
Sesuai rencana sore harinya Raja membawa Za kembali ke kota, Za merasa sangat senang, sejujurnya sejak kejadian kemarin itu ia sudah merasa tak nyaman untuk tinggal di Villa.
Mereka sampai di rumah yang disiapkan untuk Za, rumah dengan taman bunga disekelilingnya dilengkapi dua ayunan di taman tersebut.
Za menatap kagum pada interior rumah yang begitu mirip dengan rumah keluarga pramudza, hanya saja rumah ini sedikit lebih kecil.
"Kau menyukainya?" Tanya Raja.
"Sangat, ini indah sekali kak!"Jawabnya.
"Ayo kita masuk agar kau bisa beristirahat." Ajak Raja.
Za sedikit agak ragu untuk masuk, kejadian di Vila meninggalkan trauma tersendiri baginya, ia tak ingin kesalahpahaman tersebut terulang.
"Kenapa, Za?".
"Kakak apa kita akan tinggal berdua disini?" Tanyanya sedikit ragu.
Raja tersenyum, ia mengerti ketakutan adiknya. "Jangan khawatir, Alika akan menemanimu disini, dan aku hanya akan datang sesekali untuk menemuimu."
"Alika?"
"Ya, Rei sedang mengantarnya untuk membawa barang-barangnya dari rumah lamanya."
Za tersenyum lega, ia kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.
đşđşđşđş
Sementara itu Reihan sengaja menyuruh orang lain saat Tuan mudanya menyuruh untuk memulangkan Raisa. Ia meminta izin untuk mengantarkan Alika yang sebenarnya ditugaskan pada salah satu bodyguard kepercayaan Raja.
__ADS_1
Hanya ada keheningan Disepanjang perjalanan dari Vila menuju tempat kos Alika, itu sungguh membuatnya semakin merasa bersalah pada gadis itu.
"Maaf!" Ucapnya pada akhirnya. Alika masih bergeming gadis itu berubah menjadi begitu dingin dan ketus sejak mengetahui jati diri Reihan sebenarnya.
"Kau pasti sangat marah padaku, kau pasti merasa dimanfaatkan olehku. Maaf untuk semua itu!" Sambung Rei lagi. Ia menghela nafasnya begitu dalam mendapati gadis itu tetap diam seribu bahasa. "Aku akan terima jika kini kau membenciku karena itu!" Ucapnya kemudian.
"Berhenti di depan!" Ucap Alika.
"Kenapa?" Tanyanya bingung, tapi tetap menghentikan laju mobilnya. "Ini bukan gang tempat tinggalmu."
"Memang bukan." Ucap Alika seraya turun dari mobil. "Kau kirim saja alamat Za padaku, aku akan kesana sendiri!" Ucapnya kemudian pergi menjauh dari mobil lelaki itu.
"Sebegitu marahnya kau padaku, Al." Keluh Rei memandang punggung wanita itu.
đşđşđşđşđş
Alika terus berjalan cepat menjauhi mobil Reihan. Dalam hatinya ia hanya ingin segera menjauh dari lelaki itu! Berdekatan dengan pria itu membuat dada Alika kian sesak karena mengingat kebodohannya hingga bisa jatuh hati pada pria itu.
Ia melihat kearah belakangnya dan menghembus nafas lega saat tak melihat mobil pria itu mengejar. Namun ia baru sadar kalau dirinya sama sekali tak mengenal tempatnya kini berada.
Ia mulai merasa ketakutan karena jalan yang ditapakinya ternyata sangat sepi tak ada seorangpun yang terlihat hilir mudik padahal waktu baru pukul sembilan malam. Alika terus berjalan meski tak tau harus kearah mana, hingga akhirnya ia melihat beberapa orang yang sedang berkumpul di depan sebuah rumah yang terlihat kosong.
Ia tadinya ingin memberanikan diri untuk bertanya dimana tepatnya ia berada saat ini, tapi urung kala menyadari kalau itu adalah segerombolan pria yang sedang mabuk, ia segera berbalik dan berharap para pria itu tak menyadari keberadaannya.
Nahas salah satu dari mereka melihatnya dan kini mereka mulai mengikuti langkahnya. Alika mempercepat langkah, tak berani melihat kearah belakangnya.
"Heii, mau kemana cantik? Bukannya tadi mau nyamperin kita ya?" Ucap salah satu diantara mereka. Ia tak menjawab, ia fokus memaksa kakinya yang lelah untuk terus berjalan cepat.
"Yok sini kita main-main dulu lah, cantik." Ucap pria satunya, sambil berusaha menarik tangannya tapi untungnya ia bisa menghindar.
__ADS_1
Kini kelima pria itu sudah berada didekatnya, mereka membentuk lingkaran membuatnya terperangkap tak bisa untuk kabur. "Sial jika tau akan begini lebih baik aku lanjut pulang bersama Rei tadi! Setidaknya aku akan aman sampai di rumah." Umpatnya dalam hati.
"Mau apa kalian? Aku tidak mengenal kalian, pergi! jangan menggangguku!" Teriaknya, berharap itu bisa mengintimidasi mereka. Tapi ia salah karena mereka justru tertawa melihat kepanikannya.
"Kita gak ganggu, kok Neng! Kita mau ngajak seneng-seneng malah." Ucap pria berbadan kurus. Alika menatap tajam pada mereka satu persatu, sedangkan semua pria itu menatapnya seperti singa yang menatap mangsanya.
Tanpa ia sadari salah satu dari mereka berhasil menarik tangannya. "Lepas! ahhhh tolong!!!" Ia berteriak sekuat tenaga saat pria itu mencengkeram dan menarik tangannya dengan kasar sedang yang lainnya mencoba meraih kakinya.
"Lepas! Tolong.... Lepaskan aku." Jeritnya, ketika satu dari mereka berhasil menarik kakinya, ia terus meronta mencoba melepaskan diri, ia menjerit saat pria lainnya mencoba menyentuh tubuhnya.
Bugh.
Pria yang mencengkeram tangannya terjatuh karena tendangan dari seseorang. Sontak yang lainnya mendongak, segera menolong dan menyerang si penendang itu.
Pukulan, tendangan, dan serangan yang di tujukan pada lelaki penolongnya selalu meleset, membuat para pria itu makin kalap menyerang lelaki itu secara membabi buta. Alika memandang pria penolongnya yang kini masih berjibaku dalam pertarungan tak seimbang antara pria itu melawan lima pria brengsek yang hampir saja berbuat tak senonoh padanya.
Matanya sontak membesar saat salah satu dari mereka memgeluarkan pisau dan akan menyerang pria itu dari belakang, ia mencari apapun yang bisa di gunakan untuk menyerang.
Bugh.
Ia memukulkan sebuah balok kayu yang ia temukan pada pria penyerang itu, membuat pria itu mengaduh kesakitan dan berbalik hendak menyerangnya.
"Brengsek!" Umpat pria itu sambil mengarahkan pisau itu padanya, Ia mencoba berlari namun terjatuh membuat pria itu menyeringai dan kembali menyerangnya, sontak ia mengangkat tangan sembari memejamkan mata bermaksud untuk menangkis serangan pria itu, namun...
"Ahhhhhhh." Ia mendengar pria itu menggaduh kesakitan membuatnya membuka mata untuk melihat apa yang terjadi.
Pria penolongnya menangkis pisau yang ditujukan padanya kemudian memelintir tangan pria brengsek itu. Beberapa orang berpakaian hitam segera mendekat mengambil alih tubuh pria yang sudah dihempaskan dengan kasar ketanah.
"Urus mereka, bawa kekantor polisi dan pastikan mereka tidak bisa ditebus dengan jaminan!" Ucap Pria itu.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" Ucap pria berpakaian hitam lalu pergi membawa pria brengsek itu.
Pria itu berbalik kearahnya, berjongkok dan menatapnya khawatir. "Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya, yang masih bisa ia dengar sebelum ia terkulai lemas dan tak sadarkan diri.