Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Syuting pertama.


__ADS_3

Queenza baru selesai membantu Bi irah menyiapkan sarapan ia melirik jam di dinding, pukul delapan tapi Inder masih belum juga turun pedahal syuting hari ini dimulai dari pukul sembilan.


Queenza meniti anak tangga menuju kamar bos nya itu, "Inder... apa kau sudah bangun?" Ucapnya seraya terus mengetuk pintu.


"Inder... ini sudah jam delapan." Ucapnya lagi.


Ceklek.


Pintu terbuka dari dalam, Za cukup tercengang melihat Inder yang bahkan masih memakai piyama tidurnya.


"Inder... kau masih belum bersiap? Kita ada syuting jam sembilan."


Inder berbslik masuk kekamarnya membuat za ikut masuk juga, kedua alis gadis itu mengerut heran saat Inder kembali merebah di tempet tidur. "Bilang pada Rega, aku tak bisa syuting hari ini." Ucapnya seraya menutup mata.


"Kenapa?"


"Aku sakit!" Jawab Inder membuatnya bergerak maju mendekat pada lelaki itu, tangannya terulur menyentuh kening Inder untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Tidak panas." Ucapnya. "Ada apa sebenarnya Inder? Kenapa kau tak mau syuting?"


"Ahhh, Za. Tak bisakah kau menurut saja? Aku benar-benar sedang malas saat ini." Ucap Inder sedikit kesal. Ia bangun dan duduk di pinggir ranjang.


"Malas? Yang benar saja, bagaimana mungkin seorang Ivander Kamal Prasetya malas syuting?"


"Aku ini manusia, Za. adakalanya aku merasa jenuh dengan rutinitasku." Ucap Inder.


"Tapi pasti ada alasannya kan? Apa karena wanita itu?"


Inder menatap gadis didepannya, kemudian tersenyum "Aku memang tak pernah bisa bohong padamu."


"Kau tahu, Za. wanita itu terus menelponku dangan berbagai alasan, dua bahkan menemuiku di lokasi syuting, dan itu sangat memggangguku! Dan sekarang membayangkan akan dipasangkan dengannya benar-benar membuatku tak nyaman."


Za mengangguk, "Kalau itu alasanmu biar aku yang memastikan kalau wanita itu tak akan bisa mendekatimu selain saat adegan syuting saja, bagaimana?"


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"

__ADS_1


"Kau percaya saja padaku, tapi kau harus tetap pergi syuting atau sahabatmu ini akan di marahi managermu karena gagal membujuk artisnya."


"Aku memang tak pernah bisa menang darimu." Ujar Inder.


Za menyunggingkan senyumnya "Karena itu jangan banyak alasan dan cepatlah bersiap."


Ucap Za. "Aku tunggu di bawah."


"Aku selalu saja kalah jika dia sudah membujukku." Ucap Inder sembari menatap gadis yang sudah menghilang di balik pintu.


🌺🌺🌺


Inder dan Za sampai tepat waktu di Pramudza Group, Queenza tak pernah menyangka akan menginjakan kaki di kantor Papinya ini.


Delapan tahun hidup bersama keluarga Pramudza tak pernah sekalipun ia menginjakan kaki di perusahaan ini, Ia adalah putri tersembunyi, Maminya bahkan harus mengenakan masker jika menemaninya jalan-jalan atau ke taman bermain. Sungguh berbalik jika di bandungkan dengan kehidupan gadis bernama Friska yang menjadi penggantinya.


"Za, Ayo." Seru Inder membuyarkan lamunannya.


Za bergerak mengekor di belakang Inder, bersama seorang pengawal membawa barang-barang keperluan mereka.


Sekuat tenaga Za menekan rasa sesak di dadanya, pemandangan didepannya benar-benar terasa menyayat.


"Selamat datang, Inder." Ucap Papi Rendy ramah. "Om sempat khawatir kau tak datang hari ini." Lanjutnya.


Inder tersenyum."Tentu saja saya akan datang, bukankah saya sudah menandatangi kontaknya."


"Ya sudah, ayo sarapan bersama dulu. Kita bisa menunda syuting beberapa saat lagi." Ujar Papi Rendy lagi, tapi Inder menggeleng pelan.


"Terima kasih Om, tapi kami sudah sarapan. Dan saya tidak terbiasa menunda pekerjaan."


"Papi lihatkan, Inder memang profesional, itu sebabnya aku sangat senang bisa beradu acting dengannya." Puji Friska.


Inder hanya tersenyum. Modus, pikirnya.


"Inder sepertinya syuting akan segera di mulai, kita harus bersiap." Ucap Za.

__ADS_1


"Maaf, Om, Tante. Saya harus pergi."


"Iya, tentu Inder."


"Inder bagaimana kalau kita pergi bersama kesana?" Ujar Friska, Inder hanya diam, ia ingin menolak tapi ia merasa tidak enak pada orang tua Friska, Inder mengangguk pelan kemudian berjalan menuju lokasi yang berada di belakang kantor.


"Ada apa, sayang? Dari tadi kulihat kau diam dan terus memandangi gadis itu?" Tanya Rendy pada Maura setelah kepergian mereka.


"Dari tadi aku coba mengingat, dimana aku pernah bertemu dengan gadis itu." Ucap Maura.


"Kau mengenal gadis itu? Asisten nya Inder?"


Maura mengangguk." Aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya."


"Oh, ya? Dimana? Saat makan siang kau kan tidak ikut dengan kami."


"Di Mall! Kau ingat aku pernah cerita ada gadis baik yang menolongku saat aku hampir terjatuh?" Ucap Maura, Rendy mengangguk.


"Dia adalah gadis itu!" Ucap Maura berbinar.


"Kau yakin?"


"Iya! Aku sangat yakin, aku selalu mengingat matanya itu," Ucap Maura sendu. Tapi kemudian wajahnya berubah ketika memikirkan sesuatu "Sayang bolehkah aku mengundangnya makan malam sebagai ucapan terima kasih." Tanyanya penuh harap.


"Baiklah, nanti saat mereka break untuk makan siang kita bicarakan dengan Inder."


"Terima kasih, sayang." Ucap Maura dengan senyum merekah.


"Apapun untukmu, Sayang." Ucap Rendy.


🌺🌺🌺


Queenza memandangu Inder dari jauh, Pria itu terlihat tak nyaman dengan perlakuan gadis lawan mainnya, "Inder benar, gadis itu terlalu agresif." Gumamnya.


Ia terus memperhatikan interaksi keduanya yang sedang menjalani prosesi syuting, tanpa ia sadari sepasang Mata memperhatikannya dari lantai atas gedung itu.

__ADS_1


__ADS_2