ketembok, sebuah foto diatas nakas ia ambil, Itu Foto dirinya bersama Queenza saat makan malam di luar.



Ia pandangi foto itu dengan dalam, disana mereka begitu bahagia, Queenza juga terlihat begitu nyaman berada didekatnya, tapi sekarang?


Pria itu mengehela napasnya, karena kebodohannya hubungan baik yang terjalin kini hancur, usahanya agar bisa kembali bersama sang adik selama bertahun-tahun sia-sia, ia tetap akan kehilangan adiknya lagi, dan parahnya ini karena kesalahannya.


Menyesal, ia sangat menyesal.


Ia mungkin memang sudah jatuh cinta pada gadis itu, tapi bukankah bentuk terbesar dari rasa cinta adalah pengorbanan? Jika dengan merelakannya membuat gadis itu bahagia kenapa tak ia lakukan?


Bamun, nyatanya praktek tak semudah ucapan, karena pada kenyataannya hatinya belum siap untuk kehilangan gadis itu.


Namun, ia juga tak mau memperkeruh hubungannya dengan sang adik, ia akan coba merelakan, toh kini ia juga harus pokus mencari gadis yang tanpa sengaja sudah dinodainya!


Ia tak mau kalau tiba-tiba gadis itu datang dan mengadukan perbuatannya pada orangtuanya, jadi ia ingin berinisiatif untuk bertanggung jawab pada gadis itu, semoga dengan begitu ia bisa merasa lega dan terlepas dari rasa bersalah yang membuatnya tak bisa tertidur nyenyak karena terus dihantui kejadian malam itu.


Ketukan dipintu kamar membuatnya segera beranjak.dari tempat tidur, "Nak, ayo kita sarapan!" Ajak Maminya, yang langsung ia turuti.


Ia melangkah menuju lantai bawah, sudah ada Friska dan Papinya disana. Mereka sarapan dalam diam, tak ada percakapan hangat seperti saat Queenza berada disini.


Selesai sarapan ia baru akan kembali kekamar, tapi Papinya mencegahnya.

__ADS_1


"Kemarilah, Nak! Sudah lama kita tidak mengobrol." Ucap Papinya.


Ia menurut, mendudukkan bokongnya disofa ruang tengah dimana ada Mami dan Papinya, sedangkan Friska sudah berpamitan keluar rumah.


"Ada apa, Pi?" Tanyanya datar.


"Apa kau yakin tak akan ikut menghadiri pernikahan adikmu?" Tanya Papi Rendy.


Ia menggeleng cepat, ia mang akan berusaha merelakan Queenza, tapi jika harus menyaksikan pernikahan Za dengan mata kepalanya sendiri, ia tak yakin akan kuat.


"Queen pasti akan sedih jika kau tak hadir, Nak!" Bujuk Maminya.


Sedih? Benarkah adiknya akan sedih jika ia tak hadir? Raja menggeleng gadis itu pasti sudah sangat membencinya setelah kejadian diapartemen itu.


"Bilang saja aku banyak pekerjaan, Mi! Dan sampaikan maafku padanya." Ucapnya seraya beranjak dan kembali kekamar.


Rendy menatap punggung putranya yang makin menjauh. "Jangan terlalu memaksa Raja untuk ikut, sayang! Biarkan dia menyembuhkan hatinya dulu." Ucapnya pada sang istri.


"Kita juga harus memahami perasaan Raja, Mi. Kita tau benar kalau perasaannya sedang tidak baik-baik saja saat ini." Ucap Rendy.


Rendy sudah mendengar semua kemalangan yang menimpa putranya dari Reihan, begitu juga tentang perasaan Raja terhadap Queenza yang sudah berubah jadi cinta.


Ia dan istrinya memutuskan untuk bersikap seolah mereka tidak tahu, mereka akan membiarkan putranya menyelesaikan semua masalahnya sendiri meski dibelakang Rendy selalu membantu putranya itu tanpa sepengetahuannya.


Bukan tanpa alasan ia melakukan ini! Tumbuh dan dibesarkan dengan cara otoriter oleh ayahnya membuatnya jadi pembangkang, ia sudah merasakan bagaimana tidak enaknya hidup diatur-atur, selalu diawasi dan harus selalu menurut pada keinginan orangtua.


Meski pada akhirnya orangtuanya memilih mengalah pada keputusannya tapi ia harus berjuang,melakukan pembangkangan demi pembangkangan terlebih dahulu, dan ia tak mau Raja mengalami seperti yang ia rasakan.

__ADS_1


Dari itu ia membebaskan putranya meski tetap mengawasi penuh tanpa sepengetahuannya.


"Apa Papi.sudah dapat informasi tentang gadis itu?" Pertanyaan sang istri membuatnya menoleh.


"Papi sedang menyeledikinya, Mi. Sudah ada titik terang tentang siapa gadis yang menjadi korban anak kita itu, meski Papi belum bisa menemukan keberadaannya."


"Mami harap, gadis itu adalah gadis baik, Pi!" Ucap Maura.


"Papi juga berharap begitu, Mi."Ucap Rendy.


"Sebaiknya kita segera bersiap untuk berangkat ke bandung, Mi." Ucap Papi Rendy. "Supaya tak terlalu sore kita sampai disana!"


"Ahh iya, Pi. Ayo kita bersiap, sekalian kita pamit pada putra kita."


Setelah berpamitan dengan sang putra,sepasang paruh baya itu bersiap untuk segera berangkat menuju Bandung untuk mendampingi Queenza di hari bahagianya.




Dears Readers tercinta, semoga kalian masih setia membaca karya recehan ini.



Aku ingin mengucapkan banyak terimakasih๐Ÿ™ atas dukungan kalian semua.


__ADS_1


Dan makasih banyak untuk doanya, Lov U All๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2