
Raja melihat kemesraan Inder dan adiknya dengan tangan mengepal.
Entah mengapa hatinya seakan tak rela melihat kedekatan mereka.
"Ada apa dengan hatiku, kenapa rasanya begitu sesak setiap melihat mereka bersama." Batin Raja.
Ia memutuskan untuk kekamarnya, dan beristirahat disana.
Ia baru saja merebah ketika ponselnya mendapatkan notifikasi pesan masuk dari Reihan.
Matanya terbelalak kaget melihat beberapa potongan video kejadian di Villa milik keluarganya.
"Astagaa!"
Ia segera menghubungi Reihan untuk mendapatkan informasi tentang video yang dikirimkan asisten pribadinya itu.
"Apa ini, Rei?!"Hardiknya begitu telpon itu tersambung.
"Maaf, Tuan. Itu adalah beberapa video yang tersebar di media sosial."
"Kenapa bisa tersebar? Dan astagaa Bagaimana bisa kau kecolongan seperti ini Rei?"
"Maaf, Tuan. Semua berita dari situs online sudah bisa saya tangani sebelum terkonsumsi publik tapi video yang berasal dari akun pribadi sedang saya coba untuk melacaknya karena kebanyakan akun itu adalah akun fake, Tuan. Sepertinya ada yang sengaja menyebarkan video ini." Ucap Reihan.
"Aku tidak mau tahu, bulan depan Queen sudah mulai masuk fakultas. Aku ingin kau membersihkan semua masalah ini sebelum menyebar makin luas dan kau harus melakukannya sebelum Queen masuk kuliah!" Ucap Raja.
"Baik, Tuan."
Raja menutup panggilan itu, lalu kembali melihat video-video yang dikirimkan oleh asistennya.
Video itu adalah sepenggal kejadian saat warga ramai- ramai menggerebek Villa milik keluarganya, namun anehnya hanya bagian saat warga memaki-maki Queenza saja, tapi tak ada satupun video saat kedatangan Inder ataupun dirinya yang tersebar di media sosial sehingga bisa dipastikan kalau sasaran nya adalah Queenza! Ada yang sengaja menyebarkan video ini untuk mencemarkan nama baik Queenza.
Tangan Raja mengepal siapa dalang dibalik penyebaran video ini, Raisa? Tapi bukankah dia sudah dipulangkan kenegaranya? Ataukah Friska? Tapi ia tak boleh gegabah, ia harus mencari bukti-bukti agar mereka tak bisa mengelak.
Raja berinisiatif untuk menyita ponsel, Za. Ia tak ingin adiknya itu melihat berita atau video-video yang berseliweran di medsos, dan sekaligus ia juga bisa membatasi kedekatan sang adik dengan Inder.
Beruntung Za disibukkan oleh banyak les private dan segala aktifitas untuk persiapan kuliahnya, jadi ia tak perlu repot mencari alasan untuk penyitaan ponsel adiknya itu, "Agar kau lebih bisa pokus belajar!" Alasan yang ia kemukakan ketika sang adik protes padanya.
Hari berlalu dengan cepat, hari ini Za akan mulai masuk Fakultas dan memulai aktifitas barunya sebagai Mahasiswi.
Beruntung Reihan bisa mengatasi semua masalah tentang video itu dengan cepat hingga Raja tak harus khawatir pada Queenza karena semua sudah tertasi.
đşđşđşđş
Za baru menyelesaikan sarapannya, hari ini hari pertamanya menjadi Mahasiswi.
Sebenarnya kalau bukan karena desakan kakak dan Maminya ia akan lebih memilih bekerja dibanding kuliah. Sebulan belakangan ini waktunya tersita dengan berbagai les private dan kegiatan lain untuk persiapan kuliahnya, Raja bahkan menyita ponselnya agar ia bisa pokus belajar.
Hugh, padahal ia baru saja meresmikan sebuah hubungan dengan seseorang, alih-alih berkencan dan menghabiskan waktu berdua ia justru disibukkan dengan setumpuk materi yang harus dipelajari.
__ADS_1
Beruntung lelaki itu juga bisa mengerti dan mendukungnya.
"Aku duluan, Ya Al." Ucapnya pada Alika.
"Iya, Hati-hati ya."
"Seandainya kamu tak menolak untuk kuliah bersamaku, setidaknya aku ada teman disana, Al." Keluhnya pada sang sepupu. Sebenarnya Alika juga ditawari untuk melanjutkan kuliah oleh Raja, tapi Alika menolak.
"Aku sudah nyaman bekerja, Za. Dan lagipula otakku ini tidak secerdas otakmu yang bisa dengan mudah memahami materi perkuliahan seperti itu, aku tidak mau dipusingkan dengan pelajaran-pelajaran seperti saat di SMA dulu." Ucap Alika, sambil tertawa.
"Ya sudah aku berangkat, Ya.".Ucapnya berlari keluar saat mendengar suara klakson mobil.
Ia tersenyum begitu melihat mobil sang kakak sudah menunggunya, ia masuk kemobil itu.
"Kau gugup?" Tanya Raja, begitu melihat wajah tegang adiknya.
Ia mengangguk. "Apa aku akan bisa mengikuti materi kuliah nanti, kak."
"Kau gadis yang pintar, lagipula kau sudah mempersiapkan semuanya kan, jadi jangan terlalu khawatir." Ucap Raja menyemangati.
Ya sebulan ini ia sudah belajar sangat keras, Raja mendatangkan guru privat untuk mengajarinya, jadi ia pasti bisa.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti disebuah universitas terbesar dikota ini.
Za menghela nafas panjang sebelum keluar dari mobil itu.
"Kakak juga berangkat dulu, ya." Pamit Raja.
Ia mengangguk, lalu melambaikan tangannya pada mobil sang kakak yang mulai melaju menjauh dari area kampusnya.
Ia menghembus nafas kasar, baru saja akan melangkah masuk kampusnya, sebuah tangan menariknya masuk kedalam sebuah mobil.
"Inder!" Pekiknya kaget, melihat siapa yang menarik tangannya. "Kau disini?"
"Memang kau pikir siapa?" Tanya Inder. "Jangan bilang kau memikirkan lelaki lain."
Za tertawa, "Apa maksudmu? Aku hanya kaget kenapa kau bisa berada disini? Dan sepagi ini?"
"Hugh, aku bahkan sudah disini dari jam empat pagi!" Ucapnya membuat gadis itu terbelalak.
"Seriously?"
Inder mengangguk. "Ini semua karena kakakmu yang sangat menyebalkan, dia membuatku tak bisa menghubungimu, dan juga tak bisa menemuimu." keluh Inder.
"Padahal kita baru saja resmi pacaran, bukankah seharusnya kita sering bersama, kencan, nonton bareng. ini malah telponan pun gak bisa." Gerutu nya lagi, membuat gadis itu tegelak.
"Kakak melakukan itu, agar aku bisa pokus belajar, Inder. Aku yakin setelah ini dia akan mengijinkan kita bertemu sesering yang kita mau." Ucap Za menghibur lelaki itu.
"Tapi entah kenapa aku tak yakin. Terkadang aku rasa dia menyukaimu."
__ADS_1
"Tentu saja dia menyukaiku, dia kan kakakku."Jawab Za enteng membuat pria itu gemas dan mencubit hidungnya.
"Maksudku dia menyukaimu sebagai seorang wanita bukan sebagai adiknya."
Za menatap lelaki itu."Itu tidak mungkin, Inder!" sanggahnya. "Dia kakakku, kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Lanjutnya.
Za mengelus pipi mulus kekasihnya. "Percayalah, dia tak akan punya perasaan seperti yang kau bilang tadi, dia menyayangiku sebagai adiknya, ini hari pertamaku kuliah, tolong... jangan membuat pokusku buyar karena sikapmu yang seperti ini." Ucapnya lembut.
Inder tersenyum mendapat perlakuan manis dari Za, ia menggenggam tangan gadis itu, Cup. Inder mengecup punggung tangan Za, membuat gadis itu merona.
"Maaf, aku terlalu cemburu!" Ucapnya.
Za tersenyum, "Cemburu, pada kakakku?"
"Aku cemburu pada lelaki manapun yang mendekatimu." Ucapnya sungguh-sungguh.
"Kalian punya tempat berbeda dihatiku! dia kakakku, dan kau adalah orang yang kucintai. Dan kuharap aku tak kan perlu memilih diantara kalian berdua." Ucap Za, membuat lelaki itu terdiam.
Za melihat diluar mobil sudah mulai ramai, ia tersenyum pada kekasihnya.
"Aku harus masuk kekampus Inder, atau aku akan dihukum karena terlambat!" Ucapnya.
"Baiklah. Kau bisa pergi!" Ucap Inder datar.
"Kau tidak marah kan?"
Inder menggeleng.
Cup. Sebuah kecupan di pipi kanan nya membuat bibirnya sedikit terangkat.
"Aku janji, akan bicara pada kakak. Jadi jangan marah lagi, atau aku tak akan bisa fokus pada kuliahku." Ucap Za.
"Mana bisa aku marah padamu." Ucap Inder sembari meraih gadis itu dalam dekapannya. "Aku hanya takut kehilanganmu."
Za tersenyum, dan membalas pelukan itu, "Aku harus pergi ke kampus, Inder!" Ucapnya saat lelaki itu tak kunjung melepas pelukannya.
"Ya sudah, pergi saja."
"Bagaimana aku bisa pergi kalau kau tak melepas pelukanmu!" Gerutu Za.
Inder terkekeh. "Maaf." Ucapnya seraya melepas pelukannya.
Za keluar dari mobil itu, "Aku masuk, ya."
Ucapnya yang diangguki oleh Inder.
Za berlari masuk ke area kampusnya, ia terburu-buru hingga tak memperhatikan jalan.
Brugh, ia menabrak seseorang hingga keduanya jatuh. "Maaf." Ucapnya, lalu kembali berdiri. "Sekali lagi saya mohon maaf." Ucap Za, lalu kembali berlari kecil meninggalkan orang itu yang terus tak berkedip memandangnya.
__ADS_1